Tanpa Bangun Pangkalan Luar Negeri, RI Perkuat Strategi Blue Water Navy Berbasis Diplomasi
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan membangun pangkalan militer permanen di luar negeri, meskipun Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) tengah bertransformasi menuju konsep blue water navy. Kebijakan ini dipilih sebagai bagian dari strategi pertahanan yang tetap sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Berbeda dengan model United States Armed Forces yang memiliki ratusan pangkalan di berbagai belahan dunia, Indonesia mengedepankan pendekatan berbasis jejaring logistik tanpa permanent basing. Hal ini disampaikan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait sebagai bagian dari arah kebijakan pertahanan maritim nasional.
Menurutnya, operasional lintas samudra akan didukung melalui tiga jalur strategis. Pertama, jalur bilateral melalui kerja sama teknis dengan negara mitra untuk akses pelabuhan dan dukungan logistik. Kedua, jalur multilateral melalui forum maritim dan latihan gabungan internasional. Ketiga, pendekatan industrial-logistical diplomacy, yakni mengintegrasikan industri pertahanan dan pemeliharaan dengan kebutuhan operasional saat penugasan jarak jauh.
Strategi tersebut memungkinkan TNI AL menjaga daya tahan (endurance) armada di perairan internasional tanpa harus membangun pangkalan permanen di luar negeri. Pendekatan ini dinilai lebih fleksibel sekaligus menjaga sensitivitas geopolitik di kawasan.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Muhammad Ali menyatakan bahwa fokus utama saat ini masih pada penguatan konsep green water navy. Hal ini mencakup peningkatan kemampuan operasional di perairan nasional dan kawasan regional sebagai fondasi sebelum melangkah menuju kekuatan laut global.
Penguatan tersebut dinilai penting agar transformasi menuju blue water navy dapat dilakukan secara bertahap, mandiri, dan terintegrasi. Selain itu, langkah ini juga memastikan kesiapan alutsista, sumber daya manusia, serta dukungan logistik yang memadai.
Kebijakan ini mencerminkan pendekatan diplomasi pertahanan Indonesia yang adaptif. Dengan memperluas jangkauan operasional melalui kerja sama internasional, Indonesia tetap mampu meningkatkan peran strategisnya di kancah maritim global tanpa harus melakukan ekspansi pangkalan militer di luar negeri.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar