Connect with us

Mangku Bumi

RELIGIUS PAGANUS

Published

on


Adaptasi,
introspeksi adalah domain prasangka, pelayanan adalah reaksi kesadaran atas hidupnya, pelayanan membabi-buta menghasilkan prasangka atas kebenaran egonya

Ego berasal kekuatan hidup itu sendiri, yang membiarkan egonya tak terkendali, tersesatkan oleh hidupnya, yang tak punya kendalikan atas egonya tidak berkuasa atas hidupnya, yang terombang-ambing gejolak rasa karena wujudnyalah yang menjadi pengendali diri yang melihat di balik materi

Keterikatan adalah sumber tebal tipisnya ego, karena ego tidak lain bayangan yang hidup, yang imitasi,yang palsu, manusia yang mengumbar ego bisa diartikan manusia penuh kepalsuan, hidup dari satu kebohongan diatas kebohongan yang sebelumnya

Pengumbar Ego selalu merasa diri benar diatas kebenaran egonya, karena hidup mereka tidak di mulai pada yang sebenarnya, tidak mendirikan hidup pada yang seharusnya tetapi pada egonya

Diantara wujud-tubuh dan penghidup yang tiada-wujud itu muncul kesadaran sempurna hasil terjemahan tubuhnya yang maha sempurna, yang berarti tubuh dan pencipta tubuh dan kesadaran hidup yang muncul diantaranya adalah yang sama pada wujudnya yang berbeda, yang ketiganya yang maha penghidup – tubuh dan yang berkesadaran di dalamnya kesemuanya berasal mula yang sama

Dan…
dari yang tunggal yang mengadakan semuanya menjadilah engkau yang terbaikk diantaramu,sang diri yang menyadari hidupnya, yang letak keberadaanya diantara wujud dan tiada wujud, menjadi batas yang tiada batas, batas yang sekaligus tiada-batas

Karena lupa pada kesejatin dirinya, manusia terperosok mengumbar ego, ketidaktauan akan siapa sejati dirinya menjadikan hidup hanya berjalan di atas ego tanpa kebijaksanaan, seklipun mulut setiap saat menyebut tuhan, itu semata-mata tuhan ego, Karena hasil berketuhanan (sejatinya tuhan) adalah sifat welas-asih, sedangkan ego menghasilkan arogansi, pembenaran ego, penaklukan- perbudakan serta ketidakadilan karena kepentingan ego dirinya yang diutamakan

Menjadilah engkau yang terbaikk diantaramu, yang berkesadaran hidup diantara wujud tiada wujudnya itu yang memiliki pilihan dan kemampuan beradaptasi pada kedua sisi – adaptasi pada yang wujud maupun – adaptasi pada yang tiada wujud, dan pada upaya penyelarasan pada kedua kondisi itulah muncul sabda-sabda, yang tidak lain suara getaran tubuh itu sendiri

Yang kurang kepekaan dan atau yang terlalu melekat pada sudut pandang mistis nan klenik cenderung mendengar dan melihat pen-sabda itu menyabdakan pengetahuan dari luar diri, entah oleh residu memori kehidupan masa
lalu atau karena ketidak mampuan menyelami lebih dalam karena tidak tau cara manunggal kebenaran diri yang sejati, mereka yang tertipu

Jejak-jejak penciptaan yang melekat atas terwujudnya tubuh yang berkomunikasi pada sang diri, yang bersuara menjadi sabda, mata tunggal mata kesadaran yang mengenalinya, kecerdasan yang mengolah menterjemahkanya, yang kurang kecerdasan tertipu, disinilah pentingnya peningkatan kecerdasan agar pengalaman mistis tidak mengarah prilaku “heretic” tersesat

Ketersesatan karena kurang pengetahuan dan tidak cerdas memunculkan sikap paganisme berasal dari kata latin klasik pagus yang berarti “wilayah yang dibatasi oleh penanda-penanda” yang bila dikaitkan ke dunia spiritual bisa diartikan yang geraknya dibatasi (terikat aturan kepatuhan) simbol-simbol spiritualitas, yang di dunia modern dikenal dengan sebutan agama yang menerapkan tanda-tanda batas prilaku – (pagus*)

Pembatasan kehendak bebas bisa diartikan sebagai prilaku terbelakang yang merelakan keterikatan dogmatis tanpa pengalisaan kenyataan, bisa karena kemalasan dan kurangnya akal atau bahkan yang lebih luas demi kepentingan otoritas

Istilah paganus bisa juga diartikan kelompok yang susah di ubah dari adat kebiasaan hidup yang dipercayai temurun halnya penganut agama modern adalah bentuk lain pagamisme atau dikenal sebagai Neo-Paganisme yang berasal kata pagus : wilayah yang dibatasi penanda- penanda dalam hal ini berupa “aturan Allah”, pagan

Atlantia Ra


Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (5)

Published

on

Keseimbangan antar komponen tridosha sebagai salah satu syarat hidup sehat (harmoni).

Seperti yang sudah dipaparkan dalam tulisan sebelumnya bahwasannya tridosha menjadi titik pijak paling penting dalam pengejewantahan pengetahuan Ayurweda.

Apa itu tridosha? Tidak ada padanan yang tepat dalam Bahasa Indonesia. Beberapa referensi menyebutnya, dosha itu konstitusi tubuh, atau humor atau energi atau prinsip dasar bangun tubuh seseorang. Konsep dasar tri dosha diambil dari konsep filosofi Sankhya seluruh entitas di alam semesta disusun paling tidak oleh satu dari lima unsur dasar yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu ether, angin, api, air dan tanah.

Kombinasi antara unsur ether dan angin adalah Vata, kombinasi unsur api dan air adalah Pitta dan kombinasi unsur air dan tanah adalah Kapha.

Vata, Pitta dan Kapha inilah yang disebut tridosha. Semua anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika digerakkan oleh tridosha. Termasuk juga tirdosha merupakan kekuatan pelindung tubuh seseorang.

Ketika seseorang dalam keseimbangan tridosha yang sempurna, orang tersebut dalam kondisi sehat yang sempurna. Sebaliknya, ketika tridhosa tidak seimbang (disharmoni) seseorang akan mengalami gangguan kesehatan, penderitaan dan sakit.

Setiap individu memiliki tipe dosha yang unik tergantung jenis dan komposisi dari dosha seseorang.

Tipe dosha yang dimiliki seseorang ditentukan ketika mulai proses konsepsi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur dari orang tua laki-laki dan perempuan orang tersebut yang juga tergantung waktu, tempat dan konstelasi planet-planet pada saat pertemuan tersebut.

Inilah yang menjadikan dosha seseorang UNIK. Ini juga yang menentukan anatomi (bentuk dan struktur) dan fungsi (fisiologis) tubuh, hobi, kebiasaan, kegemaran, kekuatan, kesadaran, psikologis pikiran (mental) dan logika seseorang juga unik dan berbeda antar individu.

Lalu bagaimana menentukan tipe dosha seseorang? Ada serangkaian pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap individu secara jujur dan mendalam.

Tentu orang yang semakin mengenal dirinya secara baik, maka akan semakin tepat dalam menentukan tipe doshanya. Secara umum, tipe dosha seseorang adalah kombinasi yang unik juga dari tridosha (Vata, Pitta dan Kapha).

Penampahan Galungan,
18.02.20

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (4)

Published

on

Bagaimana Ayurweda begitu yakin menjadi pengetahuan tentang hidup (the science of life)? Sekarang kita mengulas sepintas mengenai enam filosofi yang menjadi dasar-dasar pengetahuan Ayurweda.

Filosofi yang pertama, yaitu Sankhya. Filosofi Sankhya memberikan Ayurweda teori tentang evolusi dan teori tentang sebab akibat.

Kita dapat menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya dalam keseharian menjalani kehidupan dari momen ke momen.

Bahwasanya kita bukanlah tubuh fisik ini, kita bukan ketakutan itu, kita bukan penderitaan itu, kita bukan rasa sakit itu. Singkatnya, kita hanya penghuni yang tinggal dalam tubuh ini. Kita adalah eksistensi yang lebih tinggi dan lebih mulia, yaitu kesadaran murni (pure Consciousness).

Dengan menerapkan pengetahuan filosofi Sankhya ini dalam hidup keseharian, kita menyembuhkan diri kita sendiri.

Kita harus menyembuhkan diri kita sendiri. The best doctor is our own self. Filosofi yang kedua, Nyaya dan Vaisheshika.

Pengetahuan filosofi Nyaya dan Vaisheshika memberikan Ayurweda dasar berpikir yang runut dan logis. Bahwa tubuh ini adalah suatu mesin materi yang harus dipelihara dan diperbaiki.

Tubuh adalah sarana untuk mencapai tujuan hidup, maka tubuh harus tetap sehat dengan pola hidup sehat yang holistik. Filosofi yang ketiga, yaitu Mimamsa.

Pengetahuan filosofi Mimamsa tentang kerja adalah bagian dari hidup yang mana untuk mencapai pembebasan dengan melaksanakan kebenaran/kewajiban (Dharma).

Sumbangsih filosofi Mimamsa pada Ayurweda meliputi metode dan cara-cara mencapai Tuhan melalui ritual, upacara dan puasa.

Filosofi yang keempat, yaitu Vedanta. Pengetahuan filosofi Vedanta memberikan pemikiran yang mendalam pada Ayurweda tentang Tuhan yang abadi, yang merupakan pencapaian terkahir dari setiap manusia.

Untuk mencapai tujuan ini, setiap individu mutlak memiliki kesehatan yang sempurna. Filosofi yang kelima, yaitu Yoga.

Ayurweda menggunakan Yoga secara terapetik untuk tujuan kesehatan dan sesungguhnya setiap sistem yoga memiliki nilai kesehatan yang sangat besar. Filosofi yang keenam, yaitu Buddhisme.

Empat Kebenaran yang Mulia dalam ajaran Buddha, yaitu adanya penderitaan, ada penyebab dari penderitaan, ada akhir dari penderitaan dan ada sarana untuk mengakhiri penderitaan. Buddha mengatakan, segala sesuatu akan berkahir.

Jangan khawatir pada penyakit, karena penyakit akan berakhir.

Pengetahuan filosofi Buddha mengajarkan ada penderitaan dan cara sederhana untuk bebas dari penderitaan adalah kesabaran, dengan memberikan waktu tubuh untuk menyembuhkan dirinya. Inilah sumbangsih filosofi Buddhisme terhadap Ayurweda.

(Prof. I Ketut Adnyana)

15.02.20
Rahayu

Continue Reading

Mangku Bumi

HARMONY WITH AYURVEDA (3)

Published

on

Masih tentang keseimbangan (harmoni), karena itu memang konsep besar sehat menurut Ayurweda.

Untuk tetap sehat, seorang individu harus juga menjaga keseimbangan antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung). Dimana menurut Astrologi Weda, konstelasi planet-planet akan mempengaruhi keseimbangan (harmoni) seseorang bahkan juga perjalanan kehidupan seseorang.

Konstelasi planet-planet akan mempengaruhi musim, suhu global bumi yang tentu setiap individu harus menyesuaikan aktivitas hariannya bila tetap mengharapkan sehat (harmoni) dari waktu ke waktu.

Konstelasi ini akan mempengaruhi keseimbangan konstitusi (tridosha), gejolak emosi dan kecenderungan pikiran seseorang yang secara holistik akan menentukan dinamika harmoni seseorang.

Harmoni seseorang juga dipengaruhi oleh dua modal besar, yaitu genetik dan lingkungan.

Genetik ini adalah faktor keturunan yang kalau dirunut merupakan jejak-jejak dari kehidupan seseorang sebelumnya yang disebut karma wasana. Inilah jawabannya mengapa seseorang lahir dari keturunan keluarga yang mengalami diabetes, hipertensi, dislipidemia, pemarah, bandel dan lain sebagainya terlalu banyak kalau disebutkan karena memang unik untuk setiap individu.

Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengubah modal genetik ini. Namun, kita masih memiliki modal besar yang kedua, yaitu lingkungan. Meminjam formula Einstein yang sangat terkenal yaitu E=mC2, dimana suatu materi memiliki energi potensial sebesar massanya dikali kecepatan cahaya kwadrat.

Bisa dihitung bagaimana besarnya energi suatu materi. Namun disini kita tidak sedang membahas formula Einstein.

Lalu apa hubungannya dengan harmoni menurut Ayurweda? Saya menganalogikan E adalah Equilibrium (keseimbangan atau harmoni), m adalah man atau individu itu sendiri yang bersifat unik dan cenderung tetap (genetik).

Sedangkan C adalah circumstances (keadaan atau lingkungan). Jadi sekali lagi, harmoni seorang individu ditentukan oleh faktor-faktor genetik dan lingkungan. Yang perlu diingat, lingkungan menjadi penentu paling besar harmoni seseorang.

Karena kalau disesuaikan dengan formula Einstein, lingkungan nilainya sangat besar dan dikwadratkan lagi. Artinya, harmoni individu sebagian besar ada dalam kendali individu itu sendiri, yaitu dengan syarat mampu mengendalikan faktor lingkungan hidupnya.

Apa saja yang menjadi faktor lingkungan yang mempengaruhi harmoni individu? Tiga besar lingkungan saya sebutkan disini, yaitu pola pikir, pola makan (diet) dan pola hidup (lifestyle termasuk aktivitas fisik atau olahraga).

(Prof. I Ketut Adnyana)

Rahajeng rahina Sugihan Bali,
14.02.20

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam