Bali Diproyeksikan Jadi Pusat Keuangan Global, Pemerintah Siapkan Kawasan Khusus Mirip DIFC Dubai
- account_circle Admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan latar belakang Dubai International Financial Centre (DIFC) di Uni Emirat Arab.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Pemerintah pusat menyiapkan langkah ambisius dengan membangun Indonesia Financial Centre di Bali melalui skema Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Proyek tersebut digadang-gadang menjadi pusat keuangan internasional yang mengadopsi konsep serupa Dubai International Financial Centre (DIFC) di Uni Emirat Arab.
Rencana itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2026). Pemerintah disebut tengah menyiapkan kawasan seluas lebih dari 100 hektare yang dirancang khusus untuk menarik arus investasi dan dana asing masuk ke Indonesia.
“Akan kita buat seperti Dubai,” ujar Purbaya.
Menurutnya, kawasan tersebut akan memiliki sistem administrasi dan regulasi yang dirancang lebih fleksibel guna meningkatkan daya tarik bagi investor global. Pemerintah ingin menjadikan Bali tidak hanya sebagai destinasi pariwisata dunia, tetapi juga pusat aktivitas keuangan internasional.
Dalam skema yang disiapkan, investor asing nantinya diberi ruang untuk berinvestasi di berbagai instrumen keuangan domestik, mulai dari pasar modal, pasar uang hingga obligasi. Dana yang masuk diharapkan mampu mendukung pembiayaan pembangunan nasional serta proyek-proyek strategis pemerintah maupun sektor swasta.
Purbaya menjelaskan, pembahasan regulasi saat ini tengah dipercepat bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait agar proyek tersebut dapat segera direalisasikan.
“Tidak terlalu lama akan segera dijalankan,” katanya.
Rencana pembangunan pusat keuangan internasional di Bali memunculkan beragam tanggapan di masyarakat. Sebagian pihak menilai proyek tersebut dapat membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan investasi di Pulau Dewata.
Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lingkungan, budaya, serta identitas Bali sebagai daerah yang selama ini dikenal kuat menjaga nilai tradisi dan kearifan lokal.
Pengamat ekonomi menilai, apabila proyek tersebut benar-benar terealisasi, pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan budaya lokal agar transformasi Bali tidak menggerus karakter Pulau Dewata.
Selain itu, transparansi regulasi dan kesiapan infrastruktur juga dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan Indonesia Financial Centre mampu bersaing dengan pusat keuangan global lain di kawasan Asia maupun Timur Tengah.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar