Muhammadiyah Bali Dinilai Jadi Teladan Toleransi, Takbiran Idulfitri Dilakukan Lirih Saat Nyepi
- account_circle Admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengapresiasi langkah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali dalam menjaga harmoni saat perayaan Idulfitri yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.
Menurut Haedar, kebijakan PWM Bali yang mengacu pada kesepakatan bersama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menunjukkan praktik toleransi yang patut dijadikan contoh di tingkat nasional.

Ia menjelaskan, salah satu bentuk penyesuaian yang dilakukan adalah pelaksanaan takbiran yang tidak dilakukan secara terbuka seperti biasanya. Warga Muhammadiyah di Bali, khususnya di Denpasar, diimbau untuk melaksanakan takbiran secara sederhana di rumah masing-masing dengan suara lirih.
“Ini langkah yang sangat baik. Bahkan bukan hanya di masjid, tetapi diupayakan dilakukan di rumah dengan tetap menjaga ketenangan,” ujar Haedar, Senin (16/3), di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.
Meski demikian, pelaksanaan Salat Idulfitri tetap dapat dilakukan secara berjamaah dengan tertib. Hal itu dimungkinkan karena adanya koordinasi dan kesepakatan antara panitia hari besar Islam dan pemerintah daerah setempat.
Haedar menilai, sikap saling menghormati ini merupakan bagian dari upaya membangun harmoni lintas iman yang selama ini terus dikembangkan Muhammadiyah. Ia menyebut, praktik toleransi seperti di Bali menjadi bukti bahwa kehidupan beragama yang damai dapat terwujud melalui komunikasi dan kesepahaman bersama.
Di sisi lain, Haedar juga menyoroti sejumlah pekerjaan rumah yang masih dihadapi Muhammadiyah, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi umat. Ia menilai, peningkatan kualitas pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang lebih maju.
Selain itu, persoalan ekonomi juga menjadi perhatian serius. Haedar menekankan pentingnya penguatan sektor ekonomi umat, terutama bagi kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dinilai masih rentan.
“Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat menjadi hal yang sangat krusial. Jika ekonomi belum kuat, akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan lainnya,” ujarnya.
Untuk itu, Muhammadiyah menyatakan dukungannya terhadap berbagai kebijakan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui penguatan UMKM. Ia juga mendorong agar kebijakan yang diambil bersifat progresif dan berkelanjutan guna menciptakan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar