Connect with us

Global

Lanal Denpasar Melantik Anggota Saka Bahari Angkatan XVI Tahun 2019 DI Pantai Melasti Segara Pulau Serangan Denpasar

Published

on


GAT4ADEWATA.COM||Denpasar, 25 Februari 2019

Dalam rangka menanamkan rasa cinta tanah air dan menumbuhkan sikap hidup yang berorientasi kebaharian di bawah binaan Potensi Maritim TNI Angkatan Laut, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Denpasar Lantamal V Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko selaku Ketua Mabisaka melantik sedikitnya 57 anggota baru Saka Bahari Angkatan XVI, bertempat di pantai Melasti Segara Pulau Serangan Denpasar, Minggu (24/2/2019).

Adapun kegiatan Saka Bahari sebelum pelaksanaan pelantikan dilaksanakan outbond di Bumi Perkemahan Pulau Serangan dan pantai Melasti Segara Pulau Srangan Denpasar dengan kegiatan pemahaman materi kemaritiman serta kegiatan Binjas dan materi kedisiplinan di Mako Lanal Denpasar.

Pelantikan dilaksanakan dengan Upacara Tradisi Gapura Tongkat dalam rangka Pelantikan Anggota Saka Bahari Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar tahun 2019. Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Danlanal Denpasar selaku Ketua Mabisaka dan Pemimpin Upacara yakni siswa Muhammad Rizki anggota Saka Bahari.

Dalam amanatnya Pembina Upacara mengatakan, “SALAM PRAMUKA”, dan dalam kesempatan kali ini pembina upacara mengucapkan selamat kepada adik-adik yang telah dilantik menjadi anggota Saka Bahari Pangkalan TNI AL Denpasar, Angkatan ke XVI tahun 2019. Disamping itu agar generasi muda kita menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kepribadian yang tangguh, terampil dan berpengetahuan, sehat jasmani serta memiliki kesetiakawanan yang tinggi.

Melalui kegiatan Saka Bahari marilah kita gelorakan kembali semangat perjuangan para pendahulu kita karena perjuangan dimasa sekarang bukan lagi perjuangan melawan penjajah seperti di masa lalu, tetapi perjuangan saat ini adalah bagaimana setiap anak bangsa ikut andil dalam membangun Negara dan Bangsa dengan keahlian yang dimilikinya.

Hadir dalam giat tersebut Dandenpomal Lanal Denpasar, seluruh Perwira Staf Mako Lanal Denpasar, para Pembina Pramuka, Danposal Pulau Serangan, serta para tamu undangan lainnya. (Satyagraha)

 


Global

Kekuasaan, Rasa, dan Spiritual

Published

on

By

Oleh : Ngurah Sigit

Kekuasaan, rasa, dan spiritualitas adalah tiga konsep yang mendalam yang membentuk landasan untuk memahami berbagai aspek kehidupan manusia. Setiap konsep ini memiliki pengaruh uniknya sendiri dalam membentuk individu, hubungan sosial, dan makna eksistensi.

Kekuasaan sering kali dianggap sebagai kemampuan untuk mengontrol, mempengaruhi, atau memerintah. Dalam konteks sosial dan politik, kekuasaan sering terlihat dalam struktur kelembagaan atau hierarki yang mengatur distribusi sumber daya dan pengambilan keputusan. Namun, kekuasaan juga dapat termanifestasi dalam kehidupan pribadi seseorang, seperti dalam hubungan antarindividu atau dalam bentuk kepemimpinan yang mempengaruhi dinamika kelompok.

Rasa, di sisi lain, merujuk pada spektrum emosi dan perasaan yang dialami oleh manusia. Dari kegembiraan hingga kesedihan, rasa memainkan peran sentral dalam bagaimana individu mengalami dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan untuk merasakan dan mengungkapkan emosi bukan hanya mempengaruhi kualitas kehidupan pribadi seseorang tetapi juga membentuk dasar untuk koneksi emosional dengan orang lain.

Spiritualitas, sebagai konsep ketiga, mencakup pencarian makna yang lebih dalam dalam kehidupan. Ini sering terkait dengan keyakinan agama, namun juga mencakup praktik meditasi, refleksi pribadi, dan eksplorasi nilai-nilai yang lebih tinggi dari eksistensi manusia. Spiritualitas memberikan kerangka kerja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup, hubungan dengan yang transenden, dan moralitas.

Ketiga konsep ini sering saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya, kekuasaan politik sering kali terjalin dengan dimensi spiritual dalam konteks nilai-nilai dan legitimasi. Di sisi lain, rasa dan spiritualitas dapat saling memperkaya, di mana perasaan mendalam dan refleksi spiritual dapat memperdalam pemahaman seseorang tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitarnya.

Dalam kehidupan modern yang kompleks, pemahaman tentang kekuasaan, rasa, dan spiritualitas dapat membantu manusia mengatasi tantangan-tantangan eksistensial dan mengembangkan kedewasaan emosional serta kepemimpinan yang lebih bijaksana. Integrasi yang seimbang dari ketiga aspek ini dapat mempromosikan harmoni dalam individu dan masyarakat secara luas, memperkaya kualitas hidup dan hubungan antarmanusia.

Oleh karena itu, menjelajahi dan menghormati dimensi kekuasaan, rasa, dan spiritualitas adalah langkah penting dalam perjalanan pribadi dan kolektif untuk mencapai keselarasan dan pemahaman yang lebih dalam tentang makna hidup dan keberadaan manusia.**

 

Penulis adalah : Sosiolog, Budayawan dan Pemerhati Media.

Continue Reading

Global

Penyerahan Bantuan TJSL PLN untuk Pengembangan Budidaya Tukik di Bali Turtle Conservation Farm

Published

on

By

Tabanan – Kamis (11/7/2024) pukul 10.10 WITA, PLN melaksanakan kegiatan penyerahan Bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa dana sejumlah Rp. 263.000.000,- kepada Bali Turtle Conservation Farm. Lokasi acara bertempat di Br. Kutuh, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung Bali Turtle Conservation Farm dalam mengembangkan budidaya tukik serta menjaga kelestarian penyu dan habitatnya di Kabupaten Tabanan, khususnya di Kecamatan Selemadeg Barat.

Acara ini dihadiri oleh Manager Unit Pelaksana Transmisi Bali, Made Gita Mardika, perwakilan Camat Selbar, Kapolsek Selbar AKP I Nyoman Edi Suwarya, S.H., M.H., Ketua Bali Turtle Conservation Farm I Gede Sastra Kumala Putra, Ketua Pokdarwis Desa Adat Suraberata I Putu Murdana, perwakilan Perbekel Desa Lalanglinggah, dan Kawil Br. Kutuh.

Dalam sambutannya, Kapolsek Selbar AKP I Nyoman Edi Suwarya, S.H., M.H., menyatakan harapannya bahwa dengan adanya bantuan ini, populasi tukik dapat terus berkembang dan ekosistem laut tetap terjaga. “Semoga upaya pelestarian seperti ini dapat terus dilakukan dan menjadi semangat bagi berbagai pihak untuk berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan alam,” ungkap Kapolsek.

Ketua Bali Turtle Conservation Farm, I Gede Sastra Kumala Putra, juga memberikan komentarnya, “Bantuan ini sangat berarti bagi kami dalam upaya melestarikan penyu di wilayah ini. Kami berkomitmen untuk menggunakan dana ini sebaik mungkin untuk pengembangan budidaya tukik dan edukasi masyarakat,”

Made Gita Mardika, Manager Unit Pelaksana Transmisi Bali, menambahkan, “PLN berkomitmen untuk mendukung program-program lingkungan yang berkelanjutan. Kami berharap kontribusi ini dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,”

Continue Reading

Global

Hukum Spiritual untuk Keadilan

Published

on

By

Ide Bagus Yogi Iswara.S.S. SH

Oleh: Ide Bagus Yogi Iswara.S.S. SH

DENPASAR – Keadilan adalah konsep universal yang mencerminkan kesetaraan, keseimbangan, dan kebenaran dalam hubungan sosial dan individu. Di dunia yang sering kali didominasi oleh hukum-hukum tertulis dan aturan legal, hukum spiritual memainkan peran penting dalam menyeimbangkan aspek-aspek moral dan etis dari keadilan. Hukum spiritual adalah prinsip-prinsip yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai luhur yang melampaui batasan fisik dan material. Artikel ini akan membahas beberapa hukum spiritual yang berkontribusi terhadap pencapaian keadilan sejati.

Salah satu hukum spiritual yang mendasar adalah hukum karma, yang berasal dari tradisi Hindu dan Buddha. Hukum karma mengajarkan bahwa setiap tindakan akan menghasilkan konsekuensi yang setara: tindakan baik akan membawa hasil yang baik, sementara tindakan buruk akan menghasilkan dampak negatif. Dalam konteks keadilan, hukum karma mengingatkan kita untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatan. Dengan memahami bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan kembali kepada kita, kita terdorong untuk bertindak dengan adil dan penuh kasih sayang.

Hukum ketertarikan juga memainkan peran penting dalam mencapai keadilan. Hukum ini menyatakan bahwa energi yang kita pancarkan akan menarik energi serupa dari alam semesta. Pikiran dan perasaan kita memiliki kekuatan untuk membentuk realitas kita. Dalam mencapai keadilan, hukum ini mengajak kita untuk memancarkan energi positif dan niat baik. Ketika kita berpikir dan bertindak dengan keadilan dalam hati, kita menarik situasi dan hubungan yang adil ke dalam hidup kita. Hukum ini mengajarkan bahwa keadilan dimulai dari dalam diri kita sendiri.

Keseimbangan adalah kunci dalam mencapai harmoni dan keadilan. Hukum keseimbangan mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di alam semesta harus seimbang untuk mencapai stabilitas. Dalam konteks keadilan, ini berarti memberikan setiap individu hak dan kewajiban yang setara. Keseimbangan antara hak dan tanggung jawab, antara memberi dan menerima, adalah fondasi bagi keadilan yang langgeng. Melalui keseimbangan, kita dapat menciptakan masyarakat yang adil dan harmonis.

Kasih sayang adalah inti dari semua ajaran spiritual. Hukum kasih sayang mengajarkan kita untuk memperlakukan sesama dengan cinta dan empati. Dalam konteks keadilan, ini berarti melihat melampaui kesalahan dan kelemahan orang lain, dan berusaha memahami mereka dengan hati yang terbuka. Kasih sayang membantu menghilangkan prasangka dan konflik, serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian. Keadilan yang didasarkan pada kasih sayang adalah keadilan yang tidak hanya adil secara hukum, tetapi juga penuh kemanusiaan.

Hukum persatuan mengakui bahwa semua makhluk hidup saling terhubung dalam jaring kehidupan yang kompleks. Dalam konteks keadilan, hukum ini mengingatkan kita bahwa tindakan kita mempengaruhi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Keadilan yang sejati tidak bisa dicapai jika kita hanya memikirkan kepentingan pribadi. Kita harus melihat kepentingan kolektif dan bertindak dengan kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari satu kesatuan yang lebih besar. Hukum persatuan mengajarkan kita untuk bekerja sama dan saling mendukung demi keadilan bersama.

Selain itu, pengambilan sumpah bagi setiap pejabat baru yang akan menduduki jabatannya juga merupakan bagian dari hukum spiritual. Sumpah tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah komitmen sakral yang mengikat pejabat pada prinsip-prinsip keadilan, integritas, dan tanggung jawab. Dengan mengucapkan sumpah, pejabat diingatkan untuk selalu bertindak dengan jujur dan adil dalam menjalankan tugasnya, serta menjaga kesejahteraan dan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.

Hukum spiritual memberikan panduan yang mendalam dalam pencapaian keadilan yang melampaui batasan hukum formal. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip seperti karma, ketertarikan, keseimbangan, kasih sayang, dan persatuan, kita dapat menciptakan dunia yang lebih adil dan harmonis. Keadilan yang sejati adalah keadilan yang tidak hanya memenuhi standar hukum, tetapi juga menyentuh hati dan jiwa manusia. Mari kita berkomitmen untuk menerapkan hukum spiritual dalam kehidupan sehari-hari kita demi menciptakan keadilan yang sejati.**

Penulis adalah : Advokat

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku