Jejak Kelam Opium di Denpasar Tahun 1920, Antara Legalisasi dan Kerusakan Sosial
- account_circle Admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

Sumber foto: Leiden University
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar – Sebuah potret lawas dari tahun 1920 mengungkap sisi lain kehidupan masyarakat Bali pada masa kolonial. Dalam foto arsip milik Leiden University tersebut, tampak aktivitas mengisap opium atau yang dikenal dengan istilah “madat”, yang kala itu menjadi bagian dari keseharian sebagian masyarakat.
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, konsumsi opium tidak hanya terjadi di kota, tetapi juga merambah hingga ke pelosok desa. Fenomena ini berbanding terbalik dengan kebiasaan masyarakat Eropa, khususnya Belanda, yang lebih identik dengan konsumsi minuman beralkohol.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan, maraknya penggunaan opium di kalangan pribumi tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial yang melegalkan peredarannya. Opium bahkan menjadi salah satu komoditas yang diatur dan diawasi secara resmi oleh pemerintah saat itu.
Di Denpasar, keberadaan gudang opium dan rumah penjaganya tercatat berada di kawasan Jalan Veteran. Lokasi tersebut diperkirakan berada di titik yang kini dikenal sebagai kawasan Inna Bali Heritage Hotel atau yang dahulu populer dengan sebutan Bali Hotel.
Dampak dari konsumsi opium pun tidak kecil. Selain menimbulkan ketergantungan, penggunaan madat disebut-sebut berkontribusi terhadap meningkatnya angka kriminalitas di kalangan masyarakat pribumi. Sejumlah pihak menilai kondisi ini bukan sekadar dampak sosial biasa, melainkan bagian dari strategi kolonial untuk melemahkan moral dan daya juang rakyat.
Kini, potret tersebut menjadi pengingat sejarah akan bagaimana kebijakan masa lalu dapat memengaruhi tatanan sosial masyarakat. Dokumentasi ini sekaligus membuka ruang refleksi tentang pentingnya menjaga kedaulatan sosial dan budaya dari pengaruh yang merusak.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar