Connect with us

Global

DAN LANAL DENPASAR HADIRI PENANDATANGANAN PERJANJIAN KERJASAMA PENGELOLAAN DANA APBN TAHUN 2019 ANTARA AKUN JAJARAN KUPUS DISKUAL DAN KUWIL ARMADA II DENGAN PT. BANK MANDIRI DI BALI

Published

on


GATRADEWATA.COM||Denpasar, Jumat,8 Februari 2019.Komandan Pangkalan TNI AL Denpasar Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko hadiri penandatanganan perjanjian kerja sama Pengelolaan Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Bank Mandiri dengan TNI AL dalam hal ini Dinas Keuangan TNI Angkatan Laut,  dalam rangka memberikan pelayanan keuangan yang maksimal di lingkungan TNI AL, Jumat (8/2/2019).

 

Acara yang dilaksanakan di Magnolia Room Hotel Westin Nusa Dua Bali berhasil ditanda tangani bentuk perjanjian kerja sama antara akun jajaran Kupus TNI Angkatan Laut, Akun jajaran keuangan wilayah Armada II dengan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Turut hadir pada acara tersebut Senior Vice Presiden Bank Mandiri bapak Teddy Y Danas dan dari TNI Angkatan Laut mewakili Kadiskual Laksamana Pertama TNI R. Angang Dwi Kuncoro, S.E., M.M., yaitu Kolonel Laut (S) Nanang Permadi Kakuwil Koarmada II dan Kakupus Diskual Kolonel Laut (S) Hery Setiyo Nugroho, Danlanal Denpasar Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko, Ka Akun Mako Armada II, Ka Akun Pushidrosal, dan Ka Akun Lanal Denpasar, serta dari Bank Mandiri diantaranya, Vice Presiden Bank Mandiri, Area Het Bank Mandiri Bali.

Dalam sambutannya Kadiskual yang dibacakan oleh Kakuwil Koarmada II menyampaikan yang intinya dengan ditandatanganinya perjanjian kerjasama yang merupakan tindak lanjut dan bagian tidak terpisahkan dari kesepakatan bersama PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, dengan TNI Angkatan Laut yang telah dibuat sebelum ini, akan tetap menjadi sebuah momentum jalinan kerja sama menciptakan sinergitas serta memperkuat keberhasilan tugas, fungsi dan peran masing-masing.

Ditempat yang sama Vice Presidern Bank Mandiri mengatakan perjanjian kerja sama ini berisi pemanfaatan jasa layanan dan sistem perbankan Bank Mandiri di lingkungan TNI AL. Adapun salah satu jasa layanannya adalah Cash Management System yang menggunakan sistem berbasis internet untuk mengelola keuangan secara efisien dan efektif serta melakukan pengecekan saldo hingga transaksi pemindah bukuan.

Tujuan dilaksanakannya perjanjian kerja sama ini adalah untuk mendapatkan kesamaan pola tindak antara TNI AL dan Bank Mandiri. Dengan melibatkan layanan kantor cabang Bank Mandiri yang telah ditunjuk di seluruh Indonesia melalui pembukaan rekening giro, bendahara TNI AL yang bertugas akan lebih mudah untuk mengadministrasikan transaksi keuangan demi menyalurkan dan mempertanggungjawabkan dana keperluan belanja negara dalam pelaksanaan APBN pada Kementerian Pertahanan dan TNI. (Satyagraha)


Continue Reading
Advertisement

Daerah

Bikin Iri, Mulai Kalangan Bawah Hingga Pejabat Publik Untung Berlipat Paska Banjir, Begini Analisanya!

Published

on

GatraDewata[Jakarta] Gemuruh pembahasan soal banjir seolah tanpa henti seminggu belakangan ini. Banyak data yang berseliweran entah mana yang benar. Ada yang bilang banjir kali ini yang terparah, ada juga yang berkoar jika ini tidak terlalu buruk. Ketika jajaran Pemprov DKI memantau banjir lewat CCTV, kami memilih untuk menganalisa apa yang tersisa setelahnya.

Tapi sebelumnya kami mengucapkan keprihatinan bagi handai taulan yang terdampak, baik langsung maupun tidak langsung, oleh bencana air berlebih ini. Semoga tuhan memberikan kekuatan sekaligus jalan keluar secara permanen.

Namun, suka atau tidak, siapa sangka di balik genangan air tempo hari ada beberapa kalangan yang malah kipas – kipas meraup nikmat. Distribusi kenikmatan inipun cukup merata, mulai dari kalangan bawah hingga pejabat publik. Nah, loh!?

Mari kita lanjutkan analisa sederhana ini, siapa saja kalangan yang dimaksud!

1. Jasa derek kendaraan (towing)

Tak terhindarkan lagi, mobil yang mogok harus diangkut menggunakan mobil derek. Entah mesinnya jebol karena dipaksa menerjang banjir atau sekedar kelelep dalam keadaan mati. Keduanya musti mendapatkan penanganan oleh ahli. Rekomendasi para pakar otomotif mnganjurkan agar mobil yang terkena banjir jangan langsung dihidupkan. Jika dipantau dari siaraan langsung waktu itu maka jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu unit. Potongan kue yang besar ini dibagi dengan sedikit kalangan saja. Karena usaha derek kendaraan ini tidak sebanyak gerai Indomaret. Kisaran tarifnya dibagi menjadi tiga kelompok sesuai jenis/dimensi kendaraannya. Tarif awal berkisar antara 100 ribu hingga 200 ribu untuk 5 kilometer pertama. Kemudian ada tarif tambahan yang berkisar antara 8 ribu hingga 15 ribu per kilometernya.  Contohnya, mobil sedan yang diderek sejauh 10 kilometer akan dikenakan biaya sejumlah 100 ribu ditambah 8 ribu kali 5 (km), yaitu 140 ribu. Jika berhasil mengamankan 10 saja mobil kecil maka cuan yang masuk sekitar 1,4 juta, tergantung jarak yang ditempuh.

2. Bengkel

Setelah mobil diderek, so what? Kebanyakan mobil – mobil sial itu  diderek ke bengkel rujukan, kecuali pemiliknya seorang mekanik maka akan diarahkan ke rumah. Tapi jumlah orang yang paham mekanisme mobil tidaklah banyak. Jadi, baik bengkel mobil maupun motor, sebagaimana dewi fortuna menghampiri jasa derek tadi, dipastikan kebanjiran order. Apalagi salah satu ulasan  TV swasta menyebutkan jika jasa pemulihan mobil paska banjir (kelas SUV), berkisar antara 20 hingga 30 juta Rupiah. Ada ribuan mobil yang sempat dipaksa latihan nyelam, baik di garasi rumah, parkir maupun di jalanan. Itu berarti Milyaran uang akan dialokasikan untuk mengisi pundi – pundi perbengkelan. Fakta ini sekaligus mengubah tren perjodohan di ibu kota, bahwa, menantu idaman itu adalah seorang mekanik.

3. Binatu (Laundry)

Sebenarnya binatu kurang dikenal oleh masyarakat kita, istilah kerennya Laundry. Bayangin aja rumah anda kelelep sampai palfon. Sementara kedatangan air berlebih yang tidak diundang ini cukup nakal, sehingga masyarakat tidak punya cukup waktu untuk berkemas. Jadilah pakaian dan semua barang berbahan kain bercampur aduk air kotor. Nah, siapa yang mampu mencuci seluruh linen atau pakaian bekas banjir sekaligus? Ini memang sudah rejekinya wirausahawan binatu. Mari kita berdoa semoga mesin cuci mereka tidak jebol karena harus kerja keras demi mengambil sebanyak mungkin cucian. Demand (kebutuhan) yang begitu tinggi bisa saja menaikkan tariff cucian, misalnya yang dulunya 5 ribu per kilo kini malah naik menjadi 8 ribu, bahkan dobel. Ada dua kenaikan sekaligus; kenaikan harga dan kebutuhan. Maka secara otomatis pemasukan binatu naik secara signifikan.

4. Jasa Kebersihan (Cleaning services)

Sektor bersih – bersih rumah ini tetap kebagian jatah karena banyak orang kaya yang enggan mengotori tangannya untuk melakukan dirty job ini sendiri. Lagipula, bersih – bersih paska banjir berbeda dengan ritual harian. Kadang anda butuh tangga untuk membersihkan lumpur di bagian ventilasi, kipas angin gantung dan bagian tingggi lainnya. Membersihkan lantai dengan mesin semprot high pressure lebih efisien daripada menggunakan penggaruk berbahan karet. Tentu ada banyak lagi peralatan khusus yang jarang tersedia di rumah. Oleh karena itu paling tepatnya memang dikerjakan oleh jasa cleaning service, karena alat mereka memadai. Tidak ada patokan harga untuk jasa ini. Tapi angka 1 juta per rumah untuk kembali kinclong mestinya tidaklah berlebihan, tergantung besaran rumah tentunya. Jasa bersih – bersih rumah harian (bukan rumah paska banjir) ada di kisaran 50  ribu hingga 70 ribu per jamnya. Itu berarti angka 1 juta per rumah cukup adil. Sebagai bonus, ada juga sofa dan kasur yang butuh perlakuan sama. Ongkosnya beda lagi dengan pakaian. Panen, panen, panen.

5. Gubernur DKI

Genangan berskala besar di Jakarta tidak lepas dari peran Gubernur Anies Baswedan. Sosok beliau wara wiri di dunia maya; baik itu di portal berita nasional, TV, media cetak maupun di sosial media. Salah satu akun sosial media menyebut jika beliau sukses menangani banjir, terlepas dari foto – fotonya dengan Ibu Rumiati. Ada pula yang memajang beragam prestasi beliau sejak sebelum menjadi gubernur, bahkan status kakeknya sekaligus yang dianggap berjasa terhadap tanah air. Bahkan, berkaitan dengan penanganan ibu kota, akun lainnya berceloteh jika Anies sangat mumpuni untuk jabatan presiden RI. Di lain pihak, ia juga tidak luput dari hujatan warga yang kesal, karena secara instan akan menjadi mangsa bagi jasa – jasa layanan di atas. Believe it or not, justru di situasi inilah ia meraup keuntungan besar. Bukan hanya karena anggaran banjir yang akan surut (baca: terserap) lebih cepat, tapi beliau mendapatkan exposure (pemberitaan) yang membuatnya kian terkenal. Bayangin aja jika beliau harus bayar untuk tampil di layar kaca! Ongkosnya bisa ratusan juta per detik; nah yang ini gratis dan berhari – hari pula. Boleh dikata bahwa beliau mendapatkan exposure yang tak ternilai. Jika betul ia layak menjadi orang nomor 1 di Indonesia, maka efek pemberitaan ini akan menjadi modal besar di tahun 2024 mendatang. Gile bener!

6. Tukang Potong Rambut (Barber shop/salon)

Sebagaimana kepercayaan suku Sunda bahwa memotong rambut pada situasi tertentu dapat bermakna buang sial. Hal ini sejalan dengan kebiasaan warga Beijing yang setiap perayaan Imlek, dalam kurun waktu seminggu, orang – orang bergegas potong rambut untuk buang sial. Bahkan mereka harus membuat reservasi jauh – jauh hari karena saking banyaknya permintaan. Kembali ke tanah air, bukan tidak mungkin dalam situasi yang menguras tenaga dan pikiran ini, masyarakat akan berlomba – lomba ke barber shop untuk buang sial. Perkiraannya begini: jika jumlah penduduk Jakarta 7 juta orang dan yang merasa sial mencapai 30% saja, maka ada 2,1 juta kepala yang perlu dipangkas, maksud kami rambutnya. Jika ongkos per kepala 30 ribu (kadang lebih) maka ada 63 milyard uang akan berduyun – duyun ke gerai potong rambut.<swn>

Continue Reading

Daerah

Kian Nyata, Hotel Akan Berlomba – Lomba Jual Kasurnya. Kok Bisa?

Published

on

GatraDewata⌊Denpasar⌋ Masyarakat Bali, mungkin juga berlaku untuk daerah lain, bakal dibanjiri kasur bekas hotel. Pasalnya, perilaku masyarakat akan pengalaman tidur nyenyak mulai bergeser. Lantas, apakah itu berarti para tamu akan tidur tanpa kasur?

Slow, mas bro! Begini ceritanya:

Kami pernah pantau gaya berlibur orang lokal yang doyan sekamar rame – rame. Waktu itu ada kamar yang dihuni sampai 5 orang; jadi 3 orang di tempat tidur besar (double), 2 orang lagi menggunakan tempat tidur tambahan (extra bed). Buat mereka yang penting bisa tidur, privasi belakangan. Di lain pihak, study tour luar pulau kalau liburan di Bali tidurnya di penginapan jenis hostel; antara 4 sampai 6 orang per kamar.

Dibilangan Canggu, Kuta, Uluwatu dan daerah pesisir lainnya, dimana pantainya mumpuni untuk berselancar, kerap menyediakan hostel bagi penikmat ombak tersebut. Mereka hidupnya sederhana; yang penting bisa selancar, soal kamar apa adanya. Begitu juga di daerah Ubud. Para yogi (pelaku yoga, Red) jarang yang mau tidur seranjang dengan yogi lain karena biasanya mereka tidak saling kenal.

Nah, hadirnya penginapan  jenis hostel ini cocok bagi kelompok diatas; anak sekolah, kalangan petualang yang gaya hidupnya simple, kalangan yogi dan peselancar. Disamping tingkat kenyamanan yang rendah, nginep rame – rame berdesakan di satu tempat tidur jelas tidak sejalan dengan protokol kesehatan. Kondisi inilah yang membuat kehadiran hostel bak gayung bersambut. Hostel lebih mendekati gaya hidup era baru karena walaupun dalam satu kamar dihuni hingga 6 orang, tapi tempat tidurnya terpisah. Itu artinya jarak antar penghuni terjaga selama ada di kamar. Sekarang tinggal disesuaikan dengan aturan yang berlaku, misalnya tetap mengenakan masker. Jadi tidak ada lagi yang berdesakan seperti ikan asin.

Ceruk pasar yang spesifik (niche market) inilah yang harus dipertimbangkan oleh pelaku bisnis penginapan yang sudah eksis.

Bukankah kenyataan tadi  mengindikasikan bahwa kebutuhan destinasi wisata akan kamar hostel akan meningkat kedepannya? Sementara membangun hostel baru pastinya agak berat setelah setahun lebih defisit. Selama ini modal terserap untuk urusan operasional yang lebih tinggi dari pendapatan. Indikasi lain keterpurukan pebisnis penginapan yaitu kian banyaknya hotel yang kini dijual.

Terus, apa hubungannya dengan jual kasur?

Untuk mengambil ceruk pasar diatas, bukan tidak mungkin hotel non bintang harus menjual sebagian kasurnya untuk digantikan dengan bunk bed (istilah tempat tidur susun untuk hostel, Red). Ini adalah aksi mengambil peluang, sekecil apapun itu, demi kelangsungan bisnis kedepannya. Data Badan Pusat Statistik provinsi Bali, tahun 2019, menunjukkan bahwa di Bali terdapat 3,912 hotel non bintang. Jika mereka sepakat untuk menyediakan 2 kamar saja setingkat hostel, maka jumlah kasur yang akan dilempar ke publik, untuk kemudian digantikan dengan bunk bed, mendekati angka 8,000 biji. OMG! Pilih jual kasur atau hotelnya?<swn>

Continue Reading

Daerah

Pilih Hotel atau Hostel? Sobat Petualang Wajib Cermati Keborokannya Masing – Masing

Published

on

GatraDewata⌊Denpasar⌋ Halo sahabat petualang, tau nggak kalau akomodasi itu ada banyak sekali jenisnya. Jika dihitung secara cermat maka totalnya mencapai 57 jenis yang tersebar di planet kita ini. Jika Elon Musk berhasil membawa turis ke luar angkasa, kemudian mendarat dan bermalam di planet lain, maka daftarnya akan lebih panjang lagi. Hmmm, andai saja ada yang berbaik hati memberikan kesempatan untuk mencoba semua jenis penginapan itu. Pasti menyenangkan.

Ironisnya, dari total jenis penginapan yang seabrek tadi hanya 21 saja yang eksis di negeri kita. Sisanya ada diluar sana. Keduapuluh satu jenis penginapan itu meliputi Apartement, Boutique Hotel, Bed & Breakfast, Cottage, Chalet, Camp, Capsule, Eco, Guesthouse, Hotel, Hostel, Inn, Lodge, Mansion, Penthouse, Resort, Timesahre, Treehouse, Villa dan yang terakhir adalah Yacht.

Lebih ironis lagi, kebanyakan orang hanya mengenal sebagian saja dari 21 jenis penginapan tersebut.

Kemudian, lebih ironis dari yang ironis tadi, kita akan bandingkan hanya 2 jenis saja kali ini, yaitu Hotel dan Hostel. Hotel, karena jenis ini yang paling populer. Hostel, karena memang keduanya terdengar mirip; hanya ada sisipan huruf ‘s’ ditengahnya. Sesederhana itu, ga usah ruwet.

Namun, suka atau tidak, penginapan jenis hotel telah memonopoli alam bawah sadar manusia sehingga jenis lain jadi tersamarkan. Misalnya, kalo si Udin ditanya menginap dimana saat kunjungan kerja yang sama sekali ga penting itu, ia akan menjawab tanpa perlu mikir, “nginep di hotel, mas bro.” Padahal beliau semalaman ngorok di sebuah penginapan paket irit setingkat Guesthouse.

Walaupun berbeda, keduanya memiliki kesamaan. Pertama, yang pasti kedua ownernya makin kaya, trus yg kedua, sama – sama untuk menginap.

Lantas apa sejatinya yang berbeda antara keduanya?

Mari kita bahas hotel terlebih dahulu. Hotel sendiri tidak akur secara internal, bahkan sedikit rasis. Gmana ga rasis, mereka kerap digolongkan berdasarkan fasilitas secara umum maupun fasilitas kamarnya itu sendiri. Hotel dengan fasilitas super lengkap dengan kualitas kelengkapan mewah kerap menduduki golongan Bintang Lima. Semakin fiturnya berkurang semakin rendah golongannya dan yang paling miskin fitur harus puas menyandang gelar Bintang Satu. Yang fiturnya lebih minim lagi disebut hotel melati.

Perseteruan tipe masih berlanjut hingga ke sektor kamar. Kita semua tahu jika kamar tipe Standard dan Deluxe merupakan tipe paling lumrah dan hampir setiap hotel memilikinya. Masing – masing tipe kamar ini biasanya dibedakan berdasarkan luas, pemandangan dan fasilitas pendukungnya. Penentuan tipe kamar ini diputuskan sepenuhnya oleh pihak hotel itu sendiri.

Keuntungan menginap di hotel yakni soal privasi, karena tamu yang menginap berhak atas sebuah kamar yang disewa. Namun,  kapasitas setiap kamarnya dibatasi hanya untuk dua orang saja, selebihnya akan dikenakan biaya tambahan. Udah ongkos kamarnya kerap lebih mahal dari hostel, ada pula biaya tambahan.

Ampun bang jago, aku cuma mau tidur nyenyak, ga peduli golongan atau apalah itu.

Di lain pihak, Hostel merupakan jenis penginapan kelas ekonomi dimana fitur – fiturnya tidaklah begitu lengkap alias seadanya. Tidak ada pemecahan golongan di dunia Hostel seperti gelar Bintang di dunia Hotel. Entah Hostel itu punya kolam renang atau tidak ia tetap disebut hostel. Bedanya lagi, di hostel kapasitas kamar dibatasi oleh jumlah tempat tidur yang tersedia. Ada hostel yang menawarkan 4 dan bahkan sampai 12 tempat tidur tiap kamarnya. Dari sini saja kita sudah tahu bahwa privasi bukanlah yang utama. Orang yang menginap di Hostel merupakan sosok yang outgoing alias gampang bergaul, sehingga tidak kagok ketika bertemu, apalagi sekamar, dengan orang baru. Miskinnya privasi di hostel juga berarti tidak cocok bagi pasangan siap tempur yang baru habis resepsi kemarin sore. Kecuali mereka mau melakukan ritualnya secara masal maka lain lagi cerita. Soal privasi ini tidak berhenti sampai di kamar aja, tapi berlanjut hingga kamar mandi. Di hostel, kamar mandi tidak disediakan sesuai jumlah tempat tidur jadi ada pelunag antri ketika kepentingan datang secara bersamaan.

Mengingat satu tempat tidur untuk satu tamu maka pembiayaan juga dikenakan per tamu, bukan per kamar layaknya di hotel. Baik jika itu sendiri maupun rame – rame, menginap di hostel jatuhnya kerap lebih murah. Untuk itulah hostel sering dipilih oleh kalangan anak muda yang doyan ngerumpi sambil gitaran, atau sekedar membahas hobi masing – masing. Bagi mereka, kehadiran hostel merupakan anugerah; bisa ngumpul tanpa perlu rebutan tempat tidur.

Berani mencoba untuk bermalam di hostel? Monggo kunjungi besthostels.co.id untuk memilih ratusan hostel yang tersebar di Bali hingga Lombok. Anda juga bisa unduh aplikasinya di Google Apps Store untuk kenyamanan proses bookingnya. Selamat mencoba! <swn>

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam