Connect with us

Daerah

Parah! Kredibilitas KPU dan Bawaslu Bali Terancam, Kasus LPPDK “Fiktif” Dr. Somvir Segera disidang DKPP

Published

on


 

Pembina LSM FPMK Gede Suardana

GatraDewata[Singaraja] Setelah melalui proses panjang akhirnya pengaduan pembina LSM FPMK Bali, Gede Suardana, direspon pihak DKPP di Jakarta.

Dalam Pengaduan tersebut diduga KPU dan BAWASLU Bali sangat jelas turut serta meloloskan peserta pemilu yg melanggar UU pidana pemilu, UU no 7 Tahun 2017 pasal 334 dan pasal 335, yang mewajibkan melaporkan dana kampanye bagi semua peserta pemilu. Pasal 497 yang bunyinya bahwa setiap orang yg melaporkan dana kampanye secara tidak benar diancam pidana 2 tahun penjara. Ini sangat jelas kenekatan KPU dan BAWASLU Bali melawan UU.

Kepemimpinan Ketua DKPP Prof. Muhammad dipertanyakan karena ketegasan dan gerak cepat lembaga ini dalam menyikapi laporan warga prihal pelanggaran kode etik terlapor KPU dan Bawaslu Propinsi Bali sejak tgl 12 Februari 2021 sampai sekarang, belum kunjung disidangkan sehingga terkesan lembaga ini masuk angin.

Namun, menurut informasi Staff DKKP bahwa hal ini segera dilakukan klarifikasi dalam minggu ketiga April 2021.

Ketut Adi Gunawan sebagai pelapor mengaku sudah lebih dari 7 kali memperbaiki laporan dan melengkapi barang bukti atas petunjuk dari Divisi Pengaduan DKPP. Setelah semua petunjuk DKPP terpenuhi tentunya berharap kepastian sidang yang ditunggu – tunggu diharap segera terlaksana.

Gede Suardana selaku penasehat LSM FPMK forum peduli masyarakat kecil dan aktivis anti korupsi, yang bolak balik ke KPK sebagai pelapor ke Bawaslu Propinsi Bali prihal LPPDK palsu Dr. Somvir, merasa sangat berang dan kecewa akan lambannya Penanganan Kasus INI.

Saksi pelapor Gede Suardana mempertanyakan hal ini kepada wartawan media. ”Bukti Sudah Jelas, hukum yang dilanggar juga. Bagaimana mewujudkan pemilihan yang kredibel dan mendapat kepercayaan publik jika proses awal sudah diduga nggak benar?” jelasnya.

Dari informasi terkini yang berhasil di himpun tam media, jawaban dari DKPP sudah masuk laporan dan tinggal diuji materi oleh tim. Setelah itu sesuai mekanisme diadakan sidang DKPP sendiri memiliki kewenangan khusus dalam perkara pemilihan baik Legislatif ataupun Pilkada.

Dikhawatirkan di Pilkada serentak pada 2024 kasus seeupa akan ada lagi. Publik tidak mau ada kecurangan dalam pelaksanaan pemilu yang sakral dalam memilih wakil rakyat dan para pemimpin bangsa ini. Jika ini nanti benar pendapat saya ini merupakan salah satu kejahatan luar biasa model baru,” pungkasnya.

Dalam UU pemilu no.7 tahun 2017 dengan pasal 334-335 mewajibkan setiap peserta pemilu melaporkan dana kampanye tapi semua pengeluaran Somvir untuk bikin baliho, kartu suara, spesimen surat suara yg tersebar dimana-mana tidak dilaporkan. Pasal 338 menganulir keterpilihan bagi peserta pemilu yg tidak melaporkan dana kampanye (Somvir sama sekali tidak melaporkan dana kampanye).

“Dan bahwa dalam Pasal 497, setiap orang yg melaporkan dana kampanye secara tidak benar dipidana penjara 2 tahun dan denda 24 juta. Somvir sebagai peserta pemilu yang melanggar UU pemilu dan pidananya seharusnya dianulir keterpilihannya oleh KPU Propinsi Bali, dan oleh Bawaslu memproses pidana pemilu Somvir karena membuat LPPDK palsu,” beber Gede Suardana.

“Jadi Somvir  dan semua anggota KPU dan BAWASLU Bali bersama-sama berkonspirasi melawan UU pidana pemilu, dan ini sudah mendapat respon bahkan akan segera disidangkan dalam waktu dekat, setelah verifikasi dilangsungkan, ” tegasnya.(Mga)


Daerah

Tergeletaknya Prasasti yang Dibanggakan

Published

on

By

Prasasti (foto/ist)

BADUNG – Di sebuah sudut desa yang tenang, tergeletak sebuah prasasti yang seolah menyimpan kisah yang terlupakan. Prasasti itu, meski kini tersembunyi dari gemerlap kota, pernah menjadi simbol kebanggaan masyarakat Badung. Ditandatangani oleh Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, seorang tokoh terhormat yang akrab disapa Cok Rat, prasasti ini mengabadikan jejak sejarah penting.

Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi, yang menjabat sebagai Bupati Badung dari tahun 1999 hingga 2005, adalah seorang figur yang dihormati dan dikenal luas. Selama masa kepemimpinannya, Badung mengalami berbagai kemajuan signifikan, baik dalam infrastruktur, pendidikan, maupun kesejahteraan masyarakat. Sebagai seorang Panglingsir Puri Satria, Cok Rat juga dikenal sebagai penjaga nilai-nilai tradisional dan adat istiadat Bali, menjadikannya panutan bagi banyak orang.

Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi (Cok Rat)

Namun, apa yang membuat prasasti ini istimewa bukan hanya karena siapa yang menandatanganinya, melainkan juga karena pesan yang terkandung di dalamnya. Cok Rat adalah seorang tokoh Marhaenisme, sebuah ideologi yang mengedepankan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya kaum kecil. Ideologi ini diilhami dari ajaran Bung Karno, presiden pertama Indonesia, yang berfokus pada pemberdayaan rakyat jelata.

Prasasti ini merupakan penanda peresmian Jalan Setra Kauripan, sebuah proyek penting dalam Program Peningkatan Prasarana Pemukiman di Badung. Jalan Setra Kauripan dibangun sebagai upaya meningkatkan aksesibilitas dan kualitas hidup warga setempat. Proyek ini adalah salah satu dari banyak inisiatif yang diluncurkan oleh Cok Rat untuk memastikan pembangunan yang merata dan inklusif.

Selain sebagai tanda peresmian sebuah proyek besar di Badung, prasasti ini juga merupakan simbol perjuangan Cok Rat dalam memperjuangkan prinsip-prinsip Marhaenisme. Ia bertekad untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi oleh seluruh masyarakat, terutama mereka yang kurang beruntung.

I Gede Putra (tokoh masyarakat)

I Gede Putra, seorang tokoh masyarakat dan cucu dari almarhum veteran I Wayan Ingkeg, memberikan pandangannya mengenai prasasti tersebut. “Prasasti ini bukan sekadar batu bertuliskan sejarah, tetapi merupakan pengingat akan dedikasi seorang pemimpin yang tulus mengabdi untuk rakyatnya. Cok Rat adalah sosok yang tidak hanya bicara, tetapi juga bekerja keras untuk merealisasikan visi keadilan sosial bagi semua.”

Kini, prasasti itu tergeletak di sudut yang sepi, mungkin karena tergerus oleh arus waktu dan pergantian kepemimpinan. Namun, bagi mereka yang mengenang masa-masa itu, prasasti ini tetap menjadi monumen kebanggaan dan pengingat akan dedikasi seorang pemimpin yang tulus mengabdi untuk rakyatnya.

Meskipun tidak lagi mendapat sorotan seperti dulu, prasasti ini mengandung cerita yang berharga. Ia mengajarkan bahwa kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu memberikan manfaat bagi banyak orang, tanpa memandang status atau kekayaan. Warisan Cok Rat, melalui prasasti ini, menginspirasi generasi berikutnya untuk terus memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan sosial.

Dengan demikian, tergeletaknya prasasti yang dibanggakan ini bukanlah tanda terlupakannya sebuah era, melainkan bukti bahwa nilai-nilai luhur akan selalu hidup dalam ingatan dan tindakan mereka yang menghargai perjuangan para pendahulu. Prasasti ini mengingatkan kita untuk terus menghormati dan meneruskan semangat pengabdian bagi kemajuan bersama.

 

TEAM | Foto: Ist.

Continue Reading

Daerah

Gung Ronny : Pemimpin Denpasar Masa Depan Harus Berani Dan Berpikir Out Of The Box.

Published

on

By

Pemerhati masalah sosial dan politikus Partai Garuda Provinsi Bali, I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya Sunarya (Gung Ronny)

DENPASAR – Pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung pada bulan November 2024 mendatang diharapkan bisa memilih sosok pemimpin yang berani, peduli dan mempunyai wawasan luas untuk mengatasi permasalahan sosial yang banyak terjadi di masyarakat.

Pemerhati masalah sosial dan politikus Partai Garuda Provinsi Bali, I Gusti Agung Ronny Indra Wijaya Sunarya (Gung Ronny), dalam wawancaranya kepada awak media, Kamis (13/06/2024), menyatakan perlu adanya sosok pemimpin yang berani bertindak dan berpihak pada masyarakat.

“Denpasar butuh pemimpin yang berani dan tegas, bukan pemimpin yang masih takut mengambil kebijakan.
Tidak hanya teori tapi harus bisa turun kebawah mengambil kebijakan yang berpihak pada rakyatnya,” demikian harapannya.

Permasalahan yang terjadi saat ini seperti tidak ada upaya untuk menemukan solusinya, bahkan terkesan adanya pembiaran sehingga merugikan pada masyarakat.

Terlihat masalah kemacetan jalan yang terus menerus terjadi disejumlah titik, seperti di simpang ruas jalan Imam Bonjol dengan Gunung Soputan, seputaran ruas jalan Marlboro barat yang sudah menjadi pemandangan rutin adanya antrian panjang terutama saat jam-jam sibuk.

Melihat kondisi jalan di Denpasar yang relatif sempit dan sudah over load, perlu dilakukan kebijakan pembatasan kendaraan pada jam-jam tertentu dan ruas jalan yang sudah ditentukan, seperti pemberlakuan ganjil-genap misalnya.

Dilain pihak, ketersediaan mass public transportation yang ada hingga saat ini belum menjadi solusi alternatif bagi masyarakat Denpasar untuk berpergian.

“Keberadaan Teman Bus sebagai alternatif transportasi yang murah dan aman, belum banyak menjadi pilihan masyarakat, harus dipikirkan bagaimana disiapkan transportasi pendukung sehingga saat penumpang turun di halte bus, sudah ada tersedia kendaraan umum lain yang murah untuk mengantarkan mereka ke tujuan masing-masing.
Ini salah satu cara mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya, sehingga dampaknya bisa mengurangi kemacetan,” ujarnya.

Hal ini merupakan salah satu permasalahan yang mesti menjadi perhatian utama calon pemimpin kota Denpasar ke depan, berani berbuat yang berdampak langsung ke masyarakat.

“Kebijakan harus berdiri diatas kepentingan, jangan sebaliknya malah kepentingan yang berdiri diatas kebijakan.
Denpasar butuh pemimpin masa depan yang tegas, bukan boneka.
Pemimpin harus berani berpikir Out of the Box,” tegasnya. (E’Brv)

Continue Reading

Daerah

Selesaikan Masalah Sampah dengan U – Theory

Published

on

DENPASAR – Sampah merupakan kondisi yang sangat pelik bila tidak diselesaikan segera, kondisi yang selalu menumpuk membuat posisinya menjadi ‘urgent’ untuk ditangani segera.

Sumbangsih pemikiran dari seorang I Wayan Kastawan lulus dari Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Bali-Indonesia (1996). Ia juga memperoleh gelar Sarjana Teknik (ST.), kemudian tahun 2000 melanjutkan studi tingkat Magister di Sheffield Hallam University, Inggris dengan gelar Master of Arts (MA) in Heritage Management, dan di tahun 2006 meneruskan studi tingkat doktoral di Nagoya Intitute of Technology, Jepang pada bidang Architecture – Human Space Program dengan gelar Doctor of Engineering (Dr.Eng.), serta di tengah tahun 2020 menyelesaikan Pendidikan Profesi Insinyur dan berhak menyandang gelar profesi “Insinyur (Ir.).

Selain pendidikan formal diatas, juga pernah mengikuti pendidikan Executive Leadership Program di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sloan School of Management, Cambridge-USA melalui Program MIT – IDEAS Indonesia 5.0, dan terakhir mengikuti CoCLASS (Collaborative Creative Learning and Action for Sustainable Solutions) di Tsinghua University, Beijing – China.

“Saat ini, sebagai Dosen saya mencoba menerapkan pengalaman langsung cara belajar di sebuah Institute terbaik di Dunia, yaitu Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge-USA, khususnya Leadership Program untuk Pembangunan Keberlanjutan, “ceritanya.

Ketika dirinya belajar “U-Theory” dari pencetusnya langsung Prof Otto Scharmer seorang dosen yang dinobatkan sebagai dosen terbaik dunia tahun 2017. U-Theory itu ada Open Mind, Open Heart, dan Open Will.

Perkuliahan kali ini dirinya mencoba mempraktekan U-Theory dari proses Downloading, Seeing, Observing, Sensing, Presensing, Crystalysing dan Prototyping.

Keceriaan terpancar dari para anak didik di Program Magister Arsitektur Unud (S2) khususnya yang ngambil Mata Kuliah Infrastruktur Desa Kota, kali ini kita membahas masalah Penanganan “Sampah” di Kota Denpasar.

Melalui pendekatan belajar dari Diri “Who Am I” sebelum memberi solusi untuk masyarakat banyak,  ia mengungkapkan mesti instrospeksi diri (mulat sarira), ternyata faktor utama penyebab “Sampah” ada pada Diri Sendiri.

Kebanyakan mahasiswa, dari usia Prasekolah tidak dibekali pengetahuan tentang membuang sampah pada tempatnya, saat SD baru diperkenalkan buang sampah ditempatnya, sampai belajar di tingkat SMU tidak melakukan pemilahan sampah meskipun telah diperkenalkan pemilahan sampah saat belajar di bangku SMP, hal ini diperparah lagi ketika masa kuliah, apalagi diharapkan untuk melakukan pemilahan sampah, membuang sampah pada tempatnya saja tidak dilakukan.

Sesungguhnya, berbagai kebijakan pemerintah tentang “Sampah” sudah ada, banyak program kegiatan telah dilaksanakan, banyak fasilitas dibangun, dan lain lainnya juga tidak terhitung banyaknya, tapi Mengapa masalah “Sampah” ini tidak juga tertanggulangi.

“Jawaban sangat sederhana, karena kebanyakan dari kita belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya serta memilah sampah ketika membuangnya, ” ungkapnya kepada awak media, Kamis (07/06/2024).

Kemudian ia juga menjelaskan, andaikan semua adalah sebagai individu sadar (Ego System Awarness) dan satu persatu individu lainnya sadar sampai pada tingkat komunal sadar (Communal System Awareness), mungkin masalah “Sampah” akan tertangani.

“Kita bisa nyatakan dari pembelajaran ini bahwa “What is the Waste, The Waste is depended on the People”. Semakin Sadar Kita Tentang Sampah, Semakin Mudah Sampah Ditanggulangi, ” pungkasnya. (Tim)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku