Connect with us

Mangku Bumi

Mesangih Massal oleh Paguyuban Widya Swara di Griya Gede Manik Uma Jati Kepaon di lihat dari sudut Kesehatan

Published

on


GATRADEWATA.COM|Kamis 29 Maret 2019.Memotong gigi juga ada efek sampingnya bagi kesehatan, jika dilakukan dengan tidak benar, begitu yang disampaikan Jero Mangku drg Made Budiarsana dalam acara pembekalan bagi peserta metatah masal yang diselenggarakan Paguyuban Widya Swara di grya Gede Manik Uma Jati Kepaon, kemarin.


Pemotongan gigi, atau di Bali dikenal dengan matatah , bisa menyebabkan lapisan enamel ini terbuang dan lapisan di bawahnya terlihat. Padahal lapisan di bawah enamel, yaitu dentin, tidaklah sekeras enamel, dan terdiri dari pori-pori yang terdapat banyak ujung syaraf di dalamnya. Hal ini dapat menyebabkan masalah pada kesehatan.
Pada pelaksanaan kegiatan ini, paguyuban Widya Swara lebih menonjolkan dari aspek simbolik dengan tetap mengacu pada sastra dan mempertahankan tradisi. Gigi hanya di potong kurang dari 2 mm, karena pelaksanaan ini bukan menonjolkan estetika. Untuk estetika dipersilahkan lebih lanjut dengan dokter ortodontis.
Selain itu kami juga memperhatikan ke higienisan alat-alat sangging dan pemberian disinfektan dan memperbanyak jumlah alat. Sehingga alat tersebut memperoleh waktu jeda. Termasuk penggunaan masker dan slop tangan, sampai kepada posisi wajah sangging supaya tidak terlalu dekat dengan yang ditatah.
Pada acara pembekalan tersebut juga diisi dengan penjelasan mengenai makna metatah, menek kelihatan, sungkem, dan pawintenan Saraswati yang disampaikan oleh Jero Mangku Dody Aryanta dari paguyuban widya swara dan di simpulkan oleh Ida Mpu Yogiswara.(INN.W)

 


Continue Reading
Advertisement

Mangku Bumi

Yayasan Padukuhan Sri Candra Bherawa Lakukan Pelayanan bagi Umat Hindu Tengger

Published

on

GATRADEWATA | PROBOLINGGO |  Upacara rsi gana, mendem pedagingan, mlaspas dan ngaturang pujawali berhasil terselenggara dengan baik dan lancar di Pura Kahyangan Jagat Mulya Bhakti Titi Luhur. Pura ini berlokasi di Dusun Cerbeksari, Desa Sumberanom, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upacara ngenteg linggih yang dirangkaikan piodalan tersebut digelar bertepatan Tilem Kanem, Sabtu (4/12).

Upacara yadnya ini berhasil digelar umat Hindu Tengger, tak terlepas atas dukungan dari Yayasan Padukuhan Sri Candra Bherawa. Tak hanya pujawali, dalam pelaksanaan upacara kali ini juga digelar upacara matatah serta pawintenan pemangku dan serati. Rangkaian upacara dipuput sadhaka Siwa-Buddha, Ida Pandita Dukuh Celagi Daksa Dharma Kirti dan Ida Bhagawan Viveka Dharma Tarukan, serta Romo Dukun Pandita setempat.

Pelaksanaan upacara ini berkaitan dengan telah selesainya penataan pelinggih (bangunan suci) di pura tersebut. Umat Hindu Tenggar pun sangat antusias menyambut upacara ini. Mereka bersyukur atas rampungnya pembangunan pura dan telah terlaksananya upacara rsi gana dan pujawali di Pura Mulya Bhakti Titi Luhur.

Pura Kahyangan Jagat Mulya Bhakti Titi Luhur merupakan salah satu pura penting yang menjadi pusat peribadatan umat Hindu Tengger. Saat ini pura ini diempon 393 KK umat Hindu di kawasan Tengger. Pura ini sebenarnya telah lama berdiri. Kini, kahyangan ini semakin lengkap setelah berdirinya Gedong Candi Kabuyutan, Arca Roro Anteng dan Joko Seger, Arca Rsi Dadap Putih, dan Arca Hyang Ismoyo.

Ketua Yayasan Padukuhan Sri Candra Bherawa, Jero Mangku Ketut Suryadi, menyampaikan, terselenggaranya upacara ini berawal dari keinginan pengempon pura. Salah seorang pemuka agama setempat, Mangku Sujarwo, menyampaikan keinginan umat Hindu setempat untuk memperbaiki kahyangan yang telah ada. Tujuannya untuk meningkatkan srada dan bakti umat dalam menjalankan agama Hindu dengan tetap mengedepankan local genius atau tradisi setempat.

“Kami dari Yayasan pun menyambut baik atas keinginan masyarakat Hindu Tengger itu. Setelah diskusi yang intens Ida Pandita Dukuh Celagi selaku pembina Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa dengan pengempon pura, akhirnya disepakati untuk melengkapi pura dengan beberapa pelinggih. Selanjutnya digelarlah upacara ini,” tutur Jero Mangku Suryadi.

Pembangunan Gedong Candi Kabuyutan dimaksudkan untuk memiliki fungsi seperti halnya pelinggih Kemulan bagi umat Hindu Bali. Jadi, bangunan suci ini berfungsi sebagai tempat menstanakan roh suci leluhur setelah upacara entas-entas (ngaben). “Tetap mengedepankan local genius. Kami hanya melengkapi berdasarkan sastra kegiatan upacara yadnya tersebut. Konsepnya tidak mem-Bali-kan Jawa,” ucapnya.

Terkait Arca Roro Anteng dan Joko Seger, Jero Mangku Suryadi mengungkapkan, kedua arca ini sebagai simbol leluhur (purusa dan pradana) masyarakat suku Tengger. Demikian pula Rsi Dadap Putih dipercaya sebagai leluhur umat Hindu Tengger. Kemudian, Arca Ismoyo sebagai bentuk penghormatan kepada Hyang Ismoyo yang dalam mitologi Jawa dipercaya sebagai penjaga tanah Jawa.

Jero Mangku Ketut Suryadi mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Hindu Tengger, khususnya pengempon Pura Mulya Bhakti Titi Luhur. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pengurus PHDI Jatim, Dirjen Bimas Hindu (Direktur Keagamaan) dan Pembimas Hindu Jatim, Peradah, Prajaniti, serta PSN Jatim yang hadir dalam upacara tersebut. “Semoga pelayanan kami memberi manfaat bagi saudara Hindu Tengger,” tutupnya. (Rk)

Continue Reading

Daerah

Jangan Sampai Jadi Pemangku Tanggung, Ikuti Kursus Kepemangkuan Disini!

Published

on

GatraDewata ⌊Denpasar⌋ Pasraman Ghanta Yoga membuka kursus Kepemangkuan dibawah naungan Yayasan Taman Bukit Pengajaran. Pendaftaran sudah mulai dibuka sejak awal minggu ini dan akan ditutup pada tanggal 28 November 2020.

Pelatihan kepemangkuan ini akan digelar pada tanggal 29 November 2020, dimulai dengan proses mewinten. Pelatihan kepemangkuan ini berlangsung selama 3 bulan dengan total 24 kali pertemuan. Seluruh pelatihan akan dilakukan di Pasraman Ghanta Yoga yang beralamat di Gang Ulun Carik V Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Adapun materi yang akan diberikan dalam kursus kepemangkuan dasar ini, meliputi :

  • Sesana/swadarmaning pemangku; sesi ini akan terfokus untuk melatih peserta tata cara pemangku nganteb
  • Wariga; pengenalan pencarian hari baik
  • Tatwa
  • Upacara/Upakara; pemaparan upacara mulai dari manusa, dewa hingga butha yadnya
  • Dasar Kosala Kosali
  • Gegelaran pemangku; materi lanjutan dari swadarmaning pemangku


Kursus pelatihan kepemangkuan ini dibuka untuk seluruh lapisan masyarakat yang sedang aktif maupun pemula dibidnag kepemangkuan. “Siapa saja boleh ikut; baik pemangku aktif maupun calon atau orang-orang yang ingin jadi pemangku” terang Ketua Pesraman Ghanta Yoga.

Donasi untuk kursus kepemangkuan ditetapkan sebesar 800 ribu/orang untuk seluruh sesi, yang berdurasi antara 1.5 hingga 2 jam per sesinya. Sebagai bonus, peserta akan diberikan pelatihan tambahan yaitu Yoga Asuci Laksana guna meningkatkan kesucian diri dan kerahayuan.  Peserta juga akan diberikan panduan materi untuk kemudian dibawa pulang, serta sertifikat bagi yang berhasil menuntaskan seluruh sesi.

Untuk keterangan lebih lanjut pembaca GatraDewata bisa menghubungi bagian administrasi di nomor 08993182858.<swn>

Continue Reading

Mangku Bumi

“NRIMO”

Published

on

By

GATRA DEWATA | Nrimo, bekerja tanpa mengharap hasil,bukan berarti tanpa hasil, pelayaan hidup diatas Rasa-Bhakti akan membangkitkan kekuatan tubuh membantu kemudahan pekerjaan hidup, keterjagaan adalah pengamat dan penggerak, kekuatan dan ghaib berada pada domain tubuh

Menjadi-Diri seutuhnya yang Sadar akan Kesejatian-Diri, Terjaga sebagai pengamat
sekaligus tuan penggerak kehidupan dengan Rasa Bhakti, sehingga, mau tidak mau segenap kekuatan badan tunduk membantu, sebab hidup adalah tentang pemeliharaan tubuh

Pemeliharaan dengan cara BENAR menghasilkan “Keseimbangan”, pencapaian keseimbangan-Hidup inilah yang disebut Pemilik Kesempurnaan, jika belum, maka Kesempurnaan tersebut masih sebatas bayangan, sama seperti menghayal tentang keberadaan Tuhan yang belum MENJADI, ibarat Sang-Maha-Hidup hanya Eksistensi Hidup Tanpa-Rupa Tanpa-Wujud tanpa Keterjagaan Atas Hidup’NYA

Nrimo,
menyederhanakan wajah keterjagaan sebagai sang pemilik kesadaran hidup itu saja, selanjutnya seluruh kekuatan atas pelihara cipta lebur adalah milik tubuh, yang berarti cipta pelihara lebur adalah sifat pembungkus hidup sang hidup, sehingga bukan lagi hasil yang “Utama” namun upaya penyelarasan Diri terhadap sifat Cipta Pelihara Lebur pembungkus hidup’Nya

Hidup tentang keterjagaan ini, saat ini, bukan di depan bukan di belakang, tetapi saat ini atas keterjagaan yang didapati, sekalipun ada yang mengaku kenal “Tuhan” Sang-Pencipta Alam-Semesta, apa pentingnya, membohongi diri mengenal Tuhan Sang Maha Hidup tetapi tidak mengenali kesejatian-diri adalah Sang-Hidup yang terjaga atas ke’Diri’an hidup’NYA

Hanya “merasa” TAU akan tetapi tidak pernah menjadi saksi hidup kejadian Awal Penciptaan, itu sebentuk kebohongan yang menyesatkan dari orang-orang yang disesatkan ketidaktauanya sendiri, penyaksian hanya ada saat keterjagaan ada, yang terjaga inilah yang berandai-andai

Adalah baik baik bagi individu berkeyakinan, tetap bisa meyakini sekalipun tidak menyaksikan apa yang diyakininya, namun keyakinan seperti itu bersifat Pribadi, menjadi Tidak-Baik ketika Keyakinan Individual dipaksak menjadi kebenaran umum, sebab kebenaran adalah “Kehendak Bebas”

Keterjagaan tidak lain eksistensi penyaksi keberadaan hidup’Nya sendiri atas kesadaran hidup yang dilayani, dan wajah keterjagaan idealnya di depan atau tampak depan bukan di belakang atau tampak belakang, halnya Sang Maha Hidup yang “tiada-wujud” mencapai wujud dan kehancuran wujud’Nya, begitulah KEPASTIAN WAJAH gerak-hidup mengarah depan bukan belakang, mungkin itu pula alasan Tuhan menempatkan wajah di depan bukan di belakang

Penggalian Kesejatian-Diri belakangan menjadi kata wajib spiritualitas, itu semata laku pikiran, bagi yang berasumsi Kesejatian-Diri sebuah pencarian, berputar-putar dalam kebingungan tanpa ujung-pangkal, menggali atau mencari “kesejatian-diri” yang tidak pernah kemanapun

Yang tidak pernah kemana-mana ITU tidak perlu di cari atau di gali, IA ada berselimut kegelapan, keberadaan Diri yang sedang bingung dikuasai lupa-maya-ghaib- kepalsuan, palsu sebab hanya bayangan, kegelapan ini tidak hancur, kegelapan hanya larut kedalam cahaya, itu sebab dikatakan hanya Pengetahuan yang dapat melebur penderitaan, membuat kegelapan bersinar dengan Cahaya Kesadaran, astra/astro, bintang yang bercahaya

Para pemula cenderung terbius ambisi prasangka menganggap kesejatian tentang kemampuan menjelajah alam ghaib,astral, bukan upaya menjadi manusia paripurna atas pelayanan hidup, hanya menghabiskan waktu bermain-main, kenikmatan kebanggan semu mencapai keremangan astral, seumpama bintang menunggu kematian bukan sebagai bintang bersinar

Kekuatan cipta-pelihara lebur yang bersifat ghaib adalah milik badan, keterjagaan sendiri hanya wajah sang hidup yang sama dengan yang menghidupi keGhaiban badan, Kebodohan yang menyelimuti Sang Tuan Hidup menjerumuskan kehidupan ke jurang kegelapan menjadi Budak-Maya/materialistis,menjadi pengejar dan penyembah materi maupun GHAIB materi

Yang berkeinginan tau tentang kesejatian diri idealnya memulainya dengan penyadaran Diri bukan materi, Diri dimunculkan oleh keberadaan materi penterjemah keterjagaan hidup, kemudian menerima pelayanan atas pemeliharaan pembungkus hidup’nya

Keterjagaan hanya melayani pemeliharaan hidupnya, tubuh dan segenap kekuatan cipta pelihara lebur maya/ghaib nyalah penyedia segala keperluan yang dibutuhkan untuk peliharaan dirinya, keterjagaan hanya berkehendak yang terrbaik

Jika kekuatan cipta pelihara lebur yang merupakan perangkat tubuh itu tidak atau belum memenuhinya, layani saja, keadaan itulah yang menurut’NYA (NYA keduanya karena ketidak selarasan) keadaan terrbaik diterima atas hidup atas pemeliharaan badanya saat itu, demikian jika dipenuhi, tidak perlu disombongkan karena hanya sebuah bentuk pemenuhan yang di dasari atas upaya penyeimbangan spirit materi

Pemenuhan atas keseimbangan spirit materi bukan hanya berbentuk kekayaan semata, walaupun upaya mencapai puncak kemuliaan hidup Pasti MENJADI SUMBER KEKUATAN PEWUJUD kemakmuran kehidupan, halnya yang tiada-wujud mewujud menjadi segalanya, akan tetapi ketahui dan sadarilah bahwa kebangkitan diawali oleh kehancuran

Itulah sebabnya NRIMO, agar kelebihan ambisi tidak menjerumuskan diri terseret pusaran Cakra Mangilingan menjadi perwakilan pengacau/penghancur dalam proses kebangkitan, hanya karena berambisi mempercepat, apa yang mau dipercepat karena semua mewujud atas dasar Kebijaksanaan kekuatan adaptasi, bukan oleh ego bukan pula oleh ambisi, tetapi NRIMO, Mengisi Ruang atas dasar Kebijaksanaan Menjadi

Sekalipun memilih menjadi kaum pemercepat penghancuran/pelaku perang tidak terlalu buruk, atau mewakili kegelapan sebagai aktor pelaku pemaksaan bangkitnya cahaya kebenaran, akan tetapi itu bukan yang terrbaik,
sekalipun itu Laku Mulia, namun Bukan Kemuliaan Di Atas Keluhuran Prilaku, akan tetapi atas ketidak berdayaan oleh desakan Ambisi-Ego

Demikian ketika manusia menyembah Kemuliaan Tuhan sebagai simbolisasi dari “Leluhur Seluruh Kehidupan”, menyembahlah kepada Kemuliaan-Luhur, baik atas keluhuran-pikiran Tuhan, keluhuran-ucap Tuhan, keluhuran-laku Tuhan, Trikaya Parisudha : Ucap
-Laku-Pikiran Selaras pada Kemuliaan Tuhan yang Luhur, sehingga apapun Ucap Laku Pikiran Penyembah mewakili Ucap-Laku-Pikiran Tuhan yang di sembah

Jika nama lain Tuhan adalah Sang Maha Hidup, maka Keterjagaan yang mewakili wajah-hidupnya tak lain Wajah Tuhan

Atlantia Ra

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam