Connect with us

Pariwisata dan Budaya

Rakerda Pertama DPD IHGMA Bali, Menuju Pariwisata Bali Yang Berkualitas dan Berkelanjutan Berbasis Kerakyatan.

Published

on


GATRADEWATA.COM || Sanur, 20 April 2018.

Seiring dengan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata Republik Indonesia yang menempatkan industri kepariwisataan sebagai sektor unggulan dalam pembangunan nasional, para pimpinan hotel yang tergabung dalam Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) semakin terpanggil untuk berkontribusi melalui program peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya pada industri perhotelan. Hal ini merupakan upaya sinergitas untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Program-program yang dilaksanakan asosiasi profesi ini pun semakin beragam tidak hanya terbatas pada peningkatan kualitas dan profesionalisme anggotanya, namun juga berkontribusi pada dunia pendidikan kepariwisataan, kepedulian lingkungan serta pembangunan destinasi wisata.

Untuk memastikan program kerja asosiasi agar lebih berkualitas dan bermanfaat bagi anggota dan industri, DPD IHGMA Bali menyelenggarakan kegiatan Rapat Kerja Daerah Pertama (Rakerda I) pada hari Jumat tanggal 20 April 2018 di Grand Inna Bali Beach Hotel Sanur, Denpasar. Ketut Swabawa, CHA selaku ketua panitia Rakerda menyampaikan “Rakerda merupakan amanat dari AD/ART IHGMA yang mensyaratkan setiap pengurus daerah dapat melaksanakannya untuk mengevaluasi program kerja pada periode sebelumnya serta menyusun program kerja yang strategis dan lebih bermanfaat pada 1 tahun mendatang. Selain menyusun program kerja tersebut, Rakerda yang melibatkan seluruh anggota kami ini adalah juga untuk merumuskan usulan-usulan terkait SDM kepariwisataan umumnya dan industri perhotelan khususnya yang akan disampaikan pada Rekernas IHGMA yang akan diselenggarakan pada 4-6 Mei 2018 mendatang di Jogjakarta”. Rakerda dibuka oleh Kadis Pariwisata Propinsi Bali, AA Gede Yuniarta Putra mewakili Gubernur Bali dengan mengusung tema Global Empowerment for Sustainable Bali Tourism yang mengandung makna bahwa kearifan lokal yang dimiliki Bali harus bersifat adaptable and dynamic, diberdayakan secara modern dan bersifat global menuju pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan berbasis kerakyatan. “Dalam Rakerda ini kami juga menyelipkan seminar motivasi tentang kepemimpinan dikaitkan dengan tema Rakerda agar para GM kita senantiasa berpegangan pada adat, budaya dan alam Bali dalam memimpin unit bisnis hotelnya sehingga aspek kepedulian terhadap lingkungan dan budaya Bali tidak pernah ditinggalkan”, tambah Swabawa.

Di tempat terpisah, Ketua Umum DPD IHGMA Bali, I Nyoman Astama, S.E, CHA menyampaikan bahwa kegiatan Rakerda merupakan media yang sangat penting untuk memberi wadah para GM hotel bertatap muka, bertukar pengalaman dan pengetahuan serta menyatukan visi dan misi untuk kemajuan bersama. “IHGMA memiliki motto Professional-Integrity-Networking, Rakerda sebagai bukti bahwa kami senantiasa mengutamakan peningkatan kualitas SDM para anggota kami serta berkontribusi secara aktif dan positif pada industri, masyarakat dan negara. Dan pelaksanaan Rakerda sekaligus merayakan ulang tahun IHGMA yang ke-2, dimana IHGMA pertama kalinya dikukuhkan di tempat yang sama pada 20 April 2016 lalu”.

Pada laporan pertanggungjawaban pengurus disampaikan bahwa pada kurun waktu 2017 hingga 2018, DPD IHGMA Bali telah mampu merampungkan banyak kegiatan di antaranya pelaksanaan pelatihan asesor kompetensi, mengikuti uji kompetensi, ahli perhotelan tingkat nasional, kegiatan sosial (donor darah, bedah rumah, gotong royong, olah raga, donasi bencana alam), mengikuti Kongres Nasional DPP IHGMA di Makassar, pengiriman tenaga pendidik kepariwisataan ke sekolah dan lembaga pendidikan pariwisata dan perhotelan, pelatihan dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keahlian dalam berbagai bidang di industri perhotelan, sertifikasi General Manager berstandar internasional, promosi destinasi Bali dengan mengundang media dan travel agent internasional datang ke Bali, serta lainnya.

Ketua Umum DPD IHGMA Bali, I Nyoman Astama, S.E, CHA

Pada kesempatan tersebut hadir sebagai undangan di antaranya dari unsur pemerintahan bidang kepariwisataan, para ketua asosiasi usaha dan profesi kepariwisataan, sekolah tinggi dan lembaga kepariwisataan dan perhotelan, tokoh pariwisata, akademisi dan juga perwakilan dari DPP IHGMA. Ratusan anggota DPD IHGMA Bali hadir sebagai peserta Rakerda yang beragendakan Laporan Pertanggungjawaban Kegiatan 2017-2018, Rapat Paripurna, Rapat Komisi/Bidang, Pengesahan Hasil Rakerda dan juga peringatan ulang tahun ke-2 IHGMA. Kegiatan diakhiri dengan ramah tamah keluarga besar IHGMA Bali dan penyerahan piagam penghargaan kepada perusahaan rekanan yang menjadi sponsor kegiatan ini.

Informasi tambahan, IHGMA terbentuk di Grand Inna Bali Beach Sanur, Bali pada tanggal 20 April 2016 dengan jumlah anggota +/- 600 General Manager dan Hotel Manager di seluruh Indonesia. Sampai saat ini sudah terbentuk 28 Dewan Pengurus Daerah (Chapter) di seluruh Indonesia dengan member mencapai 850 orang secara nasional dan 137 orang di Bali.


Daerah

PEWINTENAN MASSAL DI PURA AGUNG LOKANATHA DIPUPUT OLEH TIGA SULINGGIH

Published

on

 

Gatra Dewata | Denpasar | Setelah merampungkan pelatihan Brahma Widya sejumlah 170 calon Pinanditha diwinten massal.

Brahma Widya berdasarkan Veda disini adalah pengetahuan tentang kesejatian Tuhan (Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Waça) dalam segala aspek-Nya yang dalam pengantar agama Hindu, Brahma Widya disebutkan pemujaanNya dilakukan dengan dua model,

Trancendental, Nirguna Brahman (Impersonal God):
Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi “acintya rūpa” (tak terpikirkan)

Immanen, Saguna Brahman (Personal God):
Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi berwujud sehingga dapat dijangkau oleh rasa atau daya pikir manusia.

Acara ini adalah merupakan acara selanjutnya setelah mengikuti pelatihan teologi Hindu Brahma Widya angkatan ketiga sejak 4 Mei 2019 hingga 9 Februari 2020, sebanyak 170 peserta calon Pinandhita mengikuti pawintenan massal di pura Agung Lokanatha Lumintang, Minggu, (23/02).

Pawintenan ini dipuput oleh tiga sulinggih, yaitu dari 3 gegelaran sulinggih yang di sebut Tri Sadhaka atau Sang Katrini, Pandita Ciwa, Pandita Boda, Pandita Bhujangga.

I Wayan Dody Arianta selaku ketua panitia menjelaskan bahwa tujuan dari kursus ini adalah unyuk meningkatkan pengetahuan dan keyakinan umat Hindu secara benar di seluruh Bali, yang dipahami seperti kasus pelinggih isi toilet baru-baru ini.

Kursus yang sudah ketiga kalinya ini merupakan kerjasama antara Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali dengan PHDI Provinsi Bali.

Dari Kursus yang pertama didapatkan 137 peserta yang mendaftar dan ikut tetapi yang ikut sampai selesai dan dinyatakan lulus hanya 130 peserta saja.

Materi yang diberikan adalah samskrtam dasar, nyurat kajang, itihasa, purana, reformasi ritual, Siwa sidhanta, modre, krya Patra, wariga dasar, Dharma Wacana dan semua yang menyangkut dalam acara agama Hindu yang benar, yang dilaksanakan setiap sabtu dan minggu selama 9 bulan (100 jam belajar)

Dengan diadakannya acara ini setelah pewintenan berlangsung, peserta kursus diharapkan mampu menerapkan Ilmu yang telah didapat dalam kursus ini untuk dipraktekkan di masyarakat agar masayarakat mampu memahami sastra agama Hindu secara benar, berguna juga untuk diri sendiri dan juga keluarga, yang tentunya melahirkan Pinandita atau Sulinggih yang paham dan menguasai isi sastra agama Hindu.

Ida Pandita Mpu Acharya Nanda juga menuturkan dalam Dharma Wacananya yang menyebut bahwa, “Pawintenan berasal dari kata Inten yang berarti permata, soca, dan suci, jadi pewintenan merupakan upacara yang suci yang berguna juga untuk mensucikan diri”.

Dalam wacananya beliau juga menjelaskan bahwa Hindu merupakan agama yang logis, agama yang tidak klenik dan sesuai dengan perkembangan jaman, “Bila kita mau memuja ciwa yang pertama adalah Gana Kumara lah yang engkau puja, makanya dalam bebantenan nika ada namanya pulagembal, atau saya mengartikan adalah Pologembal, kembangkanlah otakmu maka agen perubahan dalam diri manusia adalah otaknya, ” ungkapnya.

Dan Beliau juga berpesan agar setelah ini, para Pinandita baru bisa menjelaskan dengan baik dan bijak kepada masyarakat terutama tentang kejadian wangsit yang diterima suatu keluarga yang meletakkan toilet didalam areal suci mereka.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar IGS Ngurah Bagus Mataram menyebut, kegiatan yang dilaksanakan PSN ini sangat sesuai visi kota Denpasar, penguatan jati diri masyarakat kota Denpasar berlandaskan kebudayaan tertuang dalam Peraturan Daerah.

“ Kami mengapresiasi kegiatan seperti ini, Denpasar sebagai kota yang berwawasan budaya, tentu patut menjaga dan melaksanakan nilai-nilai budaya dan keagamaan yang kita lestarikan dan jaga,” jelasnya dalam sambutan saat berlangsungnya acara pawintenan. (Ray)

Continue Reading

Daerah

MENJAGA TRADISI DALAM BERKESENIAN YAYASAN JAYA SWARA PURA DALEM ULUNSUAN DIRESMIKAN

Published

on

Gatra Dewata | Denpasar | Pelestarian sebuah tradisi  adalah  upaya  pelindungan,  pengenalan, pengembangan,  dan pemanfaatan  suatu kebiasaan dari kelompok  masyarakat  pendukung kebudayaan yang berguna untuk kelangsungan hidup suatu kelompok sosial masyarakat untuk mencapai kesejahteraan sesuai ajaran catur purusa artha, yaitu Dharma, Artha, Kama, Moksana sarira sadhanam.

Dharma yang berarti berbudi pekerti luhur, Artha yang berarti Kekayaan yang diberdayagunakan untuk kebaikan, Kama yang berarti keinginan manusia sesuai dengan kebenaran dan kebijaksanaan, Moksa yang berarti kebebasan atau kebahagiaan abadi. Itu bisa terjadi bila ketiga yang diatas, Dharma, Artha, Kama sudah terlaksana dan berjalan dengan baik.

Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan yang berdiri di Jalan Imam Bonjol Gang Ulunsuan, Banjar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat diresmikan Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, SH, Pada hari Minggu (02/02).

Yang akan bertanggung jawab kedepan adalah Ketua Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan A.A. Putra Juni Adi, ST, yayasan yang didirikannya ini juga sudah mengantongi izin dari Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: AHU-0010503.AH.01.04.Tahun 2019.

“Tujuan kami membentuk Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan adalah untuk tetap bisa menjaga tradisi dalam berkesenian. Bahkan untuk bisa menopang kegiatan-kegiatan yang ada di Pura Dalem Ulunsuan dengan terus bisa mengadakan pelatihan untuk kepemangkuan dan mengadakan serati banten,” ujar Beliau kepada kami.

Dengan diresmikannya Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan bahwa kedepannya akan mampu lebih meningkatkan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan yadnya (pelayanan) kedepannya.

“Berawal dengan kegiatan di sanggar tari, peresmian yayasan juga bertepatan dengan peresmian sanggar tari Seraya Taksu. Dimana semuanya ini tidak terlepas dari pengembangan seni dan budaya,” ucap Putra Adi.

Agung Putra Adi Menjelaskan bahwa melalui sanggar tari akan mampu mengajak generasi muda berkesenian, khususnya tari, tabuh, kawitan dan mekidung.

“Memang kita Sadari betul bahwa berbagai kegiatan memerlukan biaya. Untuk biaya awal pelaksanaan kegiatan kami sudah ada dana kas awal, namun tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan pemerintah daerah Bali maupun swasta untuk dukungan pendanaannya,” terangnya.

Kepala bidang (Kabid) Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dwi wahyuning kristiansanti terlihat ikut hadir meresmikan Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan,

“Dalam memperjuangkan sesuatu petunjuk dari pak Walikota adalah kita harus mampu kere tetapi aktif, yang artinya kita harus mampu bergerak aktif walau dalam keterbatasan, baik dana maupun prasarana yang terbatas”, terangnya.

Keagamaan tidak termasuk dalam pembinaan kami di Dinas bidang kesenian Kebudayaan Kota Denpasar tetapi, kebudayaan juga tidak bisa terlepas dari sisi Keagamaan kita di Bali

“Pertanyaan mengenai soal keagamaan mungkin bisa ditanyakan ke pada PHDI”, ujar kabid kesenian yang akrab dipanggil wiwid ini.

Pengempon Anak Agung Bagus Wirata, dan mangku

Anak Agung Bagus Wirata seorang pengempon Pura Dalem Ulunsuan bercerita tentang sejarah, sebagai pemangku pura beliau juga dipercaya sebagai pembina yayasan.

Beliau pertama merehab pura ini ditahun di tahun1950, pengempon pura ada 40 kk (kepala keluarga) tapi yg bertanggungjawab adalah 3 Kk (kepala keluarga) diupacarai setiap 6 bulan sekali.

“Untuk memperlancar itu semua saya bersusah payah dari dulu, karena tidak cukup hanya biaya saja juga dengan tenaga”, beber Beliau.

Modal awal yayasan diambil dari dana kepemangkuan sebesar 50 juta sebagai dana awal yayasan. Kegiatan yang mesti digulirkan untuk pertama kalinya,

“Melatih harus ada snack, minimal ada uang lima juta untuk pertama kali, dan kedepan mungkin kita akan meminta bantuan kepada orang tuanya dan kedepan meminta bantuan kepada pemerintah agar kedepan tidak membebani yayasan dan orangtua”, terang beliau.

Dalam pura yang di empon itu terdapat pelinggih Dalem Mekah, Dalem cina, Dalem solo, dalem keluhuran majapahit, dan ada beberapa pelinggih lagi. (Ray)

Continue Reading

Daerah

GELAR RITUAL NANGLUK MERANA UNTUK CEGAH VIRUS CORONA SECARA NISKALA

Published

on

Gatra Dewata | Karangasem | Indonesia bahkan dunia lagi mewaspadai secara serius terhadap ancaman Virus Corona yang menyebar dari negara Tirai Bambu sana.

Budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya cina, oleh sebab itu pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Karangasem berencana menggelar sebuah upacara Nangluk Merana.

Upacara ini akan dilaksanakan di Pura Penataran Agung Desa AdatPadang Bai, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali.

Persembahyangan yang akan dilakukan oleh umat Hindu di Bali ini dilakukan hari ini Rabu (29/1) sekitar pukul 09.00 Wita, upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan Bali agar dijauhkan dari hal-hal yang negatif atau untuk menolak bala berupa penyakit, atau hama tanaman pokok yang bisa mempengaruhi kehidupan manusia.

Untuk kali ini permohonan ini dilakukan dan dimohonkan untuk mengantisipasi virus Corona masuk ke Karangasem, upacara ini sebenarnya rutin diadakan setiap tahun sekali oleh pemda karangasem.

“Saya telah memberikan perintah kepada Kabag Kesra guna meminta dewasa (hari baik) kepada Ida Pedanda Gede Wayan Pasuruan dari Gria Kawan Sibetan,” terang Bupati Karangasem, Gusti Ayu Mas Sumatri, Selasa (28/1).

Petunjuk yang diberikan, ritual Nangluk Merana dapat dilakukan, Rabu (29/1/2020), tepatnya Buda Wage Wuku Warigadean dan rencananya proses ini akan dipuput Sulinggih Siwa Budha yakni Ida Pedanda Gede Wayan Tianyar & Ida Pedande Gede Nyoman Jelantik Dwaja.

Bupati menghimbau seluruh masyarakat karangasem dan semua pejabat pemerintahan di Karangasem untuk ikut hadir dan melaksanakan (bagi pemeluk Hindu) upacara tersebut dengan memakai busana adat persembahyangan Bali. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam