Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi
- account_circle Ray
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- print Cetak

Ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Masa depan pengemudi transportasi online kembali berada di persimpangan. Jika pada awal kemunculannya aplikasi transportasi daring menjanjikan konsep kemitraan berbasis kepemilikan kendaraan pribadi, kini arah bisnis itu perlahan bergeser.
Pengemudi tak lagi sekadar “mitra” dengan mobil sendiri, melainkan berpotensi menjadi pekerja yang terikat cicilan kendaraan milik atau difasilitasi langsung oleh perusahaan aplikasi.

Sejak awal, narasi besar transportasi online dibangun di atas klaim bahwa pengemudi adalah mitra independen yang menggunakan kendaraan pribadi untuk mencari penghasilan.
Namun, dalam beberapa tahun ke depan, skema tersebut diprediksi berubah drastis. Perusahaan aplikasi mulai mendorong penggunaan unit kendaraan sendiri, khususnya mobil listrik, dengan mekanisme cicilan atau sewa jangka panjang yang dikendalikan langsung oleh platform.
Fenomena ini sejatinya telah lebih dulu diterapkan pada sektor ojek online (ojol) roda dua. Pengemudi ojol kini banyak yang menggunakan motor listrik melalui skema sewa hak milik (rent-to-own/RTO). Dalam skema tersebut, pengemudi membayar cicilan harian sekitar Rp55.000 selama kurang lebih dua tahun. Pengajuan dilakukan melalui aplikasi tertentu seperti PLN Mobile atau penyedia mitra khusus.
Namun, di balik kemudahan itu tersimpan risiko besar: jika terjadi keterlambatan pembayaran, akses kendaraan dapat diputus jarak jauh.
Model serupa berpotensi diterapkan pada pengemudi transportasi online roda empat.
Artinya, mobil yang digunakan bukan lagi aset pribadi, melainkan kendaraan yang secara de facto berada di bawah kendali ekosistem aplikasi. Pengemudi tetap menanggung beban cicilan, sementara posisi tawar mereka semakin lemah.
Di level global, arah kebijakan ini diperkuat oleh langkah industri otomotif. Raksasa otomotif asal China, BYD, dikabarkan tengah menyiapkan sub-merek khusus untuk pasar armada operasional seperti taksi online dan transportasi berbasis aplikasi. Sub-merek bernama Linghui itu terungkap melalui dokumen deklarasi ke Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT).
BYD mendaftarkan empat model awal, yakni Linghui e5, e7, e9, dan M9. Seluruhnya dirancang berbasis platform BYD yang sudah ada, namun disesuaikan untuk kebutuhan operasional intensif armada. Linghui e9, misalnya, berbasis BYD Han dengan tenaga motor listrik hingga 150 kW. Linghui e7 dan e5 menyasar segmen menengah dengan motor 100–130 kW, sementara Linghui M9 hadir sebagai model terbesar berbasis plug-in hybrid.
Langkah BYD ini menegaskan bahwa pasar transportasi online dan armada aplikasi kini menjadi ladang bisnis strategis global. Kendaraan dirancang bukan untuk konsumen individu, melainkan untuk operasional masif dengan biaya efisiensi tinggi.
Di sisi lain, pengemudi berpotensi terjebak dalam sistem kerja baru: menanggung cicilan kendaraan, menghadapi target algoritma, dan minim perlindungan sebagai pekerja.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada transportasi online, perubahan ini memunculkan dilema besar. Di satu sisi, mobil listrik menjanjikan biaya operasional lebih rendah. Namun di sisi lain, hilangnya kepemilikan kendaraan pribadi membuat pengemudi kian bergantung pada aplikasi, baik secara ekonomi maupun struktural.
Jika skema ini diterapkan tanpa regulasi yang tegas, maka transformasi transportasi online berisiko menggeser kemitraan menjadi bentuk ketergantungan baru. Pengemudi bukan lagi pemilik aset, melainkan sekadar operator kendaraan dengan beban cicilan yang terus berjalan—bahkan ketika pendapatan tak lagi pasti.
Editor – Ray

Saat ini belum ada komentar