Connect with us

Daerah

MENJAGA TRADISI DALAM BERKESENIAN YAYASAN JAYA SWARA PURA DALEM ULUNSUAN DIRESMIKAN

Published

on


Gatra Dewata | Denpasar | Pelestarian sebuah tradisi  adalah  upaya  pelindungan,  pengenalan, pengembangan,  dan pemanfaatan  suatu kebiasaan dari kelompok  masyarakat  pendukung kebudayaan yang berguna untuk kelangsungan hidup suatu kelompok sosial masyarakat untuk mencapai kesejahteraan sesuai ajaran catur purusa artha, yaitu Dharma, Artha, Kama, Moksana sarira sadhanam.

Dharma yang berarti berbudi pekerti luhur, Artha yang berarti Kekayaan yang diberdayagunakan untuk kebaikan, Kama yang berarti keinginan manusia sesuai dengan kebenaran dan kebijaksanaan, Moksa yang berarti kebebasan atau kebahagiaan abadi. Itu bisa terjadi bila ketiga yang diatas, Dharma, Artha, Kama sudah terlaksana dan berjalan dengan baik.

Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan yang berdiri di Jalan Imam Bonjol Gang Ulunsuan, Banjar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat diresmikan Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, SH, Pada hari Minggu (02/02).

Yang akan bertanggung jawab kedepan adalah Ketua Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan A.A. Putra Juni Adi, ST, yayasan yang didirikannya ini juga sudah mengantongi izin dari Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: AHU-0010503.AH.01.04.Tahun 2019.

“Tujuan kami membentuk Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan adalah untuk tetap bisa menjaga tradisi dalam berkesenian. Bahkan untuk bisa menopang kegiatan-kegiatan yang ada di Pura Dalem Ulunsuan dengan terus bisa mengadakan pelatihan untuk kepemangkuan dan mengadakan serati banten,” ujar Beliau kepada kami.

Dengan diresmikannya Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan bahwa kedepannya akan mampu lebih meningkatkan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan yadnya (pelayanan) kedepannya.

“Berawal dengan kegiatan di sanggar tari, peresmian yayasan juga bertepatan dengan peresmian sanggar tari Seraya Taksu. Dimana semuanya ini tidak terlepas dari pengembangan seni dan budaya,” ucap Putra Adi.

Agung Putra Adi Menjelaskan bahwa melalui sanggar tari akan mampu mengajak generasi muda berkesenian, khususnya tari, tabuh, kawitan dan mekidung.

“Memang kita Sadari betul bahwa berbagai kegiatan memerlukan biaya. Untuk biaya awal pelaksanaan kegiatan kami sudah ada dana kas awal, namun tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan pemerintah daerah Bali maupun swasta untuk dukungan pendanaannya,” terangnya.

Kepala bidang (Kabid) Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dwi wahyuning kristiansanti terlihat ikut hadir meresmikan Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan,

“Dalam memperjuangkan sesuatu petunjuk dari pak Walikota adalah kita harus mampu kere tetapi aktif, yang artinya kita harus mampu bergerak aktif walau dalam keterbatasan, baik dana maupun prasarana yang terbatas”, terangnya.

Keagamaan tidak termasuk dalam pembinaan kami di Dinas bidang kesenian Kebudayaan Kota Denpasar tetapi, kebudayaan juga tidak bisa terlepas dari sisi Keagamaan kita di Bali

“Pertanyaan mengenai soal keagamaan mungkin bisa ditanyakan ke pada PHDI”, ujar kabid kesenian yang akrab dipanggil wiwid ini.

Pengempon Anak Agung Bagus Wirata, dan mangku

Anak Agung Bagus Wirata seorang pengempon Pura Dalem Ulunsuan bercerita tentang sejarah, sebagai pemangku pura beliau juga dipercaya sebagai pembina yayasan.

Beliau pertama merehab pura ini ditahun di tahun1950, pengempon pura ada 40 kk (kepala keluarga) tapi yg bertanggungjawab adalah 3 Kk (kepala keluarga) diupacarai setiap 6 bulan sekali.

“Untuk memperlancar itu semua saya bersusah payah dari dulu, karena tidak cukup hanya biaya saja juga dengan tenaga”, beber Beliau.

Modal awal yayasan diambil dari dana kepemangkuan sebesar 50 juta sebagai dana awal yayasan. Kegiatan yang mesti digulirkan untuk pertama kalinya,

“Melatih harus ada snack, minimal ada uang lima juta untuk pertama kali, dan kedepan mungkin kita akan meminta bantuan kepada orang tuanya dan kedepan meminta bantuan kepada pemerintah agar kedepan tidak membebani yayasan dan orangtua”, terang beliau.

Dalam pura yang di empon itu terdapat pelinggih Dalem Mekah, Dalem cina, Dalem solo, dalem keluhuran majapahit, dan ada beberapa pelinggih lagi. (Ray)


Daerah

DUNIA MAYA HEBOH, JRO DALEM SAMUDRA DAPAT PAWISIK PASANG PATUNG 

Published

on

GATRA DEWATA | BADUNG | Di kutip dari Balipost.com, Viralnya patung Nyi Roro Kidul di area Pantai Waterblow, Kawasan ITDC, Kuta Selatan (Kutsel), di media sosial baru-baru ini, diakui Made Tutik alias Jro Dalem Samudra (45). Bahwa dirinyalah yang memasang patung tersebut, setelah mendatangi Polsek Kutsel, Selasa (26/5).

Di hadapan Kapolsek Kutsel AKP Yusak Agustinus Sooai dan Chief Security ITDC, Tutik meminta maaf dan menjelaskan kronologis pemasangan patung tersebut, “Saya mengakui bahwa yang memasang patung tersebut adalah saya,” sesalnya.

Bersama calon suaminya I ketut Wd, hari sabtu (09/05) pukul 17.00 Wita, memasang patung Nyi Roro Kidul di area pantai waterblow karena pantai tersebut berdekatan dengan laut Selatan, “Jujur saya sangat menyesal karena perbuatan tersebut menjadi viral di masyarakat dengan banyaknya pendapat yang berbeda-beda. Yang memposting di You Tube itu bukan saya, tetapi Ketut Wd,” ceritanya.

Kapolsek menasehati Tutik agar tidak mempercayai hal-hal yang aneh-aneh, cukup percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari penjelasan itu pula diharapkan masyarakat tidak melakukan kegiatan yang tidak wajar, menganggap angker dan menjadi tempat pemujaan di kawasan areal wisata tersebut.

Bongkaran patung tersebut langsung dibuang ke laut, dia mengakui bahwa dirinya memasang patung itu disebabkan oleh pawisik yang dia dapatkan saat meditasi dinpelinggih Rong Telu miliknya (06/05). Yang dia dengar dari pawisik itu adalah dia harus ngiring (mengabdi) dan juga memasang patung Nyi Roro Kidul di Pantai Waterblow. (Red)

Continue Reading

Daerah

MENGEMBALIKAN KESEIMBANGAN ALAM DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Published

on

Pelaksanaan Upacara Yadnya Bayuh Bumi pada Jumat (22/5)di areal tempat Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kota Denpasar.

GATRA DEWATA | DENPASAR | Yayasan Pasraman Bhuwana Dharma Shanti Sesetan menyelenggarakan Upacara Yadnya BAYUH BUMI bertepatan dengan Tilem Jyestha, Jumat (22/5), bertempat di areal hutan mangrove dan tempat Pemelisan Desa Adat Sesetan, Kota Denpasar. Dengan upacara ini diharapkan akan memulihkan kembali keseimbangan alam dari Wabah Covid-19 yang melanda dunia saat ini.

Di dalam rangkaian pelaksanaan upacara ini juga dilakukan pelepas liaran lebih kurang 900 burung berbagai jenis seperti burung kukur, titiran, prit, bondol, cerucuk, petingan, dan burung kecil lainnya, serta binatang lain berupa puluhan jangkrik. Upacara pecaruan ini dipuput oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, yang juga sebagai pendiri dan pembina Yayasan Pasraman Bhuwana Dharma Shanti. Ida Rsi menguraikan, upacara ini menggunakan sarana caru Panca Korsika, panca datu (penanaman serpihan mas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah) lengkap dengan menyuarakan Panca Genta.

“Upacara ini bertujuan untuk menyeimbangkan alam, dengan cara memerdekakan roh, harapan agar kasus pandemi Corona yang melanda dunia berangsur-angsur punah. Upacara ini mengacu pada isi Lontar Widhi Sastra Roga Sangara Bumi yang berbunyi,….. Ri tatkalaning ganti kaliyuga bumi, Dewa matilar ing madya-loka, mantuk ring swarga Mahameru, ginantyaning dening bumi sabumi, sami wwang kasurupan butha…… yang bisa diartikan, Ketika pergantian bumi kaliyuga, para Dewa meninggalkan buminya manusia, pulang ke sorga yang tertinggi, digantikan oleh bumi dalam keadaan yang tidak seimbang, manusia di bumi semua dirasuki bhuta,”tutur Ida Rsi.

Dan menyambung dengan tutur lainnya yaitu,”Karena kenyataannya bahwa kehidupan dunia ini tidak seimbang, dimana manusia penuh sesak, bangunan, pabrik-pabrik, polusi memenuhi bumi, binatang-binatang makin punah karena diburu, dikurung, dan tempat hidupnya makin habis. Keseimbangan alam terganggu, inilah yang menimbulkan bencana,” papar sulinggih yang juga dosen Unhi ini.

Menurut Ida Rsi, dalam ajaran Hindu, Tuhan dengan hukum Rta (sirkulasi alam) tidak bisa dihentikan, tetapi dapat diminimalisasi dengan cara menyeimbangkan alam ini, yaitu dengan membersihkan polusi pada alam, membiarkan binatang-binatang, burung-burung, serta makhluk ciptaan Tuhan hidup bebas di alam. “Merdekakanlah roh-roh mereka, jangan dikurung, jangan dibunuh semena-mena hanya untuk mainan dan hobi. Apabila kita bisa memerdekakan segala roh niscaya keseimbangan dunia, kesejahteraan hidup pasti tercapai, maka diharapkan kepada masyarakat untuk bisa ikut melepaskan binatang atau burung ke alam bebas sehingga tidak terjadi kepunahan, maka dengan demikian keseimbangan kehidupan dunia lama-lama makin pulih,” tutupnya.

Kegiatan upacara yang diadakan ini hanya dihadiri oleh sekitar 20 orang, dengan menaati protokol kesehatan seperti pengaturan jarak duduk, penggunaan masker, dan lainnya. Perlu diketahui, upacara pecaruan dan pelepasan burung/binatang sedianya dilakukan di Kebun Raya Gianyar di kawasan Payangan. Namun sayang, secara mendadak upacara pecaruan tidak diperkenankan di hutan tersebut, walaupun sudah mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar. Atas bantuan Desa Adat Sesetan, upacara ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Sekretaris Sabha Desa Adat Sesetan, I Ketut Arya Suharja, didampingi prajuru adat I Made Sudarta yang mewakili Bendesa Adat Sesetan, menyampaikan, pelaksanaan upacara ini mengambil tempat di Sesetan, namun sesungguhnya diperuntukkan bagi seluruh alam Bali dan seluruh bumi beserta isinya. Upacara Yadnya Bayuh Bumi yang dilaksanakan, baik fungsi simbolik maupun fungsi nyatanya, adalah memulihkan keseimbangan alam. “Mudah-mudahan ini menjadi inspirasi kita semua untuk bersama-sama memulihkan keseimbangan alam sehingga kehidupan selamat,” ucapnya seraya berharap dengan upacara ini pandemi Covid-19 segera berakhir. (Ray)

Continue Reading

Daerah

PRATIMA DI PURA TAMAN LIMUT HILANG

Published

on

GATRA DEWATA | UBUD | Pratima di Pura Taman Limut, pengosekan Ubud ada dugaan digondol maling, Pratima yang berupa ketu/Siwa Krana atau sebuah penutup kepala yang disucikan dan dihormati di Pura Taman Limut, Banjar Pengosekan Kelod, Desa Mas, Kecamatan Ubud.

Kehilangan Ketu yang merupakan benda suci itu, kerugian sementara ditaksir 25 juta Rupiah , Rabu (06/05) jam 07.30 Wita. Kondisi saat ini aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan yang dipimpin oleh kapolsek Ubud, AKP Gede Sudyatmaja, beliau juga membenarkan kejadian ini berdasarkan laporan dari pengempon Pura.

Kasus ini berawal dari seorang krama (I Wayan Sumarayasa) yang hendak melakukan bersih-bersih di kawasan Pura, Rabu (06/05) jam 07.30 Wita.
“Saat dia berada di areal pura, untuk bersih-bersih, yang bersangkutan melihat pintu gedong atau bangunan penyimpanan pratima dalam keadaan terbuka,” ujar Kapolsek Ubud.

Melihat sesuatu yang gak beres lalu pak wayan itu memberitahukan Jro Mangku Made Karya yang sudah lebih awal ada di Pura. “Tetapi jro mangku mengatakan tidak mengetahui kenapa gedong itu terbuka, karena saat tiba di pura, yang bersangkutan langsung menyiapkan sarana upakara yang rutin dilakukan setiap hari,”cerita Gede Sudyatmaja.

Jro Mangku yang mendapat berita itu bergegas ke arah gedong penyimpanan, tetapi tidak berani mendekat dan melihat hanya dari kejauhan. Dengan kejadian itu mereka memanggil Kelian Banjar Pengosekan Kelod, I Made Sumarta. “Lalu dugaan pencurian tersebut dilaporkan pada kami. Saat ini kami tengah melakukan penyelidikan terkait laporan ini, Tidak ada emas yang hilang, tetapi sebuah ketu, pihak pura dikatakan mengalami kerugian sebesar 25 juta Rupiah,” tutupnya. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam