Connect with us

Global

Babakbelur, Saunders Kalah TKO di Ronde 8

Published

on


Canelo vs Sanuders  [photo courtesy boxingnews24.com]

GatraDewata[Denpasar] Perebutan gelar kelas menengah super [super middleweight] berlangsung seru. Pertarungan yang digelar di AT&T Stadium, Arlington, Texas, Amerika, Sabtu waktu setempat [Minggu pagi, 9 Mei 2021] disksikan oleh 73000 penonton. Saul Canelo Alvares [SCA] berhasil memenangkan pertarungan ini dengan TKO pada ronde ke 8 setelah Billy Joe Saunders [BJS] tidak lagi merespon bel untuk memulai Ronde ke 9. Kemenangan ini sekaligus membawa SCA, petinju asal Meksiko berusia 30 tahun, berhasil menyatukan gelar juara WBA (Super), WBC, dan The Ring miliknya, juga merebut gelar WBO dari Saunders.

Tiga juri yang bertugas dalam pertarungan ini yaitu Glenn Feldman, Tim Cheatham dan Max Deluca.

Berikut jalannya pertarungan ronde demi ronde antara kedua petinju:

Ronde 1 – BJS mulai melancarkan jab – jabnya dan mencari peluang memukul dengan gaya kidal [southpaw]. SCA bertahan dengan kuda – kuda yang kokoh dan merangsek maju sambil melancarkan pukulan hook kiri.

Glenn Feldman; SCA 9 – BJS 10, Tim Cheatham; SCA 9 – BJS 10, Max Deluca; SCA 9 – BJS 10

Ronde 2 – BJS bergerak lincah dan SCA mencoba menyusup dari bawah dengan pertahanan maksimal. SCA membidik pukulan upper cut yang cukup merepotkan bagi BJS.

Glenn Feldman; SCA 10 – BJS 9, Tim Cheatham; SCA 10 – BJS 9, Max Deluca; SCA 10 – BJS 9

Ronde 3 – SCA berhasil mendaratkan pukulan kanan yang keras pada tubuh BJS sembari terus merangsek maju. BJS mampu bertahan dengan kuda – kuda yang kokoh dan menyerang dengan melancarkan jab berulang kali sambil menurunkan kedua tangannya.

Glenn Feldman; SCA 10 – BJS 9, Tim Cheatham; SCA 10 – BJS 9, Max Deluca; SCA 10 – BJS 9

Ronde 4 – SCA mendominasi ronde ini sejak awal dan pukulan kanan yang keras menerpa rahang BJS. Hal ini membuat BJS bereaksi agresif namun tidak ada pukulannya yang telak ke arah SCA.

Glenn Feldman; SCA 10 – BJS 9, Tim Cheatham; SCA 10 – BJS 9, Max Deluca; SCA 10 – BJS 9

Ronde 5 – SCA memulai pembukaan ronde 5 dengan body shot yang keras sehingga BJS merunduk kesakitan. BJS terhempas ke tali ring ketika menerima pukulan body shot. Ia, BJS, sempat membalas dengan pukulan kiri sebelum ronde ini berakhir.

Glenn Feldman; SCA 9 – BJS 10, Tim Cheatham; SCA 9 – BJS 10, Max Deluca; SCA 9 – BJS 10

Ronde 6 – BJS memulai ronde ini dengan lincah dan berhasil melancarkan beberaap pukulan. Namun SCA membalasnya dengan pukulan kidal ke arah muka dan upper cut keras. BJS bermin apik di ronde ini dengan melancarkan beberapa pukulan cepat tapi gerakannya terlihat sdikit menurun.

Glenn Feldman; SCA 10 – BJS 9, Tim Cheatham; SCA 10 – BJS 9, Max Deluca; SCA 10 – BJS 9

Photo courtesy: ca-times.brightspotcdn.com

Ronde 7 – SCA sangat agresif dengan petahanan yang ketat dan berhasil mendaratkan pukulan kanannya. Ia menekan BJS hingga akhir ronde dengan hook kiri dan upper cut kanan.

Glenn Feldman; SCA 10 – BJS 9, Tim Cheatham; SCA 9 – BJS 10, Max Deluca; SCA 10 – BJS 9

Photo courtesy: images.daznservices.com

Ronde 8 – BJS menerima upper cut telak dan terlihat kesakitan. BJS berusaha bertahan dari kebrutalan SCA yang mengangkat kedua tangannya seolah mengatakan bahwa ia menguasai ronde ini. BJS kembali menerima upper cut kiri yang membuat mata kanannya bengkak. BJS memilih mengakhiri pertarungan ini dengan tidak melanjutkan ke ronde 9. SCA memenangi kejuaraan ini dengan kemenangan TKO.

Kini catatan Alvares menjadi 56-1-2 (38 KO). Billy Joe Saunders, petinju asal Inggris berusia 30 tahun, mengalami kekalahan pertamanya di ring tinju dunia yang kini rekornya ternodai menjadi 33-0 (14 KO).[SWN]


Komang Swesen is a hotelier who has been in the field for more than two decades now. He loves writing that he already published 2 books about Butler and now active as an official journalist for Gatra Dewata Group.

Daerah

Seberapa Siapkah Ubud Menyambut Bali-Open-Border?

Published

on

Flyer deklarasi Bali Open Border

GatraDewata[Gianyar] Sampai detik ini, 16/06/2021, keputusan pemerintah untuk membuka kembali border internasional pada Juli mendatang masih berlaku. Belum ada pembatalan ataupun konfirmasi ulang terhadap keputusan tersebut.

Ubud sebagai salah satu destinasi wisata yang turut mendapatkan gelar green zone, sudah sangat siap menghadapi serbuan wisatawan mancanegara. Hal ini terlihat dari besarnya tingkat kesadaran manajemen untuk mengikuti protokol kesehatan yang dikemas dalam paket sertifikasi CHSE.

Salah satu indikasinya yaitu jumlah unit penginapan yang tergabung di Ubud Hotel Association (UHA) hampir semuanya sudah mengantongi sertifikat CHSE.  “Dari total lebih dari seratus anggota, 99% sudah CHSE,” ungkap salah satu anggota komite UHA yang juga General Manager Purana Suites Ubud, Ketut Warasana.

Kika: Ketut Warasana, Eka Ariawan dan Santi Pratiwi

Adiwana group lebih cetar lagi. Pihaknya tegas jika semua propertinya sudah mengantongi sertifikat sakti tersebut. “Seluruh properti yang kami kelola sudah bersertifikat CHSE,” ungkap Eka Ariawan selaku DOSM Adiwana Group.

Ada juga Bu Santi, salah satu petinggi Dwaraloka Authentic, yang tidak mau ketinggalan. Dari total 12 unit bisnis yang dikelolanya, hanya beberapa unit kecil yang belum disertifikasi. “Ada beberapa yang belum memiliki sertifikat CHSE, namun seluruh esensi CHSE sudah mereka terapkan di lapangan,” cetusnya penuh keyakinan, jika everything is gonna be alright.

Ketaatan mereka seolah tidak memberikan celah bagi dinas terkait untuk tidak membuka border bagi turis mancanegara pada Juli mendatang. Apalagi belakangan beredar flyer digital dengan deklarasi elegan nan damai bertuliskan ‘BALI OPEN BORDER.’ Tersisip pula latarbelakang pura Besakih yang maha agung. Deklarasi tersebut didukung penuh oleh puluhan elemen pelaku pariwisata di Bali.

Berkaca dari kesiapan mereka, mungkinkah border akan dibuka sesuai rencana awal?[SWN]

Continue Reading

Daerah

Menguji Militansi Perupa Militan Art

Published

on

GatraDewata[Gianyar] I Wayan Arsana merupakan seorang seniman lukis yang karya – karyanya sangat menakjubkan. Disamping itu beliau juga sensitif dengan isi – isu sosial. Untuk itulah, setelah setahun lebih dunia ini bergelut dengan situasi Covid 19 beliaupun (bersama beberapa rekan sesama seniman) buka suara, yang beliau suarakan lewat sebuah pameran bertajuk IN-Between dan berikut reaksinya secara tertulis:

Bencana global pandemi adalah ujian untuk peradaban bangsa manusia, suatu problem yang dialami, dirasakan, dan menguras energi peradaban. Seluruh modal sosial bahkan spiritual dipertaruhkan guna memitigasi dampak infeksi dari “monster gaib”, Virus Corona, Covid-19, namun kondisi chaos toh tak terhindarkan.

Kegamangan, keraguan, kebenaran, konspirasi, dan kuasa alam ihwal adanya Covid-19 campur aduk dengan ragam reaksi, solidaritas global, bajingan ekonomi, keprihatinan dan nafsu korup; dunia dilanda duka kemanusiaan.

Kebijakan mitigasi bencana sifatnya reaktif, insidensial dan ambigu. Status darurat kesehatan seperti lockdown dan aneka pembatasan sosial, social distancing serta protokol kesehatan ada di antara wacana, budgeting, penerapan maupun pengingkaran yang berbuah kontroversi. Suatu kondisi parallel, sama di seluruh domain sektor kehidupan, tanda instrumen, tools pengetahuan dan keterampilan modernitas tidak lagi memadai, tak aflikabel, bahkan literasi tradisional soal vaksin tidak memungkinkan jadi rujukan akibat desakan kebutuhan yang sifatnya emergensi. Nalar politik sulit dicerna, antara kebijakan politik dan politik kebijakan soal pandemi sulit dipahami.

Kini momok pandemi masih menghantui, bahkan bermutasi menjadi berbagai varian baru, bermutasi pula kontroversi yang ditimbulkan.

Kelumpuhan sosial yang berkepanjangan membuat psikologi sosial menjadi lelah, dorman dan kegamangan yang berada diambang batas. Ketika protokol kesehatan adalah sebuah komoditas, yang tumbuh adalah sikap permisif dan pembangkangan sosial tak terhindarkan.

Abad digital dinamikanya sama, antara memberi manfaat dan memperkeruh keadaan, antara informasi dan ngibul sama sensasinya, perlombaan followers, like, viral yang latah dan stereotip, konten-konten absurd bermunculan tak membutuhkan portofolio, yang ada hanya aturan tak resmi bernama algoritma. Algoritma, sederhananya adalah pertalian data konten dan tujuan. Implikasi maslahat dunia digital pastinya juga layak, abad digital melengkapi tools kehidupan menjadi double application, yang manual dan virtual.

Dalam dimensi spiritual, sebetulnya secara indikatif sudah tersirat dalam wijaksara Bali, “windu” atau bulatan, sebagai unsur penting dalam aksara simbol Ongkara. Windu, “nge-windu” menjadi bulatan, dalam konteks pemaknaan kodifikasi esoteris, sebagai lambang pembauran sistem yang sifatnya random dari elemen-elemen yang berlawanan maupun berpasangan, rwa bhineda, adwaita, dalam satu kehadiran saat ini atau real time. Nge-windu adalah waktu kosmik peradaban. Berbeda dengan arda candra yang menggambarkan sifat modernis peradaban yang mainstream dan linear. Kenormalan baru yang sifatnya menyeluruh adalah tanda fundamental peradaban sedang mengalami perubahan.

Seni rupa sama saja, parallel, art world persenirupaan saat ini menyediakan kemungkinan yang tak terbatas, inilah model baru dari booming dunia visual. Seni rupa telah menjadi domain publik, semua serba mungkin, praktek dan produk seni layersnya banyak, seni komuditas, seni kelas menengah, hingga seni yang kontestatif dan memiliki konten nilai. Semua halal dalam keserbahadiran, yang menentukan adalah konektivitas domain sadar perupa dalam suatu frekuensi kreatif dan kompleksitas layers.

Menjadi bagian dari persoalan yang ada, kelompok perupa militant Art tergugah untuk bereaksi terhadap persoalan yang ada, dengan menggelar pameran bersama bertajuk, “IN-Between”. Frasa IN-Between bermakna ada diantara, sementara penekanan huruf kapital pada penggalan frasa IN dimaksudkan sebagai kunci pemaknaan tematika, IN adalah konten personal para perupa Militant Art. IN-Between dalam kesatuan tematika sebenarnya menggambarkan subjek yang mengalami, menjadi bagian dari situasi kompleks, mengelaborasi persoalan dalam frekuensi kreatif, serta mengejawantahkan dalam kekaryaan.

Perupa Militant Art tentu punya modal kreatif yang cukup, napas panjang berkesenian yang telah diuji oleh waktu, dan yang utama adalah keberanian membuat pilihan mengikrarkan “ jihad kesenian” dengan mengadaptasi kata militan sebagai payung spirit berkelompok. Nilai militan melekat pada sistem sadar kreatif, sikap, proses dan karya, militan artinya hidup dengan suatu nilai, suatu sikap yang makin langka di tengah nyinyir pragmatisme sempit sekarang ini. Militant Art bukanlah kelompok perupa yang mengusung aliran pemikiran tertentu, mereka juga tidak sedang menjebak diri dalam batasan- batasan spesifik pemikiran.

Militansi dalam berkesenian membutuhkan” nyali kreatif”. Aktualisasi spirit militan ditantang mensublimasi soal-soal yang ada, menjadi ungkapan seni yang bernilai dan spesifik. dalam IN-Between, para perupa militan menampilkan keragaman cara pandang, penyikapan, empati, gugatan mental, hingga ajakan moral ihwal bencana global pandemi. Konten masing-masing karya berisikan ungkapan dari kedalaman yang sifatnya personal, ungkapan yang mengandung intensi lebih kuat dalam keragka olah problematik maupun renungan. Ragam bahasa ungkap dan identitas estetik para perupa Militant Art adalah personalisasi dari proses dan peluh kesenian dalam waktu yang panjang.

Nilai utama pameran IN-Between terletak pada kemampuan melampaui segala kelatahan area publik dalam bereaksi terhadap bencana global pandemi, juga melampaui berbagai kelatahan dalam dunia visual, bukankah esensi militan adalah ekstrimitas dalam berproses yang galibnya membuat perbedaan dalam kekaryaan. Hanya karya-karya yang mengandung tendensi “subversi visual” yang memungkinkan mengandung implikasi mental, subversi visual adalah gugatan atau perlawanan dalam bentuk visual. Esensi subversif adalah bentuk pengejawantahan militansi berkesenian, bukan sekedar retorika atau bualan idiologis.

Algoritma tradisional seni rupa, melalui pengindraan secara langsung, karya visual justru menyentuh lebih langsung, menghasilkan efek mental secara langsung pula. Estetika bisa menjadi praktek post intelektual. Dalam kekaryaan semua konten yang mendukung sebetulnya sudah inheren, karya adalah alat bukti utama tempat melekatnya seluruh nilai, selebihnya keseluruhan aspek pendukung adalah alat peraga dalam suatu keutuhan sistem nilai.

IN-Between penekanannya utamanya pada upaya membangun solidaritas mental, menyegarkan kimiawi otak dari mental down syndrome, suatu ajakan untuk move on menuju harapan baru…!!! Para perupa yang tergabung dalam Militant Art antara lain: Diwarupa, I Nyoman Sujana Kenyem, I Ketut Putrayasa, I Ketut Suasana Kabul, Wayan Suastama, Dastra Wayan, I Gede Adi Godel, I made Wiradana, Pande Paramartha, I Gusti Buda, Romi, Agusdangap, Deko, I Made Gunawan, Lekung Sugantika, Anthok, Atmi Kristiadewi, Galung Wiratmaja , Loka suara, Ngurah Paramartha, Ketut Teja Astawa, Duatmika Made ,Dollar Astawa, Putu Bonuz, DJ Pande.[SWN]

Continue Reading

Global

Dinyatakan Unggul, Mayweather Malah Tuai Pesan Nyelekit dari Canelo

Published

on

Mayweather Jr. dan Canelo Alvarez. (hoto courtesy: boxingscene)

GatraDewata[Denpasar] Ketika kedua petarung, Floyd Mayweather v Logan Paul, saling puji karena sama – sama merasa sukses, ada reaksi ‘nyelekit’ dari mantan lawannya Mayweather, yaitu Saul Canelo Alvarez.

Seperti kita ketahui bahwa pertarungan mereka hanya bisa dimenangkan jika salah satu petarung dipukul jatuh  atau KO. Hal ini mengingat ketiadaan juri yang biasanya memberikan skor tiap rondenya. Namanya juga pertarungan eksibisi, bukan perebutan gelar, dan hasilnyapun tidak akan mempengaruhi rekor kedua petinju.

Di satu sisi Mayweather gagal memukul jatuh Paul, di sisi lain Paul juga gagal memanfaatkan posturnya yang lebih besar untuk menjatuhkan lawannya. Tapi keduanya merasa menang. Mayweather bangga karena mampu mengimbangi lawannya yang lebih besar, bahkan catatan CompuBox mengunggulkannya. Sementara itu, Paul yang bukan siapa – siapa di dunia tinju (seorang YouTuber), bangga karena masih hidup setelah ronde 8 berakhir.

Berikut pernyataan Mayweather setelah pertarungan berakhir, seperti dilansir Independent:

“Tadi itu menyenangkan.”

“Anda harus menyadari jika saya tidak lagi berumur 21.”

“Dia lebih hebat dari yang aku pikirkan. “Dia merupakan lawan yang tangguh. Aku terkejut dibuatnya.”

“Dia tahu bagaimana memanfaatkan posturnya untuk membuatku tidak berkutik.”

Dilain pihak, Paul juga mengungkapkan persaaannya:

“Aku tidak mau lagi mereka (fans tinju) bilang hal – hal yang mustahil. Mereka sudah melihatnya sendiri. Floyd Mayweather, itu sebuah kehormatan.”

“Anda tidak pernah tahu dengan orang ini. Aku akan pulang dan berpikir: ‘Apakah Floyd membiarkanku tetap hidup?’

“Ini akan menjadi hal yang paling hebat. Pertarungan Mayweather vs Paul jilid 2?”

Saul Canelo Alvarez (photo courtesy: USA Today)

Tapi wajar – wajar saja mereka merasa menang. Pertarungan tersebut sudah jelas tanpa resiko, tidak mempengaruhi gelar, dan yang terpenting mereka berdua pulang dengan pundi – pundi kekayaan meningkat. Bahkan ada netizen yang mancurigai jika pertarungan tersebut sebuah settingan.

Namun, Canelo, yang pernah dikalahkan Mayweather tahun 2013 lalu, tidak tinggal diam. Ia langsung bereaksi setelah pertarungan usai.

Pemegang rekor 56-1-2 ini mengunggah emoji tepuk-jidat pada laman Twitternya. Emoji tersebut merupakan pesan ‘nyelekit’ jika penampilan mantan lawannya itu sama sekali tidak membuatnya ‘terkesan’ – alias garing. Bagaimana pendapat sobat sekalian?[SWN]

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam