Udara Bali Kian Menggigit, Suhu Bedugul Turun hingga 13 Derajat Celsius pada Puncak Musim Kemarau
- account_circle Admin
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

Gambar kebun raya dengan editan kabut menggunakan AI Gemini.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Sejumlah wilayah di Bali mengalami penurunan suhu udara yang terasa lebih dingin dibandingkan biasanya dalam beberapa hari terakhir. Di kawasan Bedugul, Kabupaten Tabanan, suhu udara pada pagi hari bahkan dilaporkan mencapai 13 derajat Celsius, seiring menguatnya musim kemarau di Pulau Dewata.
Seorang warga Bedugul, Alvin, mengatakan hawa dingin kali ini terasa lebih menusuk dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan pengamatannya, suhu udara pada pagi hari mencapai 13 derajat Celsius, sementara pada malam hari umumnya berada di kisaran 17 derajat Celsius.
“Memang terasa lebih dingin dari biasanya dalam beberapa hari terakhir. Pagi tadi saya cek suhunya sekitar 13 derajat Celsius,” ujarnya, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Alvin, kondisi geografis Bedugul yang berada di dataran tinggi memang membuat wilayah tersebut memiliki suhu lebih rendah dibandingkan daerah lain di Bali. Namun, kali ini udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi, menjelaskan bahwa fenomena udara dingin tersebut merupakan kondisi yang normal dan lazim terjadi selama musim kemarau, khususnya pada periode Juni hingga Agustus.
“Periode suhu dingin memang biasanya terjadi sejak awal musim kemarau hingga puncaknya pada Juni, Juli, dan Agustus,” jelas Brian.
Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Negara di Kabupaten Jembrana, suhu minimum yang tercatat mencapai 19 derajat Celsius. Namun, menurut Brian, suhu di kawasan pegunungan seperti Bedugul berpotensi lebih rendah karena belum tersedia stasiun pencatat cuaca di wilayah dataran tinggi tersebut.
“Untuk kawasan dataran tinggi kami belum memiliki stasiun pengamatan, sehingga kemungkinan suhu di sana lebih rendah dari data yang tercatat di Stasiun Klimatologi Negara,” katanya.
Brian menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan suhu udara di Bali menjadi lebih dingin selama musim kemarau. Pertama, minimnya tutupan awan sehingga panas permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Kedua, posisi semu matahari yang berada di belahan bumi utara. Ketiga, aktifnya angin Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah Indonesia, termasuk Bali.
“Angin Monsun Australia saat ini cukup aktif sehingga membawa massa udara dingin dan kering hingga ke Bali,” jelasnya.
BMKG juga memperkirakan suhu udara masih berpotensi turun apabila kondisi langit tetap cerah tanpa tutupan awan dalam waktu yang cukup lama. Suhu terendah umumnya terjadi pada dini hari hingga menjelang matahari terbit, sekitar pukul 01.00 hingga 06.00 Wita.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi kesehatan selama periode udara dingin ini, terutama dengan mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam hingga dini hari guna mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu yang rendah.
Editor – Ray

https://shorturl.fm/aQg4Q
5 Juli 2026 7:46 AM