Siap Jaga Keamanan Wilayah, Pecalang Banjar Eka Dharma Ucapkan Rahajeng Nyepi dan Idul Fitri 2026
- account_circle Budi Susilawarsa
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar – Pecalang Banjar Eka Dharma, Desa Sumerta Kauh, Kecamatan Denpasar Timur, menyampaikan ucapan Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026. Dalam momentum suci tersebut, pecalang juga menegaskan kesiapan mereka menjaga keamanan wilayah agar tetap nyaman, aman, dan kondusif.

Ketua Pecalang Banjar Eka Dharma, Gede Surya yang akrab disapa DeSanto, mengatakan perayaan Nyepi merupakan momen sakral bagi umat Hindu untuk melaksanakan penyucian diri lahir dan batin.
“Semoga dalam perayaan Nyepi selalu tercipta suasana keheningan, tanpa aktivitas yang menimbulkan kebisingan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam perayaan Nyepi umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni amati geni (tidak menyalakan api atau cahaya), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Menurutnya, Nyepi tahun 2026 memiliki makna istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan serta momentum Hari Raya Idul Fitri bagi umat Muslim.
“Walaupun perayaan hari besar keagamaan hampir bersamaan, tugas utama pecalang tetap menjaga keamanan wilayah agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, aman, dan kondusif,” ungkapnya.
Ia menambahkan, momentum Nyepi tahun ini juga menjadi simbol kuat kebersamaan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Ini adalah momen untuk saling memaknai kehidupan tanpa membedakan agama, ras, maupun latar belakang. Kita semua adalah satu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
DeSanto pun mengajak masyarakat menjadikan perayaan Nyepi, Ramadan, dan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat nilai-nilai kedamaian, keharmonisan, dan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Semoga perayaan Nyepi, Ramadan, dan Idul Fitri menjadi momen mempererat kedamaian lintas iman dan lintas agama. Dalam perbedaan kita tetap satu, saatnya saling menghargai serta mengamalkan nilai asah, asih, dan asuh tanpa memandang perbedaan,” pungkasnya. | Bud

Saat ini belum ada komentar