Connect with us

Mangku Bumi

AGAMA SEMPURNA

Published

on


Arti yang sebenarnya menyatu dengan Tuhan adalah kembali pada kesadaran murni, dan kondisi menyatu dimaksud hanya bisa diupayakan saat kita masih di badan kasar ini dan capaian itu hanya bisa terlaksana saat kita masih berada di tubuh ini, semasih kesadaran kita berada di dalam tubuh inilah kemuliaan yang sebenarnya, kemuliaan setelah badan kasar mati adalah pengetahuan orang yang tersesat tipuan ilusi maya’nya, karena yang di sangkanya kehidupan setelah mati itu hanyalah segumpal memory tak berdaya

Tubuh dan perangkatnya bukanlah musuh, bukan juga jalan untuk menjadi pendosa, baik-buruk benar-salah adalah tarik-menarik yang menimbulkan gaya untuk bergerak mencapai kebijaksanaan hidup bahkan kebijaksanaan tertinggi, sedemikian kehidupan bukanlah tentang menghafal lalu beretorika menggunjingkan prilaku Baik-buruk, bahkan tuhan sekalipun tidak dibenarkan menghakimi prilaku baik-buruk, karena hidup memiliki dan menjalani keduanya

Murni tanpa embel-embel identitas buatan selain identitas perwakilan kesadaran hidup sang maha hidup ini saja, tubuhlah penyedia jalan untuk mencapai apa yang dimaksud atas keberadaan ini, kesadaran murni yang melayani rasa atas tubuh, yang mengandung reaksi kimiawi, penyedia kesan dan atau sensasi atas perwujudan yang dijalaninya

Kesadaran sendiri tidak lebih sensasi rasa hidup yang adalah domain wujud, terlepas walau itu disebut imateri akan tetapi itu tetap saja kondisi rasa atas wujud, sedangkan identitas yang asli adalah kesadaran murni yang melihat di balik materi, yang mengetahui sadarnya

Tubuh dan segenap perangkat yang menyetainya adalah penyedia sadar, kesadaran atas hidup yang semula “tiada-wujud” menjadi berwujud ketika terbungkus sampulnya, sampul yang paling sempurna menterjamahkan kesadaran hidupnya secara sempurna, dengan kata lain : “kesempurnaan yang mengejawantah”

Tuhan sang maha hidup itu yang menghidupi seluruh yang mewujud darinya, dia pulalah yang berkesadaran diseluruh sampul pembungkus hidupnya dan yang sempurna yang mengetahui kesempurnaanya, yaitu sang diri yang berkesadaran sempurna, manu-sa

Sang Manu juga disebut keturunan MANU yang berkesadaran sempurna, berkemampuan manunggal kesejatian dirinya, diri yang sejati tidak lain benih sang maha hidup,benih yang terkurung oleh sampul hidup’nya,sampul hidup yang maha sempurna yang juga mengandung aturan hidup maha sempurna

Hidup yang digerakan oleh hukum sebab akibat, aksi reaksi yang berlawanan arah akan tetapi tidak saling meniadakan, tarik menarik yang menimbulkan gaya konstant atas jenjang kondisinya, yang menggerakan hidup mencapai wujud pun kehancuran wujudnya

Yang tidak saling meniadakan, tetapi yang tersesat dalam kebodohan (tidak mencapai kebijaksanaan hidup) berambisi menentang hukum keseimbangan semesta, berupaya meniadakan salah satu bandul keseimbangan, berambisi dalam kebodohan bersusah payah menyeragamkan prilaku manusia, yang itu tidak akan pernah terwujud

Tuhan pun mereka anggap keliru membiarkan baik-buruk meningkahi kehidupan manusia, mereka yang hidup berdasarkan kebenaran hafalan, bukan di atas kebenaran sadarnya, mereka cenderung menganggap diri lebih pintar dari penciptanya, sehingga mengingkari kebenaran bahwa tubuh inilah satu-satunya agama sempurna pemberian tuhan, yang di dalamnya mengandung aturan hidup yang maha sempurna

Tubuh sendiri mengandung tuhan sang penghidup beserta aturanya, sedangkan yang belajar itu adalah kesadaran yang sedang tersesat, sampai IA sadar dirinya sedang tertipu maya’nya, terjerat rasa hidup yang di sodorkan kimiawi tubuhnya, tubuh yang mengandung jejak-jejak penciptaan yang hanya bisa diakses saat sang diri berada pada kesadaran murni,
ITU adalah Kau,
Arman Brahman Aikyam,
AKU-Tuhan

Atlantia Ra


Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (5)

Published

on

Keseimbangan antar komponen tridosha sebagai salah satu syarat hidup sehat (harmoni).

Seperti yang sudah dipaparkan dalam tulisan sebelumnya bahwasannya tridosha menjadi titik pijak paling penting dalam pengejewantahan pengetahuan Ayurweda.

Apa itu tridosha? Tidak ada padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Beberapa referensi menyebutnya, dosha itu konstitusi tubuh, atau humor atau energi atau prinsip dasar bangun tubuh seseorang. Konsep dasar tri dosha diambil dari konsep filosofi Sankhya seluruh entitas di alam semesta disusun paling tidak oleh satu dari lima unsur dasar yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu ether, angin, api, air dan tanah.

Kombinasi antara unsur ether dan angin adalah Vata, kombinasi unsur api dan air adalah Pitta dan kombinasi unsur air dan tanah adalah Kapha.

Vata, Pitta dan Kapha inilah yang disebut tridosha. Semua anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika digerakkan oleh tridosha. Termasuk juga tirdosha merupakan kekuatan pelindung tubuh seseorang.

Ketika seseorang dalam keseimbangan tridosha yang sempurna, orang tersebut dalam kondisi sehat yang sempurna. Sebaliknya, ketika tridhosa tidak seimbang (disharmoni) seseorang akan mengalami gangguan kesehatan, penderitaan dan sakit.

Setiap individu memiliki tipe dosha yang unik tergantung jenis dan komposisi dari dosha seseorang.

Tipe dosha yang dimiliki seseorang ditentukan ketika mulai proses konsepsi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur dari orang tua laki-laki dan perempuan orang tersebut yang juga tergantung waktu, tempat dan konstelasi planet-planet pada saat pertemuan tersebut.

Inilah yang menjadikan dosha seseorang UNIK. Ini juga yang menentukan anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika seseorang juga unik dan berbeda antar individu.

Lalu bagaimana menentukan tipe dosha seseorang? Ada serangkaian pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap individu secara jujur dan mendalam.

Tentu orang yang semakin mengenal dirinya secara baik, maka akan semakin tepat dalam menentukan tipe doshanya. Secara umum, tipe dosha seseorang adalah kombinasi yang unik juga dari tridosha (Vata, Pitta dan Kapha).

Penampahan Galungan,
18.02.20

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (4)

Published

on

Bagaimana Ayurweda begitu yakin menjadi pengetahuan tentang hidup (the science of life)? Sekarang kita mengulas sepintas mengenai enam filosofi yang menjadi dasar-dasar pengetahuan Ayurweda.

Filosofi yang pertama, yaitu Sankhya. Filosofi Sankhya memberikan Ayurweda teori tentang evolusi dan teori tentang sebab akibat.

Kita dapat menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya dalam keseharian menjalani kehidupan dari momen ke momen.

Bahwasanya kita bukanlah tubuh fisik ini, kita bukan ketakutan itu, kita bukan penderitaan itu, kita bukan rasa sakit itu. Singkatnya, kita hanya penghuni yang tinggal dalam tubuh ini. Kita adalah eksistensi yang lebih tinggi dan lebih mulia, yaitu kesadaran murni (pure Consciousness).

Dengan menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya ini dalam hidup keseharian, kita menyembuhkan diri kita sendiri.

Kita harus menyembuhkan diri kita sendiri. The best doctor is our own self. Filosofi yang kedua, Nyaya dan Vaisheshika.

Pengetahuan filosofi Nyaya dan Vaisheshika memberikan Ayurweda dasar berpikir yang runut dan logis. Bahwa tubuh ini adalah suatu mesin materi yang harus dipelihara dan diperbaiki.

Tubuh adalah sarana untuk mencapai tujuan hidup, maka tubuh harus tetap sehat dengan pola hidup sehat yang holistik. Filosofi yang ketiga, yaitu Mimamsa.

Pengetahuan filosofi Mimamsa tentang kerja adalah bagian dari hidup yang mana untuk mencapai pembebasan dengan melaksanakan kebenaran/kewajiban (Dharma).

Sumbangsih filosofi Mimamsa pada Ayurweda meliputi metode dan cara-cara mencapai Tuhan melalui ritual, upacara dan puasa.

Filosofi yang keempat, yaitu Vedanta. Pengetahuan filosofi Vedanta memberikan pemikiran yang mendalam pada Ayurweda tentang Tuhan yang abadi, yang merupakan pencapaian terkahir dari setiap manusia.

Untuk mencapai tujuan ini, setiap individu mutlak memiliki kesehatan yang sempurna. Filosofi yang kelima, yaitu Yoga.

Ayurweda menggunakan Yoga secara terapetik untuk tujuan kesehatan dan sesungguhnya setiap sistem yoga memiliki nilai kesehatan yang sangat besar. Filosofi yang keenam, yaitu Buddhisme.

Empat Kebenaran yang Mulia dalam ajaran Buddha, yaitu adanya penderitaan, ada penyebab dari penderitaan, ada akhir dari penderitaan dan ada sarana untuk mengakhiri penderitaan. Buddha mengatakan, segala sesuatu akan berkahir.

Jangan khawatir pada penyakit, karena penyakit akan berakhir.

Pengetahuan filosofi Buddha mengajarkan ada penderitaan dan cara sederhana untuk bebas dari penderitaan adalah kesabaran, dengan memberikan waktu tubuh untuk menyembuhkan dirinya. Inilah sumbangsih filosofi Buddhisme terhadap Ayurweda.

(Prof. I Ketut Adnyana)

15.02.20
Rahayu

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (3)

Published

on

Masih tentang keseimbangan (harmoni), karena itu memang konsep besar sehat menurut Ayurweda.

Untuk tetap sehat, seorang individu harus juga menjaga keseimbangan antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung). Dimana menurut Astrologi Weda, konstelasi planet-planet akan mempengaruhi keseimbangan (harmoni) seseorang bahkan juga perjalanan kehidupan seseorang.

Konstelasi planet-planet akan mempengaruhi musim, suhu global bumi yang tentu setiap individu harus menyesuaikan aktivitas hariannya bila tetap mengharapkan sehat (harmoni) dari waktu ke waktu.

Konstelasi ini akan mempengaruhi keseimbangan konstitusi (tridosha), gejolak emosi dan kecenderungan pikiran seseorang yang secara holistik akan menentukan dinamika harmoni seseorang.

Harmoni seseorang juga dipengaruhi oleh dua modal besar, yaitu genetik dan lingkungan.

Genetik ini adalah faktor keturunan yang kalau dirunut merupakan jejak-jejak dari kehidupan seseorang sebelumnya yang disebut karma wasana. Inilah jawabannya mengapa seseorang lahir dari keturunan keluarga yang mengalami diabetes, hipertensi, dislipidemia, pemarah, bandel dan lain sebagainya terlalu banyak kalau disebutkan karena memang unik untuk setiap individu.

Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah modal genetik ini. Namun, kita masih memiliki modal besar yang kedua, yaitu lingkungan. Meminjam formula Einstein yang sangat terkenal yaitu E=mC2, dimana suatu materi memiliki energi potensial sebesar massanya dikali kecepatan cahaya kwadrat.

Bisa dihitung bagaimana besarnya energi suatu materi. Namun disini kita tidak sedang membahas formula Einstein.

Lalu apa hubungannya dengan harmoni menurut Ayurweda? Saya menganalogikan E adalah Equilibrium (keseimbangan atau harmoni), m adalah man atau individu itu sendiri yang bersifat unik dan cenderung tetap (genetik).

Sedangkan C adalah circumstances (keadaan atau lingkungan). Jadi sekali lagi, harmoni seorang individu ditentukan oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan. Yang perlu diingat, lingkungan menjadi penentu paling besar harmoni seseorang.

Karena kalau disesuaikan dengan formula Einstein, lingkungan nilainya sangat besar dan dikwadratkan lagi. Artinya, harmoni individu sebagian besar ada dalam kendali individu itu sendiri, yaitu dengan syarat mampu mengendalikan faktor lingkungan hidupnya.

Apa saja yang menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi harmoni individu? Tiga besar lingkungan saya sebutkan disini, yaitu pola pikir, pola makan (diet) dan pola hidup (lifestyle termasuk aktivitas fisik atau olahraga).

(Prof. I Ketut Adnyana)

Rahajeng rahina Sugihan Bali,
14.02.20

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam