Connect with us

Mangku Bumi

Griya Taman Pande Tonja Selenggarakan Pasraman Sangging Yang Hygienes

Published

on


 

GATRADEWATA.COM|| Sabtu.25 agustus 2018Upakara potong gigi ( metatah) salah satu maknanya adalah untuk Memenuhi kewajiban orang tua, sebagai kesempatan untuk beryadnya. Matatah juga merupakan upacara kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai wujud syukur atas anugerah tumbuh kembang anak dari anak-anak menuju dewasa. Secara hormonal sudah berubah, sehingga unsur sad ripu perlu di “somya” untuk membentuk karakter “dewasya” memiliki sifat kedewataan, demikian yang disampaikan oleh Ida Sira Mpu Dharma Sunu dari griya TamanPande Tonja yang berlokasi di jalan Ratna Denpasar dalam acara pasraman “Tata cara nyanggingin sesuai standard kesehatan”.

Menurut Pinandita I Wayan Dodi Ariyanta, ketua paguyuban Widya Swara yang juga sebagai panitia dalam kegiatan ini mengatakan “Sangat perlu diadakan Penataran sangging terutama pada aspek kesehatan. Selain memperhatikan sosio tradisi, yang harus diperhatikan juga sosio kesehatan. Terutama dalam kegiatan matatah masal, misalnya penggunaan alat secara bersamaan dan memotong gigi terlalu dalam. Sehingga enamel gigi yang merupakan pelindung gigi habis menyebabkan masalah kesehatan dikemudian hari. Kegiatan metatah bukan menonjolkan estetika tapi simbolis saja. Kegiatan ini sudah dua kali kami lakukan dan diterima baik oleh masyarakat “.

Melalui kegiatan ini diharapkan para peserta mengerti tentang tata cara nyanggingin dari aspek sastra dan memperhatikan kesehatan mulut. Di mulut terdapat ribuan kuman seperti virus dan bakteri seperti herpes, hepatitis dan lain sebagainya. Pemakaian alat bersamaan akan menularkan kuman tersebut. Apalagi dengan peserta metatah masal yang jumlahnya ratusan. Sehingga edukasi ini perlu ditularkan ke masyarakat. Bila perlu dalam pelaksanaan matatah masal satu kikir satu sangging, atau jika tidak ada minimal sangging mengerti bagaimana mensterilkan alat tersebut.

Mengenai penggunaan kunyit, carang dadab, tebu, madu, air cendana dan sirih, sebagai disinfektan belum bisa menjawab terutama perkembangan penyakit modern belakangan ini. Sangat minim penelitian mengenai ini, kami harapkan melalui kegiatan ini mendorong intelektual hindu di bali melakukan penelitian tentang ini, terutama dari sisi kimia organik. Karena sangat berbeda dengan di India, penelitian ilmiah tentang tradisi di Hindu India banyak bisa kita temukan jurnal-jurnal penelitian menyangkut tradisi mereka, imbuhnya.

Menurut Pinandita I Wayan Wija ketua panitia, Kegiatan pasraman sangging ini, akan di isi oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda menjelaskan dari aspek filsafat, Ida Pandita Mpu Istri Jaya Acharyananda menjelaskan dari sisi upacara, Ida Sira Mpu Dharma Sunu menjelaskan mengenai praktek sangging, Prof. DR. Drs I Made Surada.MA menjelaskan puja dan mantra, dan Drg Budiarsana menjelaskan tentang kesehatan mulut. Kegiatan ini dilakukan sehari dan di ikuti 100 peserta dari berbagai daerah di bali, imbuhnya.


Continue Reading
Advertisement

Mangku Bumi

“SWA RGA”

Published

on

Swaha di Raga atau kemandirian sadar di dalam tubuh, tubuh ini adalah kuil Tuhan, Tuhan atau The Purusa tidak lain poros kehidupan, tidak lain yang hidup itu, yang berkesadaran sempurna itu, Maha Hidup itu yang berkesadaran sempurna di dalam Kuilnya, Sang Diri

Kemana dirimu hendak mencari sorga, di kolong langit manapun dirimu tidak akan temukan sorga karena sorga adalah suasana hati, hatimu yang mendamba sorga akan menjatuhkanmu ke neraka, keterikatan pada keinginan sorga itu racun yang merusak hatimu tanpa kamu sadari, pikiranmu selalu terbayang-bayang keadaan sorga sedangkan realitas hidupmu bertolak belakang dari harapanmu atas sorga segala pemenuhan

Keinginan keinginan tak terkendali itulah yang sebetulnya terjadi di dalam dirimu, terlepas dirimu sadari atau tidak, berilah jeda untuk melihat kebenaran-nya, jangan sakiti jiwamu dengan harapan-harapan semu yang kosong tidak berujung-pangkal, berpikirlah, otak disertakan untuk memudahkan hidupmu bukan untuk menyesatkan pikirmu kedalam angan-angan tak pasti, bukan untuk berilusi tentang yang tidak ada

Kemandirian sadar’mu swa atau siwa atau saiwa atau poros pelayanan hidup, tubuhmu adalah raga, kuil suci kesadaranmu, kendaraan sadarmu, swa yang mengendarai raga, yaitu swarga yang berubah menjadi sorga untuk sebuah dan banyak kepentingan, kondisi swarga/sorga ini sejatinya kondisi kemandiirian jiwa yang menjalani ketenangan dan kedamaian, keindahan rasa hidup, kejiwaan yang memandang hidup sebagai sebuah seni berkehidupan, jiwa yang damai yang berkeindahan hidup

Swarga/sorga itu bukanlah tempat akan tetapi suasana hati, akan tetapi kaum edin yang menganggap hidup berporos di hati salah menterjemah tentang sorga, ketidak mampuan mereka memasuki dimensi pengetahuan langit yang membuat mereka tertipu, menganggap sorga ada di sebuah dimensi yang di jaga oleh pasukan langit berpanah api, itu sesungguhnya ilusi mereka karena sorga sesungguhnya suasana hati – keadaan jiwa

Berada di sorga jika hatimu tidak tenang apalah guna, sedangkan rasa hati selalu bergolak atas dinamika hidup ini, jika suasana hati bergantung pada bergejolaknya kehidupan, adakah yang mampu mempertahankan kedamaian hatinya, tentu saja anda masing-masing memiliki jawaban sendiri-sendiri , namun bukan disana inti maksudnya

Swaha atau Swa atau kemandirian di dalam raganya tidak lain swarga/sorga, swa bermakna mandiri, mandiri berarti tidak bergantung apapun selain pada kemurnian sadar itu saja, tidak mendiuakan sadarnya pada apapun selain pada kebutuhan pemeliharaan hidup tubuhnya, kesadaran yang murni itu swaha atau yang hidup yang mandiri itu, yang murni yang tidak terbelenggu kondisi lain selain belenggu raganya, kesadaran yang tidak terhalang apapun selain keberadaan terbatas di dalam raganya, diri yang sadar yang tidak lain perwakilan kesadaran hidup Sang Maha Hidup itu sendiri, dia yang mandiri pada kesadaran murninya

Jiwa-jiwa mandiri inilah penghuni sorga, mereka pula poros utama pewujud kehidupan sorga di muka bumi, karena kedamaian dan kemakmuran hidup lah hasil akhir ber-SWA RGA, bukan mereka yang masih kebingungan mencari alamat sorga, mereka yang masih sibuk dengan prasangka pikiran mereka, hati mereka telah rusak oleh kebencian, mereka jiwa yang lemah yang terlalu takut pada bayangan mereka sendiri, mereka takut pada ilusinyailusinya, mereka para penyangkal kebenaran, mereka anti kebenaran, mereka sekumpulan kaum berjiwa rapuh, tidak mungkin mereka bisa mencapai Swa Rga, ngerti aja kga ! pegimana mau sampai

Berkelitlah, berdalihlah, ketika tanaman kebenaran tumbuh membesar, rasa malu akan membayangi hatimu ketika mengatakan kebohongan, sekalipun tidak ada yang mencibir atau menuding telunjuk ke mukamu, rasa itu akan bergelayut di hatimu dan tidak ada tempat bersembunyi yang aman di kolong langit bagi kebohonganmu itu, minta ampunan lah, hentikan

Hati yang rusak penuh kebencian, itulah yang mereka dapat dari mengumbar keinginan sorga melaui pengetahuan indria, mereka menginginkan sorga tetapi merusak keindahan kekuatan cipta Swa Rga, itu Dosa/kesalahan yang sangat besar, mereka sendiri yang membiarkan dirinya berkubang dalam lumpur kebodohan, oleh ulah mereka sendiri, oleh egonya yang tak terkendali, sebab-akibat harus terlaksana, dan ketika akibat dari sebab itu datang pastilah menyakitkan

Kehidupan ini berada di bawah naungan lautan energi tiada batas, energi yang sama yang menghubungkan manusia dengan sesama manusia , dengan alam dengan semesta, dan ketika energi yang dikuasai kegelapan sadar itu berbalik dikuasai getaran energi yang termurnikan oleh para ksatria kehidupan, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika dirimu masih memilih berkubang dalam kegelapan, namun itu kehendak bebas, setiap gerak mengandung resiko

Swa-Rga atau sorga bukan tentang keinginan duniawi namun itu tentang aksi-reaksi pencerahan dari kegelapan sadar yang menguasai kehidupan, manusialah penyebab utama apa yang terjadi di kehidupan, kegelapan mendorong kemunculan terang, kegelapan sadar menggiring pencapaian terang kesadaran, ketidak benaran memaksa kemunculan kebenaran, ketidak nyamanan hidup memicu Swa Rga

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

“MANUSIA PERTAMA”

Published

on

Manusia pertama,
siapa yang disebut manusia pertama, manusia yang mencapai kesempurnaan sadar, yang mencapai kesejatian diri di jaman apapun adalah manusia pertama, karena manusia terlahir angkara yang mengandung lupa, wujud pembelenggunya membuat lupa kesejatian dirinya dan kondisi lupa itu membuat kesadaran manusia berada dibawah kendali indria, tidak perduli siapapun dia, hal pertama yang harus dilakukannya adalah melampaui, mengupayakan kesadaran melampaui wujud untuk bisa menjadi manusia sepenuhnya atau menjadi yang pertama kalinya menjalani sebagai manusia seutuhnya

Di jaman manapun tanpa terkecuali, jika seseorang tidak mampu mencapai kesadaran sempurna yakni kesadaran akan diri sejati, mereka bukan manusia pertama, sekalipun atas penunjukan Tuhan, sekalipun Tuhan memberinya label khusus sebagai manusia pertama, percuma karena yang namanya manusia adalah yang tunggal pada kemuliaan dirinya, manusia pertama adalah manusia seutuhnya yang tidak menduakan kesadaranya selain kepada kedirian itu saja, yang mengenal jejak-jejak perwujudan dirinya, seperti itulah yang di maksud manusia pertama

Manusia pertama yang memberi terang kepada yang lain untuk kembali ke rumah asal, terlepas segelap apapun jaman bukan halangan, tanaman-tanaman itu pasti tumbuh karena sumber kekuatan hidup telah di genggam oleh-nya , sekuat apapun mereka berontak tidak ada guna, mereka hanya akan melukai dirinya sendiri, karena jamanlah yang meminta kehadirannya, jamanlah yang memaksanya terlahir kembali, jamanlah yang memohon kepada tuhan-tuhan mereka agar dia dilahirkan guna pertolongan bagi jiwa-jiwa gelap itu

Seiring kelahirannya, kekuatan semesta memelihara hidup-nya sedemikian rupa, yang membimbing pencapaianya, memberinya segala kemudahan, semesta ada di pihaknya hingga misinya tuntas mengembalikan kesadaran manusia yang gelap menuju kesejatian diri, untuk menyadari kemuliaan yang melekat atas kedirian setiap individu

Kekuatan Maha semesta yang menyediakan semua kebutuhan atas misinya, baik spiritual maupun materi, kekuatan itu tiada lain Kemaha Bijaksanaan, kapan, dimana dan bagimana, apa yang bisa diraih apa yang tidak bisa didapatkan semata-mata ditentukan oleh kebijaksanaan tertinggi, penempaan, pengarahan, pembelajaran di terapkan setahap demi setahap hingga sampai pada masa kebangkitan, perubahan yang diawali gejolak alam, sedangkan dia hanya mengamati, mengingatkan, mengabarkan, menjaga jiwa-jiwa murni, meresap-merangkai, menyeimbangkan, setahap-setahap penuh ketelitian

Tidak usah berseteru, itu tidak efektif, selamatkan diri masing-masing, masuki agar berada di dimensi hampa agar tidak terseret gejolak karma buruk jaman, bening tidak mengijinkan distorsi, tidak mengalami gesekan tarik menarik dua sisi, bening tak tersentuh tak terseret, bening merefleksi jaman namun tidak terlibat dan melekat di dalamnya, melampaui guna melampaui kehancuran, pertolongan apa yang kamu harapkan selain bergantung pada dirimu sendiri !!! begitulah kenyataanya, percaya atau tidak percaya bukan urusan semesta, kepentingan semesta adalah terjaganya keseimbangan,
at any risk

Atlantia Ra

Continue Reading

Mangku Bumi

“BERKESENIAN HIDUP”

Published

on

Budaya salah sebuah Maha Karya Maestro Kehidupan, budaya adalah seni berkeindahan hidup, berkeindahan menjalani kehidupan, hidup yang tertuang kedalam wadah seni berkehidupan yang indah, bukankah begitu wujud penggambaran sorga yang penuh keindahan dan kedamaian hidup

Ketika jiwa kita indah segala sesuatu terihat indah, jika jiwa kita rusak, yang indah pun terlihat menakutkan dan berkeinginan menghancurkan, jiwa yang rusak akan selalu berkeinginan menghancurkan tanpa pernah mampu mencipta apapun selain mengumbar kebencian dan ketakutan pada bayanganya sendiri

Hidup bukanlah musuh, pandangan keliru menganggap hidup ini harus memiliki aturan begini dan begitu, binatang apapun jenisnya memiliki naluri mengatur diri termasuk manusia, manusia memiliki sisi kebinatangan karena tubuh manusia sendiri tidak lain binatang, binatang yang berpikir, binatang yang berbudi prakerthi, budhi kebijaksanaan sebagai poros/purusha dan prakrethi sebagai unsur bersifat kebendaan, dalam artian- manusia yang mencapai kebendaanya melalui budhi kebijaksanaan, begitu pulalah budaya terwujud

Kita bukan binatang yang tidak berpikir seperti layaknya binatang pada umumnya yang hanya mengandalkan naluri, manusia memiliki volume otak sangat besar dengan kesadaran sempurna, kita binatang yang berbudi guna beradaptasi pada kehidupan ini, dan yang dibutuhkan kehidupan bukan aturan akan tetapi pencapaian kebijaksanaan agar kita semua mengerti cara berkeindahan hidup, agar kita bersama dapat menjadi Seniman kehidupan, menjadi maestro kehidupan, begitulah kemuliaan yang melekat pada kedirian manusia

Aturan hidup sekalipun dari Tuhan hanyalah basa basi belaka ketika manusia belum menyadari kemuliaan yang melekat pada kedirian mereka, jika manusia masih belum menyadari kesejatian dirinya, ketika kesadaran manusia masih terjerat pada kesadaran indrianya, keberadaan aturan apapun wujudnya hanya akan dianggap ada untuk dilanggar, karena kehendak bebas membuatnya ingin mencoba, kesadaranya akan tertantang untuk mencoba, bagaimana jika dilanggar, dan ketika pelanggaran tidak berefek, dia akan tersenyum, dan pada akhirnya pelanggaran demi pelanggaran itu menjadi pertualangan yang menyenangkan

Penerapan konsep hidup yang keliru akan menghasilkan kekeliruan di seluruh lini kehidupan, lalu mereka-mereka itu hanya bisa menyalahkan individu tanpa keberanian membongkar akar masalahnya, takut mendengar kenyataan atas kekeliruan yang di geluti hampir diseluruh hidupnya, begitulah kenyataanya itu pahit jika kebenaranya di bongkar tanpa tabir kebohongan

Berkesenian hidup, itulah kebahagiaan bersama,dan jiwa-jiwa seni terlahir dari jiwa-jiwa dewasa yang telah matang memandang kehidupan, ketika kita bertengkar bukan semata-mata karena keadaan akan tetapi karena jiwa kita masih kekanak-kanakan, tidak bisa melihat hidup sebagai seni memperjuangkan kepentingan, dan ketika seni memperjuangkan kepentingan berkembang seperti keadaan jaman ini, itu hak mereka, itu cara mereka, tanyakan dirimu sendiri apakah caramu memperjuangkan kepentinganmu, jangan hanya merengek-rengek dan memaki-maki, berteriak-teriak membuat suasana semakin gaduh, lalu apa beda kalian dengan mereka, hanya beda chasing tetapi tidak sadar menjadi sumber kegaduhan yang sama

Salah menyalahkan tidak henti-henti sejak ribuan tahun silam, dan kalian membiarkan diri ikut terseret perang mereka, lalu kalian mengaku-ngaku eling, itu sangat melelahkan pal, sangat menguras energi tanpa kepastian ujung pangkal, belajarlah seperti seekor penyu yang mampu menarik diri ketika mencium bahaya, ketika keadaan tidak menguntungkan

Tidak perlu berkecil hati menghadapi keadaan yang kurang menguntungkan, leluhur mu tidak akan tinggal diam, menunggu celah membalik keadaan, menyeimbangkan diam-diam, mereka tidak pernah tidur menjaga keselamatan anak cucunya, salah kalian sendiri yang mengumbar ego, kesaktian kalian tidak ada gunanya, tidak ada kemaha saktian di muka bumi
ini selain kebijaksanaan tertinggi, lentur namun hantaman baliknya berlipat, tidak terduga

Hentikan,
mari kita hadapai seni dengan seni, begitulah cara-cara yang diajarkan Tuhan mereka untuk meraih kemuliaan hidup kaum mereka, sedangkan kalian hanya sibuk merengek rengek, yang mereka terapkan untuk menguasai hati manusia adalah anugrah semesta, jika kalian merasa tidak nyaman, buktikan diri kalian lebih baik, jika tidak mampu, diamlah, didalam diam itulah kita menemukan seluruh jawaban atas keterhalangan ini, kita semua lah penyebab utamanya bukan yang lain bukan keadaan, tetapi cara kita memandang kebenaran

Kebudayaan, seni berkeindahan hidup, itulah hasil kebijaksanaan yang diraih melalaui lelaku spiritual, dan yang benar-benar berjiwa ksatria berani mendobrak tabir raja maya untuk menurunkan cahaya semesta ke muka bumi, menyatukan kekuatan Langit Akasa dengan Bumi Pertiwi hingga terlahir anak keindahan hidup, swarga-wi

Atlantia Ra

Continue Reading

Wonderful Indonesia

Ads

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam