Bali Siapkan Tiga Pelabuhan Baru, Strategi Urai Kemacetan Logistik dari Barat Pulau
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar — Pemerintah Provinsi Bali tengah menyiapkan cetak biru pembangunan tiga pelabuhan strategis guna mengurangi penumpukan arus kendaraan logistik yang selama ini terpusat di wilayah barat pulau. Kebijakan ini menjadi bagian dari penataan sistem transportasi darat dan laut yang lebih terintegrasi.
Gubernur Bali, Wayan Koster, mengungkapkan bahwa lokasi yang tengah dikaji meliputi wilayah Sangsit di Buleleng, Amed di Karangasem, serta Kusamba di Klungkung. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda di Gedung Ksirarnawa, Denpasar, Kamis.
Menurut Koster, pembangunan pelabuhan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada jalur logistik yang selama ini bertumpu pada Pelabuhan Gilimanuk. Ia menilai kepadatan angkutan barang di titik tersebut telah memicu kemacetan panjang sekaligus mempercepat kerusakan infrastruktur jalan.
Selain membuka tiga titik baru, pemerintah provinsi juga akan mengoptimalkan peran Pelabuhan Celukan Bawang sebagai bagian dari jaringan distribusi logistik. Skema pendanaan proyek direncanakan melalui kombinasi investasi swasta dan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Koster menjelaskan, konsep pengembangan pelabuhan ini difokuskan pada fungsi utama sebagai titik bongkar muat barang, tanpa pembangunan fasilitas terminal yang bersifat mewah. Dengan demikian, efisiensi distribusi logistik dapat menjadi prioritas utama.
Lebih lanjut, Dinas Perhubungan diminta untuk merancang konektivitas rute penyeberangan langsung dari Pelabuhan Ketapang menuju Bali bagian utara dan timur. Skema ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh kendaraan logistik serta mengurangi beban lalu lintas di jalur konvensional.
“Ke depan, truk logistik dari Ketapang tidak harus lagi melalui Gilimanuk,” ujar Koster menjelaskan perubahan pola distribusi yang dirancang.
Di sektor darat, pemerintah juga memprioritaskan penyelesaian proyek Jalan Tol Jagat Kerthi Bali yang menghubungkan Gilimanuk dengan Mengwi. Selain itu, pembangunan jalur alternatif dari Klungkung dan Bangli menuju kawasan Pura Besakih turut masuk dalam agenda strategis.
Integrasi infrastruktur darat dan laut ini diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah pedesaan. Pemerintah menargetkan pengurangan signifikan terhadap arus kendaraan berat yang selama ini melintasi pusat-pusat aktivitas di Bali.
Koster menegaskan, konsep perencanaan proyek harus segera dirampungkan untuk dibawa dalam pembahasan bersama Komisi V DPR RI di Jakarta. Ia berharap proyek tersebut dapat masuk dalam perencanaan APBN sehingga pembangunan fisik bisa dimulai pada 2027.
Selain pembangunan pelabuhan, implementasi visi pembangunan Bali juga mencakup pengembangan transportasi ramah lingkungan, termasuk kendaraan listrik dan rencana sistem angkutan massal berbasis urban subway. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk menciptakan sistem logistik yang lebih efisien, terjangkau, dan berkelanjutan di Pulau Dewata.
Editor – Ray

Start earning instantly—become our affiliate and earn on every sale!
28 Maret 2026 12:01 PM