AWDI Bali dan Let’s Save Bali Community Bahas Ancaman Kerusakan Alam, Wana Jadi Simbol Penting Menjaga Hutan Bali
- account_circle Ray
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

I Made Somya Putra SH MH selaku ketua AWDI Bali (kiri) dan Ir. I Nyoman Baskara, M.M. selaku founder Let's Save Bali Community (kanan)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketua AWDI Bali I Made Somya Putra bersama Nyoman Baskara dari Let’s Save Bali Community mengingatkan pentingnya menjaga hutan sebagai penyangga ekosistem dan sumber mata air, sekaligus mengangkat makna Wana sebagai pengingat hubungan manusia dengan alam Bali.
BALI – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan Bali menjadi pembahasan dalam pertemuan Ketua Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Bali, I Made Somya Putra, dengan Let’s Save Bali Community yang diakomodasi Nyoman Baskara di kawasan Taman Wisata Tukad Bindu.
Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pandangan mengenai kondisi lingkungan Bali, terutama ancaman kerusakan hutan, keberadaan sumber mata air, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai penopang kehidupan masyarakat.
Dalam perbincangan itu, muncul satu istilah yang menjadi perhatian, yakni Wana. Kata tersebut memiliki arti hutan atau alas. Bagi Somya Putra, Wana mempunyai makna tersendiri karena kerap dikaitkan dengan identitas kelahiran Desa Sukawana, Kabupaten Bangli.
Somya memandang bahwa makna Wana tidak seharusnya berhenti sebagai sebuah istilah atau nama tempat. Lebih dari itu, hutan merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus dipertahankan keberadaannya.
“Kalau kita berbicara tentang Wana, kita sedang berbicara tentang hutan, sumber kehidupan, dan warisan alam yang harus dijaga. Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan, tetapi memiliki peran besar dalam menjaga sumber air, keseimbangan lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya hutan ketika sumber air mulai menghilang,” demikian rumusan pandangan I Made Somya Putra, 1 November 2026.
Ketua AWDI Bali tersebut juga menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Pembangunan dan aktivitas ekonomi semestinya tidak mengabaikan daya dukung alam.

Sedia madu murni asal hutan Kintamani, Hubungi Redaksi Gatra Dewata.
Nyoman Baskara Soroti Ancaman Lingkungan, Hutan dan Sumber Air Harus Dilindungi
Sementara itu, Nyoman Baskara dari Let’s Save Bali Community menempatkan persoalan kerusakan lingkungan sebagai ancaman yang harus mendapat perhatian serius seluruh elemen masyarakat.
Menurut pandangan yang dirumuskan untuk Baskara, Bali tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan dan pertumbuhan pariwisata, tetapi juga harus memastikan alam tetap terjaga.
“Jangan sampai Bali hanya sibuk membangun, tetapi lupa menjaga alam yang menjadi sumber kehidupannya. Hutan harus dilindungi karena dari kawasan hutan kita memiliki sumber-sumber air yang sangat penting bagi masyarakat, pertanian, dan kehidupan di Bali. Kalau hutan rusak, dampaknya bukan hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga manusia yang hidup di dalamnya,” demikian rumusan pandangan Nyoman Baskara.
Baskara juga memandang bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui kampanye atau kegiatan seremonial. Harus ada tindakan nyata, mulai dari menjaga kawasan hutan, melindungi mata air, mengendalikan alih fungsi lahan, hingga membangun kesadaran masyarakat untuk tidak merusak lingkungan.
Persoalan hutan memang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sumber air. Kawasan hutan berperan menjaga tata air, membantu penyerapan air hujan, mengurangi erosi, serta mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Dalam filosofi Bali, perhatian terhadap kelestarian hutan juga dikenal melalui konsep Wana Kerthi, yang merupakan bagian dari Sad Kerthi. Konsep ini menempatkan pelestarian hutan dan pegunungan sebagai salah satu upaya menjaga keseimbangan alam.
Bali memiliki keterikatan kuat antara hutan, pegunungan, sungai, mata air, persawahan, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, kerusakan satu bagian ekosistem dapat memberikan dampak terhadap bagian lainnya.
Ancaman alih fungsi lahan, berkurangnya tutupan vegetasi, pencemaran sungai, serta tekanan pembangunan perlu menjadi perhatian bersama. Perlindungan lingkungan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas pecinta alam.
Pertemuan di Taman Wisata Tukad Bindu tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan semata-mata mempertahankan keindahan destinasi wisata. Ada sumber kehidupan yang jauh lebih mendasar dan harus dilindungi, yakni hutan dan air.
Wana bukan sekadar kata yang memiliki arti hutan. Ia menjadi pengingat tentang hubungan manusia dengan alam. Ketika hutan dijaga, sumber air memiliki peluang untuk tetap lestari. Ketika sumber air terpelihara, kehidupan masyarakat dan keberlanjutan Bali juga ikut terlindungi.
Menjaga Bali berarti menjaga hutannya, melindungi sumber airnya, dan memastikan generasi mendatang masih dapat menikmati alam yang sama.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar