China Catat Sejarah Baru Eksplorasi Antariksa, Bawa Pulang Sampel dari Sisi Jauh Bulan
- account_circle Admin
- calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Juni 2024 menjadi tonggak penting dalam sejarah eksplorasi antariksa dunia. Untuk pertama kalinya, wahana antariksa berhasil membawa pulang sampel tanah dari sisi jauh Bulan (far side)—wilayah yang selama ini nyaris tak tersentuh misi manusia. Prestasi bersejarah ini dicapai oleh misi Chang’e-6 milik China, yang sukses mendarat kembali ke Bumi dengan membawa sekitar dua kilogram sampel tanah Bulan.
Keberhasilan tersebut menempatkan China selangkah lebih maju dalam riset kebulan-an, bahkan melampaui capaian negara-negara adidaya antariksa seperti Amerika Serikat dan Rusia, yang hingga kini belum pernah membawa sampel langsung dari sisi jauh Bulan.
Sampel Chang’e-6 diambil dari Cekungan Aitken–Kutub Selatan, tepatnya di wilayah yang dikenal sebagai Kawah Apollo. Kawasan ini bukan kawah biasa. Para ilmuwan menyebutnya sebagai kawah tertua dan terbesar di Tata Surya, dengan diameter mencapai ribuan kilometer dan kedalaman yang menembus lapisan kerak Bulan.
Hasil awal penelitian terhadap sampel tersebut mengejutkan komunitas ilmiah global. Analisis menunjukkan bahwa komposisi tanah di sisi jauh Bulan memiliki karakter vulkanik yang sangat berbeda dibandingkan dengan sisi depan Bulan yang selalu menghadap Bumi. Perbedaan ini memperkuat dugaan bahwa Bulan mengalami proses geologis yang jauh lebih kompleks dari yang sebelumnya diperkirakan.
Selama puluhan tahun, ilmuwan bertanya-tanya mengapa sisi depan Bulan dipenuhi oleh “laut lava” atau mare, sementara sisi belakangnya didominasi kawah-kawah besar dengan lapisan kerak yang lebih tebal. Sampel dari Chang’e-6 kini dipandang sebagai kunci penting untuk menjawab misteri tersebut.
Menurut para peneliti, perbedaan komposisi ini dapat mengungkap sejarah awal pembentukan Bulan, termasuk aktivitas vulkanik purba dan dinamika panas internal yang memengaruhi struktur kedua sisinya. Temuan ini juga berpotensi merevisi teori lama tentang evolusi Bulan dan hubungannya dengan Bumi.
China National Space Administration (CNSA) menyatakan bahwa penelitian lanjutan terhadap sampel Chang’e-6 akan terus dilakukan bersama komunitas ilmiah internasional. Sejumlah hasil awal bahkan telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature, menegaskan validitas dan signifikansi temuan tersebut.
Keberhasilan Chang’e-6 tidak hanya menjadi pencapaian teknologi, tetapi juga simbol perubahan peta kekuatan eksplorasi antariksa global. Dengan misi ini, China menegaskan ambisinya sebagai pemain utama dalam eksplorasi Bulan dan luar angkasa, sekaligus membuka babak baru dalam upaya manusia memahami asal-usul dan evolusi satelit alami Bumi.
Editor – Ray

I got what you mean , appreciate it for putting up.Woh I am glad to find this website through google.
16 Januari 2026 1:32 AM