Connect with us

Pariwisata dan Budaya

Bus Metro Dewata Serobot Pariwisata, Eddy: Tidak, Trayek Tetap dan Teratur

Published

on

I Ketut Eddy Dharma Putra, S.Sos., Direktur Utama PT. Satria Trans Jaya

GATRA DEWATA | BALI | Protes yang dilakukan oleh pengusaha jasa angkutan pariwisata karena merasa lahannya diserobot oleh rute Bus Trans Metro Dewata akhirnya dijawab langsung oleh I Ketut Eddy Dharma Putra, S.Sos di kantornya.

Ia menjelaskan awal terbentuknya Bus Trans Metro Dewata adalah karena UU 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 138 ayat 2 menyebutkan pemerintah bertanggungjawab atas penyelenggaraan angkutan umum, dan Pasal 139 ayat 2 yakni pemerintah daerah provinsi wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan atau barang antar kota dalam provinsi, dan pasal 139 ayat 3 yakni pemerintah daerah kabupaten atau kota wajib menjamin tersedianya angkutan orang dan atau barang dalam wilayah kabupaten kota.

“Dari permasalahan tersebut kita semua memahami secara real bahwa angkutan kota kita sudah sangat terpuruk, dari sinilah muncul angkutan-angkutan pribadi, baik sepeda motor dan roda 4 (mobil), bila ini berkembang Bali merupakan destinasi Pariwisata akan mengalami kemacetan parah, “sebutnya menjelaskan, Selasa (18/01/2022).

Angkutan massal yang lahir dari kepentingan inilah munculnya Bus Trans Metro Dewata ini. Melalui APBN selain Kota Denpasar ada juga beberapa kota yang mendapat perhatian dari pemerintah pusat yakni, Medan, Palembang, Jogyakarta, Solo. Menurut penjelasannya target selanjutnya adalah Surabaya, Bandung, Makassar, Purwokerto yang merupakan tahap kedua.

Bila dianggap menyerobot Eddy Dharma menolaknya, karena dari jenis penyelenggaraannya saja berbeda Bus Trans Metro Dewata ini adalah angkutan Kota dalam Provinsi yang memiliki trayek tetap dan teratur, sedangkan Bus Pariwisata tidak dalam trayek.

“Bus Pariwisata itu mengangkut tamu ke daerah pariwisata, pola penyelenggaraannya saja berbeda, ” ujarnya menjelaskan.

Ia juga menjelaskan saat pariwisata terpuruk sopir-sopir pariwisata yang ada terutama bus banyak direkrut di Trans Metro Dewata. 240-300 orang sudah terekrut di Metro Dewata yang artinya ribuan keluarganya juga bisa hidup di masa pandemi seperti saat ini.

“Dari 5 kota yang dapat tadi Kota Denpasar termasuk nomer 2 dilihat dari load faktornya (tingkat keterisiannya). Sedangkan Kota Solo nomer satu, secara mindset masyarakat Solo sudah terbiasa dengan angkutan umum, “ungkapnya.

Untuk meningkatkan jumlah penumpang ia juga menjelaskan diperlukannya armada feeder (pengumpan) untuk mengkoneksikan trayek tersebut agar terintegrasi trayek-trayek yang ada. Dan permasalahan Bus stop Trans Metro Dewata yang menggunakan badan jalan dirinya mengelak bahwa itu adalah tanggung jawab dari pemerintah kota Denpasar.

Masalah pool bus yang juga dipermasalahkan, dirinya mengatakan bahwa pool harusnya dekat dengan asal pemberangkatan. Central parkir kuta yang kini keadaan kosong, sekarang dengan adanya Metro Dewata ini ia mengatakan bahwa itu malah mendapatkan kontribusi dari keberadaan bus tersebut, begitu juga terminal Ubung.

“Bahkan terminal mengwi meminta kita juga, walaupun bagaimana aktifnya kegiatan disana, “ucapnya.

Ditanya soal Trans Metro Dewata untuk melayani trayek angkutan sekolah dirinya mengungkapkan bahwa konsorsium operator Trans Metro Dewata yang didirikan oleh 4 perusahaan otobus lokal di Bali yakni Gunung Harta, Dewata Tourism, Restu Mulya dan Merpati Transport (PT Satria Trans Jaya) ini, mengaku dirinya hanya sebagai pelaksana (operator), sedangkan program itu adalah program daerah.

“Semoga seluruh program pemerintah pusat termasuk bus listrik angkutan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Bali juga dapat menjadi solusi bagi masyarakat, “tutupnya yang juga merupakan Direktur Utama PT Satria Trans Jaya. (Ray)


Kebanggaan sebagai wartawan adalah selalu silahturahmi kepada semua pihak, tetap belajar dan selalu konfirmasi dalam pemberitaan yang adil dan berimbang.

Pariwisata dan Budaya

Kampung Berseri Astra, Program Pembangunan Bersinergi Dengan Budaya Setempat

Published

on

By

Agung Wisnawa salah satu binaan dari Kampung Berseri Astra (KBA)

BALI – Festival Kampung Berseri Astra (KBA) yang mendapatkan apresiasi tinggi masyarakat Bali juga didukung oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek. Ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan dalam turut serta mengkampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Dalam kesempatan itu Nila mengajak perusahaan yang lain untuk meniru apa yang dilakukan Astra guna menciptakan kampung- kampung di Indonesia menjadi lebih produktif dan sehat.

Group Astra saat ini memiliki 77 KBA yang tersebar di 34 provinsi dan juga 300 Desa Sejahtera Astra di 100 kabupaten di Indonesia.

Menengok salah satu ekowisata Subak Sembung di Banjar Pulugambang, Kelurahan Peguyangan, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali yang dikenal sebagai oase di tengah kota. Mengapa tidak, kondisi kota dengan hiruk pikuknya, disini menyajikan pemandangan segar nan alami.

Menghubungi Agung Wisnawa selaku Klian atau Pimpinan Banjar Pulugambang yang mengetahui detil Subak Sembung, bahwa menurut penjelasannya Subak sendiri merupakan sebuah organisasi (pertanian) tradisional dan religius yang sudah turun – temurun, yang berguna untuk mengatur tata kelola air.

“Tata kelola air ini harus berprinsip pada keadilan dalam tiap lahan yang berada dalam subak tersebut, “ungkapnya, Senin (28/11/2022).

Sinergi bersama dinas pertanian dalam menentukan pola tanam yang juga mendengarkan ide-ide dari para petani penggarap sehingga dapat menghasilkan keputusan tepat yang dipakai bersama.

Konsep ‘Tri Hita Karana’ yang merupakan filosofi kehidupan tradisional masyarakat Bali. Tri berarti tiga, Hita berarti kebahagiaan atau kesejahteraan, sementara Karana berarti Penyebab, yang dapat disimpulkan bahwa Tri Hita Karana adalah ‘Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan’.

Yang dalam penerapannya mencakup, ‘Parahyangan yang artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, yang ditunjukkan dengan ritual religius yang dilakukan sebelum memulai kegiatan subak.

Lalu Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya, yang diwujudkan dengan pengelolaan subak secara bersama-sama.

Kemudian Palemahan yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungannya, yang berarti menjaga supaya alam dan lingkungan tetap bersih dan harmonis.

Program nasional Astra untuk program binaan KBA inilah yang luar biasa dalam penerapannya, pembangunan tanpa melupakan akar dari budaya dan kebiasaan lingkungan sekitar, tumbuh dengan bersinergi dengan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan yang harmoni.

Bantuan kontribusi sarana fasilitas, program pembinaan, dan pendampingan, untuk peningkatan kualitas masyarakat dan lingkungan kampung binaan inilah yang nantinya akan menjadi barometer baru dalam mengembangkan potensi suatu desa atau kampung yang mendatangkan kesejahteraan bagi desa atau kampung tersebut. (Ray)

Continue Reading

Daerah

Melalui Global Summit 2022, INSIDE FLOW Kampanyekan Aktivitas Yoga Tanpa Plastik

Published

on

GatraDewata, Gianyar – Kampanye Penggunaaan produk plastik sekali pakai yang diinisiasi Komunitas Inside Flow saat perhelatan Global Summit 2022 seakan menegaskan kembali komitmen mereka dalam isu pengendalian pemanasan bumi (Global warming) melalui simbolisasi gerakan Yoga yang dinamis.

Bertempat di The Mansion Hotel and Spa Ubud yang digelar selama enam hari sejak Sabtu (12/11). Kegiatan yang berskala internasional ini bertemakan ‘Say No to Single Use Plastic in Yoga Shala’.

Beberapa sosok pegiat Yoga Inside Flow yang turut ambil bagian di event bergengsi ini diantaranya Master Young Ho Kim (Germany) selaku founder Inside Flow; Lulu Soul (Korea) sebagai instruktur profesional Inside Flow; Rubecca (Hong Kong) yang merupakan instruktur junior Inside Flow; Annisa (Germany) yang merangkap sebagai instruktur junior sekaligus pembantu Young Ho Kim; Julia Tan (Singapura) yang hadir membawakan produk Matras Yoga ramah lingkungan berlabel HEARTBEAT; pasangan suami istri Martin Elianto dan Tasya Dante (Indonesia) merupakan instruktur senior dan juga sebagai person in charges untuk Inside Flow Indonesia, dibawah pengawasan the Founder; dan Ms. Air Ping yang merupakan representatif IntaYogaBali/The Eco Bazzar, juga bertugas untuk mengkampanyekan Say No to Single Use Plastic in Yoga Hall.

Sebagaimana dipaparkan oleh Martin bahwa Inside Flow merupakan yoga jenis lain, dimana mereka menggunakan musik sebagai panduan bergerak dan bernafas, tidak menggunakan mantra – mantra. Inilah yang disinyalir membuat Inside Flow Yoga lebih populer daripada yoga-yoga lain di Indonesia. “Mengingat populasi di Indonesia mayoritas Muslim, dimana yoga menggunakan mantra kurang masuk/cocok bagi mereka. Oleh karena itu mereka lebih menyukai model Inside Flow,” terang pasangan terdebut lugas. Mereka juga menambahkan jika Inside Flow kini sudah hadir di empat lokasi di Indonesia yang meliputi Bogor, Jakarta, Surabaya dan Denpasar.

Botol air yang bisa digunakan berulangkali sebagai pengganti botol plastik.

Mereka juga memaparkan awal mula kepeduliannya soal sampah plastik. Kami sering betkeliling Indonesia, termasuk Bali, dan sering melihat sampah plastik di pantai. Kami sangat prihatin dan coba menekankan untuk mengurangi sampah plastik. Salah satu caranya yaitu dengan mengurangi menggunakan botol plastik. Ini tidak hanya berlaku di Bali tapi di seluruh Indonesia,” ungkapnya bergantian.

Dilain pihak, Young yang sudah berkiprah di dunia Yoga sejak tiga tahun lalu di Indonesia, tergugah untuk membawa Bali ke arah yang lebih bersih di kemudian hari. Ia menyadari jika Inside Flow hanya seujung kuku yang tidak akan memberikan dampak signifikan dalam memerangi polusi plastik. “Kita tidak bisa mengubah dunia. Kita hanya secuil diantara pengguna plastik di dunia. Sebagai guru Yoga saya bisa memulai dengan memberikan contoh, dan kemudian menginspirasi yang lain untuk turut melakukannya. Kita bisa memulai dengan 10 orang, 50 orang, 100 orang untuk memprakarsai program ini,” paparnya lugas.

Rubecca dan Anissa bahkan meminta waktu khusus untuk menyuarakan pesan penting terkait polusi plastik ini. “Kami ingin mengajak semua orang untuk mengatakan ‘tidak’ pada penggunaan botol plastik sekali pakai, dimanapun di dunia – bukan hanya di Bali, di Yoga studio, di restoran, dimanapun, kami ingin terbebas dari plastik sehingga kita bisa menyelamatkan planet ini lebih lama lagi,” ungkapnya semangat.

Di waktu terpisah Julia hadir memperkenalkan Matras Yoga (alas khusus untuk Yoga) buatan Indonesia namun didesain di Swiss, dimana produk ini memiliki ketahanan hingga puluhan tahun. “Yoga mat dan botol air merupakan alat penting yang kita butuhkan ketika melakukan yoga. Disinilah pentingnya menggunakan produk yang bisa digunakan berulangkali sehingga bisa mengurangi sampah. Yoga mat kami merupakan produk daur ulang yang sangat kuat dan ramah lingkungan,” terang Julia sembari mengatakan jika mereka belum mematok harga jual hingga saat ini.

Global Summit 2022 kali ini disinyalir mampu mendatangkan hampir 200 peserta dari 30 negara. 30 peserta dari Korea, sekitar 5 orang dari Jerman dan sisanya merupakan akumulasi dari negara-negara lainnya, termasuk Indonesia.

Young berharap event berikutnya pada February 2023 akan lebih akbar daripada tahun ini. (hd/sw)

Continue Reading

Pariwisata dan Budaya

Pemkab Jembrana Gelar persembahyangan Tumpek Landep Di Pura Nitipraja

Published

on

Jembrana – Bupati Jembrana, I Nengah Tamba bersama I Gede Ngurah Patriana Krisna, perwakilan Forkopimda, Majelis Madya, Sekda, dan beberapa Pegawai di lingkungan Pemkab Jembrana melakukan persembahyangan pada Hari Tumpek Landep di Pura Niti Praja Pemkab Jembrana pada Sabtu (5/11).

Hari Tumpek Landep yang jatuh setiap 210 hari pada Saniscara Kliwon Wuku Landep dimaknai umat Hindu di Bali dari kata “Landep” atau tajam, hari ini merupakan momen untuk menyucikan benda-benda tajam dan berujung lancip yang umumnya terbuat dari bahan logam.

Pada hari ini adalah momen pemujaan terhadap Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati yang merupakan simbol kecerdasan dan kecermatan guna memohon anugerah ketajaman dan kecermatan berpikir sebagai sarana untuk menjalani kehidupan sehari-hari sehingga bisa menjadi manusia yang berdaya guna dan berhasil guna.

Wakil Bupati Ipat saat mengeluarkan Keris Untuk diupacarai

Sebelum melaksanakan persembahyangan, Wakil Bupati Ipat dibimbing Ida pedanda Gede Ketut Putra Kemenuh, Griya Kemenuh Suka Taman Ketugtug selaku Pemuput Upakara dan didampingi Para Pemangku dan Sekda, I Made Budiasa melakukan pembersihan terhadap Benda Pusaka, yaitu Bajra Acintya, Keris Pejenengan Jembrana, dan Keris Agni sebagai Benda Pusaka yang ada di Pemkab Jembrana.

Usai Persembahyangan, semua benda Pusaka tersebut ditempatkan kembali ke stana masing-masing, Bajra Acintya di Gedong Suci Pura Niti Praja oleh Bapak Bupati, Keris Pejenengan Jembrana di tempat suci ruang kerja Bupati, dan Keris Agni di tempat suci Wabup Jembrana.

Melalui upacara ini kita haturkan sradha bhakti sekaligus wujud syukur dan terimakasih atas anugrah Ida Sang Hyang Widi Wasa yang telah memberikan ketajaman pikiran dalam melaksanakan kewajiban dan swadarma,” ucap Kabag Kesra Pemkab Jembrana I Made Tarma. (Red)

Continue Reading

Trending

Copyright © 22 Juni 2013 Gatradewata. Pesonamu Inspirasiku