Penglukatan Agung Banyu Pinaruh di Sanur Jadi Ruang Toleransi, Umat Lintas Agama Ikut Jalani Penyucian Diri
- account_circle Ray
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penglukatan Agung Banyu Pinaruh di Pantai Mertasari, Sanur, menghadirkan tujuh prosesi penyucian diri yang diikuti ribuan pemedek. Kehadiran umat lintas agama dan kepercayaan menjadi pesan kuat tentang toleransi, persaudaraan, serta keharmonisan dalam keberagaman.

DENPASAR – Upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh yang diselenggarakan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali di Pantai Mertasari, Sanur, Minggu, 1 November 2026, tidak hanya menjadi momentum penyucian diri bagi umat Hindu setelah Hari Raya Saraswati.
Kegiatan tahunan ini juga menghadirkan ruang kebersamaan dengan melibatkan masyarakat lintas agama dan kepercayaan di Nusantara.

Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang keyakinan menjadi salah satu pesan penting dalam pelaksanaan ritual tersebut.
Mereka mengikuti kegiatan dengan semangat saling menghormati, sekaligus menunjukkan bahwa nilai penyucian diri, kedamaian, dan hubungan harmonis antarmanusia dapat menjadi ruang perjumpaan bersama tanpa menghilangkan makna dan tata cara ritual keagamaan Hindu..

Jro Gede Made Wirawan selaku ketua panitia pelaksanaan Upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh.
Ketua Panitia, Jro Gede Made Wirawan, menjelaskan bahwa Penglukatan Agung Banyu Pinaruh merupakan program rutin tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Saraswati. Tahun ini, kegiatan diperkirakan diikuti sekitar 2.000 pemedek dan dipuput oleh tujuh sulinggih.
“Pelaksanaan tahun ini diikuti kurang lebih 2.000 pemedek dan dipuput oleh tujuh sulinggih,” ujar Jro Gede Made Wirawan.
Ia menerangkan, Banyu Pinaruh memiliki makna penyucian diri melalui media air sekaligus menjadi momentum perenungan atas ilmu pengetahuan yang telah diterima saat Hari Raya Saraswati.
Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi diwujudkan melalui perilaku dan tindakan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Lintas Agama Jadi Pesan Kebersamaan, Tujuh Penglukatan Tetap Berlandaskan Makna Spiritual

Ketua PSN Korwil Provinsi Bali, Jro Mangku I Wayan Dodi Arianta.
Ketua PSN Korwil Provinsi Bali, Jro Mangku I Wayan Dodi Arianta, mengatakan kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan pelayanan spiritual kepada masyarakat sekaligus mengajak umat memahami Banyu Pinaruh secara lebih mendalam.
Menurutnya, Banyu Pinaruh tidak semestinya dimaknai sebatas aktivitas mandi atau membersihkan tubuh di pantai. Melalui Penglukatan Agung, masyarakat diajak memahami proses penyucian secara lahir dan batin, termasuk upaya melebur mala (luka batin), kilesa (kekotoran batin) dan dasa mala (sifat buruk) serta memperoleh tirta pangurip (memberikan jiwa spiritual) atau pemaknaan spiritual yang berkaitan dengan pengetahuan.
“Upacara ini memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai pelebur mala untuk menghilangkan hal-hal negatif dalam diri. Kedua, bagaimana kita mendapatkan tirta pengetahuan sehingga rangkaian Hari Raya Saraswati ini benar-benar memiliki makna,” jelas Jro Mangku Dodi Arianta.
Ia juga menyoroti kehadiran peserta lintas agama yang turut mengikuti penglukatan. Baginya, keterlibatan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai penyucian diri dan persaudaraan antarmanusia.
Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Hindu terdapat prinsip Vasudhaiva Kutumbakam, yang mengandung makna bahwa seluruh umat manusia merupakan satu keluarga.

Deddy selaku Pemedek dari lintas agama (Islam).
Pandangan serupa disampaikan Deddy, peserta lintas agama yang beragama Islam. Ia menilai kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana nilai budaya dan spiritual dapat menjadi jembatan untuk membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Kami dari lintas agama mengakui dan menghargai bagaimana kedekatan manusia dengan alam, manusia dengan Tuhannya, bahkan manusia dengan sesamanya,” ungkap Deddy.

Jero Gede Iwan, anggota PSN.
Sementara itu, Jero Gede Iwan, anggota PSN sekaligus pemedek, menegaskan bahwa penglukatan merupakan proses pembersihan jiwa dan raga yang dapat diikuti siapa pun sepanjang memiliki keyakinan dan menghormati pelaksanaan ritual.
Menurutnya, sarana upacara seperti banten bukan sekadar perlengkapan, melainkan bagian dari simbol dan bentuk penghormatan dalam pelaksanaan persembahyangan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menjadikan kegiatan spiritual sebagai kesempatan memperbaiki perilaku dan menyeimbangkan perbuatan dalam kehidupan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WITA tersebut menghadirkan tujuh jenis penglukatan, yakni Penglukatan Gangga, Siwa Baruna, Wisnu Panjara, Siwa Gni, Budha, Wana Gamana, dan Marga Gamana. Seluruh rangkaian dipersiapkan sejak sehari sebelumnya.

Sekretaris penyelenggara, Jro Gde A Korry Agung.
Sekretaris penyelenggara, Jro Gde A Korry Agung, turut menjelaskan rangkaian penglukatan yang menjadi bagian utama dari upacara tersebut.
Kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya dan tidak memerlukan pendaftaran. Peserta diimbau mengenakan pakaian sembahyang serta membawa sarana persembahyangan berupa pejati atau canang sari.

I Nyoman Parta (akrab disapa Man Parta) Anggota DPR RI Komisi III dan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI. (Tengah)
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh dan masyarakat, termasuk I Nyoman Parta serta peserta dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.
Melalui Penglukatan Agung Banyu Pinaruh, PSN Korwil Bali tidak hanya mempertahankan pelaksanaan tradisi spiritual tahunan, tetapi juga memperlihatkan ruang perjumpaan sosial yang menjunjung toleransi.
Esensi penglukatan sebagai penyucian diri tetap menjadi landasan utama, sementara keterlibatan lintas agama memperluas pesan bahwa penghormatan, persaudaraan, dan kedamaian merupakan nilai yang dapat dirawat bersama dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar