AMPI Bali Dorong Generasi Muda Jadi Garda Depan Jaga Identitas dan Arah Masa Depan Pulau Dewata
- account_circle Admin
- calendar_month 11 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR – Generasi muda Bali didorong untuk mengambil peran strategis dalam menjaga identitas budaya sekaligus menentukan arah masa depan Pulau Dewata. Hal itu mengemuka dalam talkshow bertajuk “Peran Pemuda Bali, Menguatkan Identitas dan Arah Bali di Masa Mendatang” yang digelar Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Bali di Kantor DPD Golkar Bali, Jumat (24/4).
Ketua Komisi II DPRD Bali sekaligus Ketua AMPI Bali, Agung Bagus Pratiksha Linggih, menegaskan pentingnya kesadaran generasi muda dalam menjaga adat dan budaya Bali. Ia mengakui terdapat sejumlah tantangan yang kerap dihadapi anak muda, seperti keterbatasan waktu, biaya, hingga anggapan bahwa budaya mulai kehilangan relevansi di era modern.

“Apakah masalahnya biaya, waktu, atau relevansi? Ini yang harus dijawab bersama,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Ajus Linggih itu menilai budaya Bali tetap relevan dalam seluruh aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun spiritual. Bahkan, menurutnya, keberlangsungan ekonomi Bali sangat bergantung pada pelestarian budaya, terutama karena dominasi sektor pariwisata.
“Kalau berbicara relevansi, adat budaya Bali ini sangat relevan di seluruh elemen kehidupan kita, baik dari ekonomi maupun segi spiritual,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya sikap kritis generasi muda terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya, pemuda memiliki peran sebagai check and balance agar arah pembangunan tetap berpihak pada masyarakat serta tidak terjebak dalam politisasi desa adat.
“Pemuda harus kritis, karena pemerintah adalah nahkoda arah identitas Bali ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Pendidikan Nasional, Kiki Syah, menilai Bali saat ini berada di persimpangan arah pembangunan: mempertahankan basis agraris atau bertransformasi menjadi pulau modern.

“Bali mau diarahkan ke mana? Jika agraria, maka pertanian dan swasembada pangan harus diperkuat serta alih fungsi lahan dikendalikan. Jika menuju modern island, regulasinya harus tetap berlandaskan konsep Tri Hita Karana,” jelasnya.
Ia juga menyoroti dampak pembangunan masif yang menyebabkan lonjakan harga tanah, sehingga semakin sulit dijangkau generasi muda, khususnya Gen Z.
“Dengan pola kerja 9 to 5, generasi muda akan kesulitan mengejar harga tanah yang terus naik,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Forum Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (FA KMHDI) Bali, I Ketut Sae Tanju, menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama pembangunan Bali.
“Tidak bisa membangun Bali tanpa SDM yang kuat. Pendidikan adalah jalan menuju kebijaksanaan,” katanya.
Ia menilai pembangunan infrastruktur tidak akan berarti tanpa kualitas SDM yang memadai. Bahkan, menurutnya, SDM yang unggul mampu mengoptimalkan kondisi yang terbatas sekalipun.
Sae Tanju juga menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas pendidikan, serta mempertanyakan implementasi konsep Tri Hita Karana yang dinilai belum maksimal.
“Konsepnya dijual, tetapi implementasinya belum tentu ada,” kritiknya.
Ia menegaskan bahwa penguatan identitas Bali harus dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi masyarakat, disertai roadmap yang jelas dari pemerintah.
Talkshow ini dihadiri oleh anggota AMPI Bali, akademisi, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Para pembicara sepakat bahwa masa depan Bali sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda dalam menjaga keseimbangan antara budaya, ekonomi, dan pembangunan.
Pemerintah pun diharapkan hadir melalui kebijakan dan alokasi anggaran yang berpihak pada pelestarian identitas Bali di tengah derasnya arus modernisasi.
Editor – Ray

l7b567
25 April 2026 10:04 AM