Global
Solidaritas Finansial: Mendalami Pesan di Balik ‘Pinjam Dulu Seratus’

Bali – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada momen ketika seseorang meminta pinjaman uang, terkadang hanya dalam jumlah kecil seperti seratus ribu rupiah. Namun, di balik permintaan yang tampak sederhana ini, terdapat kompleksitas pesan terkait kepercayaan, kebersamaan, dan solidaritas finansial yang mendalam, menghadirkan dimensi yang lebih kaya di tengah masyarakat yang serba cepat dan sibuk.
Solidaritas Finansial sebagai Wujud Kebersamaan:
1. Kepercayaan yang Dibangun:
Saat seseorang meminta pinjaman, itu mencerminkan tingkat kepercayaan yang mereka tempatkan pada Anda. Ini bukan hanya transaksi finansial; ini adalah pondasi hubungan yang didasarkan pada saling mengandalkan. Di dalamnya terkandung kepercayaan yang membangun jalinan kemanusiaan.
2. Penguatan Hubungan Finansial dan Sosial:
Permintaan seperti ini tak sekadar membangun hubungan finansial, tetapi juga memperkuat jaringan sosial. Solidaritas finansial menciptakan jalinan dukungan vital di dalam komunitas, memberikan rasa kebersamaan yang penting di era individualisme.
3. Responsibilitas Bersama:
Menanggapi permintaan ini bukan sekadar memberikan pinjaman; ini adalah bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kestabilan finansial sesama. Ini menunjukkan bahwa sebagai masyarakat, kita bersedia saling membantu dan berbagi beban di saat-saat sulit.
4. Menghidupkan Kembali Nilai-Nilai Tradisional:
Permintaan “Pinjam Dulu Seratus” menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional seperti gotong-royong dan tolong-menolong. Solidaritas finansial menjadi landasan, menghadirkan kehangatan nilai-nilai yang mungkin terpinggirkan di tengah gempuran modernitas.
Menghadapi “Pinjam Dulu Seratus” dengan Bijaksana:
Dalam menghadapi permintaan semacam ini, bijaksana untuk melihatnya sebagai peluang memperkuat inti solidaritas finansial di masyarakat.
1. Bukan Hanya Tentang Uang:
Memberikan bantuan finansial bukan hanya soal nominal uang yang diberikan, melainkan juga tentang memberikan dukungan dan menjaga solidaritas finansial di komunitas.
2. Sikap dan Kesediaan untuk Membantu:
Respons positif mencakup sikap dan kesediaan untuk saling mendukung. Melalui kebijaksanaan ini, kita meresapi esensi dari “Pinjam Dulu Seratus” sebagai panggilan kebersamaan.
3. Membangun Jembatan Solidaritas Finansial:
Ini adalah kesempatan untuk membangun jembatan solidaritas finansial yang lebih kokoh, menghadirkan pemahaman bahwa membantu sesama bukan hanya kewajiban, tetapi investasi dalam keberlanjutan hubungan sosial dan finansial di komunitas.
Dalam kesederhanaan permintaan “Pinjam Dulu Seratus,” kita menemukan kekuatan solidaritas finansial yang tak hanya menguatkan hubungan sosial, tetapi juga menciptakan fondasi kuat kebersamaan di tengah dinamika kehidupan modern yang kadang-kadang terasa terlalu individualistik. Itu adalah panggilan untuk merajut kembali jaringan kemanusiaan di tengah keramaian dunia yang terus berubah. (*)

Global
Benarkah Bermain Saham Sama dengan Berjudi?

Oleh Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M. – Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar
Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah pidato pernah menyamakan bermain saham dengan berjudi. Pernyataan ini tentu memicu perdebatan di kalangan masyarakat dan pelaku pasar modal. Dalam pidatonya pada acara Milad Ke-112 Muhammadiyah di Kupang, Prabowo menyampaikan bahwa bagi masyarakat kecil, bermain saham sering kali dianggap serupa dengan praktik perjudian karena penuh risiko dan cenderung merugikan.
Saham dalam Perspektif Ekonomi
Dalam teori ekonomi, saham adalah instrumen keuangan yang mewakili kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan. Dengan membeli saham, seorang investor berhak atas sebagian keuntungan perusahaan serta memiliki hak suara dalam rapat pemegang saham. Pasar saham sendiri berfungsi sebagai platform di mana saham diperjualbelikan, memungkinkan perusahaan memperoleh modal serta investor mendapatkan keuntungan.
Di era modern, kemajuan ekonomi suatu negara sering kali diukur melalui aktivitas di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan kinerja pasar saham Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG menunjukkan perubahan sebesar 3,25% secara year-to-date, dengan ditutup pada level 7.036,57 pada 27 Desember 2024. Dalam tiga bulan terakhir, IHSG mengalami fluktuasi:
Desember 2024: IHSG berada di level 7.036,57.
Januari 2025: Mengalami penurunan ke level 6.900.
Februari 2025: Kembali naik ke level 7.050.
Fluktuasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi global, kebijakan pemerintah, serta sentimen investor.
Pasar Saham: Investasi atau Judi?
Beberapa teori ekonomi mendukung pentingnya pasar saham dalam perekonomian:
1. Hipotesis Pasar Efisien (Efficient Market Hypothesis) – Dikemukakan oleh Eugene Fama (1970), teori ini menyatakan bahwa harga saham mencerminkan semua informasi yang tersedia, sehingga tidak ada investor yang dapat secara konsisten mengalahkan pasar tanpa keunggulan informasi.
2. Teori Portofolio Modern (Modern Portfolio Theory) – Harry Markowitz (1952) menekankan pentingnya diversifikasi investasi untuk meminimalkan risiko.
3. Teori Keagenan (Agency Theory) – Jensen & Meckling (1976) membahas hubungan antara pemegang saham dan manajemen perusahaan dalam menciptakan nilai yang optimal.
Jika yang dimaksud Prabowo dengan “bermain saham sama dengan berjudi” adalah spekulasi tanpa analisis yang matang, maka argumen tersebut dapat diterima. Banyak investor pemula terjebak dalam pola investasi berbasis emosi, membeli saham hanya berdasarkan tren sesaat tanpa mempertimbangkan nilai fundamental perusahaan.
Namun, jika saham secara keseluruhan disamakan dengan judi, pendapat ini kurang tepat. Dalam investasi jangka panjang, saham justru menjadi salah satu instrumen utama untuk pertumbuhan aset dan perekonomian.
Volatilitas Pasar Saham dan Edukasi Investor
Kritik terhadap volatilitas pasar saham sering kali dikaitkan dengan kerugian besar yang dialami investor dalam waktu singkat. Namun, volatilitas adalah karakteristik alami dari pasar keuangan, bukan indikasi bahwa saham sama dengan judi. Regulasi yang kuat dan edukasi bagi investor dapat mengurangi risiko spekulasi berlebihan yang mendekati praktik perjudian.
Di tingkat global, negara-negara dengan pasar saham yang maju cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. Investor yang memahami risiko dan strategi investasi dapat memperoleh keuntungan signifikan tanpa harus mengandalkan keberuntungan semata.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi pernyataan Presiden dengan menekankan pentingnya literasi masyarakat tentang investasi di pasar modal. Edukasi yang memadai dapat membantu investor memahami risiko dan potensi keuntungan dalam berinvestasi saham, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan terinformasi.(***)
Global
Mampukah THR Mendorong Pertumbuhan Ekonomi?

Oleh Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, SE., MM.
Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar
DENPASAR – Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) pada bulan ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, penting untuk memahami bahwa pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi tidak sekuat pertumbuhan yang didorong oleh produksi dan investasi.
Teori Pertumbuhan Ekonomi
Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Robert M. Solow (1956) menekankan peran akumulasi modal, tenaga kerja, dan teknologi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Solow berpendapat bahwa tanpa investasi dalam modal dan teknologi, pertumbuhan ekonomi akan mencapai titik jenuh.
Sementara itu, Joseph Schumpeter (1934) menekankan pentingnya inovasi dan peran pengusaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsep destruksi kreatif. Dalam proses ini, inovasi menggantikan teknologi dan produk lama dengan yang baru, menciptakan dinamika ekonomi yang lebih maju.
Peran Konsumsi dalam PDB
Data empiris menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga merupakan komponen utama Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Pada 2022, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,42% dari total PDB.
Pada 2023, kontribusi ini meningkat menjadi 55,12%.
Pada 2024, angkanya mencapai 55,60%.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini didorong oleh peningkatan pendapatan dan stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, investasi—yang diukur melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)—juga mengalami pertumbuhan:
2022: tumbuh 4,91%
2023: meningkat menjadi 5,45%
2024: mencapai 5,03%
Pertumbuhan investasi ini mencerminkan peningkatan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Dinamika Ekonomi Bali
Khusus untuk Bali, perekonomian menunjukkan tren positif pasca pandemi.
Pada Triwulan I 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga berlaku mencapai Rp69,61 triliun.
Pada Triwulan II 2024, meningkat menjadi Rp74,77 triliun.
Pertumbuhan ini didorong oleh pemulihan sektor pariwisata serta peningkatan konsumsi dan investasi lokal.
Konsumsi vs Investasi, Mana yang Lebih Berkelanjutan?
Secara teori, meskipun konsumsi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, ketergantungan yang berlebihan pada konsumsi dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekonomi. Tanpa peningkatan kapasitas produksi melalui investasi, lonjakan permintaan justru dapat menyebabkan inflasi dan defisit neraca perdagangan akibat peningkatan impor.
Sebaliknya, investasi dalam infrastruktur, teknologi, dan sumber daya manusia dapat meningkatkan produktivitas dan kapasitas produksi. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Sebagai contoh:
Investasi di sektor manufaktur dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan mendorong konsumsi.
Investasi dalam teknologi dapat meningkatkan efisiensi produksi, menurunkan biaya, dan meningkatkan daya saing produk domestik di pasar internasional.
Strategi Jangka Panjang
Meskipun pencairan THR dan peningkatan konsumsi dapat memberikan dorongan sementara bagi pertumbuhan ekonomi, strategi jangka panjang harus difokuskan pada peningkatan investasi dan produksi.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Solow dan Schumpeter bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan memerlukan investasi dalam modal, teknologi, dan inovasi. Oleh karena itu, kebijakan ekonomi harus:
Mendorong iklim investasi yang kondusif.
Mengembangkan teknologi dan inovasi.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Selain itu, diversifikasi ekonomi juga menjadi faktor penting. Misalnya, Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata perlu mengembangkan sektor lain, seperti pertanian dan industri kreatif, untuk meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, konsumsi memang memainkan peran penting dalam perekonomian. Namun, pertumbuhan yang berbasis produksi dan investasi menawarkan fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi pembangunan ekonomi jangka panjang.
Oleh karena itu, kebijakan ekonomi yang menyeimbangkan konsumsi dengan investasi dan produksi adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.(***)
Global
Mereka-reka Dampak Ekonomi Kedatangan Kapal Pesiar

Oleh Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M
Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar
Pada tahun 2025, Bali diperkirakan akan kedatangan 77 kapal pesiar. Kedatangan kapal pesiar ini berpotensi membawa dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian Bali. Kapal pesiar umumnya membawa ribuan penumpang yang merupakan wisatawan berkualitas dengan tingkat pengeluaran lebih tinggi dibandingkan wisatawan reguler. Kehadiran mereka tidak hanya menjadi peluang besar bagi industri pariwisata, tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Saat kapal pesiar berlabuh, ribuan wisatawan akan turun ke daratan Bali dan menikmati berbagai destinasi wisata unggulan, mulai dari pantai eksotis, kawasan budaya di Ubud, hingga pusat perbelanjaan dan restoran kelas atas di Kuta, Legian, Seminyak, dan Canggu. Wisatawan ini cenderung membelanjakan uang mereka untuk layanan premium, seperti pengalaman kuliner mewah, spa eksklusif, hingga tur pribadi ke tempat-tempat bersejarah dan budaya. Hal ini memberikan dampak positif terhadap pendapatan pelaku usaha lokal, termasuk hotel, restoran, penyedia jasa transportasi, serta pemandu wisata.
Selain itu, sektor ekonomi kreatif dan UMKM Bali juga akan mendapatkan manfaat besar dari meningkatnya permintaan akan produk khas Bali, seperti kerajinan tangan, kain tradisional, perhiasan perak, hingga kopi dan rempah-rempah. Wisatawan kapal pesiar yang memiliki daya beli tinggi sering kali mencari produk berkualitas sebagai oleh-oleh, sehingga permintaan terhadap barang premium akan meningkat. Dengan demikian, pelaku UMKM memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar mereka.
Tidak hanya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, kedatangan kapal pesiar dalam jumlah besar juga akan berdampak pada sektor transportasi dan logistik. Penyedia jasa angkutan darat, seperti taksi, bus wisata, dan kendaraan sewa, akan mengalami lonjakan permintaan, terutama untuk perjalanan dari pelabuhan menuju berbagai destinasi wisata. Di sisi lain, industri penyediaan bahan baku untuk sektor pariwisata, seperti makanan, minuman, dan perlengkapan akomodasi, juga akan mengalami peningkatan permintaan yang signifikan.
Dari perspektif makroekonomi, peningkatan jumlah wisatawan kapal pesiar akan mendorong pertumbuhan ekonomi Bali melalui peningkatan penerimaan daerah, baik dari pajak maupun kontribusi sektor pariwisata lainnya. Pemerintah daerah juga akan mendapatkan keuntungan dari tingginya perputaran uang di sektor-sektor yang terkait langsung dengan pariwisata, sehingga dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan layanan publik.
Namun, dampak positif ini harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan tata kelola pariwisata yang baik. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan bahwa fasilitas pelabuhan mampu menangani arus wisatawan dalam jumlah besar serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Dengan perencanaan yang matang, kedatangan 77 kapal pesiar di Bali sepanjang tahun 2025 akan menjadi momentum penting bagi pemulihan dan penguatan ekonomi Bali di era pasca-pandemi.(***)
-
Mangku Bumi5 years ago
HIDUP DHARMA
-
News12 months ago
Diduga Gelapkan Dana Ratusan Calon Pekerja Migran, Pengusaha Ibukota Diajukan Ke Meja Hijau
-
News2 years ago
Geger!! Siswi Kelas 2 Smp Ditemukan Gantung Diri Di Kandang Sapi
-
News10 years ago
Post Format: Gallery
-
News3 years ago
Kasus Ungasan, Orang Misterius Hadir ditengah Upacara sebut Kutukan Telah Jalan
-
Daerah4 years ago
Jangan Sampai Jadi Pemangku Tanggung, Ikuti Kursus Kepemangkuan Disini!
-
Mangku Bumi7 years ago
Mengenal lebih dekat Sareng Ide Sire Empu Dharma Sunu dari Griya Taman Pande Tonja Denpasar
-
Daerah4 years ago
Miris! Nusa Dua Tampak Seperti Abandoned City