Connect with us

Pariwisata dan Budaya

Raih Tiga Juara Nasional, Siswa SMPN 6 Denpasar Dijuluki Pahlawan Energi

Published

on


Siswa-siswi yang sukses meraih prestasi ini dijuluki pahlawan energi, foto;istimewa

Siswa-siswi yang sukses meraih prestasi ini dijuluki pahlawan energi, foto; istimewa

GATRADEWATA – Kontingen SMP Negeri 6 Denpasar berhasil meraih tiga prestasi tingkat nasional dalam Lomba Hemat Energi(LHE) yang diadakan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi(EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral(ESDM).

Dalam ajang ini, kontingen SMPN 6 Denpasar berhasil memboyong sekaligus tiga medali nasional. Dimana, siswa yang sukses meraih prestasi ini dijuluki pahlawan energi.

Adapun tiga medali yang berhasil diboyong, yakni; juara I cabang video yang dipersembahkan oleh pahlawan energi kelas IX diantaranya, Muhammad Fikrar Claverio, I Made Sapta Wiliandika, Pande Putu Devo Punda, Ni Luh Diah Tantri dan I Made Astya Andika Putra. Juara I cabang arsitektur yang dipersembahkan oleh I Komang Wikan Adnyana dan AA Gita Asri. Dan juara III cabang fotografi, sukses digapai Niken Setya Ningrum.

Gusti Ayu Putu Tirtawati Kepala SMPN 6 Denpasar, foto;alt

Gusti Ayu Putu Tirtawati Kepala SMPN 6 Denpasar, foto;alt

Menurut Gusti Ayu Putu Tirtawati Kepala SMPN 6 Denpasar menjelaskan bahwa perlombaan ini merupakan kompetisi hemat energi yang diperuntukkan bagi siswa SMP dan SMA dalam rangka mengubah perilaku siswa untuk menerapkan upaya-upaya penghematan atau konservasi energi di lingkungan rumah dan sekolah.

“Saya tidak menyangka peserta didik kami mampu bersaing di tingkat nasional. Terlebih lomba hemat energi ini tidak membedakan jenjang dan diikuti dari tingkat SMP hingga SMA/SMK yang digabung jadi satu. Jadi kita melawan SMA/SMK, ” ungkap Tirtawati. Kamis, 01/12/2016.

Kepada seluruh siswa, Kepala Sekolah ini berpesan agar mempersiapkan diri dalam mengikuti perlombaan berbagai tingkat demi meningkatkan mutu sekolah. Dan menegaskan bahwa ikut lomba cuma ada dua kemungkinan, menang atau kalah tidak masalah.

“Jangan pedulikan itu, yang penting kita curi kesempatan dan pengalamannya,” tegasnya.

Sementara itu, Gusti Ayu Putu Oliarni Guru Pembina Lomba (Manajer Energi) menerangkan bahwa lomba yang dimulai sejak Agustus hingga November 2016 ini dirancang dengan berbagai bentuk aktivitas, yaitu pelatihan, tantangan, kunjungan ke kantor hemat energi, dan pemberian penghargaan.

“Awalnya saya kurang percaya akan mencapaian anak didik. Sebab, waktu persiapan sangat singkat, kesulitan menentukan tempat shooting(cabang video) dan sulitnya menentukan siswa yang akan mengikuti lomba. Selain itu, kita belum dapat Training of Trainer(ToT), sedangkan sekolah lain dapat dan sudah berjalan jauh,” jelasnya.

Dalam lomba ini, dikatakan Oliarni, peserta terbaik dinilai melalui seperangkat pengukuran untuk menilai kesuksesan dan konsistensi usaha konservasi energi yang dilakukan di sekolah maupun di rumah. Komponen pengukuran ini meliputi tagihan listrik bulanan dan meteran listrik, tingkat ketanggapan, inisiatif, usaha dan dedikasi terhadap penghematan energi dan inovasi.

“Kami mengirim enam kontingen dan tiga berhasil meraih prestasi,” akhir Oliarni yang juga guru Bahasa Inggris dan mantan guru IT.

gs


Advertisement

Pariwisata dan Budaya

Ketua PHRI Tabanan, Memajukan Pariwisata Perlu Dukungan Semua Pihak

Published

on

By

Ketua PHRI Tabanan, I Nyoman Sugiarta

TABANAN – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tabanan, I Nyoman Sugiarta, mengajak para pengusaha pariwisata, khususnya hotel dan restoran di Tabanan untuk bergabung ke PHRI, Rabu (03/07/2024)

“Mari di PHRI ini kita duduk bersama, berdiskusi bagaimana kita membangun pariwisata Tabanan kedepannya,” ajaknya.

Disisi lain dirinya juga berharap PHRI bisa maksimal dirangkul oleh pemerintah, untuk bersinergi dan berkolaborasi demi memajukan Tabanan.

“Sebagai masyarakat Tabanan, bersyukur kita dianugrahi alam yang indah dan lengkap, di Tabanan kita punya lautan, danau dan pegunungan.
<span;>Menjadi tugas kita bersama untuk menjaga alam ini, kalo bukan kita yang menjaga taksu Bali, terus siapa lagi ?” ujarnya.

Dirinya juga berharap perangkat Desa Adat ikut terlibat juga dalam pelestarian alam ini, terutama terkait ijin pembangunan didaerah-daerah penopang pariwisata.

“Desa Adat merupakan filter pertama dan mempunyai peran penting untuk mencegah ini, dengan adanya aturan adat yang ketat.
Pemerintah sebagai regulator juga harus mempunyai aturan yang jelas, sehingga tidak membingungkan masyarakat,” tambahnya.

Terkait banyak munculnya desa wisata baru di Tabanan, dirinya berharap agar ada perhatian pemerintah untuk memberikan masukan dan pembelajaran bagaimana mengelola desa wisata dengan baik.

Seluruh komponen masyarakat harus dilibatkan dan kompak dalam kegiatan membangun desa wisata, jangan hanya kelompok sadar wisata (PokDarwis) saja.

“Perlu pembekalan dari pihak pemerintah melalui bidang pariwisata, bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan bagaimana memajukan, mengelola, memasarkan desa wisatanya masing-masing sehingga bisa merasakan dampaknya bagi ekonomi masyarakat itu sendiri,” pungkasnya. (E’Brv)

Continue Reading

Pariwisata dan Budaya

Pelantikan Ketua PHRI Yang Baru, Kuatkan Anggota Untuk Lestarikan Pariwisata Yang Lebih Baik

Published

on

By

Ketua PHRI Kabupaten Gianyar, I Gede Paskara Karelio

GIANYAR – Pengukuhan Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) berlangsung di The Ubud Village Resort & Spa, Rabu (03/07/2024).

Ketua PHRI Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), melantik dan mengukuhkan I Gede Paskara Karilo sebagai ketua PHRI kabupaten Gianyar periode 2024 – 2029

Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menjelaskan, saat ini Gianyar memiliki daya tarik wisata di bidang kebudayaan, untuk itu PHRI harus punya tanggung jawab jangan secara masif ikut melestarikan apa yang menjadi kekayaan daerah ini.

Untuk itu PHRI juga ikut bertanggung jawab terhadap beberapa permasalahan yang kini terjadi, diantaranya :
1. Pembangunan yang tidak sesuai karena melebihi kapasitas maupun dari bentuk bangunan yang tidak sesuai budaya Bali.
2. Pemilik atau founder juga banyak dari luar Ubud bahkan luar Bali, agar dibina.
3. Kontrol pembangunan atas usaha-usaha yang baru khususnya di sekitar Gianyar.
Saat ini peraturannya sudah ada, tetapi setelah bangunan selesai berapa harga kamar dijual, pemerintah kurang ikut terlibat masuk di hal itu.
Ketika hotel besar banting harga, kalaupun secara hukum tidak boleh melarang menjual murah tetapi secara moral kita berkepentingan, karena kamar hotel akan tidak sesuai dengan yang mereka janjikan.
Oleh karena itu dari awal harus diketahui berapa jumlah yang diperlukan dan pangsa pasar penjualan kamar hotel.
4. Kemasannya harus dibuat menarik, bagaimana menciptakan sesuatu yang bisa membuat wistawan tertarik.

Ketua PHRI Provinsi Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace)

Lanjutnya, banyak terjadi kesemrawutan gara-gara transport yang pemiliknya orang hotel itu sendiri jadi tamunya juga dari tamu hotelnya.

Di Bali diperlukan riset berapa idealnya kapasitas jumlah hotel di Bali, sekarang ini didengungkan Bali hot tourism.

Jumlah wisatawan ke Bali sebelum pandemi belum over tourism tetapi
kondisi sekarang terjadi penumpukan wisatawan di Bali selatan.

Dengan dibukanya Nusa Penida sekarang wisatawan sudah meningkat dan terjadi penumpukan wisatawan termasuk transportasi dan orangnya.

Ini perlu kebijakan strategis bagaimana caranya mendistribusikan agar jangan sampai isu over tourism ini menjadi pengalihan yang seharusnya wisatawan ke Bali dialihkan ke daerah lain.

“Bali belum over tourism dengan hunian hotel 80% tapi tidak semua kondisinya begitu,” ucapnya.

Ditanyakan terkait ulah wisatawan yang tidak baik di Bali, Cok Ace menjelaskan dulu waktu pandemi memang lagi krisis pariwisata ada kebijakan yang relevan yaitu Work From Bali dengan harapan mereka mengelola perusahaan dari Bali dengan sistem komputerisasi dan jaringan yang bagus dari luar negeri.

“Tetapi tidak seperti harapan semula dimana sudah menyimpang dari apa yang diimpikan, mereka bekerja di sini bukan hanya untuk perusahaan di luar negeri tetapi kerja dengan mengambil pekerjaan kita di Bali.
Masa wisatawan ikut ngojek atau jualan kaki lima ?
Itu sudah mengambil pekerjaan kita, ini merugikan nasyarakat,” jelasnya

Terkait pungutan wisatawan dinaikan yang diusulkan oleh DPRD dirinya tidak setuju. “Jangankan dinaikan, yang sekarang berjalan saja kurang baik.
Harus dilihat dari dua sisi apa wisatawan tidak mau bayar atau sistem kita yang belum sempurna.
Ini harus diperbaiki dulu,” tambahnya.

Ketua PHRI terpilih, I Gede Paskara Karilo, menjelaskan tentang program kerja jangka pendek yang rencananya akan menguatkan keanggotaan dulu sehingga bisa menambah kekuatan di organisasi, bertindak bersama untuk menyuarakan pariwisata di Gianyar.

“Kita akan melanjutkan program dan tugas dari ketua sebelumnya, semoga kita dalam masa lima tahun ke depan bisa berjalan lebih baik lagi dan juga semoga pariwisata tidak lagi ada permasalahan-permasalahan baru lagi sehingga pariwisata lebih berkembang dan lebih maju,” jelasnya.

“Jumlah anggota PHRI di Gianyar saat ini ada sebanyak 48 anggota, ke depan kita ingin mengubah mindset dari pengusaha dimana diawal kita ingin tetap meningkatkan SDM tetapi alangkah bagusnya diimbangi perbaikan menagemen bisa berkontribusi balik melalui organisasi dengan skup yang lebih besar buat suatu gebrakan yang berguna bagi masyarakat,” ujarnya

“Kalau kita tidak punya anggota yang kuat suara kita tidak akan didengar. Semakin banyak anggota tentunya kontribusinya juga semakin banyak untuk masyarakat luas,” tambahnya.

Disinggung adanya perang tarif di Gianyar dijelaskannya perang tarif tidak terlalu masalah, permasalahannya ada pada perang komisi terutama restoran.

“Hal ini sangat merusak harga yang terpenting bagaimana kita bisa menjaga kualitas.
Dengan ada komisi, otomatis pembiayaannya berkurang dan akan mengurangi kualitas,” tegasnya.

Untuk Itu dirinya segera akan berkomunikasi serta mengumpulkan anggotanya bagaimana sebaiknya ke depan tidak hanya di pihak restoran saja karena ada tekanan dari travel agent ataupun supir angkutan wisata makanya perlu mengambil langkah mengatasi perang tarif.

“Segmen pasar di Gianyar masih wisatawan dari Australia dan Eropa. Sekarang wisatawan India dan Cina sudah mulai masuk.
Tingkat hunian kamar hotel di bulan Juni Juli diatas 70% masih cukup bagus,” ucapnya.

Dirinya berharap, mudah-mudahan ke depan kita bisa menjaga iklim investasi yang sehat karena sekarang di gempur investasi dari luar yang kita tidak bisa mengontrol.

“Kita pengusaha lokal harus bisa berkontribusi buat masyarakat.
Kepada pemerintah daerah kami berharap agar mengaktifkan peran desa adat ataupun instansi-instansi terkait agar setiap pembangunan bisa di chek dan di nilai apa layak atau tidak khususnya di Gianyar sehingga tidak sampai bentuk bangunan tidak sesuai dengan ciri seni budaya kita,” pungkasnya (E’Brv)

Continue Reading

Pariwisata dan Budaya

Dengan Kolaborasi, Akademi Komunitas Negeri Siap Melestarikan Dan Mengembangkan Seni Budaya Keraton Jogja

Published

on

By

Penampilan tarian pembuka, Golek Nawung Asmoro dari Mahasiswi AKN Seni Budaya Jogjakarta pada acara PKB ke 46

DENPASAR – Akademi Komunitas Negeri (AKN) Seni dan Budaya Jogjakarta rutin berpartisipasi dalam agenda tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke 46 yang diselenggarakan dari 15 Juni sampai 13 Juli 2024 di Art Center, Jl Nusa Indah Sumerta Klod, Denpasar Timur.

Pada agenda kali ini, AKN Seni dan Budaya Jogjakarta membawa seratus mahasiswanya melakukan kunjungan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan juga ikut berperan memeriahkan acara PKB dengan menampilkan tiga persembahan yakni, tari pembuka Golek Nawung Asmoro, Konser Karawitan dan tarian berjudul Satria Jati.

Direktur AKN, DR.Supadma, M.Hum, menyatakan rasa terima kasihnya atas undangan dan kesempatan yang diberikan kepada AKN untuk terlibat dalam gelaran PKB ini.

Direktur AKN Seni dan Budaya Jogjakarta, DR.Supadma, M.Hum.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pejabat Gubernur Bali, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kepala Taman Budaya dan Rektor ISI Denpasar atas support dan kesempatan yang diberikan sehingga kami bisa tampil lebih baik dan siap.
Ini adalah kesempatan kami untuk berinteraksi, bertukar pengalaman dengan para seniman Bali untuk penguatan pada masing-masing prodi yang kami miliki,” ujarnya.

AKN Seni dan Budaya Jogjakarta yang berdiri pada tahun 2014, hingga saat ini telah memiliki tiga prodi, yakni prodi seni tari, prodi kriya kulit dan prodi karawitan, dengan jenjang pendidikan Diploma satu, telah melahirkan banyak tenaga terampil dibidang seni budaya Jawa khususnya pelestarian seni budaya keraton Jogjakarta.

“Berdirinya AKN ini diinisiasi oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X karena adanya keprihatinan melihat generasi penerus pembuat wayang kulit di Jogja yang semakin langka.
Maka diawali dengan prodi Kriya Kulit, AKN mulai berkembang untuk berperan aktif melestarikan seni budaya keraton Jogjakarta,” tambahnya.

Kepala prodi Kriya Kulit AKN, Ima Novilasari, M.Sn

Kepala prodi Kriya Kulit AKN, Ima Novilasari, M.Sn, menyatakan prodinya mengajarkan mahasiswanya bagaimana cara memproses dari kulit mentah hingga menjadi wayang dan asesoris perlengkapan tari serta souvenir seperti kipas.

“Kami membuat wayang dengan menggunakan kulit kerbau asli.
Saat ini kami menampilkan pameran karya mahasiswa yaitu wayang Gagrak Jogjakarta selain karya asesoris kulit tari yang dibuat dari kulit sapi.
Kami bertujuan untuk mencetak tenaga terampil yang bisa melestarikan seni budaya Jogjakarta,” jelasnya.

Kepala prodi Seni Karawitan AKN, Bayu Purnama, M.Sn, menyampaikan prodinya menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap melestarikan seni budaya Jogjakarta melalui seni karawitan.

Kepala prodi Seni Karawitan AKN, Bayu Purnama, M.Sn

“Saat kunjungan kemarin, kami mendapat ilmu yang luar biasa dari ISI Denpasar, dalam teori dan praktek dasar tentang bagaimana menabuh gamelan Bali.
Sehingga hari ini kami tampilkan penampilan tari Jogjakarta dengan kolaborasi gamelan Bali.
Ini akan membuka cakrawala para seniman, karawitan tidak hanya sempit di musik saja tapi bisa mengadopsi seni daerah lain tanpa mengurangi pakem dari seni dan budaya aslinya,”

Para mahasiswa ini juga dibekali dengan keilmuan untuk bisa mengajar sebagai pendidik seni budaya Jogjakarta di masyarakat saat telah selesai menimba ilmu di AKN.

Kepala prodi Seni Tari AKN, Luvita Pradana Puspita Sari, S.Sn

Kepala prodi Seni Tari AKN, Luvita Pradana Puspita Sari, S.Sn, mengungkapkan harapannya agar bisa terus bekerja sama dalam PKB ini

“AKN Seni dan Budaya Jogjakarta berkomitmen untuk bisa bersama Pemda Bali mengembangkan seni budaya tarian daerah masing-masing.
Bali dan Jogja sangat kental dengan tradisi dan budaya masing-masing, walau ciri khasnya berbeda tetapi ada beberapa elemen-elemen tari yang mirip.
Misalnya antara tari Golek dan Legong,” jelasnya.

“Kami mengkolaborasikan dengan memasukan gaya tarian Bali kedalam tarian kami, dalam bentuk koreografi.
Kita tidak hanya mempelajari saja, tetapi juga harus bisa mengembangkan dan melestarikan tarian tradisional ini, tanpa mengurangi estetika dan etika yang berlaku,” pungkasnya.

Kegiatan pentas tarian, musik tradisional dan pameran wayang ini digelar di gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar, Selasa 25/06/2024 (E’Brv)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku