FOTO Bali Festival 2026 Umumkan 36 Seniman Dunia, Nuanu Jadi Pusat Dialog Fotografi Global
- account_circle Admin
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Badung, Bali — Kawasan kreatif Nuanu Creative City resmi mengumumkan 36 seniman internasional terpilih dalam ajang FOTO Bali Festival 2026, setelah melalui proses seleksi ketat dari hampir 700 submisi yang datang dari lebih dari 80 negara.
Festival fotografi berskala global ini dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026 di Bali, menghadirkan karya seniman dari 24 negara lintas benua, mulai dari Asia, Afrika, Eropa, Amerika hingga Oseania.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah “Timeland” milik fotografer Italia, Gianluca Lanciai, yang mengangkat eksplorasi visual tentang umur panjang masyarakat di Sardinia. Karya tersebut menjadi representasi kuat pendekatan fotografi yang tidak hanya dokumentatif, tetapi juga reflektif terhadap waktu dan kehidupan.
Mengusung tema “Afterimage”, festival ini menyoroti bagaimana sebuah citra tidak berhenti pada momen yang ditangkap, melainkan terus hidup dalam memori, sejarah, dan pengalaman kolektif.
Direktur festival, Kelsang Dolma, menjelaskan bahwa ajang ini dirancang sebagai ruang dialog lintas budaya. “Kami ingin membuka percakapan yang lebih luas antara praktik fotografi dari berbagai konteks, tanpa batas geografis maupun generasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mekanisme open call menjadi bagian penting dalam menjaring keragaman perspektif, sekaligus memberi ruang bagi seniman baru maupun yang telah mapan.
Festival ini turut mendapat dukungan dari program nasional Wonderful Indonesia. Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata penguatan ekosistem kreatif nasional. “FOTO Bali Festival 2026 menunjukkan bagaimana seni, fotografi, dan komunitas dapat bertemu untuk menciptakan percakapan budaya yang bermakna, berakar dari Bali,” katanya.
Dari ratusan karya yang masuk, hanya sekitar 5 persen yang lolos kurasi. Kurator festival, Kurniadi Widodo, menilai karya-karya terpilih menunjukkan keberagaman pendekatan fotografi kontemporer, mulai dari dokumenter hingga lintas disiplin. Senada, Putu Sridiniari menekankan bahwa fotografi dalam konteks “Afterimage” menjadi medium yang terus membentuk cara manusia memahami realitas. “Gambar tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus beredar dan memengaruhi cara kita memaknai dunia,” ujarnya.
Festival ini juga melibatkan delapan seniman Indonesia yang turut memperkaya dialog global dengan perspektif lokal. Kehadiran mereka menjadi jembatan penting antara narasi internasional dan konteks budaya Indonesia.
Dengan skala partisipasi dan kurasi yang ketat, FOTO Bali Festival 2026 menegaskan posisinya sebagai salah satu platform penting dalam perkembangan fotografi kontemporer di kawasan Asia Tenggara. Selain pameran, festival ini juga akan menghadirkan berbagai program publik seperti diskusi, proyek kolaboratif, dan ruang pembelajaran yang terbuka bagi masyarakat luas.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar