Connect with us

Daerah

Mantap Jaya! Daerah Lain Musti Contoh Cara ‘Cerdas’ Pengembangan Pariwisata Bugbug

Published

on


Bukit Asah Bali Camp, desa Bugbug, Karangasem

GatraDewata[Karangasem] Penyegaran tim di Badan Pengembang Pariwisata Desa Adat Bugbug (BP2DAB) Karangasem, Bali, pada akhir tahun 2020, dibawah kepemimpian Putu Jenana Sukandarista, melahirkan pembenahan di berbagai aspek. Cerdasnya lagi beliau tidak sendirian ‘ngayah’ demi kemajuan daerahnya. Ia menempatkan I Putu Arya Wari Gunawan sebagai Manajer Operasional Bukit Asah Bali Camp.  Kemudian para tokoh desa (prajuru desa) yang dianggap mumpuni dirangkul untuk menangani bidang – bidang strategis sesuai keahlian masing – masing. Ia bahkan melibatkan tokoh senior, Kade Lasiadi, yang cukup disegani didunia perhotelan.

Jajaran mereka ini mengganggap bahwa aktifitas merupakan therapy tersendiri bagi pengunjung. Mereka bisa lebih terhibur, menjadi lebih senang dan lepas dari runtinitas untuk sesaat,  serta kembali ke rumah membawa pengalaman baru. Oleh karena itu, sekedar berkemah tidak lagi cukup. Pemikiran inilah yang melahirkan beberapa aktifitas baru sebagai penunjang kegiatan berkemah di Bukit Asah Bali Camp.

Kade Lasiadi (berpakaian adat), Putu Jenana (kaos hitam) dan Putu Arya (kaos putih)

Tidak bisa dipungkiri jika sejak awal Bukit Asah Bali Camp mampu membuat pengunjung terpana akan keindahan alamnya. Tempat ini dikenal dengan pesona matahari terbitnya (sunrise)  yang mampu membuat pemalas sekalipun bangun pagi untuk tidak ketinggalan sebuah momen berharga. Ada juga pemandangan laut dengan Pulau Pausnya yang pada waktu tertentu menyemburkan air layaknya paus sungguhan. Tapi hal ini tidak lantas membuat tim berpuas diri. Pikiran mereka terus berkelana menjajaki sektor lain yang masih bisa dimaksimalkan.

Hebatnya, tidak butuh waktu lama akhirnya tercetuslah lima aktifitas yang patut dicoba ketika berkunjung ke Karangasem, khususnya daerah Bugbug. Bagi pecinta alam bisa mecoba rute lintas alam (trekking) melewati hutan tropis; yang doyan bermain air bisa pertimbangkan Sunset Boat Trip atau Fishing Trip; yang lagi kasmaran dan ingin melangkah ke jenjang berikutnya bisa melakukan sesi foto pre-wedding di beberapa titik yang sangat instagramable; atau sesekali menjadi turis kuliner bersama teman kongkow, dengan mencoba makanan mereka dalam formasi megibung (makan rame – rame a la Bali) dan yang terakhir untuk kebutuhan korporasi yang butuh penyegaran setelah lelah dengan Zoom Meeting melalui kegiatan Team Building.

Gelagat dan tekad mereka menunjukkan bahwa jajaran BP2DAB akan terus ngayah (berkarya) untuk sebuah legacy bagi masyarakatnya.[SWN]


Komang Swesen is a hotelier who has been in the field for more than two decades now. He loves writing that he already published 2 books about Butler and now active as an official journalist for Gatra Dewata Group.

Daerah

Seberapa Siapkah Ubud Menyambut Bali-Open-Border?

Published

on

Flyer deklarasi Bali Open Border

GatraDewata[Gianyar] Sampai detik ini, 16/06/2021, keputusan pemerintah untuk membuka kembali border internasional pada Juli mendatang masih berlaku. Belum ada pembatalan ataupun konfirmasi ulang terhadap keputusan tersebut.

Ubud sebagai salah satu destinasi wisata yang turut mendapatkan gelar green zone, sudah sangat siap menghadapi serbuan wisatawan mancanegara. Hal ini terlihat dari besarnya tingkat kesadaran manajemen untuk mengikuti protokol kesehatan yang dikemas dalam paket sertifikasi CHSE.

Salah satu indikasinya yaitu jumlah unit penginapan yang tergabung di Ubud Hotel Association (UHA) hampir semuanya sudah mengantongi sertifikat CHSE.  “Dari total lebih dari seratus anggota, 99% sudah CHSE,” ungkap salah satu anggota komite UHA yang juga General Manager Purana Suites Ubud, Ketut Warasana.

Kika: Ketut Warasana, Eka Ariawan dan Santi Pratiwi

Adiwana group lebih cetar lagi. Pihaknya tegas jika semua propertinya sudah mengantongi sertifikat sakti tersebut. “Seluruh properti yang kami kelola sudah bersertifikat CHSE,” ungkap Eka Ariawan selaku DOSM Adiwana Group.

Ada juga Bu Santi, salah satu petinggi Dwaraloka Authentic, yang tidak mau ketinggalan. Dari total 12 unit bisnis yang dikelolanya, hanya beberapa unit kecil yang belum disertifikasi. “Ada beberapa yang belum memiliki sertifikat CHSE, namun seluruh esensi CHSE sudah mereka terapkan di lapangan,” cetusnya penuh keyakinan, jika everything is gonna be alright.

Ketaatan mereka seolah tidak memberikan celah bagi dinas terkait untuk tidak membuka border bagi turis mancanegara pada Juli mendatang. Apalagi belakangan beredar flyer digital dengan deklarasi elegan nan damai bertuliskan ‘BALI OPEN BORDER.’ Tersisip pula latarbelakang pura Besakih yang maha agung. Deklarasi tersebut didukung penuh oleh puluhan elemen pelaku pariwisata di Bali.

Berkaca dari kesiapan mereka, mungkinkah border akan dibuka sesuai rencana awal?[SWN]

Continue Reading

Daerah

Menguji Militansi Perupa Militan Art

Published

on

GatraDewata[Gianyar] I Wayan Arsana merupakan seorang seniman lukis yang karya – karyanya sangat menakjubkan. Disamping itu beliau juga sensitif dengan isi – isu sosial. Untuk itulah, setelah setahun lebih dunia ini bergelut dengan situasi Covid 19 beliaupun (bersama beberapa rekan sesama seniman) buka suara, yang beliau suarakan lewat sebuah pameran bertajuk IN-Between dan berikut reaksinya secara tertulis:

Bencana global pandemi adalah ujian untuk peradaban bangsa manusia, suatu problem yang dialami, dirasakan, dan menguras energi peradaban. Seluruh modal sosial bahkan spiritual dipertaruhkan guna memitigasi dampak infeksi dari “monster gaib”, Virus Corona, Covid-19, namun kondisi chaos toh tak terhindarkan.

Kegamangan, keraguan, kebenaran, konspirasi, dan kuasa alam ihwal adanya Covid-19 campur aduk dengan ragam reaksi, solidaritas global, bajingan ekonomi, keprihatinan dan nafsu korup; dunia dilanda duka kemanusiaan.

Kebijakan mitigasi bencana sifatnya reaktif, insidensial dan ambigu. Status darurat kesehatan seperti lockdown dan aneka pembatasan sosial, social distancing serta protokol kesehatan ada di antara wacana, budgeting, penerapan maupun pengingkaran yang berbuah kontroversi. Suatu kondisi parallel, sama di seluruh domain sektor kehidupan, tanda instrumen, tools pengetahuan dan keterampilan modernitas tidak lagi memadai, tak aflikabel, bahkan literasi tradisional soal vaksin tidak memungkinkan jadi rujukan akibat desakan kebutuhan yang sifatnya emergensi. Nalar politik sulit dicerna, antara kebijakan politik dan politik kebijakan soal pandemi sulit dipahami.

Kini momok pandemi masih menghantui, bahkan bermutasi menjadi berbagai varian baru, bermutasi pula kontroversi yang ditimbulkan.

Kelumpuhan sosial yang berkepanjangan membuat psikologi sosial menjadi lelah, dorman dan kegamangan yang berada diambang batas. Ketika protokol kesehatan adalah sebuah komoditas, yang tumbuh adalah sikap permisif dan pembangkangan sosial tak terhindarkan.

Abad digital dinamikanya sama, antara memberi manfaat dan memperkeruh keadaan, antara informasi dan ngibul sama sensasinya, perlombaan followers, like, viral yang latah dan stereotip, konten-konten absurd bermunculan tak membutuhkan portofolio, yang ada hanya aturan tak resmi bernama algoritma. Algoritma, sederhananya adalah pertalian data konten dan tujuan. Implikasi maslahat dunia digital pastinya juga layak, abad digital melengkapi tools kehidupan menjadi double application, yang manual dan virtual.

Dalam dimensi spiritual, sebetulnya secara indikatif sudah tersirat dalam wijaksara Bali, “windu” atau bulatan, sebagai unsur penting dalam aksara simbol Ongkara. Windu, “nge-windu” menjadi bulatan, dalam konteks pemaknaan kodifikasi esoteris, sebagai lambang pembauran sistem yang sifatnya random dari elemen-elemen yang berlawanan maupun berpasangan, rwa bhineda, adwaita, dalam satu kehadiran saat ini atau real time. Nge-windu adalah waktu kosmik peradaban. Berbeda dengan arda candra yang menggambarkan sifat modernis peradaban yang mainstream dan linear. Kenormalan baru yang sifatnya menyeluruh adalah tanda fundamental peradaban sedang mengalami perubahan.

Seni rupa sama saja, parallel, art world persenirupaan saat ini menyediakan kemungkinan yang tak terbatas, inilah model baru dari booming dunia visual. Seni rupa telah menjadi domain publik, semua serba mungkin, praktek dan produk seni layersnya banyak, seni komuditas, seni kelas menengah, hingga seni yang kontestatif dan memiliki konten nilai. Semua halal dalam keserbahadiran, yang menentukan adalah konektivitas domain sadar perupa dalam suatu frekuensi kreatif dan kompleksitas layers.

Menjadi bagian dari persoalan yang ada, kelompok perupa militant Art tergugah untuk bereaksi terhadap persoalan yang ada, dengan menggelar pameran bersama bertajuk, “IN-Between”. Frasa IN-Between bermakna ada diantara, sementara penekanan huruf kapital pada penggalan frasa IN dimaksudkan sebagai kunci pemaknaan tematika, IN adalah konten personal para perupa Militant Art. IN-Between dalam kesatuan tematika sebenarnya menggambarkan subjek yang mengalami, menjadi bagian dari situasi kompleks, mengelaborasi persoalan dalam frekuensi kreatif, serta mengejawantahkan dalam kekaryaan.

Perupa Militant Art tentu punya modal kreatif yang cukup, napas panjang berkesenian yang telah diuji oleh waktu, dan yang utama adalah keberanian membuat pilihan mengikrarkan “ jihad kesenian” dengan mengadaptasi kata militan sebagai payung spirit berkelompok. Nilai militan melekat pada sistem sadar kreatif, sikap, proses dan karya, militan artinya hidup dengan suatu nilai, suatu sikap yang makin langka di tengah nyinyir pragmatisme sempit sekarang ini. Militant Art bukanlah kelompok perupa yang mengusung aliran pemikiran tertentu, mereka juga tidak sedang menjebak diri dalam batasan- batasan spesifik pemikiran.

Militansi dalam berkesenian membutuhkan” nyali kreatif”. Aktualisasi spirit militan ditantang mensublimasi soal-soal yang ada, menjadi ungkapan seni yang bernilai dan spesifik. dalam IN-Between, para perupa militan menampilkan keragaman cara pandang, penyikapan, empati, gugatan mental, hingga ajakan moral ihwal bencana global pandemi. Konten masing-masing karya berisikan ungkapan dari kedalaman yang sifatnya personal, ungkapan yang mengandung intensi lebih kuat dalam keragka olah problematik maupun renungan. Ragam bahasa ungkap dan identitas estetik para perupa Militant Art adalah personalisasi dari proses dan peluh kesenian dalam waktu yang panjang.

Nilai utama pameran IN-Between terletak pada kemampuan melampaui segala kelatahan area publik dalam bereaksi terhadap bencana global pandemi, juga melampaui berbagai kelatahan dalam dunia visual, bukankah esensi militan adalah ekstrimitas dalam berproses yang galibnya membuat perbedaan dalam kekaryaan. Hanya karya-karya yang mengandung tendensi “subversi visual” yang memungkinkan mengandung implikasi mental, subversi visual adalah gugatan atau perlawanan dalam bentuk visual. Esensi subversif adalah bentuk pengejawantahan militansi berkesenian, bukan sekedar retorika atau bualan idiologis.

Algoritma tradisional seni rupa, melalui pengindraan secara langsung, karya visual justru menyentuh lebih langsung, menghasilkan efek mental secara langsung pula. Estetika bisa menjadi praktek post intelektual. Dalam kekaryaan semua konten yang mendukung sebetulnya sudah inheren, karya adalah alat bukti utama tempat melekatnya seluruh nilai, selebihnya keseluruhan aspek pendukung adalah alat peraga dalam suatu keutuhan sistem nilai.

IN-Between penekanannya utamanya pada upaya membangun solidaritas mental, menyegarkan kimiawi otak dari mental down syndrome, suatu ajakan untuk move on menuju harapan baru…!!! Para perupa yang tergabung dalam Militant Art antara lain: Diwarupa, I Nyoman Sujana Kenyem, I Ketut Putrayasa, I Ketut Suasana Kabul, Wayan Suastama, Dastra Wayan, I Gede Adi Godel, I made Wiradana, Pande Paramartha, I Gusti Buda, Romi, Agusdangap, Deko, I Made Gunawan, Lekung Sugantika, Anthok, Atmi Kristiadewi, Galung Wiratmaja , Loka suara, Ngurah Paramartha, Ketut Teja Astawa, Duatmika Made ,Dollar Astawa, Putu Bonuz, DJ Pande.[SWN]

Continue Reading

Daerah

Jeg Keren! Desa Bulian Wakili Polres Buleleng Lomba Satkamling Tingkat Polda Bali

Published

on

Kunjungan Polres Buleleng ke Desa Bulian

GatraDewata[Singaraja] Dalam rangka menyambut hari Bhayangkara Polri ke 75 yang jatuh pada tanggal 1 Juli 2021, Polda Bali menyelenggarakan lomba Pos Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling) tingkat Polda yang diikuti satu perwakilan desa yang ada di wilayah jajaran Polda Bali.

Tim Penilai dari Polda Bali mengunjungi Lomba Pos Satkamling, dimana sebagai ketua tim Kompol Drs. Nyoman Geden didampingi Kompol I Nengah Merta, yang disambut langsung Perbekel Bulian AKBP (Purnawirawan) Made Sudirsa, S.H., pada Selasa  (15/6/2021) pagi. Tim penilai melihat langsung pos Satkamling yang dilombakan dan juga dari satuan keamanan lingkungan menampilkan ketrampilan yang dimiliki, mulai dari peragaan baris berbaris, Bela diri Polri, Teknik membawa Tahanan 1 & 2, Drill Borgol Polri,  Drill Tongkat letter T serta penyampaian Sistem Alarm tanda bahaya dengan kentongan,  serta simulasi  pencurian di masa pandemi Covid 19.

Ketua Tim menyampaikan bahwa masalah kamtibmas merupakan masalah kompleks jika tidak dipelihara dengan baik. “Melalui Lomba Pos SatKamling ini diharapkan bisa menumbuhkan serta meningkatkan rasa kesadaran warga masyarakat dalam menjaga keamanan. Selain itu juga supaya dapat menumbuhkan rasa kesadaran warga terkait hukum yang dapat menekan terjadinya gangguan kamtibmas, apalagi dalam situasi pandemi Covid 19,” ucapnya.

Hadir dalam penilaian pos Satkamling tersebut diantaranya Kapolres Buleleng AKBP I Made Sinar Subawa, S.I.K.,M.H., para pejabat Utama Polres Buleleng, Sekda Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa MPd, Anggota DPRD Kabupaten Buleleng dari Fraksi PDIP Wayan Masdana,  S.E., dan Camat Kubutambahan Drs. Made Suyasa,  M.Si.

Perbekel Desa Bulian sangat mengharapkan lomba Pos Satkamling ini dapat dimenangkan dan akan siap tampil di Polda Bali, disampaikan juga bahwa dalam lomba ini banyak pihak yang membantu memberikan support terutama dari Kapolres Buleleng dan pihak lain sehingga lomba ini dapat ditampilkan dengan lebih baik.

“Linmas yang ada di desa Bulian akan tetap dipelihara, dikembangkan serta dimasyaratkan dengan maksud dan tujuan setiap masyarakat bisa menjadi ‘Polmas’ (Polisi Masyarakat), sehingga tertanam pada dirinya untuk selalu memberikan perlindungan, pengamanan dan mengayomi,” cetusnya.

Dilain pihak, Kapolres Buleleng AKBP I Made Sinar Subawa, S.I.K.,M.H., menyampaikan, sangat mendukung penuh kegaitan Pos Satkamling yang diselenggarakan Polda Bali dan memberikan apresiasi kepada masyaraakt Bulian yang telah sangat antusias memberikan dukungan terhadap lomba ini, dengan harapan agar kegiatan ini dinilai dengan menjungjung tinggi obyektifitas serta sportifitasnya.

“Harapan saya semoga lomba Pos Satkamling yang diwakili Desa Bulian dapat mewakili Buleleng serta menjadi juara“, tutupnya.(Mga)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam