Connect with us

Daerah

Ketua BMPS, PPDB jangan amburadul harus sesuai kuota

Published

on


GATRA DEWATA | DENPASAR | Terkait akan segera dilaksanakannya Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Bali tak jarang memunculkan masalah tiap tahun. Dimana jumlah sekolah negeri yang ada tak sebanding dengan jumlah lulusan siswa yang mencari sekolah.

Di sisi lain, animo calon siswa mencari sekolah negeri sangat tinggi. Maka tak ayal, kerap muncul sekolah gendut yang dikarena menerima siswa melebihi daya tampung atau kuota. Fenomena ini sangat disayangkan oleh pengelola sekolah swasta. Pasalnya, sekolah swasta kian meringis atau nenangis karena kekurangan siswa, padahal daya tampung sangat banyak. Bahkan ada sekolah yang nyaris tutup akibat kondisi tersebut.

Menyikapi hal itu, Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Bali yang baru terpilih Gede Ngurah Ambara Putra, SH mendesak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali agar tegas menerapkan kebijakan pembagian kuota di masing-masing sekolah negeri, khususnya jenjang SMA/SMK.

“Kami minta Kepala Disdikpora Bali agar tegas menerapkan aturan soal kuota siswa baru. Daya tampung di masing-masing sekolah negeri itu seharusnya diterapkan dengan benar. Dan jangan sampai daya tampung 100 misalnya, tapi nyatanya menerima 200 siswa, kan kasihan kami sekolah swasta,” ujarnya, Jumat (4/6).

Lanjutnya, tak hanya soal daya tampung sekolah negeri, pihaknya juga menyampaikan 4 poin harapan lainnya kepada Pemerintah Provinsi Bali, dalam hal ini Disdikpora yakni Pertama, meminta perlakuan adil antara sekolah negeri dan swasta. Karena realitanya selama ini sekolah swasta turut andil menyukseskan program pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Selama ini hanya sekolah negeri yang lebih diperhatikan, baik dari segi keuangan, personalia maupun SDM guru. Swasta itu keuangannya mandiri, memang ada dana BOS dan BOD (Bantuan Operasional Daerah) tapi terbatas. Kalau ingin pendidikan ini maju bersama, maka bantuannya juga harus adil,” ungkap penerus pendiri Sekolah TP 45 ini.

Kemudian yang kedua, jika akan membangun sekolah negeri baru diharapkan BMPS atau sekolah swasta dilibatkan dalam pembahasan. Hal ini guna menghindari adanya penumpukan sekolah di suatu wilayah, dimana sudah ada sekolah swasta yang seharusnya bisa menampung siswa. Hal ini agar tidak mematikan sekolah swasta yang sudah ada di lingkungan tersebut. Pemerintah harus support sekolah swasta itu.

Ketiga, tenaga guru negeri yang diperbantukan di sekolah swasta seyogyanya tidak ditarik lagi. Hal ini untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah swasta dan meringankan beban operasional yayasan.

Dan yang keempat, ia juga meminta para orang tua tidak mendidik anaknya menjadi bermental priyayi. Sembari menambahkan,  dalam hal ini orang tua tidak perlu sibuk mencarikan sekolah dan memaksakan ke sekolah negeri, biarkan anak berkompetisi atau mengikuti minatnya.

“Pemerintah juga perlu mewujudkan lingkungan sehat di bidang pendidikan, kalau ada sekolah yang kurang seharusnya dibantu,” pungkasnya. (SUS)


Daerah

Seberapa Siapkah Ubud Menyambut Bali-Open-Border?

Published

on

Flyer deklarasi Bali Open Border

GatraDewata[Gianyar] Sampai detik ini, 16/06/2021, keputusan pemerintah untuk membuka kembali border internasional pada Juli mendatang masih berlaku. Belum ada pembatalan ataupun konfirmasi ulang terhadap keputusan tersebut.

Ubud sebagai salah satu destinasi wisata yang turut mendapatkan gelar green zone, sudah sangat siap menghadapi serbuan wisatawan mancanegara. Hal ini terlihat dari besarnya tingkat kesadaran manajemen untuk mengikuti protokol kesehatan yang dikemas dalam paket sertifikasi CHSE.

Salah satu indikasinya yaitu jumlah unit penginapan yang tergabung di Ubud Hotel Association (UHA) hampir semuanya sudah mengantongi sertifikat CHSE.  “Dari total lebih dari seratus anggota, 99% sudah CHSE,” ungkap salah satu anggota komite UHA yang juga General Manager Purana Suites Ubud, Ketut Warasana.

Kika: Ketut Warasana, Eka Ariawan dan Santi Pratiwi

Adiwana group lebih cetar lagi. Pihaknya tegas jika semua propertinya sudah mengantongi sertifikat sakti tersebut. “Seluruh properti yang kami kelola sudah bersertifikat CHSE,” ungkap Eka Ariawan selaku DOSM Adiwana Group.

Ada juga Bu Santi, salah satu petinggi Dwaraloka Authentic, yang tidak mau ketinggalan. Dari total 12 unit bisnis yang dikelolanya, hanya beberapa unit kecil yang belum disertifikasi. “Ada beberapa yang belum memiliki sertifikat CHSE, namun seluruh esensi CHSE sudah mereka terapkan di lapangan,” cetusnya penuh keyakinan, jika everything is gonna be alright.

Ketaatan mereka seolah tidak memberikan celah bagi dinas terkait untuk tidak membuka border bagi turis mancanegara pada Juli mendatang. Apalagi belakangan beredar flyer digital dengan deklarasi elegan nan damai bertuliskan ‘BALI OPEN BORDER.’ Tersisip pula latarbelakang pura Besakih yang maha agung. Deklarasi tersebut didukung penuh oleh puluhan elemen pelaku pariwisata di Bali.

Berkaca dari kesiapan mereka, mungkinkah border akan dibuka sesuai rencana awal?[SWN]

Continue Reading

Daerah

Menguji Militansi Perupa Militan Art

Published

on

GatraDewata[Gianyar] I Wayan Arsana merupakan seorang seniman lukis yang karya – karyanya sangat menakjubkan. Disamping itu beliau juga sensitif dengan isi – isu sosial. Untuk itulah, setelah setahun lebih dunia ini bergelut dengan situasi Covid 19 beliaupun (bersama beberapa rekan sesama seniman) buka suara, yang beliau suarakan lewat sebuah pameran bertajuk IN-Between dan berikut reaksinya secara tertulis:

Bencana global pandemi adalah ujian untuk peradaban bangsa manusia, suatu problem yang dialami, dirasakan, dan menguras energi peradaban. Seluruh modal sosial bahkan spiritual dipertaruhkan guna memitigasi dampak infeksi dari “monster gaib”, Virus Corona, Covid-19, namun kondisi chaos toh tak terhindarkan.

Kegamangan, keraguan, kebenaran, konspirasi, dan kuasa alam ihwal adanya Covid-19 campur aduk dengan ragam reaksi, solidaritas global, bajingan ekonomi, keprihatinan dan nafsu korup; dunia dilanda duka kemanusiaan.

Kebijakan mitigasi bencana sifatnya reaktif, insidensial dan ambigu. Status darurat kesehatan seperti lockdown dan aneka pembatasan sosial, social distancing serta protokol kesehatan ada di antara wacana, budgeting, penerapan maupun pengingkaran yang berbuah kontroversi. Suatu kondisi parallel, sama di seluruh domain sektor kehidupan, tanda instrumen, tools pengetahuan dan keterampilan modernitas tidak lagi memadai, tak aflikabel, bahkan literasi tradisional soal vaksin tidak memungkinkan jadi rujukan akibat desakan kebutuhan yang sifatnya emergensi. Nalar politik sulit dicerna, antara kebijakan politik dan politik kebijakan soal pandemi sulit dipahami.

Kini momok pandemi masih menghantui, bahkan bermutasi menjadi berbagai varian baru, bermutasi pula kontroversi yang ditimbulkan.

Kelumpuhan sosial yang berkepanjangan membuat psikologi sosial menjadi lelah, dorman dan kegamangan yang berada diambang batas. Ketika protokol kesehatan adalah sebuah komoditas, yang tumbuh adalah sikap permisif dan pembangkangan sosial tak terhindarkan.

Abad digital dinamikanya sama, antara memberi manfaat dan memperkeruh keadaan, antara informasi dan ngibul sama sensasinya, perlombaan followers, like, viral yang latah dan stereotip, konten-konten absurd bermunculan tak membutuhkan portofolio, yang ada hanya aturan tak resmi bernama algoritma. Algoritma, sederhananya adalah pertalian data konten dan tujuan. Implikasi maslahat dunia digital pastinya juga layak, abad digital melengkapi tools kehidupan menjadi double application, yang manual dan virtual.

Dalam dimensi spiritual, sebetulnya secara indikatif sudah tersirat dalam wijaksara Bali, “windu” atau bulatan, sebagai unsur penting dalam aksara simbol Ongkara. Windu, “nge-windu” menjadi bulatan, dalam konteks pemaknaan kodifikasi esoteris, sebagai lambang pembauran sistem yang sifatnya random dari elemen-elemen yang berlawanan maupun berpasangan, rwa bhineda, adwaita, dalam satu kehadiran saat ini atau real time. Nge-windu adalah waktu kosmik peradaban. Berbeda dengan arda candra yang menggambarkan sifat modernis peradaban yang mainstream dan linear. Kenormalan baru yang sifatnya menyeluruh adalah tanda fundamental peradaban sedang mengalami perubahan.

Seni rupa sama saja, parallel, art world persenirupaan saat ini menyediakan kemungkinan yang tak terbatas, inilah model baru dari booming dunia visual. Seni rupa telah menjadi domain publik, semua serba mungkin, praktek dan produk seni layersnya banyak, seni komuditas, seni kelas menengah, hingga seni yang kontestatif dan memiliki konten nilai. Semua halal dalam keserbahadiran, yang menentukan adalah konektivitas domain sadar perupa dalam suatu frekuensi kreatif dan kompleksitas layers.

Menjadi bagian dari persoalan yang ada, kelompok perupa militant Art tergugah untuk bereaksi terhadap persoalan yang ada, dengan menggelar pameran bersama bertajuk, “IN-Between”. Frasa IN-Between bermakna ada diantara, sementara penekanan huruf kapital pada penggalan frasa IN dimaksudkan sebagai kunci pemaknaan tematika, IN adalah konten personal para perupa Militant Art. IN-Between dalam kesatuan tematika sebenarnya menggambarkan subjek yang mengalami, menjadi bagian dari situasi kompleks, mengelaborasi persoalan dalam frekuensi kreatif, serta mengejawantahkan dalam kekaryaan.

Perupa Militant Art tentu punya modal kreatif yang cukup, napas panjang berkesenian yang telah diuji oleh waktu, dan yang utama adalah keberanian membuat pilihan mengikrarkan “ jihad kesenian” dengan mengadaptasi kata militan sebagai payung spirit berkelompok. Nilai militan melekat pada sistem sadar kreatif, sikap, proses dan karya, militan artinya hidup dengan suatu nilai, suatu sikap yang makin langka di tengah nyinyir pragmatisme sempit sekarang ini. Militant Art bukanlah kelompok perupa yang mengusung aliran pemikiran tertentu, mereka juga tidak sedang menjebak diri dalam batasan- batasan spesifik pemikiran.

Militansi dalam berkesenian membutuhkan” nyali kreatif”. Aktualisasi spirit militan ditantang mensublimasi soal-soal yang ada, menjadi ungkapan seni yang bernilai dan spesifik. dalam IN-Between, para perupa militan menampilkan keragaman cara pandang, penyikapan, empati, gugatan mental, hingga ajakan moral ihwal bencana global pandemi. Konten masing-masing karya berisikan ungkapan dari kedalaman yang sifatnya personal, ungkapan yang mengandung intensi lebih kuat dalam keragka olah problematik maupun renungan. Ragam bahasa ungkap dan identitas estetik para perupa Militant Art adalah personalisasi dari proses dan peluh kesenian dalam waktu yang panjang.

Nilai utama pameran IN-Between terletak pada kemampuan melampaui segala kelatahan area publik dalam bereaksi terhadap bencana global pandemi, juga melampaui berbagai kelatahan dalam dunia visual, bukankah esensi militan adalah ekstrimitas dalam berproses yang galibnya membuat perbedaan dalam kekaryaan. Hanya karya-karya yang mengandung tendensi “subversi visual” yang memungkinkan mengandung implikasi mental, subversi visual adalah gugatan atau perlawanan dalam bentuk visual. Esensi subversif adalah bentuk pengejawantahan militansi berkesenian, bukan sekedar retorika atau bualan idiologis.

Algoritma tradisional seni rupa, melalui pengindraan secara langsung, karya visual justru menyentuh lebih langsung, menghasilkan efek mental secara langsung pula. Estetika bisa menjadi praktek post intelektual. Dalam kekaryaan semua konten yang mendukung sebetulnya sudah inheren, karya adalah alat bukti utama tempat melekatnya seluruh nilai, selebihnya keseluruhan aspek pendukung adalah alat peraga dalam suatu keutuhan sistem nilai.

IN-Between penekanannya utamanya pada upaya membangun solidaritas mental, menyegarkan kimiawi otak dari mental down syndrome, suatu ajakan untuk move on menuju harapan baru…!!! Para perupa yang tergabung dalam Militant Art antara lain: Diwarupa, I Nyoman Sujana Kenyem, I Ketut Putrayasa, I Ketut Suasana Kabul, Wayan Suastama, Dastra Wayan, I Gede Adi Godel, I made Wiradana, Pande Paramartha, I Gusti Buda, Romi, Agusdangap, Deko, I Made Gunawan, Lekung Sugantika, Anthok, Atmi Kristiadewi, Galung Wiratmaja , Loka suara, Ngurah Paramartha, Ketut Teja Astawa, Duatmika Made ,Dollar Astawa, Putu Bonuz, DJ Pande.[SWN]

Continue Reading

Daerah

Jeg Keren! Desa Bulian Wakili Polres Buleleng Lomba Satkamling Tingkat Polda Bali

Published

on

Kunjungan Polres Buleleng ke Desa Bulian

GatraDewata[Singaraja] Dalam rangka menyambut hari Bhayangkara Polri ke 75 yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2021, Polda Bali menyelenggarakan lomba Pos Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling) tingkat Polda yang diikuti satu perwakilan desa yang ada di wilayah jajaran Polda Bali.

Tim Penilai dari Polda Bali mengunjungi Lomba Pos Satkamling, dimana sebagai ketua tim Kompol Drs. Nyoman Geden didampingi Kompol I Nengah Merta, yang disambut langsung Perbekel Bulian AKBP (Purnawirawan) Made Sudirsa, S.H., pada Selasa  (15/6/2021) pagi. Tim penilai melihat langsung pos Satkamling yang dilombakan dan juga dari satuan keamanan lingkungan menampilkan ketrampilan yang dimiliki, mulai dari peragaan baris berbaris, Bela diri Polri, Teknik membawa Tahanan 1 & 2, Drill Borgol Polri,  Drill Tongkat letter T serta penyampaian Sistem Alarm tanda bahaya dengan kentongan,  serta simulasi  pencurian di masa pandemi Covid 19.

Ketua Tim menyampaikan bahwa masalah kamtibmas merupakan masalah kompleks jika tidak dipelihara dengan baik. “Melalui Lomba Pos SatKamling ini diharapkan bisa menumbuhkan serta meningkatkan rasa kesadaran warga masyarakat dalam menjaga keamanan. Selain itu juga supaya dapat menumbuhkan rasa kesadaran warga terkait hukum yang dapat menekan terjadinya gangguan kamtibmas, apalagi dalam situasi pandemi Covid 19,” ucapnya.

Hadir dalam penilaian pos Satkamling tersebut diantaranya Kapolres Buleleng AKBP I Made Sinar Subawa, S.I.K.,M.H., para pejabat Utama Polres Buleleng, Sekda Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa MPd, Anggota DPRD Kabupaten Buleleng dari Fraksi PDIP Wayan Masdana,  S.E., dan Camat Kubutambahan Drs. Made Suyasa,  M.Si.

Perbekel Desa Bulian sangat mengharapkan lomba Pos Satkamling ini dapat dimenangkan dan akan siap tampil di Polda Bali, disampaikan juga bahwa dalam lomba ini banyak pihak yang membantu memberikan support terutama dari Kapolres Buleleng dan pihak lain sehingga lomba ini dapat ditampilkan dengan lebih baik.

“Linmas yang ada di desa Bulian akan tetap dipelihara, dikembangkan serta dimasyaratkan dengan maksud dan tujuan setiap masyarakat bisa menjadi ‘Polmas’ (Polisi Masyarakat), sehingga tertanam pada dirinya untuk selalu memberikan perlindungan, pengamanan dan mengayomi,” cetusnya.

Dilain pihak, Kapolres Buleleng AKBP I Made Sinar Subawa, S.I.K.,M.H., menyampaikan, sangat mendukung penuh kegaitan Pos Satkamling yang diselenggarakan Polda Bali dan memberikan apresiasi kepada masyaraakt Bulian yang telah sangat antusias memberikan dukungan terhadap lomba ini, dengan harapan agar kegiatan ini dinilai dengan menjungjung tinggi obyektifitas serta sportifitasnya.

“Harapan saya semoga lomba Pos Satkamling yang diwakili Desa Bulian dapat mewakili Buleleng serta menjadi juara“, tutupnya.(Mga)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam