Connect with us

Kesehatan

Cegah Peredaran Gelap Narkotika, BNNK Denpasar Undang Bendesa Adat

Published

on


Kepala BNN Bali dengan Kepala BNNK Denpasar foto bersama setelah rapat kerja

Kepala BNN Bali dengan Kepala BNNK Denpasar foto bersama setelah rapat kerja


GATRADEWATA – Guna memberantas penyalahgunaan narkotika di Kota Denpasar, Badan Narkotika Nasional(BNN) Kota Denpasar undang Bendesa Adat se-Kota Denpasar untuk melakukan rapat kerja tentang bahaya narkotika. Senin, 28 Maret 2016.

Sebanyak 17 Bendesa Adat dari wilayah Kota Denpasar hadir dalam rapat tersebut yang berlangsung di kantor BNN Kota Denpasar tepatnya di jalan Melati no. 21 Denpasar.

Dalam rapat peningkatan peranan dan partisipasi lingkungan masyarakat dalam upaya P4GN tersebut, BNNK menghadirkan Kepala BNN Provinsi Bali, MUDP Bali dan Kepala BNN Kota Denpasar sebagai narasumber.

Brigjen Pol. I Putu Gede Suastawa Kepala BNN Provinsi Bali mengatakan, data klien rehabilitasi Badan Narkotika Nasional(BNN) Provinsi Bali hingga November 2015, terbesar penyalahgunaan narkotika yang sudah menjalani rehabilitasi, yakni dari umur 21 sampai dengan 40 tahun. Yaitu, sebanyak 743 orang atau 76 persen.

“Untuk posisi kedua diduduki umur 41 sampai dengan 55 tahun, sebanyak 136 orang atau 15 persen, posisi ketiga umur 15 sampai 20 tahun 81 orang atau 8 persen serta terakhir umur 56 sampai 65 tahun sebanyak 10 orang atau 1 persen.” Kata Suastawa yang pernah bertugas 8 tahun di Surabaya sebelum menjadi Kepala BNN Bali.

Raker ini juga membahas penyebab korban memakai narkotika. Dimana ada dua faktor penyebab utama terjerat narkotika. Yaitu; faktor individu dan faktor lingkungan.

“Untuk faktor individu, mereka biasanya beralasan coba-coba, iseng, senang-senag, mengikuti trend, agar diterima dalam suatu gruop, pelarian dari suatu masalah dan pengertian yang salah bahwa sekali-sekali tidak masalah”. Kata AKBP I Gede Suwahyu Kepala BNN Kota Denpasar.

Sedangkan faktor lingkungan, Suwahyu menambahkan, biasanya terjadi karena solidaritas teman atau kelompok sebaya, ajakan, rayuan atau iming-iming, lingkungan yang membiarkan maraknya penggunaan dan penjualan bebas obat-obatan terlarang/narkoba, lemahnya penegakan hukum dan bisnis yang terorganisir, dan ditutup-tutupi masyarakat sendiri.

“Faktor lingkungan ini, juga biasanya terjadi kesempatan atau situasi seperti di diskotik, tempat hiburan, rekreasi, pesta dan lain-lain.” Lanjutnya.

Suwahyu menghimbau kepada seluruh masyarakat khususnya yang ada di wilayah Denpasar untuk tidak ikut-ikutan ataupun coba-coba menggunakan barang haram ini. Karena sekali mencoba, selamanya akan terjerat dan juga harus berurusan dengan hukum.

Dengan rapat kerja ini, BNN berharap desa adat ikut berperan aktif dalam mencegah dan mensosialisasikan tentang bahaya narkotika sehingga kedepan bisa mendeteksi sejak dini jika terjadi penyalahgunaan narkotika di wilayah masing-masing.

Alt


Daerah

5 Tips Aman di Tempat Kebugaran Selama Pandemi

Published

on

GatraDewata ⌊Denpasar⌋ Bagi mereka yang suka tampil bugar kerap dihadapkan pada dilema selama pandemi Corona. Di satu sisi tidak boleh berkerumun, disisi lain musti menjaga ketahanan tubuh yang salah satunya dengan tetap berolahraga. Jika anda tinggal di daerah pinggiran perkotaan tinggal pakai sepatu kemudian jogging di luar. Nah, mereka yang tinggal di perkotaan tidak memiliki keuntungan itu. Satu – satunya pilihan yaitu pusat kebugaran yang kerap disebut Gym.

Lalu, bagaimana anda bisa tampil bugar tapi juga aman? Berikut tips yang saya rangkum sebagai referensi anda:

1. Berlatihlah di Gym yang sepi.

Memilih gym yang sepi dimaksudkan untuk memperkecil resiko penularan; baik ditular maupun menularkan. Gym yang sepi juga memungkinkan bagi anggotanya untuk menjaga jarak. Ada beberapa faktor untuk menemukan gym yang sepi, misalnya: a) berlatihlah pada jam – jam yang tidak biasa. Rata – rata orang mulai berlatih antara jam 9 am sampai siang, kemudian lanjut lagi sorenya antara jam 5 pm sampai jam 8 malam. Tapi untuk lebih akuratnya bisa anda bicarakan dengan bagian admin masing – masing gym. b) faktor yang ini agak ruwet, tapi jika keselamatan merupakan prioritas pastinya bakal dilakoni juga. Cari gym yang mahal! Gym yang mahal biasanya kurang laku, maksudnya jarang orang yang datang kesini karena faktor U alias uang. Sebagaimana diungkapkan oleh David, pemilik Smart Fit, dimana beliau sengaja tidak menyesuaikan harga selama pandemi guna menyaring anggota. Alhasil jumlah anggotanya turun hingga 70%. Artinya, tidak akan terjadi kerumunan yang tidak terkendali.

2. Cari Gym yang sistem ventilasinya mumpuni. 

Bukan tanpa alasan untuk mengutamakan gym yang memiliki sistem ventilasi bagus. Penularan Covid-19 sebagian besar dari pernapasan. Oleh sebab itulah kita diharuskan untuk selalu mengenakan masker. Ironisnya, penggunaan masker agak sulit saat berolahraga; nafas jadi berat. Lagipula ruangan yang tertutup dan suhunya dikontrol dengan sistem pendingin (AC) justru tidak direkomendasikan oleh ahli. Disinilah peran ventilasi tersebut ditempatkan. Ventilasi yang mumpuni harus memiliki jalur pergantian udara memadai. Penggunaan exhaust pada beberapa titik tidaklah cukup jika aliran udara masuk hanya datang dari satu arah. Akan ada bagian – bagian tertentu yang udaranya mendem atau pertukarannya lambat. Jadi yang tepat yaitu harus ada banyak jendela/ventilasi di semua sisi ruangan. Jika ditambahkan dengan beberapa exhaust maka akan menjadi sempurna.

3. Perhatikan ketersediaan fasilitas keselamatan sesuai Protokol Kesehatan.

Pengadaan fasilitas ini sudah jamak dilakukan oleh penyedia jasa. Kita bisa lihat di depan setiap toko terdapat tempat cuci tangan, kemudian ada juga sanitizer di dekat meja kasir. Produk tersebut juga penting di pusat kebugaran. Malah, boleh dibilang suatu keharusan. Bayangkan saja satu alat bisa digunakan oleh beberapa orang secara bergantian dalam tempo yang berdekatan. Penggunaan sanitizer di gym lebih intens daripada tempat umum lainnya. Gunakanlah selalu sanitizer, beberapa kali, saat berlatih. Disamping sanitizer ketersediaan handuk juga tidak kalah penting sehingga keringat tidak tertinggal yang kemudian tersapu oleh orang berikutnya.

4. Bijaksanalah dengan program latihan.

Kadang kita sudah membuat program latihan dan merencanakan untuk menggunakan alat – alat tertentu nantinya. Namun, ketika sedang berlatih ada orang lain yang juga menggunakan alat yang sama. Jika ini terjadi maka pikirkan untuk beralih ke alat lain yang memberikan efek serupa pada otot anda. Dumbell anda diesrobot orang, pakailah cable machine. Ketika treadmill tidak memungkinkan anda masih bisa gunakan sepeda statis atau bentuk otot paha dengan leg press. Apalagi yang nyerobot badannya lebih besar, anda tidak mau bonyok sepulang latihan, bukan? Langkah ini bukan untuk membuat anda terlihat seperti pengecut. Tapi malah terlihat cerdas dan bijak yang efeknya anda bisa terus berlatih kedepannya.

5. Wuhan Shake.

Jika selama ini modus latihan anda karena peluang untuk cipika – cipiki (cium pipi kanan – cium pipi kiri) dengan instruktur aerobik di lantai atas, lupakan itu untuk smentara. Jabat tangan saja tidak direkomendasikan, apalagi cipika – cipiki. Kini metode ramah tamah setara jabat tangan sudah tergantikan dengan Wuhan Shake, yaitu bisa dengan mempertemukan siku atau ujung kaki. Pilihlah sesuai kenyamanan anda.

Intinya adalah kita harus selalu awas terhadap kemungkinan terpapar virus Corona. Jika orang lain tidak mengerti maka mulailah dari diri sendiri. Kurangi ego dan tambahlah beban, maka tuhan, dengan segala kemurahannya, akan membuat otot anda semakin berkembang.<swn>

Continue Reading

Daerah

Jangan Sampai Jadi Pemangku Tanggung, Ikuti Kursus Kepemangkuan Disini!

Published

on

GatraDewata ⌊Denpasar⌋ Pasraman Ghanta Yoga membuka kursus Kepemangkuan dibawah naungan Yayasan Taman Bukit Pengajaran. Pendaftaran sudah mulai dibuka sejak awal minggu ini dan akan ditutup pada tanggal 28 November 2020.

Pelatihan kepemangkuan ini akan digelar pada tanggal 29 November 2020, dimulai dengan proses mewinten. Pelatihan kepemangkuan ini berlangsung selama 3 bulan dengan total 24 kali pertemuan. Seluruh pelatihan akan dilakukan di Pasraman Ghanta Yoga yang beralamat di Gang Ulun Carik V Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Adapun materi yang akan diberikan dalam kursus kepemangkuan dasar ini, meliputi :

  • Sesana/swadarmaning pemangku; sesi ini akan terfokus untuk melatih peserta tata cara pemangku nganteb
  • Wariga; pengenalan pencarian hari baik
  • Tatwa
  • Upacara/Upakara; pemaparan upacara mulai dari manusa, dewa hingga butha yadnya
  • Dasar Kosala Kosali
  • Gegelaran pemangku; materi lanjutan dari swadarmaning pemangku


Kursus pelatihan kepemangkuan ini dibuka untuk seluruh lapisan masyarakat yang sedang aktif maupun pemula dibidnag kepemangkuan. “Siapa saja boleh ikut; baik pemangku aktif maupun calon atau orang-orang yang ingin jadi pemangku” terang Ketua Pesraman Ghanta Yoga.

Donasi untuk kursus kepemangkuan ditetapkan sebesar 800 ribu/orang untuk seluruh sesi, yang berdurasi antara 1.5 hingga 2 jam per sesinya. Sebagai bonus, peserta akan diberikan pelatihan tambahan yaitu Yoga Asuci Laksana guna meningkatkan kesucian diri dan kerahayuan.  Peserta juga akan diberikan panduan materi untuk kemudian dibawa pulang, serta sertifikat bagi yang berhasil menuntaskan seluruh sesi.

Untuk keterangan lebih lanjut pembaca GatraDewata bisa menghubungi bagian administrasi di nomor 08993182858.<swn>

Continue Reading

Global

KETIDAKPASTIAN PANDEMI : DUKUNGAN PSIKOSOSIAL VS KONSPIRASI

Published

on

GATRA DEWATA | BALI | Saat ini kita mulai merasakan masa pandemi Covid-19 cukup panjang. Tadinya banyak orang berharap ini hanya sebentar dan sekarang kita semua terjebak pada dua hal; pertama, ketidakpastian dan itu pasti tidak menyenangkan. Kedua, selain ketidakpastian adalah kesepian.

Walaupun kesepian juga bisa terjadi saat ada banyak orang dan banyak aktivitas tapi sekarang dua hal ini menjadi adalah problem terbesar kesehatan jiwa masyarakat saat ini.

Dari apa yang saya baca, sebenarnya pandemi adalah salah satu bencana yang bersifat natural atau alami, selain bencana alam seperti banjir, tanah longsor atau tsunami, dan ada juga yang menyangkut wabah penyakit. Selain itu juga ada bencana non-alam akibat teknologi atau peperangan dan terorisme.

Tetapi dari semua kondisi bencana ini ada pola-pola yang serupa. Pada wabah penyakit ada istilah pre-disarter, misalnya ketika kita melihat ada ancaman. Untuk Covid-19 ketika Desember 2019 dan Januari 2020 China dan beberapa negara di Eropa mulai mengalami pandemi, kita masih berada di tahap pre-disaster.

Mulai merasa terancam dan waspada tetapi kita masih beraktivitas seperti biasa walaupun mulai ada kecemasan akan ketidakpastian.

Lalu ini berlanjut pada fase disaster dan fase pertamanya disebut fase heroik, ketika kita mulai mengalami ancaman yang nyata, mulai ada korban mulai ada yang positif mengidap virus Corona dan menyebar. Pada fase ini masyarakat mulai bersiap menghadapinya, setiap orang kemudian menyampaikan imbauan-imbauan, menggalang dana untuk membantu sesama.

Seperti yang kita lihat, ketika banyak tenaga medis belum mempersiapkan APD (Alat Pelindung Diri), masyarakat tanpa menyalahkan satu sama lain mengumpulkan dana dan memberikan APD kepada tenaga medis. Juga, membagikan sembako kepada warga yang membutuhkan. Itu fase heroik yang biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan saya pikir kini kita sudah melewatinya.

Setelah fase heroik ada yang dinamakan dengan fase honeymoon atau bulan madu. Masyarakat mulai merasa cukup nyaman, anak-anak kita yang sebelumnya tidak terbiasa online kini mulai terbiasa. Orang yang bekerja di kantor mulai beralih dan terbiasa bekerja dari rumah dengan dibantu teknologi internet.

Bagi kalangan menengah ke atas mulai terbiasa menikmati suasana keluarga. Dan, kita akan melewati fase ini dengan berpikir positif bahwa kita akan bisa menghadapi pandemi ini, bahwa semua akan berlalu.

Namun, kita mesti berhati-hati sebab setelah fase honeymoon kita akan masuk pada fase disillussionment atau penurunan. Kita mulai berpikir sampai kapan keadaan seperti ini, apakah kita akan bisa bertahan atau tidak.

Ketika fase honeymoon menurun atau sudah terlewati, banyak orang berpikir tentang teori konspirasi; bahwa Covid-19 ini sebenarnya tidak nyata, bahkan ada yang mengaku siap disuntik virus untuk membuktikannya yang jelas tidak mungkin dilakukan.

Dan semua itu akan meningkatkan rasa ketidakpastian masyarakat. Orang yang tadinya sedikit cemas akan pandemi ini kemudian meningkat rasa cemas dan khawatirnya. Juga disertai dengan dengan rasa putus asa; jangan-jangan pandemi ini akan lama dan kita tak akan bisa bertahan.

Jadi, muncul semua rasa ketidakpastian. Pada keadaan seperti inilah menurut saya dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat penting.

Selama ini orang hanya berpikir soal dukungan materi, memberikan sembako dan kebutuhan lain. Atau, membuat program Pra Kerja dan memberi pelatihan agar orang bisa yang terdampak pandemi bisa bekerja kembali. Betul, itu semua penting tetapi banyak orang lupa akan pentingnya dukungan kesehatan jiwa dan psikososial.

Terutama ketika fase honeymoon terlewati, dukungan terhadap kesehatan jiwa sangat dibutuhkan. Jadi perlu keseimbangan.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu setuju dengan berpikir positif, bahwa kita harus senantiasa positif. Kadang-kadang kalau kita terlalu positif atau toxic positivity, kita justru akan jatuh pada kekecewaan. Misalnya saat kita merasa bahwa sebentar lagi keadaan akan baik-baik saja, bahwa kita harus percaya terhadap hal itu dan lain sebagainya.

Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita akan merasa kecewa dan putus asa. Di sini keseimbangan sangat diperlukan termasuk membatasi informasi tentang pandemi. Kita juga perlu membaca berita yang positif. Tetapi kalau kita terlalu optimis dan menjadi abai terhadap ancaman, itu menjadi tidak bagus juga.

Kita perlu memberi perhatian terhadap berbagai ekspresi masyarakat tentang pandemi ini. Termasuk duka cita, itu perlu dihormati. Misalnya tentang tenaga medis yang mengirim kiriman di media sosial tentang sejawatnya yang meninggal, itu perlu dihormati.

Juga pada profesi lain, tentang orang tua dan para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Duka cita adalah sesuatu yang perlu dihormati.

Di satu sisi, hal diatas kita lakukan untuk dukungan psikososial. Di sisi lain, perlu juga sesuatu yang membangkitkan harapan; bahwa pandemi ini akan lewat dan tidak ada sesuatu yang terjadi terus-menerus. Kemudian, sebagian besar akan baik-baik saja, meski banyak ada yang sakit dan meninggal tapi sebagian besar dari kita akan tetap survive.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengenali dan menggemakan hal-hal baik yang terjadi di sekitar kita. Ada harapan, perbaikan, dan data-data yang mencerahkan diri kita, itu perlu digemakan. Dan yang penting adalah bagaimana kita menemukan peluang.

Saya percaya keadaan ini tidak membuat kita berhenti kembali pada masa lalu tetapi ini membuat kita menemukan peluang, sehingga kita menjadi leading, menjadi paling berkembang ketika kita menemukan the new normal, situasi normal yang baru dan tidak kembali seperti dahulu, serta mempertahankan harapan.

Itu yang kita semua perlu lakukan, sehingga fase disiluision ini akan berlalu dan kita bisa recover. Memang tidak semudah yang dikatakan, tetapi hal ini perlu bersama-sama kita jalankan. Bekerja sama, bukan saatnya saling menyalahkan, bukan saatnya bertengkar dan terpecah belah tetapi bersama-sama melewati pandemi ini. Seperti kata-kata dalam lagu kebangsaan kita Indonesia Raya; selain kita perlu membangun raga kita juga perlu membangun jiwa. Tetaplah sehat jiwa sampai pandemi Covid-19 ini berakhir. Salam Mantap Jiwa.

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam