Nuanu Creative City Angkat Perspektif Seniman Perempuan Lewat Pameran “Semburat Bali”
- account_circle Ray
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Sarita Ibnoe saat memandu workshop di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. Kredit Foto: Nuanu Creative City
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BADUNG, BALI — Nuanu Creative City menyoroti peran penting seniman perempuan dalam membangun ekosistem seni yang inklusif melalui pameran bertajuk “Semburat Bali” yang digelar di Labyrinth Art Gallery hingga 22 Maret 2026.
Sebagai kawasan kreatif yang menggabungkan seni, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin, Nuanu menghadirkan ruang bagi para kreator untuk bereksperimen, mengekspresikan gagasan, serta berinteraksi langsung dengan publik. Melalui berbagai platform kreatifnya, termasuk galeri seni, kawasan ini berupaya mempertemukan praktik artistik dengan percakapan budaya yang lebih luas.
Director of Brand and Communications Nuanu Creative City, Ida Ayu Astari Prada, mengatakan bahwa perspektif perempuan memiliki kontribusi penting dalam perkembangan ekosistem kreatif.
“Dalam ekosistem kreatif, perempuan membawa perspektif yang sangat penting—bukan hanya melalui karya yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan cara mereka membaca dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ruang kreatif tidak hanya berfungsi sebagai tempat memamerkan karya, tetapi juga menjadi ruang dialog dan pertukaran pengetahuan antara seniman dan publik.
Eksplorasi Lanskap Feminin

Wicitra Pradnyaratih bersama karyanya Tideglow yang dipamerkan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu.
Kredit Foto: Nuanu Creative City
Dalam momentum peringatan International Women’s Day, pameran ini menampilkan karya dua seniman perempuan, yakni Wicitra Pradnyaratih dan Sarita Ibnoe.
Wicitra Pradnyaratih, seniman berbasis di Bali dengan latar belakang desain grafis, menghadirkan karya “Tideglow” dan “Midnight Bloom.” Melalui perpaduan medium digital dan lukisan akrilik, ia mengeksplorasi hubungan antara alam, warna, dan suara dalam konsep yang ia sebut sebagai feminine landscape.
Dalam karya Midnight Bloom, motif anggrek dan lili menjadi simbol ketahanan dan ketekunan. Representasi bunga dalam karya ini tidak lagi ditempatkan sebagai ornamen pasif yang identik dengan stereotip feminitas, melainkan sebagai simbol kekuatan dan kompleksitas pengalaman perempuan.
“Persoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun,” kata Wicitra.
Ia menilai kehadiran ruang kreatif yang terbuka sangat penting untuk memperluas akses seniman dalam memamerkan karya serta berdialog dengan masyarakat.
Narasi Sosial Melalui Tekstil

Sarita Ibnoe bersama karyanya Resistance yang dipamerkan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu.
Kredit Foto: Nuanu Creative City
Sementara itu, seniman multidisipliner Sarita Ibnoe menghadirkan sejumlah karya seperti Unaccustomed, The New Art Teacher Series – Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1, Resistance, dan Note.
Sejak mulai berkarya pada 2013, Sarita dikenal melalui praktik artistik berbasis tekstil, khususnya teknik tenun, yang kemudian berkembang menjadi instalasi, performans, hingga karya partisipatif.
Bagi Sarita, proses menenun merupakan cara merangkai pengalaman hidup menjadi narasi visual. Salah satu karya yang menonjol dalam pameran ini adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi sosial di Jakarta.
Melalui penggunaan warna hijau dan merah muda, karya tersebut menghadirkan simbol solidaritas dan kekuatan kolektif masyarakat, sekaligus refleksi terhadap peristiwa sosial yang meninggalkan duka.
“Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni—sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,” ujar Sarita.
Ruang Dialog dalam Ekosistem Seni
Gallery Manager Labyrinth Art Gallery, Samuel David, menegaskan bahwa galeri tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai tempat membangun percakapan kreatif.
“Galeri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan. Kami ingin menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberi ruang bagi perspektif yang beragam,” katanya.
Melalui pengembangan ekosistem kreatif yang inklusif, Nuanu berharap berbagai suara, termasuk perspektif perempuan, dapat berkontribusi dalam membentuk dinamika seni yang lebih relevan dengan perkembangan masyarakat.
Kawasan kreatif ini sendiri dibangun di atas lahan seluas 44 hektare di Bali dengan konsep ekosistem terintegrasi yang mencakup ruang seni dan budaya, pendidikan, hiburan, serta berbagai aktivitas kreatif yang terinspirasi dari alam.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar