Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah
- account_circle Admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan. Pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level Rp17.019 per dolar AS.
Posisi tersebut terkoreksi sekitar 0,56 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat pekan lalu yang berada di level Rp16.925 per dolar AS.
Pelemahan ini sekaligus menjadi catatan baru bagi rupiah karena menembus level terlemah yang pernah terjadi sebelumnya. Nilai tersebut melampaui posisi saat krisis pandemi Covid-19 pada Maret 2020 yang berada di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS.
Bahkan, angka ini juga melampaui level terburuk pada masa krisis moneter 1998 yang sempat menyentuh sekitar Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday.
Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tunggal. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami tren pelemahan terhadap dolar AS pada awal pekan ini.
Won Korea tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar yakni sekitar 0,85 persen.
Selanjutnya diikuti yen Jepang yang melemah 0,58 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,49 persen, serta rupee India yang turun sekitar 0,16 persen.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang pekan ini masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS, seiring berbagai sentimen global maupun domestik yang masih menekan pasar keuangan.
Salah satu faktor dari dalam negeri yang memicu sentimen negatif adalah keputusan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang menurunkan prospek ekonomi Indonesia menjadi negatif.
Ibrahim menjelaskan, lembaga tersebut menyoroti sejumlah indikator fundamental ekonomi nasional, salah satunya terkait rasio pajak atau tax ratio Indonesia yang dinilai masih rendah dalam satu dekade terakhir.
Kondisi tersebut dinilai dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika ekonomi global.
Selain faktor domestik, penguatan dolar AS di pasar global serta ketidakpastian ekonomi internasional juga turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan dari pemerintah maupun otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih berlangsung.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar