Connect with us

Kesehatan

ORI Bali, Sumbangan Sekolah Harus Diumumkan ke Publik

Published

on



GATRADEWATA – Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru(PPDB) untuk tingkat SMP, dan SMA/SMK khususnya bagi sekolah berstatus negeri di wilayah Bali, Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Bali meminta agar pihak sekolah transparan dalam penerimaan sumbangan dan peruntukannya.

Umar Ibnu Alkhatab Kepala Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia Provinsi Bali mengatakan agar kisaran dan kegunaan sumbangan tersebut, diumumkan secara transparan ke publik.

“Saya kira kalau sumbangan itu, sifatnya sukarela dan kecil jumlah nominalnya. Kalau besar sampai jutaan, itu bukan sumbangan, akan tetapi kewajiban,” kata Umar. Jumat, 27 Mei 2016.

Seharusnya, kata Umar, sumbangan tidak perlu lagi ada, kalaupun ada semestinya tidak besar. Apalagi sekolah-sekolah negeri sudah mendapat bantuan dari Dinas, baik daerah maupun pusat.

“Sekolah swasta lah yang seharusnya lebih banyak mendapatkan bantuan, guru-guru mereka kan honornya dari SPP. Lain dengan negeri yang sudah dibayar sama pemerintah. Di Bali sendiri ada sekolah swasta yang tidak memungut uang gedung, masak sekolah negeri kalah sama swasta,” akhir Umar.

Alt


Advertisement

Daerah

Serba-serbi Keratosis Seboroik

Published

on

Oleh: Dr. dr. Ketut Kwartantaya Winaya, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K, FINSDV, FAADV

DENPASAR – Keratosis seboroik merupakan tumor jinak yang biasanya ditemui pada orang tua. Keratosis seboroik lebih sering ditemui pada ras kulit putih.

Keratosis seboroik dapat muncul sejak usia 15 tahun dan kejadiannya meningkat dengan bertambahnya usia terutama pada dekade kelima. Penyebab keratosis seboroik hingga saat ini masih belum diketahui, namun banyak terjadi setelah peradangan kulit dan paparan sinar matahari.

Keratosis seboroik dapat muncul di bagian tubuh manapun, terutama pada daerah wajah dan tubuh bagian atas. Tanda keratosis seboroik yaitu peninggian atau penonjolan kulit berwarna cokelat hingga hitam berbentuk kubah, permukaan licin tidak berkilat atau berdungkul-dungkul, berbatas tegas, berukuran 1 mm hingga beberapa cm, dan disertai sisik berminyak diatasnya.

Diagnosis keratosis seboroik dapat ditegakan secara klinis dan jika perlu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu histopatologi.

Peninggian atau penonjolan kulit yang meluas dengan cepat, menimbulkan gejala, atau gambaran yang mengarah ke kanker kulit (asimetri, batas tidak tegas, warna bervariasi, diameter 6 mm atau lebih, evolusi atau elevasi) merupakan beberapa indikasi dilakukannya pemeriksaan histopatologi untuk menyingkirkan keganasan.

Keratosis seboroik biasanya tidak perlu diobati, namun terdapat beberapa alasan dilakukannya terapi yaitu kosmetik, gatal, meradang atau nyeri. Terapi keratosis seboroik yang dapat dilakukan diantaranya bedah beku (krioterapi), bedah listrik atau bedah laser (ablasi laser). Keratosis seboroik berukuran besar dapat dilakukan dermabrasi atau fluorouracil topikal.

Beberapa efek samping yang dapat timbul dari terapi keratosis seboroik yaitu timbulnya jaringan parut, perubahan warna kulit, pengangkatan yang tidak komplit atau muncul berulang.

 

Referensi:

1. Cipto H, Suriadiredja ASD. 2016. Tumor Kulit. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI,  269-273.

2. Cuda JD, Rangwala S, Taube JM. 2019. Benign Epithelial Tumors, Hamartomas, and Hyperplasias. Fitzpatricks Dermatology 9th Edition. United States: McGraw-Hill Education, 1918-1934.

Continue Reading

Daerah

Kenali Jenis-jenis Tahi Lalat

Published

on

Oleh: Dr. dr. Ketut Kwartantaya Winaya, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K, FINSDV, FAADV

DENPASAR – Tahi lalat dapat muncul sejak lahir (congenital melanocytic nevi) atau didapat seiring bertambahnya usia (common acquired nevi). Dari beberapa tipe tahi lalat tersebut, beberapa bersifat jinak dan beberapa bersifat ganas bahkan dapat berkembang menjadi kanker kulit. Mayoritas tahi lalat yang muncul sejak lahir berukuran kecil hingga sedang, namun dapat berukuran >1,5 cm dan muncul pada usia 1 bulan hingga 2 tahun.

Tahi lalat yang muncul sejak lahir tampak sebagai perubahan warna kulit atau peninggian kulit berwarna kecokelatan dengan batas tegas. Pertumbuhan rambut dapat muncul saat lahir atau beberapa tahun. Kebanyakan tahi lalat yang muncul sejak lahir diawali dengan warna yang merata, kemudian seiring bertambahnya usia warna dapat bervariasi seperti kecokelatan, hitam, dan kebiruan dan tekstur permukaan tahi lalat menjadi ireguler serta ukurannya bertambah.

Gambar 1. Tahi lalat yang muncul sejak lahir

Tahi lalat yang didapat (common acquired nevi) biasanya muncul saat masa kanak-kanak atau dewasa muda (dekade ketiga pertama) dan menetap selama beberapa dekade. Tahi lalat yang didapat timbul sebagai perubahan warna kulit atau peninggian kulit yang berwarna kecokelatan, merah muda atau berwarna seperti kulit. Mayoritas tahi lalat yang didapat berukuran kurang dari 6 mm, permukaan rata dan warna yang sama, berbentuk bulat atau oval, dan berbatas tegas.

Pada orang berkulit putih, tahi lalat yang berwarna sangat cokelat atau hitam harus dicurigai. Tahi lalat berwarna gelap lebih sering dijumpai pada orang berkulit gelap. Warna biru, abu-abu, merah, dan putih jarang ditemukan pada tahi lalat yang didapat sehingga jika ditemukan maka harus dicurigai. Tahi lalat yang didapat dapat muncul pada permukaan kulit manapun. Akan tetapi, pada orang kulit gelap lebih sering muncul pada telapak tangan dan kaki, kuku, dan mukosa.

Gambar 2. Common acquired nevi

Seiring dengan bertambahnya usia, jumlah tahi lalat berkurang, namun insiden kanker kulit meningkat. Bertambahnya jumlah tahi lalat yang didapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker kulit. Tahi lalat baru yang bertambah luas atau tahi lalat yang sudah ada sebelumnya mengalami perubahan warna pada orang dewasa memiliki risiko tinggi berkembang menjadi kanker kulit. Maka dari itu, penting untuk membedakan tahi lalat yang bersifat jinak dan ganas.

Tanda-tanda tahi lalat yang jinak yaitu berukuran lebih kecil dari penghapus pensil, berbentuk bulat atau oval, berbatas tegas, permukaan rata, dan warna yang merata pada satu tahi lalat seperti merah muda atau coklat. Untuk mengenali kanker kulit secara dini dapat menggunakan akronim ABCD yang terdiri dari asimetri bentuk tahi lalat; border atau batas yang tidak tegas; color atau warna yang bermacam-macam pada satu tahi lalat yaitu hitam, kebiruan, coklat, kemerahan, dan abu-abu; diameter 6 mm atau lebih; dan elevasi (penonjolan tahi lalat) atau evolusi (perkembangan tahi lalat).

Jika tahi lalat memenuhi salah satu kriteria ABCD, maka harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kanker kulit.

 

Referensi:

1. Cuda JD, Moore RF, Busam KJ. Melanocytic Nevi. 2019. Fitzpatricks Dermatology 9th Edition. United States: McGraw-Hill Education, 1944-1951.

2. Yale Medicine. Melanocytic Nevi (Moles). Tersedia pada: https://www.yalemedicine.org/conditions/melanocytic-nevi-moles

Continue Reading

Kesehatan

Kenali Pentingnya Penggunaan Tabir Surya (Sunscreen)

Published

on

Artikel Edukasi Kesehatan

Oleh: Dr. dr. Ketut Kwartantaya Winaya, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K, FINSDV, FAADV

DENPASAR – Paparan sinar ultraviolet (UV) yang berkepanjangan dan dalam waktu yang lama memiliki efek yang dapat merusak kulit. Sinar ultraviolet yang mencapai permukaan bumi terbadi menjadi 2 yaitu UVA dan UVB. Sinar ultraviolet A (UVA) menyebabkan penuaan kulit (aging) yaitu timbulnya bercak kehitaman pada kulit, kulit kendur dan kerutan pada kulit.

Sementara ultraviolet B (UVB) menyebabkan kulit terbakar. Baik UVA maupun UVB dapat menyebabkan terjadinya kanker kulit.

Untuk mencegah efek yang tidak baik dari sinar matahari, sebaiknya melakukan perlindungan secara mekanikal (seperti menggunakan topi, payung, pakaian lengan panjang, menggunakan kacamata anti radiasi UV, atau tidak berjemur dibawah cahaya matahari langsung) dan secara kimiawi dengan menggunakan tabir surya (sunscreen).

Dr. dr. Ketut Kwartantaya Winaya, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K, FINSDV, FAADV

Tabir surya (sunscreen) adalah produk kosmetik untuk melindungi kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh radiasi sinar matahari. Tabir surya topikal yang menyerap atau memantulkan radiasi untuk melindungi kulit dari efek berbahaya dari radiasi sinar ultraviolet (UV). Terdapat 3 jenis tabir surya yaitu chemical sunscreen, physical sunscreen dan hybrid sunscreen.

Chemical sunscreen (organic sunscreen) merupakan tabir surya yang berfungsi menyerap radiasi sinar UV, menguraikan dan dan perlahan melepaskannya kembali melalui kulit. Physical sunscreen (mineral sunscreen) berfungsi untuk memantulkan radiasi sinar UV, sementara hybrid sunscreen memiliki bahan yang menyerupai chemical sunscreen namun berfungsi memantulkan radiasi sinar UV.

Untuk perlindungan yang baik disarankan menggunakan tabir surya yang memiliki faktor perlindungan terhadap UVB atau sun protecting factor (SPF) minimal 30 dan memiliki protection grade of UVA (yang umumnya disingkat PA) bertuliskan minimal PA++. Penggunaan tabir surya sebanyak 2 ruas jari cukup untuk melindungi area wajah dan leher.

Tidak hanya area wajah dan leher, sebaiknya perlindungan juga diberikan pada area yang terpapar cahaya matahari. Tabir surya harus dioleskan kembali setiap 3-4 jam dan disarankan digunakan juga walaupun bekerja di dalam ruangan.

Apabila mengalami kesulitan dalam memilih tabir surya yang sesuai untuk jenis kulit atau mengalami alergi terhadap tabir surya tertentu, dapat melakukan konsultasi ke Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi dan Estetika (Sp.D.V.E) atau Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.KK) terdekat di kota anda. (Tim)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku