Fakta Keberadaan Yayasan Pengayom Umat Hindu Singaraja

GatraDewata.Com – Yayasan Pengayom Umat Hindu Singaraja (YPUH) memiliki peran penting bagi masyarakat Bali yang banyak terbantu sejak awal berdirinya. Berikut fakta – fakta yang layak anda ketahui:

  1. Pendiri – YPUH didirikan oleh Jero Mangku Nyoman Sedana Wijaya, BA pada tahun 2010 silam. Sosok kelahiran Yeh Taluh Singaraja itu mengambil inisiatif yang cukup berani. Bagaimana tidak, di tengah kehidupan masyarakat Bali yang menjunjung tinggi tradisi dan kekeluargaan (menyame braye) beliau mampu meyakinkan mereka bahwa ngaben dan upacara Hindu lainnya bisa dibuat lebih sederhana tanpa mengurangi esensi kesakralannya. Ide mendirikan yayasan yang kemudian diberi nama Yayasan Pengayom Umat Hindu ini lantas beliau utarakan ke sejumlah sulinggih di Bali. Bak gayung bersambut, 80% dari sekian banyak sulinggih yang ia temui menyambut ide tersebut. Dari sinilah awal berdirinya YPUH. Beliau mengatakan dengan berapi – api bahwa yayasan ini dimaksudkan demi meringankan beban masyarakat Hindu yang kian banyak menjual asetnya (kebanyakan dalam wujud tanah) untuk melangsungkan upacara, baik manusa maupun pitra yadnya.
  2. Reaksi masyarakat – Ide brilian sang Jero Mangku bukan tanpa tantangan. Banyak yang meragukan keabsahan prosesi layanan di yayasan yang ia gagas. “Awalnya kami pernah berinteraksi dengan masyarakat Sudaji dimana mereka tidak bisa menerima sistim ini karena alasan tradisi. Disamping itu mereka dan juga masyarakat lainnya kebanyakan masih percaya dengan istilah ‘beras jinah’ atau opini balian yang sering malah menyesatkan. Oknum balian ini kerap mengatakan bahwa atma atau roh yang tidak ditangani sesuai tradisi akan menderita di laut (tenggelam). Padahal yang namanya roh tidak terbakar oleh api maupun basah oleh air, apalagi tenggelam” jelasnya panjang lebar.
  3. Sambutan masyarakat – Jika dilihat dari tren masyarakat saat ini, mereka mulai menerima sistim upacara yang kami terapkan di yayasan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah layanan yang lambat laun kian meningkat, bahkan mereka datang dari desa Sudaji yang awalnya kurang sependapat. “Kadang kami harus melayani lima upacara dalam sehari” imbuh beliau optimis. Umat Hindu yang sangat berpegang pada hari baik (dewase) kerap menyebabkan penumpukan jadwal karena akhirnya mereka mengambil hari yang sama untuk upacara, contohnya, kremasi.
  4. Sumber dana – Untuk prosesi kremasi dipatok harga dikisaran 20 sampai 24 juta tergantung beberapa faktor seperti kemampuan keluarga yang punya hajatan, jarak, maupun hal – hal yang tak terduga lainnya. Dari total dana yang mereka kumpulkan akan dialokasikan untuk biaya banten dan sebagian lagi untuk dana pembangunan, operasional dan perawatan. Disamping dana langsung dari klien yang punya hajatan mereka juga kerap menerima sumbangan dari perorangan. “Kami dapat sumbangan Ambulance dari pengusaha asal Banyuatis, pejabat daerah dan banyak lagi perorangan yang tidak terhitung jumlanya” tambah beliau kian semangat. Masyarakat juga bisa menyalurkan sumbangannya melalui kotak dana punia atau via transfer ke rekening BCA cabang Singaraja dengan nomor 8270567950.
  5. Prospek kedepan – Dengan kian bertambahnya jumlah pesanan akan layanan yayasan, dan dukungan dalam bentuk sumbangan, dijadikan sebagai indikator bahwa keberadaan yayasan kedepannya akan makin diperhitungkan. Kepraktisan prosesi yang beliau tawarkan sejalan dengan situasi masyarakat yang kian sibuk. Beliau menambahkan jika ngaben cara lama bisa memakan waktu antara seminggu hingga dua minggu. Di YPUH anda bisa melakukannya dalam sehari. “Kami hanya butuh sekitar dua jam untuk persiapan” tegasnya.
  6. Kontak beliau – bagi masyarakat yang ingin tahu lebih tentang YPUH bisa menghubungi beliau di nomor 085237100081 atau langsung datang ke yayasan yang beralamat di Jl. Pulau Kalimantan No. 20, Kelurahan Kampung Baru, Singaraja. <swn>