Breaking News
light_mode

Rumah Mewah Ipda Yayat Digeledah KPK, Jejak Fee Proyek Rp16 Miliar Terungkap

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KPK mendalami dugaan aliran uang dari kontraktor proyek Bekasi kepada Yayat Sudrajat alias Lippo, yang dalam persidangan mengaku memperoleh imbalan sekitar Rp16 miliar sejak 2022.

JAKARTA — Rumah mewah milik anggota Polri, Ipda Yayat Sudrajat alias Lippo, di kawasan Cibubur, Kota Depok, Jawa Barat, digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (10/9/2026). Penggeledahan tersebut menjadi bagian dari pengembangan penyidikan kasus dugaan suap ijon proyek di Kabupaten Bekasi yang menjerat Bupati Bekasi nonaktif Ade Kuswara Kunang.

KPK menyita sejumlah dokumen dan barang bukti elektronik dari kediaman Yayat. Penggeledahan dilakukan setelah Yayat menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung Merah Putih KPK pada hari yang sama.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penyidik tengah mendalami dugaan penerimaan uang oleh Yayat dari Sarjan, pihak swasta atau kontraktor yang mengerjakan sejumlah proyek di Kabupaten Bekasi.

“Penyidik melakukan penggeledahan di rumah yang bersangkutan yang berlokasi di daerah Cibubur, Kota Depok, Jawa Barat,” kata Budi Prasetyo.

Dalam pemeriksaan tersebut, KPK secara khusus menelusuri dugaan penerimaan uang Yayat dari Sarjan. Nama Sarjan sebelumnya muncul sebagai pihak swasta yang terlibat dalam perkara dugaan suap proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Sorotan terhadap Yayat bukan semata karena rumahnya yang berada di kawasan elite. Namanya telah mencuat sejak persidangan perkara suap proyek Bekasi pada April 2026.

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung, 8 April 2026, Yayat mengaku menjadi perantara proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Ia juga mengungkapkan memperoleh imbalan hingga sekitar Rp16 miliar sejak 2022.

Pengakuan tersebut kemudian menjadi perhatian KPK. Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menyebut angka sekitar Rp16 miliar itu telah menjadi fakta persidangan dan tercantum dalam berita acara pemeriksaan (BAP).

“Ini sudah fakta persidangan. Kami sudah dapat informasi juga dari tim JPU-nya bahwa ada fee kurang lebih Rp16 miliar yang diakui oleh saudara Yayat, dan ini sudah tertuang dalam BAP juga,” ujar Achmad.

Berdasarkan surat dakwaan terhadap Sarjan, jaksa KPK juga menyebut adanya pemberian uang sebesar Rp1,4 miliar kepada Yayat selama periode 2024–2025. Angka tersebut menjadi salah satu bagian yang kini didalami penyidik.

Yayat diketahui merupakan anggota Polri yang pernah bertugas di Unit Intelkam Polsek Cimanggis, Polres Metro Depok. Namanya mencuat setelah memberikan kesaksian terkait perannya sebagai perantara proyek pemerintah daerah.

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso sebelumnya mendesak Propam Polri memeriksa Yayat terkait dugaan rangkap peran sebagai anggota kepolisian sekaligus broker proyek.

“Bongkar permainan-permainan proyek yang diperantarai oleh Yayat ini. Propam Polri harus periksa Yayat dan memproses dugaan pelanggaran ke sidang kode etik. KPK juga harus dalami dugaan korupsinya karena ini sudah terbuka,” kata Sugeng.

Menurut Sugeng, posisi aparat penegak hukum memiliki pengaruh dalam relasi antara pejabat pemerintah dan pengusaha. Karena itu, ia meminta aliran uang serta kemungkinan pihak lain yang menerima dana turut ditelusuri.

“Perlu ditelusuri ke mana saja aliran dana itu, termasuk kemungkinan setoran kepada pihak lain,” ujarnya.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga meminta Polri tidak ragu mengambil tindakan apabila dugaan keterlibatan tersebut nantinya terbukti secara hukum.

Komisioner Kompolnas Choirul Anam mengatakan proses hukum harus dihormati dan pemeriksaan internal dilakukan sesuai ketentuan.

“Biarkan KPK berproses dan harus dihormati. Jika ada anggota kepolisian aktif diduga menerima aliran dana, maka harus ditindaklanjuti. KPK tidak perlu ragu untuk membongkar kasus ini secara menyeluruh,” kata Anam.

Sorotan publik kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai sumber kekayaan Yayat, termasuk rumah yang kini menjadi objek penggeledahan KPK. Namun, kemewahan sebuah rumah tidak dengan sendirinya membuktikan adanya tindak pidana atau bahwa seluruh aset tersebut berasal dari hasil korupsi.

Karena itu, klaim mengenai nilai rumah di kawasan Raffles Hills maupun asal-usul aset Yayat perlu dibuktikan melalui dokumen kepemilikan, laporan harta, transaksi keuangan, serta penelusuran aliran dana oleh aparat penegak hukum.

Yang telah terungkap secara resmi sejauh ini adalah KPK sedang mendalami dugaan penerimaan uang oleh Yayat dari Sarjan dan telah menggeledah kediamannya. KPK juga menyatakan pengembangan perkara tersebut belum menetapkan tersangka baru pada saat pengumuman perkembangan penyidikan.

Dengan demikian, pertanyaan terbesar bukan sekadar bagaimana seorang anggota polisi berpangkat Ipda dapat memiliki rumah mewah. Pertanyaan hukumnya adalah dari mana sumber kekayaan tersebut, apakah terdapat hubungan dengan fee proyek yang diakui dalam persidangan, serta apakah ada pihak lain yang turut menikmati aliran uang tersebut.

Hingga kini, Yayat masih berada dalam posisi yang harus dipandang berdasarkan proses hukum yang berjalan. Penggeledahan rumah dan pendalaman KPK belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh kekayaannya berasal dari tindak pidana.

Namun, pengakuan mengenai fee sekitar Rp16 miliar, dugaan aliran uang dari kontraktor, serta penggeledahan rumahnya membuat kasus ini menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan perkara dugaan suap proyek di Kabupaten Bekasi.

KPK kini memiliki ruang untuk membuktikan apakah uang, aset, proyek dan hubungan para pihak tersebut memiliki keterkaitan pidana atau tidak.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (5)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus TPPO Nyoman Nelson, Kontruksi Hukum Jaksa Abaikan Asas Lex Mitior, Gede Indria: Jaksa Tidak Cermat

    Kasus TPPO Nyoman Nelson, Kontruksi Hukum Jaksa Abaikan Asas Lex Mitior, Gede Indria: Jaksa Tidak Cermat

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Ray
    • 64Komentar

    Kuasa hukum I Nyoman Nelson menilai dakwaan JPU dalam perkara dugaan TPPO ABK KM Awindo 2A tidak cermat, mempersoalkan pasal pidana, lex mitior, dan pertanggungjawaban korporasi. DENPASAR — Pertarungan hukum dalam perkara dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) calon anak buah kapal (ABK) KM Awindo 2A memasuki babak sengit. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri […]

  • Mediasi Gugatan Rp25 Miliar Togar Situmorang Gagal, Empat Media Pilih Lawan di Pengadilan

    Mediasi Gugatan Rp25 Miliar Togar Situmorang Gagal, Empat Media Pilih Lawan di Pengadilan

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Kuasa Hukum Tergugat Tolak Seluruh Tuntutan, Penggugat Tetap Berharap Penyelesaian Damai Sesuai Mekanisme PERMA DENPASAR – Upaya mediasi dalam gugatan perdata senilai Rp25 miliar yang diajukan pengacara Togar Situmorang terhadap empat perusahaan media di Bali dan satu akun media sosial berakhir tanpa kesepakatan. Dengan gagalnya proses mediasi, perkara dipastikan berlanjut ke tahap pemeriksaan pokok perkara […]

  • LSPR Juara Dunia Inovasi Penanganan Krisis

    LSPR Juara Dunia Inovasi Penanganan Krisis

    • calendar_month Senin, 21 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 13Komentar

    JAKARTA – LSPR Institute of Communication and Business meraih peringkat pertama dunia dalam kategori Crisis Management versi World University Rankings for Innovation (WURI) 2025. Penghargaan ini menegaskan posisi LSPR sebagai institusi pendidikan tinggi yang terdepan dalam inovasi, empati, dan aksi nyata di tengah krisis global. Lewat program Peningkatan Kapasitas Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim […]

  • Tersangka Bebas! Paralegal Mariza Sulton Berhasil Damaikan Konflik Remaja di Mapolres Gianyar

    Tersangka Bebas! Paralegal Mariza Sulton Berhasil Damaikan Konflik Remaja di Mapolres Gianyar

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Vaza Fernantha
    • 4Komentar

    Konflik Antarremaja Berawal dari Perseteruan Fans Sepak Bola Berakhir Damai melalui Mekanisme Restorative Justice GIANYAR – Kasus dugaan penganiayaan yang membuat 2 orang remaja menjadi tersangka dengan nomor LP/B/64/VIII/2026/SPKT/Polres Gianyar/Polda Bali, kini telah menghirup kembali udara bebas. Mereka yang berkonflik mengambil jalan damai dengan mekanisme restorative justice. Baca berita sebelumnya,  Korban Cabut Laporan, Dua Pelaku […]

  • Kas Kormar Terima Kunjungan Kehormatan Komandan Marinir Kerajaan Belanda

    Kas Kormar Terima Kunjungan Kehormatan Komandan Marinir Kerajaan Belanda

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 2Komentar

    Jakarta – Kepala Staf Korps Marinir (Kas Kormar) Brigadir Jenderal TNI (Mar) Muhammad Nadir, M.Tr. menerima kunjungan kehormatan Komandan Marinir Kerajaan Belanda, Brigade General Ivo Moerman, di Admiral Room, Gedung Utama Markas Komando Korps Marinir (Mako Kormar), Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun No.40, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025). Kunjungan ini mewakili Panglima Korps Marinir […]

  • Australian Consul-General Visits North Bali, Inaugurates #AussieBanget Corner at Undiksha

    Australian Consul-General Visits North Bali, Inaugurates #AussieBanget Corner at Undiksha

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 16Komentar

    Buleleng, Bali — Australia’s Consul-General in Bali, Ms. Jo Stevens, paid an official visit to North Bali on 12–13 January 2026, marking a series of engagements focused on education, community development, and sustainable investment. One of the key highlights of the visit was the inauguration of a new #AussieBanget Corner at Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), […]

expand_less