Hari Arak Bali ke-6, Momentum Jaga Tradisi dan Perkuat Industri Minuman Lokal
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR — Peringatan Hari Arak Bali yang jatuh setiap 29 Januari dinilai menjadi momentum penting dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus memperkuat posisi industri minuman tradisional Bali di tengah perkembangan zaman. Pada peringatan Hari Arak Bali ke-6 tahun 2026 ini, arak kembali ditegaskan bukan sekadar produk konsumsi, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Bali.

Bagi masyarakat Bali, arak memiliki makna sakral. Minuman tradisional ini hadir dalam doa, upacara adat, dan ritual keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Nilai historis dan spiritual tersebut menjadi alasan utama pentingnya pelestarian arak Bali secara berkelanjutan.
Hari Arak Bali sendiri pertama kali ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor 929/03-I/HK/2022 oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, sebagai bentuk pengakuan terhadap arak Bali sebagai warisan budaya sekaligus potensi ekonomi daerah.

Managing Director PT Hatten Bali Tbk, Ida Bagus Rai Budarsa, menyambut positif penetapan Hari Arak Bali tersebut. Menurutnya, peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat posisi arak Bali sebagai warisan budaya yang bernilai ekonomi.
“Arak Bali bukan sekadar minuman, tetapi bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Rai Budarsa saat ditemui di sela-sela peringatan Hari Arak Bali di kawasan Nusa Dua, Jumat (29/1/2026).

Pria yang akrab disapa Gus Rai ini menilai Hari Arak Bali menjadi ruang refleksi tentang bagaimana tradisi dapat terus hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. Ia menekankan bahwa arak Bali memiliki peran penting dalam berbagai upacara adat dan ritual keagamaan, sehingga pelestariannya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya yang melekat.
Lebih lanjut, Gus Rai menyebut peringatan Hari Arak Bali juga menjadi momentum bagi pelaku industri, termasuk PT Hatten Bali Tbk, untuk berkontribusi dalam menjaga kualitas produksi arak tradisional, sekaligus melakukan inovasi agar mampu bersaing di pasar modern.
“Inovasi diperlukan, namun tetap harus menghormati nilai dan akar budaya Bali,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan ke depan bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga memastikan arak Bali tetap relevan bagi generasi masa kini. Peran industri dinilai penting sebagai jembatan antara nilai tradisional dan inovasi modern, tanpa menghilangkan esensi budaya yang menjadi ruh arak Bali.
“Berinovasi boleh, tetapi ruh tradisinya tidak boleh hilang,” ujarnya.
Gus Rai berharap, peringatan Hari Arak Bali ke-6 ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya arak Bali sebagai warisan budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi perajin dan pelaku usaha lokal di Bali.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar