Belajar dari Lee Kuan Yew! Kepemimpinan Keras yang Mengantar Singapura ke Panggung Dunia
- account_circle Admin
- calendar_month Jumat, 19 Des 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR : Singapura pada 1965 adalah negara kecil dengan segudang keterbatasan. Baru keluar dari Federasi Malaysia, tanpa sumber daya alam, tanpa minyak, bahkan tanpa pasokan air bersih mandiri. Namun dari kondisi nyaris mustahil itu, lahir sebuah negara maju yang kini disegani dunia.
Di balik transformasi tersebut berdiri sosok Lee Kuan Yew, pemimpin yang memerintah selama 31 tahun dengan gaya keras, tegas, dan jauh dari kata populis.
Lee Kuan Yew tidak menjual mimpi. Ia memilih menawarkan kenyataan pahit yang harus ditelan rakyatnya demi masa depan. Alih-alih mengandalkan kekayaan alam yang tak dimiliki, ia bertaruh pada satu modal yang tak pernah habis, kualitas manusia.
Bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa utama, bukan karena mengingkari jati diri, melainkan sebagai strategi agar warga Singapura mampu bersaing di pasar global. Sistem pendidikan dibangun bukan untuk sekadar mengejar angka kelulusan, tetapi untuk mencetak tenaga kerja terampil yang siap diserap industri dunia.
Langkah tersebut menuai kritik keras pada masanya. Lee dituding kebarat-baratan dan mengorbankan identitas lokal. Namun sejarah membuktikan, kebijakan itu justru menjadi fondasi kekuatan ekonomi Singapura.
Sebuah ironi jika dibandingkan dengan negara berkembang lain yang kerap menolak pendekatan global atas nama nasionalisme, sementara elitnya justru mengirim anak-anak mereka sekolah ke luar negeri.
Di sektor birokrasi, Lee mengambil langkah tak lazim: menggaji pejabat negara dengan bayaran sangat tinggi, setara pimpinan perusahaan besar. Tujuannya jelas—menghilangkan insentif untuk korupsi. Kebijakan ini diiringi dengan transparansi ketat dan penegakan hukum tanpa kompromi.
Hasilnya, birokrasi Singapura dikenal sebagai salah satu yang paling bersih dan efisien di dunia. Tidak ada ruang bagi pejabat untuk bermain-main dengan uang publik.
Masalah sosial pun ditangani dengan pendekatan struktural. Pemerintah membangun perumahan publik yang mewajibkan integrasi etnis dalam satu kawasan hunian.
Kebijakan ini dirancang untuk mencegah segregasi sosial dan konflik rasial, sekaligus menumbuhkan toleransi sejak dari lingkungan tempat tinggal. Warga dari latar belakang berbeda dipaksa belajar hidup berdampingan, bukan dipisahkan oleh tembok sosial maupun ekonomi.
Penegakan hukum di era Lee Kuan Yew dikenal keras dan tanpa pandang bulu. Pelanggaran kecil seperti membuang sampah sembarangan dikenai denda berat. Vandalisme mendapat hukuman fisik. Yang paling penting, hukum berlaku sama bagi semua—baik rakyat biasa maupun pejabat tinggi. Tidak ada “orang dalam”, tidak ada perlakuan khusus.
Gaya kepemimpinan Lee kerap disebut otoriter. Namun kekuasaan kuat itu tidak digunakan untuk membangun dinasti politik. Ia memastikan bahwa meritokrasi tetap menjadi prinsip utama, termasuk ketika anggota keluarganya terjun ke politik. Jabatan bukan warisan, melainkan hasil kemampuan dan rekam jejak.
Transformasi Singapura menjadi bukti bahwa kemajuan tidak selalu bergantung pada sumber daya alam atau utang besar-besaran. Kepemimpinan yang jujur, sistem yang disiplin, pendidikan yang tepat sasaran, serta penegakan hukum yang konsisten mampu mengubah negara kecil menjadi raksasa ekonomi.
Pelajaran ini relevan bagi banyak negara berkembang. Namun sering kali, reformasi semacam itu kalah oleh politik pencitraan dan kebijakan populis jangka pendek. Publik lebih mudah terbuai gimmick ketimbang kerja sunyi membangun sistem.
Lee Kuan Yew pernah menunjukkan bahwa memimpin tidak harus menyenangkan semua orang. Terkadang, pemimpin justru harus berani mengambil keputusan tidak populer demi kepentingan jangka panjang bangsa. Kebenaran memang kerap terasa pahit. Tetapi tanpa keberanian menelannya, sebuah negara berisiko berjalan di tempat—atau mundur perlahan tanpa sadar. (Tim)

Saat ini belum ada komentar