Connect with us

Pariwisata dan Budaya

IKIP PGRI Bali Gandeng Untag Coaching Atasi Kecemasan Hadapi UN

Published

on


Untagikiprektor
GATRADEWATA – IKIP PGRI Bali bekerjasama dengan Universitas 17 Agustus(Untag) Surabaya gelar coaching atau pelatihan kepada masyarakat untuk mengatasi kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional tingkat SMA/SMK.

Dalam acara yang dibuka oleh Dr. Made Suarta, SH., M.Hum., Rektor IKIP PGRI Bali yang berlangsung di auditorium Redhagunawan ini, dihadiri ratusan siswa-siswi kelas XII perwakilan SMA/SMK se-Bali yang akan melaksanakan Ujian Nasional.

Menurut Rektor, kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian dan kepedulian IKIP PGRI Bali terhadap masyarakat khususnya kepada peserta didik yang duduk di tingkat sekolah menengah atas yang akan mengikuti UN.

“Beban psikologis siswa menjelang ujian perlu ditangani secara khusus dan melalui coaching ini, beban tersebut diharapkan bisa diatasi sehingga siswa lebih rileks sebelum mengikuti ujian,” jelasnya. Sabtu, 18/02/2017.

Drs. I Putu Karpika, M.Si., Ketua Penyelenggara mengungkapkan bahwa kegiatan ini untuk membantu perserta didik dari sisi sosiologis khususnya kelas XII menjelang UN.

Peserta dalam acara ini, ditambahkan Kepala Bagian Training of Trainer(ToT) ini, juga berikan coaching atau pelatihan agar siswa lebih rileks dalam menghadapi maupun melaksanakan ujian.

“Ini adalah bentuk pengabdian IKIP PGRI Bali yang beda dari kegiatan sosial lainnya, seperti bedah rumah, bhakti sosial, peduli bencana dan yang lainnya. Ini adalah bedah psikologis dan bedah psikis,” paparnya.

Kegiatan yang diprakarsainya ini, sudah berjalan selama dua periode. Dan tahun sebelumnya membahas tentang kesiapan dalam ujian dan tahun ini adalah bagaimana menjelang dan menghadapi ujian.

Surabaya, Dr. Amanda Pasca Rini, S.Psi.,M.Psi., Psikolog dari Untag menambahkan bahwa siapapun yang menghadapi ujian, baik untuk kenaikan kelas maupun kelulusan SD, SMP dan SMA/SMK, pasti ada perasaan yang berbeda, yang harus dipersiapkan benar-benar dengan baik. Dan seharusnya, yang dipersiapkan bukan hanya siswa saja akan tetapi orangtua juga.

“Ada kecemasan, ketegangan itu pasti dan manusiawi. Akan tetapi bagaimana cara mengelola hal tersebut, itulah yang sedang kami garap yakni dengan membentuk karakter building mereka,” tegasnya.

Membentuk karakter building sendiri, dikatakan Amanda, yakni menjadi tangguh secara psikologis, bila berada dalam suatu tekanan yang biasanya ada pada saat siswa sedang melakukan ujian.

“Kami memberikan beberapa cara bagaimana untuk mengatasi tegangan tersebut. Salah satu contohnya yaitu tidak terpaku pada mental blok, harus menerima peristiwa yang terjadi pada saat itu, baik yang tegang, mencemaskan dan sebagainya. Itu kita latihankan bagaimana cara membuang kondisi tidak nyaman tersebut serta cara mengelolanya,” pungkasnya.

Sebelumya, IKIP PGRI juga mengelar kegiatan peningkatan kinerja Dosen Pembimbing Akademik (DPA) yang berlangsung di Gedung Auditorium Redha Gunawan. Jumat (17/2). Dimana dalam acara yang diikuti seluruh dosen PA PNS dan dosen yayasan di lingkungan IKIP PGRI Bali, juga bekerjasama serta menghadirkan narasumber dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya.

Alt


Continue Reading
Advertisement

Daerah

PEWINTENAN MASSAL DI PURA AGUNG LOKANATHA DIPUPUT OLEH TIGA SULINGGIH

Published

on

 

Gatra Dewata | Denpasar | Setelah merampungkan pelatihan Brahma Widya sejumlah 170 calon Pinanditha diwinten massal.

Brahma Widya berdasarkan Veda disini adalah pengetahuan tentang kesejatian Tuhan (Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Waça) dalam segala aspek-Nya yang dalam pengantar agama Hindu, Brahma Widya disebutkan pemujaanNya dilakukan dengan dua model,

Trancendental, Nirguna Brahman (Impersonal God):
Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi “acintya rūpa” (tak terpikirkan)

Immanen, Saguna Brahman (Personal God):
Sang Hyang Widhi Waça dipuja/dihayati dalam posisi berwujud sehingga dapat dijangkau oleh rasa atau daya pikir manusia.

Acara ini adalah merupakan acara selanjutnya setelah mengikuti pelatihan teologi Hindu Brahma Widya angkatan ketiga sejak 4 Mei 2019 hingga 9 Februari 2020, sebanyak 170 peserta calon Pinandhita mengikuti pawintenan massal di pura Agung Lokanatha Lumintang, Minggu, (23/02).

Pawintenan ini dipuput oleh tiga sulinggih, yaitu dari 3 gegelaran sulinggih yang di sebut Tri Sadhaka atau Sang Katrini, Pandita Ciwa, Pandita Boda, Pandita Bhujangga.

I Wayan Dody Arianta selaku ketua panitia menjelaskan bahwa tujuan dari kursus ini adalah unyuk meningkatkan pengetahuan dan keyakinan umat Hindu secara benar di seluruh Bali, yang dipahami seperti kasus pelinggih isi toilet baru-baru ini.

Kursus yang sudah ketiga kalinya ini merupakan kerjasama antara Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali dengan PHDI Provinsi Bali.

Dari Kursus yang pertama didapatkan 137 peserta yang mendaftar dan ikut tetapi yang ikut sampai selesai dan dinyatakan lulus hanya 130 peserta saja.

Materi yang diberikan adalah samskrtam dasar, nyurat kajang, itihasa, purana, reformasi ritual, Siwa sidhanta, modre, krya Patra, wariga dasar, Dharma Wacana dan semua yang menyangkut dalam acara agama Hindu yang benar, yang dilaksanakan setiap sabtu dan minggu selama 9 bulan (100 jam belajar)

Dengan diadakannya acara ini setelah pewintenan berlangsung, peserta kursus diharapkan mampu menerapkan Ilmu yang telah didapat dalam kursus ini untuk dipraktekkan di masyarakat agar masayarakat mampu memahami sastra agama Hindu secara benar, berguna juga untuk diri sendiri dan juga keluarga, yang tentunya melahirkan Pinandita atau Sulinggih yang paham dan menguasai isi sastra agama Hindu.

Ida Pandita Mpu Acharya Nanda juga menuturkan dalam Dharma Wacananya yang menyebut bahwa, “Pawintenan berasal dari kata Inten yang berarti permata, soca, dan suci, jadi pewintenan merupakan upacara yang suci yang berguna juga untuk mensucikan diri”.

Dalam wacananya beliau juga menjelaskan bahwa Hindu merupakan agama yang logis, agama yang tidak klenik dan sesuai dengan perkembangan jaman, “Bila kita mau memuja ciwa yang pertama adalah Gana Kumara lah yang engkau puja, makanya dalam bebantenan nika ada namanya pulagembal, atau saya mengartikan adalah Pologembal, kembangkanlah otakmu maka agen perubahan dalam diri manusia adalah otaknya, ” ungkapnya.

Dan Beliau juga berpesan agar setelah ini, para Pinandita baru bisa menjelaskan dengan baik dan bijak kepada masyarakat terutama tentang kejadian wangsit yang diterima suatu keluarga yang meletakkan toilet didalam areal suci mereka.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar IGS Ngurah Bagus Mataram menyebut, kegiatan yang dilaksanakan PSN ini sangat sesuai visi kota Denpasar, penguatan jati diri masyarakat kota Denpasar berlandaskan kebudayaan tertuang dalam Peraturan Daerah.

“ Kami mengapresiasi kegiatan seperti ini, Denpasar sebagai kota yang berwawasan budaya, tentu patut menjaga dan melaksanakan nilai-nilai budaya dan keagamaan yang kita lestarikan dan jaga,” jelasnya dalam sambutan saat berlangsungnya acara pawintenan. (Ray)

Continue Reading

Daerah

MENJAGA TRADISI DALAM BERKESENIAN YAYASAN JAYA SWARA PURA DALEM ULUNSUAN DIRESMIKAN

Published

on

Gatra Dewata | Denpasar | Pelestarian sebuah tradisi  adalah  upaya  pelindungan,  pengenalan, pengembangan,  dan pemanfaatan  suatu kebiasaan dari kelompok  masyarakat  pendukung kebudayaan yang berguna untuk kelangsungan hidup suatu kelompok sosial masyarakat untuk mencapai kesejahteraan sesuai ajaran catur purusa artha, yaitu Dharma, Artha, Kama, Moksana sarira sadhanam.

Dharma yang berarti berbudi pekerti luhur, Artha yang berarti Kekayaan yang diberdayagunakan untuk kebaikan, Kama yang berarti keinginan manusia sesuai dengan kebenaran dan kebijaksanaan, Moksa yang berarti kebebasan atau kebahagiaan abadi. Itu bisa terjadi bila ketiga yang diatas, Dharma, Artha, Kama sudah terlaksana dan berjalan dengan baik.

Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan yang berdiri di Jalan Imam Bonjol Gang Ulunsuan, Banjar Abiantimbul, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat diresmikan Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, SH, Pada hari Minggu (02/02).

Yang akan bertanggung jawab kedepan adalah Ketua Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan A.A. Putra Juni Adi, ST, yayasan yang didirikannya ini juga sudah mengantongi izin dari Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: AHU-0010503.AH.01.04.Tahun 2019.

“Tujuan kami membentuk Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan adalah untuk tetap bisa menjaga tradisi dalam berkesenian. Bahkan untuk bisa menopang kegiatan-kegiatan yang ada di Pura Dalem Ulunsuan dengan terus bisa mengadakan pelatihan untuk kepemangkuan dan mengadakan serati banten,” ujar Beliau kepada kami.

Dengan diresmikannya Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan bahwa kedepannya akan mampu lebih meningkatkan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) untuk melaksanakan yadnya (pelayanan) kedepannya.

“Berawal dengan kegiatan di sanggar tari, peresmian yayasan juga bertepatan dengan peresmian sanggar tari Seraya Taksu. Dimana semuanya ini tidak terlepas dari pengembangan seni dan budaya,” ucap Putra Adi.

Agung Putra Adi Menjelaskan bahwa melalui sanggar tari akan mampu mengajak generasi muda berkesenian, khususnya tari, tabuh, kawitan dan mekidung.

“Memang kita Sadari betul bahwa berbagai kegiatan memerlukan biaya. Untuk biaya awal pelaksanaan kegiatan kami sudah ada dana kas awal, namun tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan pemerintah daerah Bali maupun swasta untuk dukungan pendanaannya,” terangnya.

Kepala bidang (Kabid) Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Dwi wahyuning kristiansanti terlihat ikut hadir meresmikan Yayasan Jaya Swara Pura Dalem Ulunsuan,

“Dalam memperjuangkan sesuatu petunjuk dari pak Walikota adalah kita harus mampu kere tetapi aktif, yang artinya kita harus mampu bergerak aktif walau dalam keterbatasan, baik dana maupun prasarana yang terbatas”, terangnya.

Keagamaan tidak termasuk dalam pembinaan kami di Dinas bidang kesenian Kebudayaan Kota Denpasar tetapi, kebudayaan juga tidak bisa terlepas dari sisi Keagamaan kita di Bali

“Pertanyaan mengenai soal keagamaan mungkin bisa ditanyakan ke pada PHDI”, ujar kabid kesenian yang akrab dipanggil wiwid ini.

Pengempon Anak Agung Bagus Wirata, dan mangku

Anak Agung Bagus Wirata seorang pengempon Pura Dalem Ulunsuan bercerita tentang sejarah, sebagai pemangku pura beliau juga dipercaya sebagai pembina yayasan.

Beliau pertama merehab pura ini ditahun di tahun1950, pengempon pura ada 40 kk (kepala keluarga) tapi yg bertanggungjawab adalah 3 Kk (kepala keluarga) diupacarai setiap 6 bulan sekali.

“Untuk memperlancar itu semua saya bersusah payah dari dulu, karena tidak cukup hanya biaya saja juga dengan tenaga”, beber Beliau.

Modal awal yayasan diambil dari dana kepemangkuan sebesar 50 juta sebagai dana awal yayasan. Kegiatan yang mesti digulirkan untuk pertama kalinya,

“Melatih harus ada snack, minimal ada uang lima juta untuk pertama kali, dan kedepan mungkin kita akan meminta bantuan kepada orang tuanya dan kedepan meminta bantuan kepada pemerintah agar kedepan tidak membebani yayasan dan orangtua”, terang beliau.

Dalam pura yang di empon itu terdapat pelinggih Dalem Mekah, Dalem cina, Dalem solo, dalem keluhuran majapahit, dan ada beberapa pelinggih lagi. (Ray)

Continue Reading

Daerah

GELAR RITUAL NANGLUK MERANA UNTUK CEGAH VIRUS CORONA SECARA NISKALA

Published

on

Gatra Dewata | Karangasem | Indonesia bahkan dunia lagi mewaspadai secara serius terhadap ancaman Virus Corona yang menyebar dari negara Tirai Bambu sana.

Budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya cina, oleh sebab itu pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Karangasem berencana menggelar sebuah upacara Nangluk Merana.

Upacara ini akan dilaksanakan di Pura Penataran Agung Desa AdatPadang Bai, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali.

Persembahyangan yang akan dilakukan oleh umat Hindu di Bali ini dilakukan hari ini Rabu (29/1) sekitar pukul 09.00 Wita, upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan Bali agar dijauhkan dari hal-hal yang negatif atau untuk menolak bala berupa penyakit, atau hama tanaman pokok yang bisa mempengaruhi kehidupan manusia.

Untuk kali ini permohonan ini dilakukan dan dimohonkan untuk mengantisipasi virus Corona masuk ke Karangasem, upacara ini sebenarnya rutin diadakan setiap tahun sekali oleh pemda karangasem.

“Saya telah memberikan perintah kepada Kabag Kesra guna meminta dewasa (hari baik) kepada Ida Pedanda Gede Wayan Pasuruan dari Gria Kawan Sibetan,” terang Bupati Karangasem, Gusti Ayu Mas Sumatri, Selasa (28/1).

Petunjuk yang diberikan, ritual Nangluk Merana dapat dilakukan, Rabu (29/1/2020), tepatnya Buda Wage Wuku Warigadean dan rencananya proses ini akan dipuput Sulinggih Siwa Budha yakni Ida Pedanda Gede Wayan Tianyar & Ida Pedande Gede Nyoman Jelantik Dwaja.

Bupati menghimbau seluruh masyarakat karangasem dan semua pejabat pemerintahan di Karangasem untuk ikut hadir dan melaksanakan (bagi pemeluk Hindu) upacara tersebut dengan memakai busana adat persembahyangan Bali. (Ray)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam