Connect with us

Mangku Bumi

Pinandita Sanggraha Nusantara koordinator wilayah Bali Menyelenggarakan Penglukatan Agung Banyu Pinaruh Dipuput oleh 9 Sadhaka.

Published

on


Pinandita Sanggraha adalah wadah perkumpulan para Pinandita (Pemangku) dan juga Sarati Banten (tukang banten), berfungsi sebagai pelayan umat didalam pelaksaan suatu upacara keagamaan, Hal ini sesuai dengan hasil keputusan Maha Sabha ke II PHDI Pusat, tahun 1968 di Denpasar Bali, dimana diperkenalkan istilah Pinandita. Selanjutnya kata “Sanggraha” berasal dari bahasa kawi (jawa kuno), yang artinya perkumpulan atau paguyuban.

Pinandita Sanggraha adalah suatu wadah perkumpulan bagi para rohaniwan Eka Jati, yang mengabdikan dirinya sebagai pelayan umat dalam setiap upacara keagamaan. Yang termasuk sebagai Pinandita adalah mereka yang memiliki profesi sebagai Pemangku, Wasi, Mangku dalang, Mangku balian/dukun, Pengemban, Dharma acarya.

Pinandita Sanggraha Nusantara menyelenggarakan Penglukatan Agung Banyu pinaruh, hari minggu 12 mei 2019 bertempat di Pantai Mertasari Sanur. Banyu Pinaruh dirayakan setelah Rahina Saraswati. Banyu pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air (kehidupan), dan pinaruh yang berasal dari kata weruh atau pinih weruh. Weruh sendiri bermakna pengetahuan, sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan. Banyu pinaruh merupakan titik awal periode wuku di Bali, sehingga akan sangat baik jika sebelum kita mengawali suatu periode yang baru dan sebelum kita mengisi diri dengan pengetahuan, alangkah baiknya kita membersikan tubuh ini dengan air suci (penglukatan).

Disebutkan dalam Manawa Dharmasastra Buku V. 109

“Adbhirgatrani cuddhyanti manah satyena cuddhyati, widyatapobhyam bhutatma, buddhir jnanena cuddhyati”.

Artinya : 
Tubuh dibersihkan dengan air,
pikiran disucikan dengan kebenaran,
jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.

Terlihat disana pecalang desa Sanur beristirahat sejenak setelah dari pagi membantu melancarkan acara Penglukatan Massal yang dihadiri ribuan pemedek ( Kata “pemedek” berasal dari kata “pedek” yang berarti orang atau umat yang mendekatkan diri pada Tuhan ). Acara ini yang tidak dipungut biaya sama sekali.

Membludaknya pemedek dan masyarakat yang mendatangi pantai Sanur pagi ini, melakukan kegiatan liburan sekedar bermain air maupun mengikuti prosesi Banyu Pinaruh di Pantai Sanur ini, membawa rejeki tersendiri bagi para jasa penyewa pelampung dan canoe.

Karma (40) asli Sanur yang sudah melakoni sebagai jasa persewaan pelampung, dengan banyaknya pemedek maupun pelancong membawa berkah tersendiri baginya.

“Kalo kesehariannya saya kerja di sawah. Karena sekarang banyak orang yang datang kepantai ini, jadi kami tinggalkan dulu sejenak pekerjaan sawah, dan pergi ke pantai, Ya lumayan lah, tadi ada sekitar lebih dari 10 orang yang menyewa. Semakin sore pasti nanti tambah ramai penyewa,” ujarnya

Karma menjual pelampung dengan harga bervariasi. Mulai dari pelampung kecil Rp 10 ribu sampai yang besar Rp 15 ribu.(Ray)


Continue Reading
Advertisement

Daerah

Diduga Warisan Ida Pedanda Made Sidemen, “Kakawin Purwaning Gunung Agung” Uraikan Asal Mula Gunung Agung

Published

on

DENPASAR – Rembug Sastra Purnama Badrawada edisi Purnama Katiga, Sabtu (14/9) malam mendiskusikan “Kakawin Purwaning Gunung Agung”. Teks ini diduga kuat peninggalan “Pengarang Besar Bali Abad 20”, Ida Pedanda Made Sidemen.

“Kalimat Si Panggulu Si Tan Pakarsa memberi penjelasan yang kuat bahwa karya ini ditulis Ida Pedanda Made,” kata dosen Sastra Bali Universitas Udayana Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum.

Si Panggulu merujuk pada arti made, nengah, atau kadek, sedangkan Si Tan Pakarsa merujuk makna yang sing demen (tidak suka) atau sidemen. Tan Pakarsa yang terselip dalam teks tersebut dipandang sejajar dengan nama-nama samaran Ida Pedanda Made Sidemen dalam berbagai karya sastra gubahannya yang ditemukan lebih dulu, seperti Tan Maha, Tan Arsa, Hina Arsa, Taman Sukeng Hati, dan Tan Tusta.

Dugaan Ida Pedanda Made Sidemen sebagai pengarang kakawin itu diperkuat dengan ditemukannya “wimba nagare”. Wimba dapat diartikan intaran. Intaran adalah nama kawasan di Sanur, tempat griya Ida Pedanda Made Sidemen.

Teks ini merupakan koleksi Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana. Dari sisi isi, teks ini menguraikan asal mula Gunung Agung di Bali sebagai potongan dari Gunung Mahameru, juga gunung-gunung kecil lainnya. Selain itu juga diuraikan kemuliaan ruang dan waktu sebagai entitas penting dalam kehidupan manusia Bali. (adi)

Continue Reading

Mangku Bumi

TRADISI

Published

on

T R A D I S I

GATRADEWATA.COM|| BALI. Bali menjadi barometer dunia ketika berbicara tentang sebuah keunikan, tidak hanya desa dengan desa lain itu berbeda, namun d dalam desa itu sendiri berbeda-beda dalam hal melakoni sisi spirit rohaninya,
Di dalam satu desa terdapat sedikitnya 30 pura, pernahkah kita mengetahui keberadaan pura tersebut? Zaman leluhur dahulu, pura tdk hanya untuk melakoni spirit kerohanian, namun juga merupakan tempat berkumpul para kramanya sebagai bagian dari sistem hidup bermasyarakat, dalam sebuah pura ada sistem kemasyarakatan yg membuat manusia tersebut senantiasa terkorelasi baik antara individu dan individu lainnya, dan tentunya kesadaran akan fungsi dan tanggung jawab kewajiban individu dan sebagai sebuah peguyuban/kelompok,
Masihkah kita mengenal sistem itu? Ada Pengemong, Pemaksan, Penyiwi/Penyungsung,
D era sekarang ketika ego dan ke sok tauan menjadi garda depan, dan cenderung melupakan tetamian leluhur, segalanya menjadi baur, campur aduk,
Pengetahuan kita tentang pura, hanya berkisar dari sejarah dan babadnya, kita sudah melupakan tattwa nya, sehingga kita kehilangan etika utk menjadi bakti, dan hal yang lumrah, upakaranya pun membesar dan kita kehilangan esensi dari upacaranya, hilangnya ketiga elemen dasar ini, membuat manusia bali menjadi seakan jatuh miskin, namun karena “bakti” kita masih mengedepankan kata “tulus ikhlas” bak penglipur lara, dan tradisi mesti berlanjut.
Ketaatan bakti manusia bali yang mengatakan laku spirit rohaninya sebagai tradisi sejatinya sebagai pengukuhan jati diri koneksi masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang, sehingga mereka tdk memerlukan alasan utk meragukan kualitas tradisinya, terbukti dengan kekukuhan kita dengan kata, jeg pokokne “mule keto”.
Era sekarang, ketika keingintahuan melanda, masuknya paham baru, informasi tanpa batas, manusia bali mulai mempertanyakan tradisinya,
Hadirnya ajaran moralitas, seperti membuai manusia bali untuk berlomba-lomba utk seakan-akan baik, walaupun melenceng dari tatanan sepat siku petitis yang sudah d gariskan, dan cenderung menghakimi tradisi yg sdh d lakoni secara turun tumurun, utk memahami sebuah pura pun kita sibuk mencari sloka mantra moralitas yg cocok atau kita sibuk mengaitkannya dengan segala babad yg ada atau kita sibuk membuatkan sejarahnya,
Pura seakan-akan hanya menjadi ajang (ke)pura-pura(an) bahwa kita beragama ataupun berohani, tdk penting tattwanya, tdk penting etikanya, tdk penting upakaranya dan tdk penting upacaranya, karena itu hanyalah tradisi, itu hanyalah dresta, itu hanyalah desa mawicara, itu hanyalah desa kala patra dan itu adalah nak mule keto,
Karena kita sekarang ke pura itu untuk sembahyang bukan mebakti.
#mewalikebali
(SakaSana/INN.W)

Continue Reading

Mangku Bumi

Pura Uluwatu

Published

on

KEHILANGAN JEJAK.
GATRADEWATA.COM|| Badung.
Gaya Pelinggih dan Patung/togog bergaya modern mendominasi pelataran Pura Uluwatu , di Desa Pecatu, Badung. Tak terlihat situs-situs tua yang bisa bercerita tentang “keaslian” keberadaan maupun cerminan peradaban tatkala Pura tua ini dibagun. Begitu juga tak tampak lagi situs yg bisa bernarasi tentang fungsi dan Sistem Pemujaan serta Ide Betara yang dipuja di pura yang berposisi di sisi Barat daya Pulau Dewata ini.
Demikian juga tentang “siapa” yang mendirikan Pura yang konon dalam posisi pengider bhuwana Pulau Bali adalah tempat Pemujaan Hyang Siwa Rudra ini pun, pernah menjadi polemik di kalangan umat Hindu di Bali. Ada yang menyebut pendirinya adalah Dang Hyang Nirartha dengan sebutan lain Dang Hyang Dwijendra. Namun tak jarang juga yang menyebut Mpu Kuturan pendirinya… tentu dengan masing-masing argumen dan cerita yang saling berbeda. Namun perlu diketahui… tak ditemukan bukti-bukti fisik yang bisa bernarasi tentang angumen-argumen mereka.
Dengan kata lain… terhapusnya “situs-situs dan Ritus” di sekujur palemahan Pura Kuno ini … membuat para Pewaris Hindu di Bali kususnya k e h i l a n g a n j e j a k tentang hakikat yang mestinya terwariskan oleh mereka.
Fenomena semacam ini.. bukan hanya terjadi di Pura Uluwatu…. namun di sebagian besar pura jagat di Bali. Situs asli nyaris punah dari khasanah religius umat Hindu di Bali.. bukan karena kerusakan oleh alam.. namun sebagian besar karena k e l a l a i a n kita para pewarisnya yang tidak mampu mewariskan T a t a n a n L e l.u h u r.
Untuk itu … jika kita ingin tetap mewariskan Bali sebagai P u l a u D e w a t a, marilah kita bangun kecerdasan tentang T e t a m.i a n itu….. agar kita tidak buta sama sekali tentang khasanah budaya masa lalu keluhuran Bali yang tidak ditemukan di belahan dunia manapun. Sebab itu yang membuat Bali punya makna di mata dunia. (DeSuta/INN.W)

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam