Connect with us

Mangku Bumi

RIMBA BELANTARA

Published

on


WANA-hutan,
Nir artinya bukan, Nir-Wana bukan-hutan

Rasa Bahagia di diraih saat mencapai keadaan nirwana, suka tanpa wali duka, yang arti sesungguhnya melampaui rasa, nir-wana bukan-hutan atau swaha di raga (swarga/sorga), yang bermakna kemandirian yang utuh pada keseimbanganya

Kemandirian tidak serta merta tidak membutuhkan yang lain, kita butuhkan bumi untuk alas hidup, kita butuh udara untuk menopang kehidupan tubuh, kita butuhkan orang lain untuk kegairahan hidup

Namun,
sebagus apapun cerita sebuah film yang membuat hanyut bahkan
perasaan bergolak terbuai alur cerita, di akhir cerita setiap orang kembali kerumah masing- masing, sekalipun hanya merenung, sejauh manapun kenikmatan rasa itu di jalani, akan selalu mendapati diri kembali di kesadaran

Hutan liar kehidupan dengan segenap bahaya dan jebakan mematikan, tampak tak teratur sekalipun sesungguhnya beraturan, diatur kehendak hidup, demikian hidup inipun rimba belantara, upaya bertahan dari segenap seleksi mencapai keseimbangan

Respon terhadap lingkungan memunculkan rasa, yang dikerjakan oleh dzat yaitu kimiawi tubuh penyedia kesempurnaan rasa, yang berarti “rasa” adalah domain materi domain wujud, dan jika ada yang bertanya bagaimana wujud rasa, wujudnya kimiawi/dzat, kasus di tutup

Penyedia rasa adalah tubuh, maka segenap rasa apapun bentuknya semata product wujud, sekalipun itu rasa tuhan hanyalah ilusi sensasi kimiawi, jika tuhan tiada wujud maka rasa tuhan itu hanya tipuan wujudnya, yang artinya menyembah tuhan samadengan menyembah rasa wujudnya

Menyembah tiada wujud
dari kondisi wujud adalah konsep yang bertolak belakang, yang artinya yang tiada wujud itu tidak mungkin disembah karena yang menyembah pastilah dalam bentuk wujud, yang berarti penyembah tidak mungkin mencapai yang disembah, wujud tidak mungkin mencapai tiada wujud kecuali wujudnya telah mati

Disinilah awal kekeliruan terjemah itu terjadi, karena ketertipuan Maya menimbulkan prasangka yang menterjemahkan keabadian menjadi “kemuliaan hidup setelah mati”

Karena tidak memiliki pengetahuan yang benar bahwa rasa maupun kesadaran hidup semata hasil tejemahan tubuh, dan segenap out put darinya adalah domain wujud, dan yang mensabdadan eh yang memakan buah sorga itu jatuh pada kesadaran materi atau yang tersesat

Ini tentang kebenaran bukan tentang hujat-hujatan, hentikan sejenak pikiran untuk menyingkirkan prasangka, agar kebenaran terlihat tanpa sekat pikiran, sebab kebenaran yang sejati itu melampaui pikiran, halnya tuhan yang tidak terpikirkan yang arti sebenarnya melampaui pikiran atau menjadi yang melihat di balik materi, jadi menjadilah bukan menyembah

Tidak perlu risau tidak usah terlalu khawatir, menara Gading takan runtuh oleh maki dan benci, jiwa membenci yang telah runtuh olehnya, ia sendirinya ambruk saat penopangnya keropos, bangunlah menaramu sendiri dengan ketulusan dan budi kebijaksanaan, ketimbang ribut menunjukan rasa cemburu dan tak sadar telah ikut menjadi penopang kemegahanya

Rasa hidup ini seperti rimba belantara dengan segenap keliaran dan menyesatkan, tubuh ini sendiri seperti tubuh-tubuh yang lain adalah binatang, disertai segenap sifat dan kebuasan yang melekat atas sifat keberadaan, yang melihat dibalik materi itulah yang mentuaninya, tuan yang tidak lain maha hidup/tuhan yang hidup diatas kesempurnaan sadar atas hidupnya

Penyembahan muncul atas prasangka materi, tuan hidup yang melihat dibalik materi itu telah tertipu kuatnya gelora rasa hidup, para penyembah adalah para mereka yang tidak mampu menguasai rasa hidup dan tidak menjadi tuan atas rasa yang disadarinya, yang terpaksa tunduk pada sifat kebinatangan wujudnya karena ketidak berdayaan, apapun bentuk rasa tidak lain produk wujud belaka

Nir-wana,
bukan hutan yang maknanya bukan yang berdiri pada kesadaran wujud akan tetapi yang melihat dibalik materi atau yang melihat di balik wujud, yang nunggal pada bukan wujud yang juga di sebut sebagai the purusha, purus/poros kehidupan, yaitu tuan yang hidup itu, tuan dari hidupnya, sedangkan yang di terjemahkan oleh wujudnya hanyalah rasa hidup, bukan yang melihat di balik materi

Yang melihat di balik materi tak dapat diterjemahkan oleh apapun, yang ada di dalam wujud namun tak terikat pada wujudnya, yang melampaui wujud yang melihat di balik materi

Atlantia Ra


Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (5)

Published

on

Keseimbangan antar komponen tridosha sebagai salah satu syarat hidup sehat (harmoni).

Seperti yang sudah dipaparkan dalam tulisan sebelumnya bahwasannya tridosha menjadi titik pijak paling penting dalam pengejewantahan pengetahuan Ayurweda.

Apa itu tridosha? Tidak ada padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Beberapa referensi menyebutnya, dosha itu konstitusi tubuh, atau humor atau energi atau prinsip dasar bangun tubuh seseorang. Konsep dasar tri dosha diambil dari konsep filosofi Sankhya seluruh entitas di alam semesta disusun paling tidak oleh satu dari lima unsur dasar yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu ether, angin, api, air dan tanah.

Kombinasi antara unsur ether dan angin adalah Vata, kombinasi unsur api dan air adalah Pitta dan kombinasi unsur air dan tanah adalah Kapha.

Vata, Pitta dan Kapha inilah yang disebut tridosha. Semua anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika digerakkan oleh tridosha. Termasuk juga tirdosha merupakan kekuatan pelindung tubuh seseorang.

Ketika seseorang dalam keseimbangan tridosha yang sempurna, orang tersebut dalam kondisi sehat yang sempurna. Sebaliknya, ketika tridhosa tidak seimbang (disharmoni) seseorang akan mengalami gangguan kesehatan, penderitaan dan sakit.

Setiap individu memiliki tipe dosha yang unik tergantung jenis dan komposisi dari dosha seseorang.

Tipe dosha yang dimiliki seseorang ditentukan ketika mulai proses konsepsi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur dari orang tua laki-laki dan perempuan orang tersebut yang juga tergantung waktu, tempat dan konstelasi planet-planet pada saat pertemuan tersebut.

Inilah yang menjadikan dosha seseorang UNIK. Ini juga yang menentukan anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika seseorang juga unik dan berbeda antar individu.

Lalu bagaimana menentukan tipe dosha seseorang? Ada serangkaian pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap individu secara jujur dan mendalam.

Tentu orang yang semakin mengenal dirinya secara baik, maka akan semakin tepat dalam menentukan tipe doshanya. Secara umum, tipe dosha seseorang adalah kombinasi yang unik juga dari tridosha (Vata, Pitta dan Kapha).

Penampahan Galungan,
18.02.20

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (4)

Published

on

Bagaimana Ayurweda begitu yakin menjadi pengetahuan tentang hidup (the science of life)? Sekarang kita mengulas sepintas mengenai enam filosofi yang menjadi dasar-dasar pengetahuan Ayurweda.

Filosofi yang pertama, yaitu Sankhya. Filosofi Sankhya memberikan Ayurweda teori tentang evolusi dan teori tentang sebab akibat.

Kita dapat menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya dalam keseharian menjalani kehidupan dari momen ke momen.

Bahwasanya kita bukanlah tubuh fisik ini, kita bukan ketakutan itu, kita bukan penderitaan itu, kita bukan rasa sakit itu. Singkatnya, kita hanya penghuni yang tinggal dalam tubuh ini. Kita adalah eksistensi yang lebih tinggi dan lebih mulia, yaitu kesadaran murni (pure Consciousness).

Dengan menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya ini dalam hidup keseharian, kita menyembuhkan diri kita sendiri.

Kita harus menyembuhkan diri kita sendiri. The best doctor is our own self. Filosofi yang kedua, Nyaya dan Vaisheshika.

Pengetahuan filosofi Nyaya dan Vaisheshika memberikan Ayurweda dasar berpikir yang runut dan logis. Bahwa tubuh ini adalah suatu mesin materi yang harus dipelihara dan diperbaiki.

Tubuh adalah sarana untuk mencapai tujuan hidup, maka tubuh harus tetap sehat dengan pola hidup sehat yang holistik. Filosofi yang ketiga, yaitu Mimamsa.

Pengetahuan filosofi Mimamsa tentang kerja adalah bagian dari hidup yang mana untuk mencapai pembebasan dengan melaksanakan kebenaran/kewajiban (Dharma).

Sumbangsih filosofi Mimamsa pada Ayurweda meliputi metode dan cara-cara mencapai Tuhan melalui ritual, upacara dan puasa.

Filosofi yang keempat, yaitu Vedanta. Pengetahuan filosofi Vedanta memberikan pemikiran yang mendalam pada Ayurweda tentang Tuhan yang abadi, yang merupakan pencapaian terkahir dari setiap manusia.

Untuk mencapai tujuan ini, setiap individu mutlak memiliki kesehatan yang sempurna. Filosofi yang kelima, yaitu Yoga.

Ayurweda menggunakan Yoga secara terapetik untuk tujuan kesehatan dan sesungguhnya setiap sistem yoga memiliki nilai kesehatan yang sangat besar. Filosofi yang keenam, yaitu Buddhisme.

Empat Kebenaran yang Mulia dalam ajaran Buddha, yaitu adanya penderitaan, ada penyebab dari penderitaan, ada akhir dari penderitaan dan ada sarana untuk mengakhiri penderitaan. Buddha mengatakan, segala sesuatu akan berkahir.

Jangan khawatir pada penyakit, karena penyakit akan berakhir.

Pengetahuan filosofi Buddha mengajarkan ada penderitaan dan cara sederhana untuk bebas dari penderitaan adalah kesabaran, dengan memberikan waktu tubuh untuk menyembuhkan dirinya. Inilah sumbangsih filosofi Buddhisme terhadap Ayurweda.

(Prof. I Ketut Adnyana)

15.02.20
Rahayu

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (3)

Published

on

Masih tentang keseimbangan (harmoni), karena itu memang konsep besar sehat menurut Ayurweda.

Untuk tetap sehat, seorang individu harus juga menjaga keseimbangan antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung). Dimana menurut Astrologi Weda, konstelasi planet-planet akan mempengaruhi keseimbangan (harmoni) seseorang bahkan juga perjalanan kehidupan seseorang.

Konstelasi planet-planet akan mempengaruhi musim, suhu global bumi yang tentu setiap individu harus menyesuaikan aktivitas hariannya bila tetap mengharapkan sehat (harmoni) dari waktu ke waktu.

Konstelasi ini akan mempengaruhi keseimbangan konstitusi (tridosha), gejolak emosi dan kecenderungan pikiran seseorang yang secara holistik akan menentukan dinamika harmoni seseorang.

Harmoni seseorang juga dipengaruhi oleh dua modal besar, yaitu genetik dan lingkungan.

Genetik ini adalah faktor keturunan yang kalau dirunut merupakan jejak-jejak dari kehidupan seseorang sebelumnya yang disebut karma wasana. Inilah jawabannya mengapa seseorang lahir dari keturunan keluarga yang mengalami diabetes, hipertensi, dislipidemia, pemarah, bandel dan lain sebagainya terlalu banyak kalau disebutkan karena memang unik untuk setiap individu.

Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah modal genetik ini. Namun, kita masih memiliki modal besar yang kedua, yaitu lingkungan. Meminjam formula Einstein yang sangat terkenal yaitu E=mC2, dimana suatu materi memiliki energi potensial sebesar massanya dikali kecepatan cahaya kwadrat.

Bisa dihitung bagaimana besarnya energi suatu materi. Namun disini kita tidak sedang membahas formula Einstein.

Lalu apa hubungannya dengan harmoni menurut Ayurweda? Saya menganalogikan E adalah Equilibrium (keseimbangan atau harmoni), m adalah man atau individu itu sendiri yang bersifat unik dan cenderung tetap (genetik).

Sedangkan C adalah circumstances (keadaan atau lingkungan). Jadi sekali lagi, harmoni seorang individu ditentukan oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan. Yang perlu diingat, lingkungan menjadi penentu paling besar harmoni seseorang.

Karena kalau disesuaikan dengan formula Einstein, lingkungan nilainya sangat besar dan dikwadratkan lagi. Artinya, harmoni individu sebagian besar ada dalam kendali individu itu sendiri, yaitu dengan syarat mampu mengendalikan faktor lingkungan hidupnya.

Apa saja yang menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi harmoni individu? Tiga besar lingkungan saya sebutkan disini, yaitu pola pikir, pola makan (diet) dan pola hidup (lifestyle termasuk aktivitas fisik atau olahraga).

(Prof. I Ketut Adnyana)

Rahajeng rahina Sugihan Bali,
14.02.20

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam