Connect with us

Kesehatan

Semen Padang Taklukan Bali United 2-0

Published

on


pertandingan Semen Padang vs Bali United Grup B Piala Sudirman di Stadion I Wayan Dipta

pertandingan Semen Padang vs Bali United Grup B Piala Sudirman di Stadion I Wayan Dipta


Babak pertama Bali United terus melakukan gempuran, saking gencarnya melakukan serangan dua pemain Semen Padang digantikan. Yakni; Leo Guntara nomor punggung 19 digantikan Irsad Maulana nomor punggung 88 dan Gugum Gumilar 39 digantikan James Koko Lomel nomor punggung 99. Babak pertama sampai dengan perpanjangan waktu dua menit, skor tetap kacamata(0-0).

Babak kedua, dua pemain Semen Padang, yakni: Yu Hyun Koo dan Hamdi Ramdan diganjar kartu kuning. Skema permainan pun dirubah, menit ke 82, tim asuhan Nil Maizar melalui tendangan James Koko Lomel membuahkan hasil, skor 1-0 untuk keunggulannya. Selang dua menit, Semen Padang kembali menambah pundi golnya melalui Nur Iskandar. Skor tetap 2-0 sampai peluit panjang ditiup untuk keunggulan Semen Padang.

“Kita tidak memikirkan masuk babak delapan besar atau tidak, cuma ini pertandingan harga tertinggi buat pemain. Bahwa Semen Padang layak untuk bertengger di level nasional.” Kata Nil Maizar Coach Tim Kabau Sirah saat jumpa pers setelah selesai pertandingan. Jumat(26/11).

Sementara Indra Syafri Coach Bali United menanggapi kekalahannya tersebut mengatakan bahwa banyak dapat pengalaman pertandingan, mengingat usia Bali United yang masih muda.

“Hal yang terjadi di babak kedua adalah hal yang saya ingatkan di ruang ganti. Bahwa hati-hati, transisi dari menyerang ke bertahan.” Kata Coach Tridatu.

Dengan kekalahan pertandingan Grup B Piala Sudirman di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali ini, Bali United tidak lolos ke delapan besar, kendatipun masih menyisakan satu pertandingan lagi melawan PSM Makasar pada 29 November 2015 mendatang.(alt)


Continue Reading
Advertisement

Global

KETIDAKPASTIAN PANDEMI : DUKUNGAN PSIKOSOSIAL VS KONSPIRASI

Published

on

GATRA DEWATA | BALI | Saat ini kita mulai merasakan masa pandemi Covid-19 cukup panjang. Tadinya banyak orang berharap ini hanya sebentar dan sekarang kita semua terjebak pada dua hal; pertama, ketidakpastian dan itu pasti tidak menyenangkan. Kedua, selain ketidakpastian adalah kesepian.

Walaupun kesepian juga bisa terjadi saat ada banyak orang dan banyak aktivitas tapi sekarang dua hal ini menjadi adalah problem terbesar kesehatan jiwa masyarakat saat ini.

Dari apa yang saya baca, sebenarnya pandemi adalah salah satu bencana yang bersifat natural atau alami, selain bencana alam seperti banjir, tanah longsor atau tsunami, dan ada juga yang menyangkut wabah penyakit. Selain itu juga ada bencana non-alam akibat teknologi atau peperangan dan terorisme.

Tetapi dari semua kondisi bencana ini ada pola-pola yang serupa. Pada wabah penyakit ada istilah pre-disarter, misalnya ketika kita melihat ada ancaman. Untuk Covid-19 ketika Desember 2019 dan Januari 2020 China dan beberapa negara di Eropa mulai mengalami pandemi, kita masih berada di tahap pre-disaster.

Mulai merasa terancam dan waspada tetapi kita masih beraktivitas seperti biasa walaupun mulai ada kecemasan akan ketidakpastian.

Lalu ini berlanjut pada fase disaster dan fase pertamanya disebut fase heroik, ketika kita mulai mengalami ancaman yang nyata, mulai ada korban mulai ada yang positif mengidap virus Corona dan menyebar. Pada fase ini masyarakat mulai bersiap menghadapinya, setiap orang kemudian menyampaikan imbauan-imbauan, menggalang dana untuk membantu sesama.

Seperti yang kita lihat, ketika banyak tenaga medis belum mempersiapkan APD (Alat Pelindung Diri), masyarakat tanpa menyalahkan satu sama lain mengumpulkan dana dan memberikan APD kepada tenaga medis. Juga, membagikan sembako kepada warga yang membutuhkan. Itu fase heroik yang biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan saya pikir kini kita sudah melewatinya.

Setelah fase heroik ada yang dinamakan dengan fase honeymoon atau bulan madu. Masyarakat mulai merasa cukup nyaman, anak-anak kita yang sebelumnya tidak terbiasa online kini mulai terbiasa. Orang yang bekerja di kantor mulai beralih dan terbiasa bekerja dari rumah dengan dibantu teknologi internet.

Bagi kalangan menengah ke atas mulai terbiasa menikmati suasana keluarga. Dan, kita akan melewati fase ini dengan berpikir positif bahwa kita akan bisa menghadapi pandemi ini, bahwa semua akan berlalu.

Namun, kita mesti berhati-hati sebab setelah fase honeymoon kita akan masuk pada fase disillussionment atau penurunan. Kita mulai berpikir sampai kapan keadaan seperti ini, apakah kita akan bisa bertahan atau tidak.

Ketika fase honeymoon menurun atau sudah terlewati, banyak orang berpikir tentang teori konspirasi; bahwa Covid-19 ini sebenarnya tidak nyata, bahkan ada yang mengaku siap disuntik virus untuk membuktikannya yang jelas tidak mungkin dilakukan.

Dan semua itu akan meningkatkan rasa ketidakpastian masyarakat. Orang yang tadinya sedikit cemas akan pandemi ini kemudian meningkat rasa cemas dan khawatirnya. Juga disertai dengan dengan rasa putus asa; jangan-jangan pandemi ini akan lama dan kita tak akan bisa bertahan.

Jadi, muncul semua rasa ketidakpastian. Pada keadaan seperti inilah menurut saya dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat penting.

Selama ini orang hanya berpikir soal dukungan materi, memberikan sembako dan kebutuhan lain. Atau, membuat program Pra Kerja dan memberi pelatihan agar orang bisa yang terdampak pandemi bisa bekerja kembali. Betul, itu semua penting tetapi banyak orang lupa akan pentingnya dukungan kesehatan jiwa dan psikososial.

Terutama ketika fase honeymoon terlewati, dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat dibutuhkan. Jadi perlu keseimbangan.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu setuju dengan berpikir positif, bahwa kita harus senantiasa positif. Kadang-kadang kalau kita terlalu positif atau toxic positivity, kita justru akan jatuh pada kekecewaan. Misalnya saat kita merasa bahwa sebentar lagi keadaan akan baik-baik saja, bahwa kita harus percaya terhadap hal itu dan lain sebagainya.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita akan merasa kecewa dan putus asa. Di sini keseimbangan sangat diperlukan termasuk membatasi informasi tentang pandemi. Kita juga perlu membaca berita yang positif. Tetapi kalau kita terlalu optimis dan menjadi abai terhadap ancaman, itu menjadi tidak bagus juga.

Kita perlu memberi perhatian terhadap berbagai ekspresi masyarakat tentang pandemi ini. Termasuk duka cita, itu perlu dihormati. Misalnya tentang tenaga medis yang mengirim kiriman di media sosial tentang sejawatnya yang meninggal, itu perlu dihormati.

Juga pada profesi lain, tentang orang tua dan para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Duka cita adalah sesuatu yang perlu dihormati.

Di satu sisi, hal diatas kita lakukan untuk dukungan psikososial. Di sisi lain, perlu juga sesuatu yang membangkitkan harapan; bahwa pandemi ini akan lewat dan tidak ada sesuatu yang terjadi terus-menerus. Kemudian, sebagian besar akan baik-baik saja, meski banyak ada yang sakit dan meninggal tapi sebagian besar dari kita akan tetap survive.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengenali dan menggemakan hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita. Ada harapan, perbaikan, dan data-data yang mencerahkan diri kita, itu perlu digemakan. Dan yang penting adalah bagaimana kita menemukan peluang.

Saya percaya keadaan ini tidak membuat kita berhenti kembali pada masa lalu tetapi ini membuat kita menemukan peluang, sehingga kita menjadi leading, menjadi paling berkembang ketika kita menemukan the new normal, situasi normal yang baru dan tidak kembali seperti dahulu, serta mempertahankan harapan.

Itu yang kita semua perlu lakukan, sehingga fase disiluision ini akan berlalu dan kita bisa recover. Memang tidak semudah yang dikatakan, tetapi hal ini perlu bersama-sama kita jalankan. Bekerja sama, bukan saatnya saling menyalahkan, bukan saatnya bertengkar dan terpecah belah tetapi bersama-sama melewati pandemi ini. Seperti kata-kata dalam lagu kebangsaan kita Indonesia Raya; selain kita perlu membangun raga kita juga perlu membangun jiwa. Tetaplah sehat jiwa sampai pandemi Covid-19 ini berakhir. Salam Mantap Jiwa.

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Continue Reading

Kesehatan

HARMONY WITH AYURVEDA (9)

Published

on

Setelah dalam beberapa tulisan sebelumnya, penulis telah memaparkan faktor-faktor penting yang mempengaruhi keseimbangan sebagai tanda seseorang dalam kondisi sehat (harmoni). Pada beberpa tulisan berikutnya, penulis akan memaparkan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami ketidakseimbangan (disharmoni) yang secara sederhana disebut sakit.

Ayurweda memaparkan dua kelompok besar penyebab penyakit yaitu yang pertama sebab karma dan yang kedua disebabkan oleh fisik dan biologi. Pada tulisan kali ini, akan penulis paparkan sebab yang pertama, yaitu sakit yang disebabkan oleh karma.

Karma yang dimaksud dalam hal ini adalah karma wasana (yoni), yaitu hasil perbuatan seseorang pada kehidupan sebelumnya yang dinikmati pada kehidupan saat ini. Inilah yang menjadi jawaban mengapa ada orang yang dilahirkan dari keturunan keluarga diabetes, hipertensi, pemarah, ada yang dari keturunan cantik dan baik hati serta banyak karakter yang lainnya.

Semua itu adalah sebab dari karma wasana seseorang, yang menurut pengetahuan konvesional disebut faktor keturunan (genetik). Bagaimana menjelaskan hal ini menjadi lebih sederhana? Hindu meyakini bahwa kita lahir (hidup) bukan baru sekali ini saja, melainkan sudah berkali-kali, mungkin puluhan, ratusan bahkan ribuan kali kelahiran.

Apabila di kehidupan sebelumnya kita terlalu berlebihan mengkomsumsi makanan yang manis-manis (banyak mengandung gula), maka pada kelahiran berikutnya kita dilahirkan di keluarga yang mengalami penyakit diabetes dan kitapun memiliki gen diabetes. Demikian juga dengan gen-gen penyakit yang lain dan karakter-karakter lainnya. Apakah gen-gen penyakit tersebut akan mewujud menjadi penyakit? Sebagaimana keyakinan Hindu, bahwa karma harus dan pasti berbuah, demikian juga dengan gen tersebut yang dalam pengetahuan kesehatan konvensional disebut faktor resiko yang tidak dapat diubah, pada kondisi yang tepat tentunya dikombinasikan dengan sebab biologi dan atau fisik akan mewujud menjadi penyakit.

Lalu bagaimana dengan terapinya (pengobatan)? Sabar. Kita belum membahas sebab penyakit yang kedua, yaitu sebab biologi dan fisik.

(Prof. I Ketut Adnyana)
Radite, 3.05.20
Rahayu

Continue Reading

Daerah

BALI SARI LINUWIH PUNIAKAN 2000 MASKER MELALUI MDA

Published

on

GATRA DEWATA | BALI | Semangat gotong royong yang dilakukan Bali Sari Linuwih melalui Majelis Desa Adat dengan gotong royong berbasis Desa Adat, merupakan hal yang penting dalam menggalang kekuatan bersama dengan konsep dari, oleh dan untuk Desa Adat, khususnya di Bali dalam menjaga bersama penyebaran wabah COVID-19 yang melanda Bali saat ini.

Dengan memberikan 2000 masker melalui program punia. Bali sari Linuwih merupakan Utsaha Pedruwen Krama Bali yang bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa manajemen.

Punia langsung diserahkan melalui pimpinan Bali Sari Linuwih, Ida Bagus Widya didampingi jajarannya kepada Bandesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet bertempat di Puri Den Bencingah, Akah Klungkung pada Kamis (30/4).

Ida Pangelingsir Agung yang didampingi Patajuh Bandesa Agung, DR, I Made Wena, I Ketut Madra SH, MM., dan Patengen Agung, Ir. I Gede Arya Sena, M.Kes menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bali Sari Linuwih karena mampu memberikan teladan semangat gotong royong sebagaimana roh dari tata kelola ekonomi adat itu sendiri.

Ida Bagus Widya dalam keterangannya menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Bandesa Agung dan Majelis Desa Adat Propinsi Bali untuk turut serta meringankan beban krama adat melalui program Dari, Oleh dan Untuk Desa Adat. “Punia masker ini, semoga bisa memberikan inspirasi dan pemahaman pentingnya penggunaan masker untuk mencegah COVID 19, “ujarnya.

Sebagai informasi, saat ini Desa Adat Serokadan Bangli dan Desa Adat Bondalem, Tejakula – Buleleng, menjadi pusat perhatian akibat hasil rapid test yang menunjukkan jumlah reaktif yang cukup banyak. Meskipun harus dibuktikan dengan swab test, banyaknya hasil reaktif pada ODP yang merupakan hasil tracing dari Pasien Positif, mengharuskan seluruh Desa Adat memberikan perhatian penuh dalam memastikan pencegahan penularan COVID 19 sesuai anjuran pemerintah.

“Bali Sari Linuwih akan terus mengupayakan kontribusi nyata kepada krama adat melalui Desa Adat dan Majelis Desa Adat dalam lingkup ekonomi adat Bali, baik pada saat kita menghadapi Pandemi, maupun nanti ketika situasi dan kondisi sudah kembali normal” tutup Gus Widya. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam