Connect with us

Mangku Bumi

THE PURUSHA

Published

on


Ketika kebaikan menjadi komoditas hidup, kehidupan jadi ajang perlombaaan berbuat baik, kompetisi kebaikan untuk dimenangkan, skenario kebaikan yang harus di ikuti dengan iming-iming kehidupan kekal abadi

Mengapa Tuhan berjanji, sedangkan janji dilakukan oleh yang belum mampu memenuhi, bagaimana jika logikanya di balik : tuhan memberikan terlebih dahulu kemudian orang-orang pasti berterimakasih dan taat pada tuhan tanpa harus dibebani perintah segala

Satu hal yang paling penting dari yang terpenting atas kepentingan, yang terlihat bersabda adalah manusia sedangkan tuhan tidak terlihat dan bahkan tanpa kesaksian yang lain selain pengakuan pribadi, ironi keyakinan atas kebenaran paradox yang menantang logika umum

Apakah tuhan ada !? ataukah hanya sebatas ilusi prasangka keyakinan segelintir orang bingung belaka, bagaimana cara pembuktian bahwa dia benar-benar ada, sedangkan yang meyakini keberadaan tuhan diseluruh semesta ini hanya manusia, mengapa binatang tidak mengenal tuhan

Jawaban’nya karena kesadaran binatang lebih rendah dari kesadaran manusia, bisa juga di artikan hanya yang berkesadaran sempurna sajalah yang mengenali tuhan, dengan kata lain “hanya kesempurnan yang dapat mengenali kesempurnaan”

Lalu,
dimanakah letak perbedaan antara yang mengenali kesempurnaan dan kesempurnaan yang di kenalinya, bukankah sama-sama kesempurnaan, yang satu mengenali yang satunya dikenali, atau yang satu kesempurnaan yang tak sadar (tiada wujud) dan satunya lagi kesempurnaan yang sadar (wujud)

Di antara kedua kondisi ini, kira-kira yang manakah yang tuhan, yang terwujud pada sadar atau yang tidak sadar, jika tuhan tiada wujud berarti tuhan tidak sadar karena tidak mungkin menyadari wujud tanpa adanya wujud, atau jika kesempurnaan tidak pernah mewujud siapakah yang mengenalinya sebagai kesempurnaan

Hanya dirinya yang tau ketika dia memiliki kesadaran atas kesempurnaan yang melekati eksistensi’nya, jika demikian…..
dimanakah letak kebenaran Tuhan yang tiada wujud, siapa dan bagaimana cara mengenalinya selain kesadaran yang maha sempurna yang dapat mengurai kemaha sempurnaan yang disadarinya

Mari kita logikakan dengan cerdas dan cermat,
dimanakah posisi keberadaan tuhan ketika dia bersabda, menurut katanya di luar diri, lalu sabda tersebut terdengar oleh kesadaran, dan jika di luar diri berarti dia harus punya sosok sebagai alat memunculkan suara,dan jika dia memiliki alat memunculkan suara, orang lainpun seharusnya bisa ikut mendengar sabda tersebut

Faktanya tidak demikian bukan, hanya dia yang mendengar, sekalipun itu seekor eh sesosok malaikat, itu hanyalah roh memori kehidupan masa lalu yang tersesat di alam wujud tidak tau jalan pulang, dan rata-rata manusia memiliki kemampuan melihat roh gentayangan,baik sengaja atau yang tidak di sengaja,karena pada dasarnya mereka hanyalah hantu sekalipun hantu suci, yang pasti bukan tuhan

Jika hanya dia yang dapat mendengar utusan tuhan,maka analisa yang paling masuk akal…dia sedang berbicara dengan kesadaranya sendiri, seperti kesadaran diri tidak ada yang kedua, kesadaranmu hanya milikmu, demikian juga yang dialami kesadaran tidaklah sama, yang tidak diketahui selain oleh dirinya

Zat itu wujud, dari wujud yang terhalus mencapai wujud padat, Panca Maha Butha, dari Akasa/ether hingga Pertiwi/padat yang mencapai Materi, dan kehancuran adalah pasti bagi yang berwujud, yang berwujud adalah yang dijadikan atau sebut saja dilahirkan, bahkan zat itu menjadi di jadikan oleh The Purusha

Hanya The Purusha yang melihat di balik materi yang tidak dilahirkan
dan tidak melahirkan, ia yang tidak mewujudkan diri, IAlah yang abadi, ia hanya bisa dikesankan oleh sampul pembungkusnya, ia hanya tersadarkan oleh wujudnya, bukan di ciptakan oleh wujud bukan tercipta oleh zat

The Purusha bukanlah wujud, hanya keberadaanya sajalah yang diterjemahkan oleh zat yang dia jadikan, zat maha halus yang memadat yang membentuk wujud kasar, zat yang menjadi tubuh penterjemah kesadaran hidupnya

Bukan The Purusha yang diadakan oleh tubuh tetapi sebaliknya, IA tetap ada sekalipun tubuh penterjemahnya tiada, kesadaran’nya lenyap besamaan tak berfungsinya zat-zat pewujudnya, IA kekal abadi, Sang Purusha itu diri yang berkesadaran hidup di tubuh ini

Atlantia Ra


Mangku Bumi

PSN Kuta Selatan dan Komunitas Si Komo berbagi di Desa Adat Padang Sambian.

Published

on


GATRADEWATA.COM|| Rabu,20 April 2022.
PSN Kuta Selatan dan Kumintas Si Komo berbagi di Desa Adat Padang Sambian.

Pinandita Sanggraha Nusantara ( PSN ) Korlap Kecamatan Kuta Selatan bersama Komunitas Si Komo berbagi melaksanakan kegiatan sosial berupa pembagian sembako kepada para pemangku di desa adat Padangsambian.

Sebanyak 70 Pemangku hadir dalam acara tersebut yang juga disaksikan oleh Jro Bendesa Padangsambian, Ketua PSN Korwil Bali, Korda Badung, Korda Denpasar, dan Korcam Denpasar Barat.

Dalam Kesempatan tersebut Ketua PSN Korwil Bali, Pinandita I Wayan Dodi Arianta sangat mengapresiasi apa yang dilaksanakan oleh PSN Kuta Selatan dan Komunitas Si Komo Berbagi. ” Dalam masa Pandemi ini para pemangku sebagai pelayan umat memang seharusnya di perhatikan kesejahteraannya.

Sementara itu Jro Bendesa Padangsambian menyambut baik kegiatan PSN, disamping kegiatan kepedulian terhadap kesejahteraan Pinandita, juga melaksanakan pelatihan- pelatihan bagi pemangku seperti Kursus Teologi Hindu dan seminar-seminar keagamaan. Misalkan pelatihan sangging yang dilaksanakan di Balai desa disini.
Beliau berpesan supaya pemangku di desa adat Padangsambian memiliki keinginan terus belajar, karena tantangan yang dihadapi umat Hindu sangat majemuk.

Pinandita I Made Wira Adi Topan, S.Fil Ketua PSN Kuta Selatan dan mewakili komunitas Si Komo berbagi menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini tidak ada motivasi selain ingin berbagi kepada para Pinandita.
Dimana diawali dengan pengumpulan dana sukarela dari komunitas sampai akhirnya ada yang tersentuh dengan kegiatan kami.
Saat ini kami melaksanakan pembagian100 paket sembako setiap Minggu kepada pemangku dan masyarakat umum. Dari 100 yang disalurkan 70% nya disalurkan untuk para pemangku.(INN.W.)

Continue Reading

Mangku Bumi

Upacara RSI Yadnya Apodgala Dwijati di Griya Tegal Harum

Published

on

Sebelum Apodgala Dwijati dilaksanakan, Tgl 6 Maret 2022 sudah dilaksanakan acara Diksa Pariksa pula.

GATRA DEWATA ● BALI | Wakil Bupati Tabanan I Made Edi Wirawan, SE., terlihat menghadiri acara Apodgala Dwijati Ida Bhawati Putu Gede Adnyana, S.H., M.Ag., bersama istri Ida Bhawati Istri Nyoman Sumarni, yang dilaksanakan pada hari Kamis 17 Maret 2022 bertepatan dengan Purnama Kadasa di Griya Tegal Harum Banjar Deloduma, Kaba-Kaba Tabanan Bali.

Acara dimulai dari pk 17.00 WITA hingga selesai. Dihadiri pula oleh Bendasa Adat Kaba-Kaba, PHDI Kabupaten, Ketua MGPSSR Tabanan, pasemetonan Pasek, tokoh masyarakat dan lainnya yang mendukung terlaksananya acara tersebut.

Seperti biasa acara dimulai dengan panyembrahma, kemudian pembacaan Bhisama Pasek, Pembacaan SK Diksa, Sambrahma wacana dari Bendesa adat setempat, Sambrahma wacana dari Ketua MGPSSR Tabanan, Sambrahma wacana dari PHDI Kabupaten Tabanan sekaligus menyerahkan Diksa.

Upacara RSI Yadnya Apodgala Dwijati ini juga ‘dipuput’ oleh Nabe Napak Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharyananda, dari Griya Mumbul Sari, Banjar Serongga, Lebih, Gianyar. Nabe Waktra Ida Pandita Mpu Nabe Darma Reka Santika Tanaya, dari Griya Mandara Jati, Banjar Tebesaya, Peliatan, Ubud. Nabe Saksi Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Siwa Putra Shanti Yoga dari Griya Agung Pasek Sari Tegal, Jln Gunung Karang Tegal Denpasar.

“Total biaya yang dikeluarkan dari tgl 6 Maret hingga kemarin itu menghabiskan dana 50 juta, dan itu dana pribadi, “jelas Gus Agung putra beliau kepada awak media melalui pesan elektronik.

Harapan yang dilontarkan Ida Nak Lingsir anyar presida ngemargiang swadarma dados kasulinggihan, memberikan pelayanan dan pencerahan ke Umat Hindu seluruhnya. (JA)

Continue Reading

Mangku Bumi

Pura Kuno Akses Jalan Diblokir Rumah Kost

Published

on

By

Kadek Garda (kiri) dan Jro Bima (kanan)

GATRA DEWATA | BALI | Pedih bila dipikirkan, rasa toleransi yang terpupuk sejak lama di Bali antara masyarakat sekitar menjadi teruji kembali dengan adanya peristiwa penutupan akses jalan ke Pura Dalem Bingin Nambe, Banjar Adat Titih Kaler, Desa Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat.

Kejadian yang sudah berlangsung lama kurang lebih 10 tahun, bukan tidak melakukan perlawanan, tetapi upaya itu kandas kemungkinan karena lawannya adalah seorang mantan Jaksa (orang yang memahami hukum). Fakta persidangan mungkin melihat bahwa tanah yang tentu masih merupakan wilayah Pura Dalem Bingin Nambe (Duwen Pura), karena Pura tersebut tercatat berdiri sejak abad-18, telah tersertifikatkan bahkan ditembok beton.

Bangunan permanen yang menutup akses jalan keluar masuk (pemedal) bagi pemedek (umat) Pura Dalem Bingin Nambe memiliki cerita dibalik beralihnya tanah tersebut. Itu dilontarkan spontan oleh Kadek Mariata (Kadek Garda) yang juga sebagai pengempon pura.

“Pura ini sudah lama berdiri bahkan sejak zaman penjajahan Belanda, lihat level tanahnya masih dibawah, dan juga arsitektur candi bentar sudah ratusan tahun, “ungkapnya, Senin (07/02/2022).

Ia juga menceritakan bahwa waktu dirinya masih kecil dirinya masuknya dari arah selatan, dari jalan Pulau Ternate. Selanjutnya dirinya tidak mengetahui kondisi selanjutnya, yang dia pahami tembok itu telah menutup pintu utama pura. Dirinya juga curiga adanya patgulipat terhadap kepemilikan tanah yang sesungguhnya merupakan bagian dari Pura yang ada sebelum negara ini merdeka.

Pengemponnya ada sekitar 200 KK (Kepala Keluarga) dari Jimbaran, Pemogan, Pagan dan Natah Titih Denpasar.

“Yang saya dengar dulu di sini anak laki-laki yang putung atau tidak punya anak. Kemudian dia minta anak. Anaknya ini lalu minta bagian, dan yang diminta bagian di depan pura ini. Setelah dapat tanah ini, atau sebelumnya katanya dia pindah agama. Dan setelah pindah agama lalu ditutuplah jalan ini,” bebernya dan berharap PHDI juga turut menelusuri fakta yang sebenarnya terhadap kondisi ini.

Terlihat hadir Perbekel Perbekel Desa Dauh Puri Kangin, kapolsek Denpasar Barat dan Para pengempon Pura tersebut, terlihat juga I Ketut Putra Ismaya Jaya (Jro Bima) yakni tokoh pemerhati Bali dan I Nyoman Kenak selaku ketua PHDI Kota Denpasar.

“Kami mohon semua pihak untuk dapat menahan diri dan sabar. Kita akan berusaha akan memediasi, karena fungsi kita bukan lembaga eksekutor, “ujar Kenak yang berjanji akan merapatkan hal ini kepada seluruh pengurus disemua tingkatan PHDI.

Ia juga mengatakan akan memanggil seluruh pihak untuk ikut menyelesaikan permasalahan yang ada. Ditanya soal mediasi bila terjadi deadlock, dirinya mengaku memiliki cara pendekatan khusus.

“Tidak ada pura yang tidak punya akses jalan, saya akan berupaya memediasi agar pura ini memiliki akses jalan. Kita juga baru tahu ini kalo tidak dari media, karena tidak mungkin kita cari-cari tempat yang bermasalah, “pungkasnya. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku