Alasan Kelangkaan BBM! Data kapal menunjukkan penurunan pasokan, Pertalite Bali Turun 23 Persen
- account_circle Admin
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Analisis @bligungyudha yang merujuk investigasi BaleBengong menyoroti penurunan kiriman Pertalite ke Terminal Manggis, perubahan jalur pasokan, serta minimnya keterbukaan data stok di tengah antrean panjang SPBU.
DENPASAR – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali pada Oktober 2026 memunculkan pertanyaan mengenai kecukupan pasokan dan efektivitas pengelolaan distribusi. Di tengah penjelasan pemerintah dan Pertamina yang menyoroti kendala kapal, peningkatan konsumsi, serta pembelian berlebihan, data kedatangan kapal tanker justru mengindikasikan bahwa penurunan pasokan telah terjadi sebelum antrean panjang meluas.
Simak link tiktok @bligungyudha (klik untuk llink)
Sorotan tersebut disampaikan melalui akun TikTok @bligungyudha yang mengulas laporan investigasi BaleBengong berjudul “Jangkar yang Disalahkan, Tangki yang Dikeringkan”. Laporan yang diterbitkan pada 14 Oktober 2026 itu menelusuri catatan kedatangan dan bongkar muat kapal pengangkut BBM di pelabuhan Bali sejak Oktober 2024 hingga 14 Oktober 2026.
Dalam analisisnya, pemilik akun mempertanyakan penjelasan yang berulang kali disampaikan kepada masyarakat ketika antrean kendaraan semakin panjang dan sejumlah SPBU kehabisan BBM.
“Sudah seminggu lebih Bali mengalami kelangkaan BBM. Dibanding memberikan solusi, pemerintah sering kali memberikan dua kata lucu,” ujar pemilik akun tersebut dalam video yang diunggahnya, sembari menyinggung pernyataan mengenai kuota, distribusi, dan panic buying.
Ia juga mempertanyakan mengapa antrean tidak kunjung mereda apabila persoalan hanya disebabkan oleh pembelian berlebihan. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan antrean justru meluas ke sejumlah wilayah Bali.
“Kalau estimasi orang naik motor beli bensin dua tiga hari sekali, ini kok semakin hari nggak berkurang antreannya, malah ada sampai memanjang dan mulai merata langkanya BBM hampir di seluruh Bali,” katanya.
Data kapal menunjukkan penurunan pasokan
Laporan BaleBengong mencatat, pada Senin malam, 12 Oktober 2026, antrean kendaraan di SPBU Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung, meluber hingga Jalan Raya Denpasar–Gilimanuk. Pengendara yang mulai mengantre sekitar pukul 18.30 WITA baru mencapai mesin pengisian mendekati pukul 19.50 WITA.
Kondisi serupa dilaporkan terjadi di wilayah lain. Sejumlah SPBU di Jembrana dan Klungkung mengalami kekosongan jenis BBM tertentu, sehingga masyarakat harus mencari lokasi pengisian yang masih memiliki persediaan.
Sebelumnya, Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan pasokan di depo tersedia dan menyebut distribusi terkendala kemacetan truk tangki serta pembelian masyarakat yang meningkat. Pertamina juga menyampaikan konsumsi Pertalite naik sekitar 12 persen menjadi 2.200 kiloliter per hari.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa kapal pengangkut BBM yang dijadwalkan bersandar pada 12 Oktober pukul 06.30 WITA baru dapat melakukan pembongkaran muatan sekitar pukul 22.00 WITA akibat persoalan jangkar.
Namun, laporan investigasi BaleBengong menemukan indikasi bahwa persoalan pasokan tidak semata-mata berkaitan dengan keterlambatan kapal tersebut.
Berdasarkan catatan pelabuhan yang dianalisis media tersebut, tiga kapal pengangkut Pertalite yang membongkar muatan di Terminal BBM Manggis pada 24 September, 3 Oktober, dan 11 Oktober 2026 membawa muatan yang lebih rendah dibandingkan kisaran muatan yang lazim diterima dalam periode pengamatan.
Ketiga kapal itu tercatat membawa Pertalite sekitar 15.786 kiloliter, 10.357 kiloliter, dan 18.000 kiloliter. Padahal, menurut laporan tersebut, muatan kapal dalam kisaran yang umum ditemukan sebelumnya berada di sekitar 16.000 hingga 22.000 kiloliter.
Temuan lainnya memperlihatkan volume Pertalite yang dibongkar di Terminal Manggis selama periode 12 September hingga 11 Oktober 2026 mencapai sekitar 44.143 kiloliter. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, jumlahnya tercatat sekitar 57.000 kiloliter.
Artinya, volume yang masuk melalui terminal tersebut turun sekitar 22,6 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Laporan itu juga mencatat perubahan jalur pengiriman. Kapal yang sebelumnya lazim membawa Pertalite dari sejumlah terminal di Pulau Jawa, dalam periode menjelang kelangkaan tercatat menempuh jalur berbeda, termasuk dari Balikpapan dan melalui Bau-Bau.
Media BaleBengong turut menyoroti tidak ditemukannya catatan pengiriman langsung Pertalite dari luar Bali ke Terminal Sanggaran di Benoa selama periode 12 September hingga 11 Oktober 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pengiriman langsung ke terminal tersebut tercatat sekitar 11.272 kiloliter.
Meski demikian, catatan kedatangan dan bongkar muat kapal tidak dengan sendirinya menunjukkan seluruh stok BBM yang tersedia di Bali. Data persediaan di tangki, penyaluran harian, serta pengiriman melalui jalur lainnya tetap diperlukan untuk memastikan gambaran pasokan secara menyeluruh.
Pertanyaan tentang kecukupan stok
Dalam video TikTok tersebut, @bligungyudha menilai data pengiriman itu layak menjadi dasar bagi pemerintah dan Pertamina untuk memberikan penjelasan yang lebih terbuka kepada masyarakat.
Ia mempertanyakan bagaimana perencanaan pasokan dilakukan apabila kebutuhan harian sudah diketahui, tetapi pengiriman yang masuk mengalami penurunan.
“Kalau kuota ada, kenapa jatahnya dikurangin?” ujarnya.
Pertanyaan itu merujuk pada perbedaan antara angka kebutuhan Pertalite yang disampaikan Pertamina dan volume pasokan yang dihitung dalam laporan investigasi. BaleBengong memperkirakan pasokan bersih Pertalite untuk Bali dari jalur yang dianalisis berada di sekitar 1.210 kiloliter per hari, sedangkan Pertamina menyebut kebutuhan harian mencapai 2.200 kiloliter.
Angka tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan keseluruhan stok atau penyaluran BBM Bali tanpa memperhitungkan persediaan awal, arus distribusi antarterminal, pengiriman lain, dan perubahan konsumsi. Namun, selisih itu menjadi alasan penting bagi publik untuk meminta penjelasan rinci mengenai perencanaan dan realisasi pasokan.
Laporan tersebut juga mencatat penurunan pengiriman Pertamax ke Terminal Manggis. Dalam periode 12 September hingga 11 Oktober 2026, volumenya sekitar 9.907 kiloliter, jauh di bawah sekitar 29.000 kiloliter pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Data ini menambah pertanyaan terhadap penjelasan bahwa lonjakan permintaan Pertalite terutama disebabkan oleh perpindahan pengguna Pertamax. Penurunan pasokan pada beberapa jenis BBM perlu dijelaskan secara terpisah agar penyebab kelangkaan dapat diketahui dengan lebih akurat.
Desakan transparansi dan evaluasi
@bligungyudha juga menyoroti tanggung jawab sejumlah lembaga yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengawasan BBM, mulai dari Pertamina Patra Niaga sebagai pelaksana distribusi, BPH Migas sebagai lembaga pengatur dan pengawas penyediaan serta pendistribusian BBM, hingga Kementerian ESDM dan pemerintah pusat dalam aspek kebijakan.
Menurutnya, persoalan ini tidak cukup ditangani dengan meminta masyarakat tidak panik, memperpanjang jam operasional SPBU, atau membagikan bantuan di lokasi antrean. Evaluasi terhadap perencanaan pasokan dan keterbukaan informasi dinilai perlu menjadi bagian dari penyelesaian.
“Pertamina Patra Niaga adalah pelaksana mengatur kapal, stok, dan pengiriman. BPH Migas itu menetapkan kuota dan mengawasi distribusi,” ujarnya dalam analisis tersebut.
Ia juga mempertanyakan bentuk pertanggungjawaban apabila ditemukan kelemahan dalam pengambilan keputusan atau pengelolaan distribusi yang berdampak langsung pada masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki keterbatasan kewenangan dalam mengatur operasional Pertamina. Meski demikian, pemerintah daerah tetap dapat meminta penjelasan, berkoordinasi dengan pihak terkait, dan mendorong keterbukaan informasi mengenai ketersediaan BBM di wilayahnya.
Pertamina sendiri telah mengumumkan tambahan penyaluran BBM sebanyak 26.200 kiloliter yang dijadwalkan tiba secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026 untuk memperkuat pasokan di Bali.
Tambahan tersebut diharapkan membantu memulihkan pelayanan SPBU. Namun, penyelesaian antrean dalam jangka pendek tidak menghilangkan kebutuhan untuk menjelaskan mengapa pasokan menurun, bagaimana stok dikelola, serta apakah sistem mitigasi telah berjalan sesuai kebutuhan.
Bagi masyarakat Bali, persoalannya bukan sekadar kapan antrean berakhir. Kepastian bahwa BBM tersedia secara konsisten untuk bekerja, menjalankan usaha, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari juga menjadi hal yang mendasar.
Analisis @bligungyudha dan laporan BaleBengong membuka ruang bagi evaluasi berbasis data. Untuk memastikan penyebab kelangkaan secara utuh, Pertamina dan lembaga terkait perlu memaparkan data stok awal dan akhir, volume pengiriman, penyaluran harian, serta alasan perubahan jalur dan jumlah muatan kapal.
Hingga data tersebut dijelaskan secara terbuka, dugaan bahwa penurunan pasokan berkontribusi terhadap kelangkaan perlu diperlakukan sebagai temuan yang membutuhkan klarifikasi, bukan sebagai bukti final adanya kesengajaan atau pelanggaran oleh pihak tertentu.
Editor -Ray

Saat ini belum ada komentar