Atasi Persoalan Sampah, Kebiasaan dan Pola Hidup Masyarakat Jadi Kunci
- account_circle Budi Susilawarsa
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Denpasar — Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Nyoman Suwirta, menyampaikan bahwa upaya mengatasi persoalan sampah tidak hanya bergantung pada peran pemerintah, tetapi juga sangat ditentukan oleh kebiasaan, perilaku, dan pola hidup masyarakat.
Menurutnya, penanganan sampah akan lebih efektif apabila dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing dengan menerapkan kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik.
“Jika masyarakat mampu menerapkan pemilahan sampah dengan baik, niscaya persoalan sampah ke depan akan lebih mudah teratasi. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi berbagai produk,” ujar Suwirta.
Ia menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah berupaya menangani persoalan sampah melalui berbagai program dan fasilitas, salah satunya dengan menyiapkan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle).
Selain itu, pemerintah juga melibatkan desa adat dalam upaya penanganan sampah, termasuk memberikan berbagai bantuan seperti tong pengolahan sampah dan fasilitas lainnya yang ditempatkan di lingkungan masyarakat.
“Artinya, pada era sekarang ini penanganan sampah harus dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing melalui pemilahan sampah, yakni memisahkan sampah organik dan anorganik,” jelasnya, Kamis (12/3/2026).
Suwirta juga menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Klungkung. Saat itu, persoalan sampah dapat ditangani dengan lebih baik melalui program pendidikan lingkungan yang dikenal dengan kurikulum nol sampah.
Melalui program tersebut, seluruh komponen masyarakat dilibatkan dalam upaya penanganan sampah, mulai dari Dinas Pendidikan, desa adat, hingga sektor industri.
“Hasilnya, persoalan sampah di Kabupaten Klungkung mulai dapat teratasi dengan baik. Kuncinya adalah membangun kebiasaan, pola hidup, dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan TPS3R tidak serta-merta mampu menyelesaikan seluruh persoalan sampah jika masyarakat tidak ikut berperan aktif dalam pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing.
“Mengatasi persoalan sampah secara menyeluruh juga harus didukung oleh sumber daya manusia yang baik. Infrastruktur dan sistem saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat,” pungkasnya.
Jika Anda mau, saya juga bisa bantu membuat versi berita yang lebih tajam dan kuat secara jurnalistik (lebih layak tayang di media online) dengan judul yang lebih menarik dan lead yang lebih kuat. | Bud

Saat ini belum ada komentar