Breaking News
light_mode

Gaji Pas-pasan di Dalam Negeri, Kerja Kapal Pesiar Dibayar Lebih Tinggi tapi Takut Istri Digoyang Tetangga

  • account_circle Admin
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tekanan upah minimum dan biaya hidup membuat sebagian pekerja Bali melirik pekerjaan di luar negeri, termasuk kapal pesiar, meski harus menghadapi konsekuensi berpisah lama dengan keluarga.

DENPASAR — Pilihan bekerja di Bali atau mencari penghasilan ke luar negeri menjadi dilema bagi sebagian pekerja yang telah berkeluarga. Di satu sisi, bekerja dekat dengan istri dan anak memberikan rasa aman serta memungkinkan keluarga menjalani kehidupan bersama. Namun di sisi lain, pendapatan yang diterima dari pekerjaan di dalam negeri dinilai belum selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat pekerjaan di kapal pesiar menjadi salah satu pilihan yang dilirik pekerja asal Bali. Penghasilan yang ditawarkan dalam mata uang asing menjadi daya tarik, terutama ketika dibandingkan dengan upah minimum di daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan jumlah angkatan kerja Bali pada Mei 2026 mencapai sekitar 2,70 juta orang, dengan 2,66 juta orang di antaranya bekerja. Sektor akomodasi serta makan dan minum menjadi salah satu sektor yang mencatat pertambahan tenaga kerja terbesar.

Persoalannya, besarnya aktivitas ekonomi dan pariwisata Bali tidak otomatis membuat seluruh pekerja memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi pekerja yang memiliki tanggungan rumah tangga, persoalan bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana pendapatan tersebut mampu membiayai kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, tempat tinggal, kesehatan, hingga tabungan masa depan.

Di tengah kondisi itu, bekerja di kapal pesiar menawarkan peluang pendapatan yang berbeda. Pekerja dapat memperoleh penghasilan dalam mata uang asing, sementara sejumlah kebutuhan selama berada di kapal biasanya telah menjadi bagian dari fasilitas kerja sesuai kontrak.

Namun, keuntungan ekonomi tersebut datang dengan konsekuensi besar, pekerja harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang relatif panjang.

Bagi seorang kepala keluarga, keputusan berangkat bekerja ke luar negeri bukan semata-mata persoalan mengejar gaji.

Ada kekhawatiran lain yang tidak kalah berat, yakni hubungan rumah tangga ketika pasangan harus menjalani kehidupan berjauhan selama berbulan-bulan.

Sebagian pekerja bahkan menghadapi kekhawatiran sederhana tetapi nyata: ketika suami pergi mencari nafkah ke luar negeri, siapa yang menjaga keluarga di rumah?

Kekhawatiran mengenai munculnya orang ketiga atau hubungan dengan pihak lain selama pasangan berjauhan juga menjadi salah satu risiko sosial yang sering dibicarakan di kalangan pekerja migran.

Namun, persoalan tersebut tidak seharusnya digeneralisasi sebagai konsekuensi pasti dari bekerja di kapal pesiar. Hubungan rumah tangga tetap sangat bergantung pada komunikasi, kepercayaan, komitmen dan kondisi masing-masing keluarga.

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga tidak dapat diabaikan. BPS mencatat inflasi tahunan Bali pada Juli 2026 mencapai 2,42 persen. Artinya, perubahan harga barang dan jasa tetap menjadi bagian dari tekanan biaya hidup yang harus dihadapi rumah tangga.

Dilema tersebut kemudian mengerucut pada satu pertanyaan besar: bertahan dengan pekerjaan di Bali dengan pendapatan yang terbatas, atau pergi bekerja ke luar negeri dengan peluang penghasilan lebih besar tetapi harus membayar mahal dengan waktu bersama keluarga?

Bagi sebagian pekerja, jawabannya adalah memilih bekerja di kapal pesiar untuk beberapa tahun, mengumpulkan modal, kemudian pulang dan membangun usaha atau kehidupan yang lebih stabil.

Bagi pekerja lainnya, kedekatan dengan keluarga tetap menjadi pertimbangan utama meskipun konsekuensinya harus menerima pendapatan yang lebih rendah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja tidak cukup dilihat hanya dari angka pengangguran. Kualitas pekerjaan, besaran pendapatan, biaya hidup dan kemampuan pekerja memenuhi kebutuhan keluarganya juga menjadi bagian penting dalam melihat kondisi ketenagakerjaan.

Pada Mei 2026, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Bali sebesar 1,52 persen. Pada saat yang sama, sekitar 51,55 persen pekerja berada di sektor formal.

Angka tersebut menunjukkan pasar kerja Bali tetap bergerak, tetapi tantangan bagi pekerja bukan semata mendapatkan pekerjaan. Tantangan berikutnya adalah memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang mampu menopang kehidupan keluarga secara layak.

Karena itu, fenomena pekerja Bali yang memilih kapal pesiar seharusnya dibaca sebagai bagian dari dinamika pasar tenaga kerja. Ketika peluang pendapatan di luar negeri dianggap lebih menarik dibandingkan pekerjaan yang tersedia di daerah asal, mobilitas tenaga kerja menjadi pilihan yang rasional bagi sebagian orang.

Pada akhirnya, seorang pekerja menghadapi dua pilihan berat: uang lebih besar tetapi harus jauh dari keluarga, atau tetap dekat dengan keluarga tetapi harus berjuang dengan pendapatan yang lebih terbatas.

Dilema tersebut bukan sekadar cerita tentang kapal pesiar. Ini juga menjadi gambaran tentang bagaimana tekanan upah dan biaya hidup dapat mendorong pekerja mencari peluang ekonomi hingga ke luar negeri.

Editor – Ray

Penulis

Pesonamu Inspirasiku

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resmi Berganti Nama, Bank Perekonomian Rakyat Siap Perkuat Pembiayaan UMKM dan Ekonomi Daerah

    Resmi Berganti Nama, Bank Perekonomian Rakyat Siap Perkuat Pembiayaan UMKM dan Ekonomi Daerah

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta – Bank Perkreditan Rakyat (BPR) resmi mengusung nama baru menjadi Bank Perekonomian Rakyat sebagai bagian dari upaya memperkuat peran lembaga keuangan tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perubahan nama tersebut diperkenalkan secara simbolis melalui kegiatan Fun Walk yang diselenggarakan Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) di […]

  • Monarch Bali Cetak SDM Pariwisata Unggul Lewat Bright Hospitality Awareness 2025 Play Button

    Monarch Bali Cetak SDM Pariwisata Unggul Lewat Bright Hospitality Awareness 2025

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2025
    • account_circle Ray
    • 2Komentar

    Denpasar, 7 Juli 2025 — Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Monarch Bali Dalung resmi meluncurkan program Bright Hospitality Awareness tahun ajaran 2025/2026 yang digelar dengan semangat tinggi di Aston Hotel Denpasar. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter global di bidang perhotelan dan pariwisata. Acara pembukaan dihadiri oleh berbagai […]

  • Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi

    Dilema Transportasi Online! Dari Mitra Bermobil Pribadi ke Bayang-bayang Cicilan Armada Aplikasi

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR – Masa depan pengemudi transportasi online kembali berada di persimpangan. Jika pada awal kemunculannya aplikasi transportasi daring menjanjikan konsep kemitraan berbasis kepemilikan kendaraan pribadi, kini arah bisnis itu perlahan bergeser. Pengemudi tak lagi sekadar “mitra” dengan mobil sendiri, melainkan berpotensi menjadi pekerja yang terikat cicilan kendaraan milik atau difasilitasi langsung oleh perusahaan aplikasi. Sejak […]

  • Mengenal Perbedaan Cheetah, Leopard, dan Jaguar! Tiga Kucing Besar dengan Corak yang Kerap Disamakan

    Mengenal Perbedaan Cheetah, Leopard, dan Jaguar! Tiga Kucing Besar dengan Corak yang Kerap Disamakan

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    DENPASAR – Dunia satwa liar menyimpan banyak spesies kucing besar yang memiliki penampilan sekilas mirip, namun sebenarnya memiliki ciri khas yang sangat berbeda. Tiga di antaranya adalah cheetah, leopard, dan jaguar yang kerap membuat masyarakat sulit membedakannya karena sama-sama memiliki pola tutul pada tubuhnya. Padahal, masing-masing satwa ini memiliki karakteristik fisik, habitat, hingga kemampuan berburu […]

  • Ketika Adat Dijadikan Alat Tagih Utang, Menggugat Arah Baru LPD di Bali

    Ketika Adat Dijadikan Alat Tagih Utang, Menggugat Arah Baru LPD di Bali

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Ray
    • 0Komentar

    Ketika persoalan kredit dibawa ke ranah pararem dan sanksi adat, muncul pertanyaan mendasar: apakah adat sedang melindungi krama, atau justru dijadikan instrumen untuk memperkuat mekanisme penagihan? DENPASAR – Ketika sebuah sistem keuangan modern diberi nama adat, apakah otomatis berubah menjadi hukum adat? Pertanyaan itulah yang patut diajukan di tengah wacana menjadikan Labda Pacingkreman Desa (LPD) […]

  • Tersangka di Tengah Krisis, Ketika Mantan Kadis LH Bali Hadapi Hukum! Siapa Sebenarnya Bertanggung Jawab?

    Tersangka di Tengah Krisis, Ketika Mantan Kadis LH Bali Hadapi Hukum! Siapa Sebenarnya Bertanggung Jawab?

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Ray
    • 4Komentar

    DENPASAR — Penetapan mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi Bali sebagai tersangka dalam kasus dugaan pidana lingkungan di kawasan TPA Suwung mengguncang ruang publik. Peristiwa ini tak sekadar perkara hukum, melainkan membuka kembali luka lama: krisis pengelolaan sampah yang bertahun-tahun tak kunjung terselesaikan. Langkah aparat penegak hukum dipandang sebagai sinyal tegas bahwa pelanggaran lingkungan […]

expand_less