Connect with us

Mangku Bumi

WANGKE LUMAKU” (Bangkai Berjalan) V

Published

on


Yening kite tan weruh maring linging “Sanghyang Aji Aksara”,
Tan bina kite “Wangke Lumaku

“Tuhan mengetahui diri ketika mencapai sadar”

Hanya itu yang perlu kamu ketahui tentang Tuhan, selebihnya berupaya menguatkan kesadaranmu hingga yang tertinggi kemampuan, kebahagiaan sebagai bonus atas upaya teguh berkesinambungan

Tuhan tiada-wujud yang memulai seluruh bentuk-wujud itu maha hidup, sebut saja energi hidup, yang disebut “hidup” yang tidak mengalami kematian, yang “kekal-abadi” yang melihat dari balik materi, pamaterian menyodorkan kesan “ada-tiada”

Yang terkesan atas “ada” (dirinya) yang semula “tiada” (tanpa wujud), “dualisme tunggal”, yang terkesan di atas kesadaran hidupnya itu Tuhan

Maha hidup mengawali karir perwujudan pada sampul-sampul yang sederhana, sampul hidup yang sederhana itu menterjemahkan kesadaran hidupnya secara sederhana pula, entitas hidup maha sempurna itu bergerak terus menerus mematerial’kan kesempurnaan’nya, hingga kesempurnaan itu berwujud fisik maha sempurna

Tidak lain fisik manusia ini kemaha sempurnaan’nya yang mengejawantah, kesempurnaan berwujud penterjemah kesadaran hidup sempurna, begitulah sejatinya kemuliaan sadar manusia, demikian hal’nya keseluruhan wujud adalah manifestasi tuhan atau bayangan Tuhan yang mengejawantah, wujud itu bayangan, wujud ini “Maya”

Lupa kesejatian diri sama dengan lupa Tuhan, lupa tuhan tidak tau tuhan, tidak tau tuhan tidak bertuhan, tuhan yang terkesan pada “anima” (spirit) atau kekuatan hidup, dan akhir dari seluruh penggalian ketuhanan berakhir animisme ,yang mempercayai roh, jiwa, suksma yang tidak lain terjemahan “bagian-bagian” tidak terpisah dari kesempurnaan tuhan

Jika tuhan adalah yang maha sempurna maka pembuktian atas kebenaran’nya terwujud pada kesempurnaan yang termanifestasi, demikian Tuhan tidak lain entitas hidup yang mencapai kesadaran yang maha sempurna

Entitas hidup yang tidak mencapai wujud di dalam Weda (pengetahuan) disebut “Nirguna Brahman” atau pencipta yang belum mengambil “GUNA”, tuhan yang tidak ber”GUNA”, itulah mengapa penyembah tuhan diluar diri cenderung berprilaku nyeleneh, senang mempermaslahkan hal-hal remeh-temeh yang tidak “GUNA” karena tuhan yang disembahnya tuhan “Nir’guna”,

Ketuhanan yang membangga-banggakan penyembahan tuhan diluar diri tidak lebih pengumbaran ego belaka, kesombongan ego membuat mereka tidak sadar sedang menyembah kebodohan dirinya, yang memiliki tau pasti malu mempertontonkan kebodohan, hanya orang bodoh yang tak bermalu, bodoh karena lupa “apa” sejati diri’nya tuhan

Keyakinan samasekali tidak berhubungan dengan tuhan, karena dasar keyakinan adalah keraguan, “yakin” pada Tuhan hanya menyamarkan keraguan pada Tuhan, akan tetapi sebesar keyakinan itu pulalah keragu-raguan mengikuti

Bertuhan tidak ada beda seperti bersekolah, belajar membaca dan berhitung tuhan, mempelajari theory dasar berkehidupan, sayangnya tuhan tidak tau bahwa hidup bukan 1 + 1 = 2, dan tuhan pasti tersipu malu membaca tulisan ini

Ketuhanan adalah tentang wujud, karena yang melihat dibalik materi pasti kembali tiada-wujud saat badan kasar mati, keterikatan pada gejolak rasa hidup’lah masalah utama pada yang melihat di balik materi itu, kesadaran yang lemah karena tidak memiliki pegangan yang membuatnya lupa diri

Lupa diri lupa kesejatian, yang lupa diri otomatis tidak berpegang hidup pada kebenaran, yang tidak berpegang pada kebenaran tidak bertuhan, agama yang menanamkan keyakinan pada tuhan adalah langkah keliru

Yang disebut “tuhan” “sejatinya tuhan” adalah maha hidup yang berkesadaran sempurna, sedangkan tuhan yang tidak berkesadaran adalah “Nir’guna Brahman” tuhan yang tidak ber’GUNA

Atlantia Ra


Mangku Bumi

Peringati Hari Pahlawan PEKAT IB Laksanakan Penanaman 100 Bibit Bakau

Published

on

Denpasar – Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB)) DPW PEKAT IB Provinsi Bali kali ini mengadakan kegiatan yang sangat positif dalam rangka memperingati hari Pahlawan tahun 2023, di hutan Mangrove Tuban, Kamis /02/11/2023

Widodo Marmer SE, MMA selaku Sekretaris Wilayah PEKAT IB Provinsi Bali mengatakan Program kegiatan DPW PEKAT IB ini diiimplementasikan melalui program kegiatan penanaman bakau.

” Kami rencanakan tanggal 10 November sementara dari hitungan iklim tanggal 10 November itu air laut pasang atau tinggi, maka kegiatan di majukan pada hari ini tanggal 2 November kondisi air memungkinkan menanam bakau dengan mengundang teman – teman organisasi lain yang mau ikut dalam kegiatan ini “ucap Widodo Marmer SE, MMA

Lanjut Widodo Marmer, Kegiatan penanaman pohon bakau kali ini menyediakan 100 pohon bakau saja dan program akan terus berkelanjutan dan ini merupakan program PEKAT IB untuk melestarikan alam atau lingkungan.

Kegiatan ini juga turut serta ormas dan partai, terkait hal tersebut Widodo Marmer menjelaskan sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran Rumah Tangga PEKAT IB pasal 7 bahwa PEKAT IB tidak ber afiliasi dengan atau kepada salah satu partai tetapi ada kegiatan di DPP Pusat yang sudah mendukung salah satu partai tetapi kami di DPW tidak mendukung siapapun dan kami murni memiliki tujuan membantu tanah air dan pemerintah melalui organisasi kemasyarakatan

Kami juga akan membantu TNI dan POLRI menjaga keamanan dalam pelaksanaan Pemilu yang akan datang , imbuh Widodo Marmer. (Ich)

Continue Reading

Mangku Bumi

Ki Ageng Giring III, Royal Ambarrukmo Ajak Tamu Asal Bali Wisata Spiritual Desa Sodo

Published

on

By

Susilo Juru Kunci Makam Ki Ageng Giring III (selama 30 tahun) baju kuning menceritakan kepada Herman Courbois GM Royal Ambarrukmo kisah tentang wahyu air kelapa Ki Ageng Giring III.

YOGYAKARTA – Perjalanan wisata spiritual yang dilaksanakan salah satu tamu Royal Ambarrukmo mendapatkan kisah unik dibelakangnya.

Pengertian tentang pariwisata spiritual juga pernah dikemukakan oleh Bali Travel News (2008) dalam Susanty (2009) di mana pariwisata spiritual merupakan salah satu kegiatan wisata minat khusus, yakni perjalanan wisata menuju tempat- tempat suci untuk melaksanakan kegiatan spiritual berupa sembahyang, yoga, meditasi dan lainnya.

Kali ini ke tempat yang dikeramatkan warga sekitar, Pesarean Ki Ageng Giring III di Sodo, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisah ini diceritakan oleh Susilo seorang juru kunci makam Ki Ageng Giring III yang sudah 30 tahun.

” Ki Ageng Giring III merupakan keturunan dari Brawijaya IV dari raja Majapahit, yang beliau disuruh mengemban amanah mencari keberadaan wahyu yang pergi (oncat = hilang) dari kerajaan Pajang, ” ujarnya, Sabtu (24/06/2023).

Ki Ageng Giring III bersama dengan Ki Ageng Pemanahan, kemudian Ki Ageng Giring III bertapa di sekitaran wilayah Sodo lalu Ki Pemanahan di wilayah Kembang Lampir.

Lanjut bercerita, suatu saat Ki Ageng Giring III mendapat firasat untuk menanam sabut kelapa kering (Sepet aking) kemudian sabut tersebut tumbuh menjadi tunas kelapa yang dijaga oleh abdi dalem Ki Ageng Giring III yakni Bintulu Aji.

Lalu firasat kembali muncul, ia mengetahui bahwa barang siapa yang meminum air kelapa muda (degan) sekaligus (1 buah) habis akan menurunkan raja – raja tanah Jawa.

Pohon kelapa tersebut berbuah hanya 1 butir, siapapun dikisahkan tidak mampu memetiknya.

” Untuk memetik dari pohon itu harus menepuk batang pohonnya dan kemudian pohon itu akan menunduk dengan sendirinya dan bisalah diambil pleh Ki Ageng Giring III, ” lanjutnya bercerita.

Ki Ageng Pemanahan pun mendapat informasi tersebut dari Ki Sunan Kalijogo bahwa kelapa itu sudah dimiliki oleh Ki Ageng Giring III.

” Ki Ageng Pemanahan pun menuju arah kelapa tersebut yang ditandai oleh cahaya yang tegak lurus ke langit ”

Tidak disangka – sangka Ki Ageng Giring III yang mensucikan diri atau mandi besar di sungai yang meninggalkan buah kelapa tadi. Kemudian Ki Ageng Pemanahan sampailah ke tempat dimana kelapa itu disimpan lalu memaksa meminumnya walaupun sudah dicegah oleh istri dari Ki Ageng Giring III.

Kemudian saat Ki Ageng Giring III melihat air kelapa tersebut sudah habis, maka dikejarlah Ki Ageng Pemanahan dan menanyakan keturunan ke berapa agar keturunannya (Ki Ageng Giring III) dapat Mukti (Jawa = Makmur, Sansekerta = Bebas), agar kekuasaan tanah Jawa bisa bergantian dengan anak keturunannya, kondisi itu belum juga mendapat jawaban.

Jalan menuju Petilasan Gunung Pasar. (Sumber foto : Syaeful Cahyadi)

Konon singkat cerita di wilayah Desa Gunung Pasar (Petilasan Gunung Pasar) di Kecamatan Dlingo, Bantul ada 7 makam tiban (kijing pitu) misterius yang dipercaya sebagai tanda perjanjian antara Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Ageng Giring III ihwal penerus tahta Kerajaan Mataram Islam.

” Walahualam kang mas nanti kelak keturunan ke 7 sampai ke 9 kelak keturunanmu akan menjadi raja tanah Jawa ”

Kemudian mendapatkan jawaban tersebut Ki Ageng Pemanahan melanjutkan perjalanan ke Alas (hutan) Mentaok (Bumi Mataram), kemudian Ki Ageng Giring III kembali ke wilayah Desa Sodo menyebarkan syiar Islam sambil menunggu kembali kapan keturunannya akan menjadi raja kelak.

” Itulah kisah singkat cerita sejarah paling sepuh dari Kerajaan Mataram Islam, yaitu disini, ” ujarnya mengakhiri. (Ray)

Continue Reading

Mangku Bumi

Kobaborasi Biddokkes dengan Puskor Hindunesia, Bantu Kebutuhan Darah Sulinggih

Published

on

By

dr. Komang Nurada Mahardana Sp. THT - KL selaku Kabiddokkes Polda Bali.

DENPASAR – Relawan Manawa Dharma Puskor Hindunesia di Tabanan melakukan langkah cepat dalam upaya kemanusiaan. Dikabarkan seorang Sulinggih yang sedang dirawat di RSU Tabanan membutuhkan darah golongan O, segera dengan sigap informasi ini diteruskan ke tim PDDI Polda Bali dibawah pimpinan Kompol I Nyoman Rinda,A.Md.Kep dan A.A Gede Dalem Pemayun, SH.,MAP untuk ditindaklanjuti, Kamis (27/04/2023).

Kondisi ini dilakukan karena ketersediaan cadangan kantong darah di rumah sakit sangat minim.

Tidak membutuhkan waktu lama pihak PDDI Polda Bali bergerak dan akhirnya mendapatkan pendonor dengan segera. Bahkan tim PDDI Polda Bali langsung mengirim ambulance untuk jemput bola mendatangi pendonor agar darah yang dibutuhkan bisa cepat dimanfaatkan.

Ida Bagus Susena selaku Ketua Umum Puskor Hindunesia

“Terimakasih kepada Kapolda dan Kabiddokkes Polda Bali di bawah ke pemimpinan dr. Komang Nurada Mahardana, Sp.THT-KL yang sudah merespon cepat, apa yang kami butuhkan, utamanya untuk kebutuhan darah Sulinggih tersebut, ” ujar Ida Bagus K Susena selaku Ketua Umum Puskor Hindunesia.

Pelayanan cepat tanggap (emergency) ini merupakan sinergitas keberhasilan dari Puskor Hindunesia dengan pihak Biddokkes Polda Bali. Pelayanan ini merupakan layanan kesehatan bergerak (mobile healthy service) untuk masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Tak hanya sebatas itu, dalam upacara besar seperti Bethara Turun Kabeh di Pura Besakih, BIDDOKKES Polda Bali dan Puskor Hindunesia juga melakukan pelayanan kesehatan dari tanggal 5-26 April 2023.

Dalam kesempatan audiensi Puskor Hindunesia dengan Kapolda Bali, Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, salah satu poin penting yang menjadi pembahasan adalah keberlanjutan dan perluasan jangkauan kerjasama organisasi swadaya keumatan Hindu tersebut dengan Polda Bali. Utamanya untuk bidang Sosial, Kemanusiaan, Kesehatan dan Pembinaan SDM Hindu.

Kapolda Bali sangat mengapresiasi hadirnya Puskor Hindunesia dalam 20 tahun ini melakukan pelayanan, pengabdian dan pemberdayaan umat Hindu.

“Kami siap akan memperluas kerjasama sosial dengan Puskor Hindunesia seperti kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu, bedah rumah dan juga pelayanan kesehatan”, tambah Irjen Pol.Putu Jayan Danu Putra, yang asli Bali juga.

Pihak humas Dekornas Puskor Hindunesia juga mengucapkan terima kasib kepada Kabiddokkes Polda Bali.

Dewa Sudarsana selaku pihak Humas Dekornas Puskor Hindunesia

” Terima kasih dr. Komang Nurada Mahardana Sp. THT – KL atas kebersamaannya dalam melayani anggota jaga dan masyarkat di karya Besakih kemarin, ” pungkas Dewa Sudarsana. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku