Connect with us

Pariwisata dan Budaya

Peace Run, Event Wujudkan Sudaji Pilot Project Pembangunan Desa Wisata Indonesia

Published

on

Peace run, event wujudkan Sudaji sebagai pilot project pembangunan desa wisata indonesi

BULELENG – Event lari estafet kedamaian sedunia atau yang dikenal dengan “Peace Run” merupakan gagasan dari Sri Chinmoy yang berpusat di USA, sejak tahun 1987 menyelenggarakan kegiatan hari ini di Bali tepatnya di Desa Sudaji Kabupaten Buleleng.

Event dalam rangka menggelorakan semangat perdamaian, persaudaraan di seluruh dunia itu dihadiri 55 peserta dari delegasi 13 Negara.

Peace Run yang dikoordinatori oleh Executive Direktur, Mr. Salil Wilson ini diterima langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara didampingi Camat Sawan dan Ketua Panitia Peace Run Kabupaten Buleleng bertempat di Lapangan Desa Sudaji, Selasa (17/1/2023).

Ditemui disela kegiatan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengatakan melalui kegiatan Peace Run ini diharapkan geliat pariwisata khususnya di Kabupaten Buleleng akan meningkat terus kunjungannya yang dimulai dari Desa Sudaji. Di mana diketahui bahwa Desa Wisata Sudaji ini menjadi salah satu contoh bagi desa wisata lainnya di Buleleng, karena telah berhasil meraih Anugerah Desa Wisata nomor 2 dengan kategori desa wisata maju tingkat nasional tahun lalu.

“Jadi, penggerak desa wisata yang lainnya agar bisa berprestasi seperti Desa Sudaji. Kami harapkan dari 75 desa wisata yang ada di Kabupaten Buleleng semuanya bisa meningkatkan kualitasnya, yang nantinya secara tidak langsung mampu menggerakkkan perekonomian masyarakat setempat,” pintanya.

Mantan Camat Buleleng itu menambahkan ke depannya event Peace Run ini mampu menjadi event tahunan di Buleleng. Hal itu tentu akan memberikan manfaat langsung tentunya guna mendongkrak kunjungan wisatawan khususnya di bidang pariwisata.

Sementara itu, Ketua Panitia Peace Run Kabupaten Buleleng, Ketut Susana mengatakan kegiatan ini adalah even Peace Run ke lima yang diadakan oleh The Internasional Sri Chinmoy. Di mana kegiatan event tersebut pernah dilangsungkan sebelum pandemi dan untuk tahun 2023 ini kembali diselenggarakan lagi.

“Tahun 2023 ini merupakan tahun yang sangat mulia untuk event ini di mana tujuannya adalah tentang kedamaian itu sendiri. Yang mana dari Guru Sri Chinmoy menekankan bahwa kedamaian itu ada di dalam diri kita dulu,” ujarnya.

Ketut Susana yang juga menjadi owner Owner Omunity Bali itu menambahkan, Peace Run ini melibatkan beberapa anak-anak SD setempat dengan menempuh rute mengitari 5 sekolah untuk nantinya dikunjungi guna menyebarkan ajaran kasih sayang pada anak-anak itu sendiri.

“Jadi jalur ini sebenarnya sudah kami atur dan ke depannya akan disempurnakan lagi. Karena ini adalah event pertama yang kita lakukan setelah pandemi Covid-19,” sambungnya.

Masih di tempat yang sama Executive Direktur Peace Run Internasional, Mr. Salil Wilson menjelaskan Sri Chinmoy ini merupakan gagasan ide Peace Run. Sri Chinmoy meyakini bahwa kedamaian itu dimulai dari hati kita sendiri.

“Tujuan utamanya adalah bagaimama agar hati kita itu damai. Sebenarnya kedamaian hati kita itu sudah ada di dalam hati kita dan nantinya bagaimana kita bisa mengembangkannya untuk disebarkan,” tegasnya.

Salil Wilson mengungkapkan alasan diadakannya event Peace Run di Bali ini dikarenakan bahwa Sri Chinmoy sangat menyukai suasana dan kearifan lokal di Bali. Dinilainya bahwa di Bali beliau banyak mendapatkan inspirasi yang nantinya akan dibagikan untuk kegiatan selanjutnya. (Mga)


Advertisement

Daerah

My Travel My Adventure – Bagaimana Menarik Perhatian Wisatawan?

Published

on

By

GatraDewata – Jember, Pembatasan perjalanan dihapus paska pandemi, maka terjadilah euphoria wisata balas dendam dan semarak case overtourism di beberapa kawasan dalam dan luar negeri. Lantas, saya mesti melakukan penyegaran, berlibur dimana?

Buat saya, mencari satu destinasi untuk liburan ke luar negeri mirip dengan berkegiatan mencari bahan bacaan di toko buku, Sama – sama menarik. Dari mulai tertarik dengan judul dan gambar di sampul depan, kemudian menelaah rangkuman premis dan diksi dari buku yang sedang saya pegang. Teman-teman percaya toh, kalau ilmu marketing mengatakan people do not buy products, they buy emotions dan ada pengaruh validasi sosial disitu.

Lalu apa yang menarik perhatian saya untuk memutuskan destinasi liburan berikutnya? You do not attract what you want, you attract what you are! Yang pasti pertanyaan pertama adalah “ada apa disana?”

Traveler lain —menurut saya— melakukan hal yang mirip yaitu mulai dari menyusun top-most-priority untuk dibaca dan dibahas ulang bersama teman perjalanan —bagian dari mematangkan perencanaan dan mem-finalkannya—. Sangat subyektif. Dan kita belum berbicara tentang perubahan iklim terkait rencana berlibur kita.

Kemudian, kalau kita berandai – andai sebagai “turis” yang tertarik untuk liburan di Indonesia,—mengusung genre traveler generasi baru yaitu Milenial, iGeneration dan Alpha kelahiran tahun 1990an dan 2000an—, kira-kira apa yang menarik perhatian kita?

Dari total 17.504 pulaunya saja, tidak mungkin kita bisa mengunjungi, menangguk experience kehidupan kepulauan Indonesia, sekalipun menikmatinya menggunakan masa cuti panjang selama 30 hari.

Tetapi –catat– kita bisa mengunjungi wilayah Indonesia ber-ulang-ulang dan mendarat di pulau yang berbeda-beda – island hopping,  tergantung tujuan pengalaman yang hendak kita timba.

Dalam pemikiran saya, salah satu pembangkit minat untuk Indonesia  menjadi pilihan future travelers melalui people – beragam suku dan budayanya menjadikan Indonesia memiliki potensi destinasi-destinasi tematik.  Mampukah Indonesia membangun special interest sesuai karakteristik historis geografis masyarakat dan pulaunya? Bukan melulu eksploitasi alamnya. Sehingga kemudian pangsa pasar niche nya terbentuk, lalu target promosinya jelas dan kuota kunjungan wisatawannya-pun dapat ditentukan.—Tidak perlu terjadi kasus overtourism—Disinilah, kita bisa bicara lebih banyak tentang destinasi dengan quality of tourism nya —didalamnya ada length of stay dan spending power wisatawan yang sedang berkunjung—.

Mari kita coba buka sejarah Nusantara. Harus kita akui, penguasaan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, bangsa Indonesia kalah jauh dibandingkan beberapa negara anggota ASEAN. Tetapi Indonesia masih bisa unggul apabila dapat mengembangkan experience. Paket bisa dibuat dan itu misalnya Paket Perjalanan Sejarah, Paket Legenda, Paket Arkeologi Antropologi, Paket Keraton, Paket Laboratorium Hidup dan masih banyak lagi. Khusus Paket Laboratorium Hidup saya dapat membandingkan Galapagos di Ekuador dengan Flobamora di NTT (Kepulauan Nusa Tenggara Timur).

Jangan lupa! Saya sedang memikirkan bagaimana menarik minat, perhatian potensi future travelers tersebut. Kuncinya pada penguasaan teknologi, dan jadikan Indonesia sebagai destinasi digital yang handal. Semua paket yang ditawarkan dan dijual harus terintergrasi dapat dipertanggungjawabkan secara etika moral, sosial, hukum dengan aman. Mulai dari beragam tipe akomodasi, destinasi makanan sesuai daerahnya dengan mempromosikan exotic food yang dapat dikonsumsi wisatawan internasional sesuai karakter daerahnya. Jangan lupa ada misi edukasi didalam memberikan experience kepada wisatawan. Salah satunya adalah mengajari wisatawan untuk mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan penduduk lokal dengan sarana naik public transportation (angkot) dari satu poin ke poin lainnya, bahkan bisa untuk mengajari memilih angkutan umum antar kota seperti menggunakan bis dan kereta api/listrik.

Bagaimana dengan paket budaya?

Saya sendiri secara pribadi sangat tertarik dengan budaya. Indonesia ini kaya banget!. Setiap daerah memiliki kekuatan masing masing. Dari seni tari, rupa, patung dan lainnya, yang dapat diintegrasikan dalam Paket Sejarah Nusantara —untuk daerah tertentu— atau bahkan Paket Legenda yang di ceritakan dari dongeng rakyat seperti Balingkang Dewi Danu di Kintamani Bali. Untuk mensukseskan semua program wisata ini Indonesia perlu Story Tellers sebagai duta wisata. Dalam hal sales, marketing diperlukan seller, marketer yang menguasai strategi storytelling, didukung tim content creator yang setara. Dan tetap berpedoman pada Kode Etik Pariwisata Global serta kode etik jurnalistik Indonesia —meskipun Anda bukan jurnalis—.

Kita sebagai future travelers perlu akses masuk yang nyaman dan infrastrukturnya.

Suksesnya program satu paket-satu destinasi perlu dukungan masyarakat setempat. Sosialisasi tidak cukup dilakukan oleh pemerintah selaku fasilitator, juga oleh kalangan pelaku bisnis perjalanan wisata. Sosialisi dan pelatihan secara berkesinambungan selayaknya dilakukan stakeholder terkait. Ini sebagian pekerjaan pemerintah dengan dukungan swasta untuk implementasi dan mengembangkannya.

Bagaimanapun wujud destinasinya? Walau lokasinya terpencil, kebutuhan kekiniannya atau keperluan modernisasi tetap harus disediakan. Misalnya MCK (Mandi Cuci Kakus) standar internasional, transportasi, convenience store, alat pembayaran non-tunai (tourist card dan virtual), APPS of the Destination. Semua travelers memerlukan kemudahan mobilitas dengan segala informasinya yang terintegrasi dan akurat. Mungkin ada yang sudah pernah ke Singapura dan London? Di kedua kota ini saya sangat nyaman untuk mobilitas dengan mudah dan murah selama berkunjung.

Satu lagi, apakah saya memiliki ketertarikan pada destinasi di Indonesia yang menerapan aksi ramah lingkungan? Ya, ini tren global.—green and sustainable tourism—. Tentu menarik  jika  ada pulau-pulau di Indonesia yang siap mempertunjukkan teknologi “free chemical” untuk kehidupan sehari-hari nya. Mulai dari pertanian, kemasan sampai ke pengelolaan limbahnya. Saya akan experience untuk menginap beberapa malam disini. Pasti ada pelajaran yang bisa dibawa pulang.

Jadi sekali lagi kualitas suatu produk termasuk produk wisata itu sangat subyektif. Semua bergantung terhadap pengalaman apa yang dirasakan oleh penikmatnya pada saat itu. Contoh konkritnya, mari kita masuk ke situs-situs guest review seperti tripadvisor dan google review. Apakah dari satu review ke review lainnya isinya sama untuk produk yang sama dengan penikmat  berbeda? Maka itulah bukti subyektifitas tersebut.

Pemikiran tertulis saya tentang cara atau bagaimana menarik niat,  perhatian wisatawan secara umum ini masih sangat “sempit”,  dibandingkan potensi Indonesia yang sangat luar biasa.

Dari slogan saya  My Travel My Adventure terdapat letupan-letupan  emosi yang membuat saya menjadi tertarik berkunjung ke satu destinasi. Misalnya karena cerita sejarahnya yang memikat, ingin mendapatkan pengalaman  yang diceritakan oleh orang lain, kelangkaan/scarcity atau ekskulisifitas, tipe wisatawannya, eksotisme suku setempat, jaminan keamanan, cocok untuk pengambilan foto-foto yang bisa untuk diceritakan kembali, heritage, history, pengalaman spiritual, affordable – sesuai kocek, banyaknya waktu untuk digunakan termasuk masa tempuh untuk mencapai destinasi yang menarik.

Pada akhirnya, Indonesia harus mampu menjual dengan cara mentransfer perasaan. —kemampuan storytelling disemua dimensi–. Memahami “maunya” dan kebutuhan traveler seperti cerita fiksi yang menjadi non-fiksi, menjadi kenyataan. Bukan hard-sales saja dengan menonjolkan “Ini produk unggul kami”.

Tentunya teman-teman pembaca mempunyai ketertarikan yang lain dari saya dan ingin urun-rembug. Silakan. Terima kasih.

 

Jember, 08 February 2024

Jeffrey Wibisono V.│@namakubrandku│ Telu Learning and Consulting for Hospitality Industry │ General Manager Java Lotus Hotel Jember
Continue Reading

Daerah

Founder UHA dan Seluruh Jajaran Gelar Persembahyangan Bersama di Pura Gunung Lebah.

Published

on

By

GatraDewata – Gianyar, Ketua Ubud Hotels Association (UHA) baru, Putu Surya Arysoma, dan seluruh pengurus melakukan persembahyangan bersama dengan founder UHA (Pande Sutawan) di Pura Gunung Lebah, Kamis (8/2). Persembahyangan tersebut merupakan serangkaian acara dalam pengukuhan kepengurusan baru periode 2024-2026. Ritual suci yang dihadiri seluruh jajaran komite berjalan dengan penuh keakraban dan canda tawa. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai upasaksi kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta beliau yang berstana di Pura Gunung Lebah. Pura Gunung Lebah sendiri adalah Pura Dang Kahyangan dan menjadi tempat bertapanya Ida Pandita Sakti Wawu Rauh, atau disebut juga Dang Hyang Nirartha. Pura ini merupakan Pura yang sangat disakralkan karena berada diantara lembah dan bukit.

Pada kesempatan ini Pande menyematkan pin UHA sebagai tanda telah dikukuhkannya ketua UHA baru. “Semoga Tuhan yang maha tahu dan Ida sesuhunan yang berstana di Pura ini memberikan berkat buat pengurus baru 2024-2026, dapat bekerja dan memajukan UHA kedepannya dan lebih semangat lagi dalam mengembangkan sumber daya manusia yang ada di Ubud khususnya dan Gianyar pada umumnya,” ungkapnya.

Persembahyangan diikuti oleh founder, Ketua dan seluruh jajaran UHA periode 2024-2026

Beliau juga menitikberatkan pada people development dan siap sharing kepada seluruh anggota UHA, mulai dari level bawah untuk bisa menjadi level tertinggi, dan atau untuk diri sendiri. “Saya siap sharing untuk kemajuan orang – orang yang ingin berkarier di dunia perhotelan maupun pariwisata, dan senang ngayah,” tambahnya.

Pande sudah berkarier kurang lebih 34 tahun di industri pariwisata, dan kini menjabat Corporate General Manager di Pita Maha Group. Pengalaman beliau cukup membuatnya disegani.

Di lain pihak, Putu menyampaikan bahwa ini adalah langkah awal jajaran baru untuk bekerja dan bersama – sama memajukan UHA untuk terus mengembangkan diri. “Kami masih belajar dan perlu bimbingan seluruh anggota UHA untuk dapat menjadikan UHA besar dan memberikan dampak yang positif,” tandasnya.

Beliau menambahkan, “Tentu kegiatan UHA terdekat adalah gathering bersama seluruh anggota UHA, Sales dan Human Development Training, serta kegiatan kegiatan sosial lainnya,” tambahnya.

Putu adalah anak muda asli kelahiran Peliatan, Ubud, dan juga Founder dari Gangga Experience, dimana ia sangat suka dan aktif dalam berorganisasi.

UHA memiliki 3 pilar penting: pengembangan SDM, Sales Marketing serta sosial yang berpegang pada keberlangsungan.

Foto bersamq kepengurusan UHA yang baru periode 2024-2026

Adapun komite UHA periode 2024-2026 diantaranya: Ayu Arumi dan Sena Karilo selaku Waka I dan II; Kadek Gilang Wijaka dan Dewa Ayu Feny  sebagai Sekretaris; Putu Rama Adiguna sebagai Bendahara; Ketut Wijana, Made Mahendra, Deddy Sutrisna,  Putri dan I Ketut Warasana di bagian Sales Marketing dan sosial media; Dewi Aprilianti dan Kadek arianti di sektor Human Resurces; Gede Ariawan dan Sintia di Public Relation. 

Di penghujung acara ia mengutarakan harapannya kepada seluruh jajaran UHA yang baru. “Tentu saja saya berharap kepada kepengurusan baru ini untuk memberikan dampak nyata, baik kepada anggotanya maupun masyarakat luas,” tutupnya lugas.<swn>

Continue Reading

Pariwisata dan Budaya

Suarakan Keresahan Anggota, Bali SPA Bersatu Upayakan Keadilan Bagi Day SPA

Published

on

By

Ketua Bali SPA Bersatu (BSB), I Gusti Ketut Jayeng Saputra Cidesco (no 3 dari kiri) berphoto bersama para pelaku usaha SPA

GIANYAR – Rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan keresahan dari para pelaku Pariwisata terutama usaha SPA, telah digelar secara berkelanjutan selama dua hari berturut-turut (30-31/01/2024)

Acara bertajuk “Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bali 2024” yang telah berlangsung pada tanggal 30 Januari 2024 di The Payogan Villa Resort and SPA, dan dilanjutkan dengan kegiatan Seminar Nasional SPA pada tanggal 31 Januari 2024, yang berfokus pada ‘Implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 dan Dampaknya bagi Dunia Usaha SPA di Bali dan Indonesia’ bertempat di The Royal Maha Pita, Ubud, tidak hanya menjadi ajang diskusi strategis antara para pelaku industri dan pemerintah, tetapi juga menjadi forum untuk menyatukan pandangan dan tindakan dalam mengatasi isu-isu penting yang dihadapi industri ini.

Poin penting yang menjadi fokus dalam kedua kegiatan ini adalah diskusi mengenai ketidaksinkronan antara Undang-Undang pada Permenparekraf no 4 tahun 2021 dan Permenkes no 8 tahun 2014  dengan UU Nomor 1 Tahun 2022.

Isu utama yang diperdebatkan adalah pengelompokkan SPA sebagai jenis usaha hiburan, yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pelaku usaha SPA.

Keistimewaan kedua acara itu semakin terasa dengan kehadiran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, yang memberikan pandangan dan dukungan penting terhadap industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.

Tidak kalah penting, kehadiran Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, yang memberikan dukungan yang kuat bahwa SPA di Bali memiliki keunikan tersendiri yang telah didengar dan dipahami oleh pemerintah.

Dialog yang terjalin antara Ketua Bali SPA Bersatu (BSB), I Gusti Ketut Jayeng Saputra.Codisco dan Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno, merupakan sesuatu yang berharga dan menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dan pemahaman bersama dalam menghadapi tantangan yang ada.

Penerapan Undang- Undang no 1 tahun 2022 yang memberatkan pelaku usaha SPA dan adanya ketidakselarasan perlakuan terhadap Day SPA dan SPA di Hotel juga menjadi topik yang dibahas dengan serius, namun dalam suasana yang tetap hangat dan penuh pengertian.

Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi para stakeholder untuk menyampaikan kekhawatiran mereka tentang perpajakan dan perlakuan terhadap industri SPA.

Ketua BSB mengajak pemerintah untuk memberi dukungan lebih pada UMKM industri SPA, dengan mengkategorikan SPA bukan sebagai hiburan, melainkan sejajar dengan sektor lain seperti hotel, restoran, refleksi, dan panti pijat.

Menanggapi ini, Menparekraf menegaskan bahwa masalah ini telah direspon Pemerintah dan ditindaklanjuti dengan adanya instruksi dari Presiden melalui Menteri Dalam Negeri, pada tanggal 19 Januari 2024, untuk diterbitkannya surat edaran Mendagri nomor 900.1.13.1 /403/ SJ sebagai acuan memberi kewenangan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota mengeluarkan kebijakan insentif fiskal pajak hiburan, untuk mengenakan besaran Pajak Barang Jasa Tertentu (PBJT) lebih rendah dari 40% sebagai upaya membantu para pelaku usaha hiburan tertentu seperti Diskotik, Karaoke, Klab Malam, Bar termasuk Mandi Uap/SPA, didaerahnya masing-masing

Dalam kesempatan ini, PJ Gubernur Bali diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda), Dewa Made Indra, menyatakan bahwa pada tanggal 26 Januari 2024, Pemerintah Provinsi Bali sudah merespon masalah ini dengan menghadirkan semua pemerintah Kabupaten dan Kota, para Sekda, Dinas Pariwisata dan Dinas Pendapatan Daerah, untuk duduk bersama menyikapi polemik penerapan pajak hiburan tertentu yang dianggap memberatkan bagi para pelaku usaha terkait.

Dalam pertemuan saat itu telah disepakati pengenaan PBJT di tiap-tiap daerah mengacu pada aturan insentif fiskal secara jabatan yang mana besaran pajaknya ditentukan oleh pemerintah Kabupaten dan Kota masing-masing dengan mengakomodasi aspirasi dari para pelaku usaha.

Hingga kini tim ahli Hukum Bali SPA Bersatu (BSB) juga telah menindak lanjuti masalah ini dengan mengutip asas ke-7 dari asas Hukum Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa sebuah tindakan dapat dinyatakan tidak sah baik oleh lembaga yang melakukan tindakan itu sendiri maupun oleh lembaga lain yang diberi kewenangan berdasarkan aturan hukum.

Artinya, lembaga yang terkait dengan tagihan pajak atau lembaga lain yang berwenang harus menyatakan jika tindakan pajak 40% ini tidak sah.

Salah satu hasil utama dari pertemuan dihari kedua ini, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Prof.Tjok Oka Sukawati (Tjok Ace), adalah keputusan bahwa untuk bulan Januari ini, industri SPA harus tetap membayar pajak sebesar 40%, sementara pejabat Daerah berupaya menyelesaikan dan akan mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) setelah tanggal 14 Februari.

Hal ini diharapkan memungkinkan industri SPA di Gianyar dan Bali secara umum untuk kembali ke tarif pajak sebelumnya yaitu 12.5% mulai bulan Februari, dengan menggunakan insentif fiskal secara jabatan.

Di samping itu, sebuah pesan disampaikan terkait pentingnya berkampanye dengan cara yang damai, sopan, dan bermartabat serta mengeksplorasi pandangan-pandangan dari sisi hukum terkait status undang-undang selama proses Judicial Review di MK, untuk mengeluarkan definisi SPA dari katagori hiburan tertentu.

Pada kesempatan itu, Ketua BSB yang juga sekaligus sebagai Ketua Asosiasi (Asosiasi SPA Indonesia) ASPI Pusat bidang Pengembangan dan penelitian Spa & Wellness Industri ini, yang membawa aspirasi dan mewakili pertanyaan para pengusaha SPA dan pelaku Day SPA di Bali, mengungkapkan keprihatinan tentang ketidakselarasan perlakuan antara Day SPA di luar hotel dengan SPA yang berada di dalam hotel.

Kedua jenis SPA ini seharusnya mendapat perlakuan yang sama karena menggunakan KBLI yang sama, yaitu 96122 aktivitas SPA (Sante Par Aqua), namun dalam praktiknya terjadi ketimpangan dalam pemberlakuan pajak, dimana SPA di dalam hotel dianggap sebagai fasilitas hotel dan dikenakan pajak sesuai tarif hotel, sedangkan Day SPA tetap dikenakan pajak 40% selama belum ada keputusan dari pemerintah Daerah atau pengeluaran Peraturan Bupati yang relevan dalam proses transisi ini.

Sebagai tindak lanjut dari Seminar Nasional yang diadakan pada 31 Januari 2024 di The Royal Pita Maha Ubud, Bali Spa Bersatu (BSB) telah mengambil langkah proaktif dengan mengirimkan surat kepada Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Surat ini, yang dikirimkan pasca seminar dan diterima dengan baik antara pukul 14:00 hingga 18:00, merupakan upaya BSB untuk menyampaikan secara langsung keprihatinan dan saran dari industri SPA kepada para pembuat kebijakan di tingkat tertinggi.

Dalam suratnya, BSB menyampaikan pandangan dan kekhawatiran mereka terkait implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 dan dampaknya bagi dunia usaha SPA di Bali dan Indonesia.

Surat ini tidak hanya ditujukan kepada Dewan Pertimbangan Presiden, tetapi juga ditembuskan ke beberapa pihak penting lainnya, termasuk Presiden Republik Indonesia, anggota DPR RI, DPD RI, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Langkah ini diambil untuk membantu menguatkan dorongan untuk pemerintah Daerah dalam mengambil kebijakan sehingga lebih percaya diri dan tidak mendapatkan kesalahan secara hukum untuk kemudian hari sekaligus memastikan bahwa suara dan pandangan dari industri SPA di Bali dan Indonesia didengar pada level yang lebih tinggi dan menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan.

BSB berharap bahwa dengan komunikasi ini, akan tercipta dialog yang lebih baik dan pemahaman yang lebih mendalam tentang tantangan yang dihadapi oleh industri SPA, khususnya dalam hal regulasi dan perpajakan.

Inisiatif ini menunjukkan komitmen BSB untuk bekerja sama dengan pemerintah dan stakeholder lain dalam mencari solusi yang bijaksana dan efektif untuk isu-isu yang dihadapi oleh industri SPA.

Bali SPA Bersatu berharap bahwa surat ini akan membuka jalan bagi diskusi lebih lanjut dan langkah-langkah konkret yang dapat mendukung pemulihan dan pertumbuhan industri spa di Bali dan Indonesia. (E’Brv)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku