Connect with us

Kesehatan

Konjen RRT Hadirkan Tiga Profesor Ahli Traditional Chinese Medecine

Published

on


Tiga Prof. dari Tiongkok ahli TMC

Tiga Prof. dari Tiongkok ahli TMC

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok(RRT) dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia(PSMTI) Provinsi Bali adakan bicang sehat “Metode Pengobatan Tradisional Tiongkok”, di ballroom hotel Sanur Paradise Plaza. Minggu(15/11).

Dalam acara yang dihadiri kurang lebih 200 peserta ini, Konjen RRT menghadirkan tiga profesor pakar pengobatan Traditional Chinese Medecine(TCM) yang datang langsung dari Tiongkok sebagai narasumber.

Adapun ketiga profesor tersebut, yakni: Prof. Pan Min Juan, sepsialis bidang geriatri TCM, yang sekarang menjadi Direktur Bagian TCM di Affliliated Hospital, Chengdy University of Traditional Chinese Medecine. Dia juga mengajar medis dan riset pengobatan vertigo, bagian dada, batuk pilek, pembengkakan paru-paru, sakit lambung, diabetes, stroke, insomnia, hiperhidrosis, dan penyakit lainnya. Profesor wanita ini juga berpartisipasi dalam pelatihan profesional konselor tingkat provinsi, khusus penyakit psikosomatik.

Prof. Tian Li bertugas di Departemen THT, dosen dan peneliti selama 26 tahun. Bekerja menangani pengobatan rhinitis alergi fase serangan terutama dalam pengobatan rhinitis alergi, sinusitis, polip pita suara, nodul pita suara, tinnitus dan tuli. Ia juga mahir dalam mendiagnosa dan terapi penyakit-penyakit THT, menangani kasus gawat darurat, memiliki kemampuan pengobatan Chinese medecine tinggi. Selain itu, dia juga dosen pembingbing calon spesialis dokter Chinese medecine bagian THT.

Prof. Chen Ming Ling, ahli bidang Chinese Medecine dan Chinese Western Medecine dalam hal pengobatan penyakit kulit, seperti; jerawat, melisme, vitiligo, alopecia, eksim, dertitis, psoriasis, lupus, dermatomyositis, scleroderma dan penyakit kulit umum lainnya serta penyakit kulit yang tidak lazim. Dalam kurun lima tahun ini, profesor ini meneliti penelitian spesialistik sebanyak 20 buah. Dia juga membantu menuliskan tesis untuk departemen kesehatan negara.

Konjen RRT, Mr. Hu Yinquan menyampaikan bahwa kegiatan ini berawal saat ia bertemu dengan seorang temannya di Bali dan menceritakan tentang pengobatan RRT.

“Kami ingin teman-teman di Bali maupun Indonesia lebih mengenal metode pengobatan tradisional Tiongkok.” Kata Konjen.

Sementara Ketua PSMTI Hendra A. Waskita, ST menyampaikan bahwa kegiatan ini, kedepan akan ditingkatkan lagi kerjasama antar dua negara ini, dengan cara yaitu; masuk kebudayaan dua negara tentang pengobatan tradisional herbal yang ada bukan hanya di Tiongkok saja tetapi di Indonesia juga dikenal sistem pengobatan ini.

“Hanya saja di Tiongkok ada universitas tentang pengobatan herbal sedangkan di Indonesia tidak. Sehingga di Indonesia pengobatan tradisional dianggap out of the ring atau lebih dikenal dengan dukun. Karena tidak dibina oleh pemerintah untuk diakademikan.” kata Hendra.

Lebih lanjut menyampaikan, bahwa dengan kerjasama dua negara ini, berharap metode pengobatan herbal di Indonesia lebih ditingkatkan pemahamannya, agar menjadi lebih riil dan diakui.

“Ini merupakan gagasan dari Pemerintah Tiongkok, yang ingin membagi pengetahuan secara resmi melalui konjennya ini. Kita harus sambut dengan baik, dengan harapan praktisi-praktisi herbal di Indonesia ini belajar ke Tiongkok untuk saling bertukar ilmu herbal sehingga pertukaran ini menghasilkan manfaat besar bagi kita di Indonesia.”

Sebelum acara tersebut, jauh hari sebelumnya, PSMTI telah melakukan kegiatan untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur di medan pertempuran dengan melakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Margarana Tabanan.

“Selain kegiatan tersebut, kami juga mengadakan pasar murah, serta bakti sosial berupa pengobatan gratis, donor darah dan juga pentas seni barongsai di Vhihara Dharma Ratna tepatnya di jalan Ngurah Rai Nomor 1 Klungkung”. Akhir Hendra.(alt)


Advertisement

Kesehatan

Jamu: Mengulik Kearifan Nenek Moyang Nusantara

Published

on

By

DENPASAR – Dalam riuhnya kehidupan modern, sejenak kita membutuhkan kehadiran jamu, warisan luhur nenek moyang Nusantara. Setiap teguk menuntun pada perjalanan melintasi zaman, menghargai kearifan yang terpatri dalam setiap tetes ramuan.

Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap, penjaga khazanah jamu Bunda Meneer, menjaga dengan penuh kebanggaan. Baginya, jamu bukan sekadar minuman, tapi juga cerminan kearifan dan kekayaan budaya. “Jamu adalah warisan yang patut dijaga dan diapresiasi,” katanya, dengan mata bersinar penuh kesetiaan pada tradisi.

Ilustrasi bakul jamu (sumber google picture).

“Jamu bukan hanya sekadar minuman, tapi juga pintu gerbang menuju kesehatan dan kesejahteraan,” ungkap Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap. “Setiap tetes jamu yang kami hasilkan adalah ungkapan rasa terima kasih kepada nenek moyang yang telah meninggalkan warisan berharga ini,” imbuhnya.

Namun, di balik cerita jamu, sosok Mooryati Soedibyo, pionir kecantikan alami Indonesia dan pendiri Mustika Ratu, tak pernah pudar. Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap mengaguminya dengan tulus. “Beliau adalah sumber inspirasi saya dalam mengolah jamu,” ujarnya. “Dengan dedikasi dan inovasinya, beliau mengangkat derajat jamu dan kecantikan alami Indonesia ke panggung dunia,” imbuhnya.

Dalam setiap proses mengolah jamu, Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap terinspirasi oleh semangat dan keberhasilan Mooryati Soedibyo. Setiap tetes jamu adalah ungkapan rasa terima kasih pada nenek moyang yang meninggalkan warisan berharga.

“Jamu, tidak hanya minuman tradisional. Ia adalah jalinan antara manusia dan alam, mencerminkan keseimbangan dan keharmonisan. Dengan pengakuan UNESCO, jamu semakin dikenal dunia, memperkuat ikatan kita dengan warisan budaya yang tak ternilai harganya,” ungkap Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap dengan penuh rasa bangga.

Sejak zaman kerajaan, jamu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Nusantara. “Kini, dengan pengakuan dari UNESCO, jamu semakin merajut hubungan harmonis antara manusia dan alam, menjaga kearifan nenek moyang untuk generasi mendatang,” jelasnya.

Proses pengajuan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO pada April 2022 melibatkan Jamupedia, lembaga riset dan pengarsipan budaya sehat jamu. “Riset yang melibatkan ratusan pelaku langsung budaya sehat jamu dari empat provinsi di Indonesia menyatakan bahwa jamu bukan hanya minuman, melainkan pengetahuan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah digunakan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi,” terang Ni Wayan Sukarni, S.Sos., M.Ap.

Sejarah panjang jamu, dari zaman Kerajaan Mataram hingga kini, memperlihatkan betapa jamu telah menjadi kebanggaan tersendiri seperti halnya dengan ayurveda dari India dan zhongyi dari Tiongkok. “Dalam setiap tegukan jamu, kita merasakan kekayaan budaya Indonesia yang melampaui sekadar rasa,” ungkapnya.

Keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pengajuan jamu sebagai WBTb oleh UNESCO dinilai positif dan dapat menjadi contoh bagi negara lain. Insripsi jamu oleh UNESCO diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap warisan budaya ini serta berkontribusi terhadap kesehatan dan kesejahteraan global.

Dari kisah mereka, kita belajar makna yang lebih dalam dari secangkir jamu. Di dalamnya terkandung lebih dari sekadar ramuan, melainkan kearifan dan semangat untuk menjaga dan menghargai warisan nenek moyang kita. Dengan itu, kita merayakan bukan hanya kesehatan, tapi juga keindahan alam Indonesia yang tak ternilai. (Tim)

Continue Reading

Kesehatan

Gejala, Penyebab hingga Pengobatan Veruka Vulgaris

Published

on

By

Artikel Edukasi Kesehatan

Oleh: Dr. dr. Ketut Kwartantaya Winaya, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K, FINSDV, FAADV

Bali – Veruka vulgaris atau yang sering disebut sebagai kutil merupakan benjolan pada kulit dengan permukaan kasar. Penyakit ini bisa muncul pada siapa saja, baik pada anak-anak, dewasa maupun lansia.

Kutil dapat muncul pada bagian tubuh manapun, namun paling sering pada biasanya sering muncul pada area tangan, kaki serta jari-jari. Selain itu, penyakit kulit ini juga bisa menyebar ke bagian tubuh lain ketika penderitanya menggaruk bagian kulit yang terinfeksi lalu menyentuh bagian kulit lainnya.

Gambar1. Veruka vulgaris pada jari tangan

Gejala Veruka Vulgaris

Veruka vulgaris muncul sebagai kutil kulit, bisa satu atau lebih yang menyebar dan paling sering memengaruhi penampilan kulit secara keseluruhan. Berikut merupakan karakteristik kutil veruka yang dapat muncul pada kulit.

Munculnya benjolan kecil yang keras dan berbentuk bulat atau menyerupai kembang kol (cauliflowers-like papules) di permukaan kulit.

Benjolan memiliki warna menyerupai kulit, keabu-abuan, putih, atau merah muda.

Bertekstur kasar, tebal, dan memiliki permukaan yang membulat.

Berukuran sekitar 1 mm–1 cm.

Bisa muncul satu atau berkelompok.

Umumnya tidak berbahaya, tidak nyeri, dan bisa menghilang dengan sendirinya.

 

Penyebab Veruka Vulgaris

Penyebab utama veruka vulgaris adalah human papillomavirus (HPV), yaitu jenis virus yang juga menyebabkan kutil kelamin serta kanker serviks. Umumnya, jenis virus HPV yang menyebabkan munculnya kutil di permukaan kulit tangan dan kaki adalah HPV tipe 1, 2, 3, 4 (paling sering), 27, 19, dan 57. Pada kasus common warts, infeksi virus HPV dapat terjadi melalui luka pada permukaan kulit sehingga menyebabkan sel-sel pada area kulit tersebut memperbanyak diri dengan cepat.

Terapi pengobatan veruka vulgaris dapat dilakukan sesuai dengan gejala, lokasi munculnya kutil, serta preferensi pasien. Pada dasarnya, belum ada metode pengobatan khusus yang benar-benar efektif untuk menangani kutil. Namun, karena kemunculan kondisi ini sering kali dikaitkan dengan sistem imun tubuh yang lemah, dokter biasanya akan memberikan terapi untuk membantu meningkatkan sistem imun tubuh pasien.

Beberapa pilihan yang tersedia untuk menangani kutil kulit ini adalah Krioterapi, electrosurgery, penggunaan laser hingga Tindakan pembedahan. Akan tetapi, pemilihan opsi terapi pada setiap orang berbeda-beda, maka dari itu hendaknya konsultasikan dahulu ke dokter spesialis dermatologi dan venereologi jika anda memiliki keluhan serupa.

 

Referensi:

1. Cuda JD, Moore RF, Busam KJ. Melanocytic Nevi. 2019. Fitzpatricks Dermatology 9th Edition. United States: McGraw-Hill Education, 1944-1951.

2. Dall’Oglio F, D’Amico V, Nasca M, Micali G. Treatment of Cutaneous Warts. American Journal of Clinical Dermatology. 2012;13(2):73-96.

Continue Reading

Daerah

Serba-serbi Keratosis Seboroik

Published

on

By

Oleh: Dr. dr. Ketut Kwartantaya Winaya, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K, FINSDV, FAADV

DENPASAR – Keratosis seboroik merupakan tumor jinak yang biasanya ditemui pada orang tua. Keratosis seboroik lebih sering ditemui pada ras kulit putih.

Keratosis seboroik dapat muncul sejak usia 15 tahun dan kejadiannya meningkat dengan bertambahnya usia terutama pada dekade kelima. Penyebab keratosis seboroik hingga saat ini masih belum diketahui, namun banyak terjadi setelah peradangan kulit dan paparan sinar matahari.

Keratosis seboroik dapat muncul di bagian tubuh manapun, terutama pada daerah wajah dan tubuh bagian atas. Tanda keratosis seboroik yaitu peninggian atau penonjolan kulit berwarna cokelat hingga hitam berbentuk kubah, permukaan licin tidak berkilat atau berdungkul-dungkul, berbatas tegas, berukuran 1 mm hingga beberapa cm, dan disertai sisik berminyak diatasnya.

Diagnosis keratosis seboroik dapat ditegakan secara klinis dan jika perlu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu histopatologi.

Peninggian atau penonjolan kulit yang meluas dengan cepat, menimbulkan gejala, atau gambaran yang mengarah ke kanker kulit (asimetri, batas tidak tegas, warna bervariasi, diameter 6 mm atau lebih, evolusi atau elevasi) merupakan beberapa indikasi dilakukannya pemeriksaan histopatologi untuk menyingkirkan keganasan.

Keratosis seboroik biasanya tidak perlu diobati, namun terdapat beberapa alasan dilakukannya terapi yaitu kosmetik, gatal, meradang atau nyeri. Terapi keratosis seboroik yang dapat dilakukan diantaranya bedah beku (krioterapi), bedah listrik atau bedah laser (ablasi laser). Keratosis seboroik berukuran besar dapat dilakukan dermabrasi atau fluorouracil topikal.

Beberapa efek samping yang dapat timbul dari terapi keratosis seboroik yaitu timbulnya jaringan parut, perubahan warna kulit, pengangkatan yang tidak komplit atau muncul berulang.

 

Referensi:

1. Cipto H, Suriadiredja ASD. 2016. Tumor Kulit. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI,  269-273.

2. Cuda JD, Rangwala S, Taube JM. 2019. Benign Epithelial Tumors, Hamartomas, and Hyperplasias. Fitzpatricks Dermatology 9th Edition. United States: McGraw-Hill Education, 1918-1934.

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku