Connect with us

Mangku Bumi

AGAMA TIRTHA (Tirtha – Titi Rtha)

Published

on


Hidup tentang penanggungan rasa, menanggung rasa hidup yang di sodorkan tubuh, beraneka rasa respon kimiawi tubuh yang membuat yang melihat di balik materi terbayang-bayang atas rasa hidup, akan tetapi yang lupa yang tidak mengenali kesejatian diri menganggap semua rasa itu special

Tidak ada yang “Special” dari rasa selain penanggungan, semua itu hanya sebatas angan-angan, rasa indah – rasa bahagia – rasa rindu – rasa senang – susah – rasa benci – rasa tuhan hanyalah sebentuk angan-angan bagi mereka yang telah mengetahui sejati diri, yang menjadi sang penikmat rasa, bhairawa sang penikmat

Bila rasa adalah penanggungan yang nersifat pasti atas keberadaan badan kasar ini, sekarang kita tau rasa hidup seperti apakah yang kita suka untuk dinikmati, lalu kita bekerja untuk meraihnya, terlepas apapun metodenya, maksud serta tujuan sebuah upaya hidup hanyalah mencapai kenikmatan rasa hidup

Upaya menerus menstabilkan kesan rasa keindahan hidup, menjadi “Tuan General Manager” rasa hidup yang sedang dilayani saat ini, bukan menjadi pengacau memperseterukan tuhan yang tidak pernah ada, mereka yang bertingkah seperti itu tidak lebih sekumpulan manusia tersesat yang menjadi pengacau keindahan hidup

Hidup tentang penikmatan rasa hidup, nikmat tidak nikmat atas hasil prilaku yang melayani hidup itu sendiri, yang melihat di balik materi yang tertipu maya’nya membiarkan diri terjerat rasa hidupnya, yang tertipu oleh rasa hidupnya seumur hidup terombang ambing rasa hidup., karena terjerat lekat oleh tubuh maha ghaib maya’nya yang maha menipu

Bahkan yang bodoh itu membiarkan diri berprilaku angkuh atas Ego Tuhan yang tidak pernah dikenali, bahkan tidak dikenal oleh seluruh manusia yang pernah datang dan pergi dari dunia ini, karena yang mereka sebut dan sembah itu hanyalah angan-angan dari kesesatan diri pada sensasi rasa hidup belaka

Bahkan tentang agama, agama tidak lain agem, cara bersikap atas hidup, dan satu satunya agama pemberian sang pencipta adalah “badan-tubuh-manusia” yang maha sempurna ini, tubuh penyedia segenap sensasi rasa, rasa yang menjadi yang di derita ataukah menjadi yang dinikmati sesuai cara sang diri mengelola prilakunya

RTHA,
siklus hidup/hukum semesta (rta), menjalani siklus mewujud dan kehancuran wujud yang didalamnya terdapat kesadaran hidup/Dharma

“Dharma, artha, kama, moksana sarira sadhanam”.

Badan ini “sarira” sadhanam/digunakan/dipersembahkan untuk tujuan Dharma (kesadaran) -Artha (kekayaan) -Kama pemenuhan keinginan) -Moksha (ketidak melekatan) keseimbangan dari keempat bagian dari kewajiban hidup itu jalan kembali ke “asal-mula”

Brahma Purana 228. 45

Suka ataupun tidak, Dharma (kesadaran hidup) adalah sebuah kewajiban inheren yang mutlak untuk dikerjakan ketika manusia terlahir, tujun dharma sendiri untuk kembali ke asal, moksha

Artha dan kama sebagai kendaraan, Artha : kekayaan, bukan hanya harta materi tetapi kecerdasan juga kebijaksanaan sangat penting sebagai kendaraan yang digunakan untuk menuntaskan perjalanan dharma, sementara kama (keinginan) adalah bahan bakar yang mendorong kendaraan untuk melaju

Satu-satunya pilihan yang tersisa dalam kondisi tidak berdaya terikat RTHA hanyalah mem’BIJAKSANA”I’NYA, menjalankan kewajiban hidup di dasari kebijaksanaan, menikmatinya dalam rasa keindahan

Sarira-badan merupakan Titi-Rtha, Titi/jembatan, rtha/siklus hidup hukum semesta, badan inilah satu-satunya agama yang maha sempurna yang merupakan jembatan untuk mencapai tujuan hidup sesuai hukum semesta, terlepas apakah anda seorang saintis atheis ataukah pelaku anima (animisme/pemuja kekuatan mistis) semua sama

Di mata seorang Brahmin (brahman) Weda (pengetahuan) bagai genangan telaga ditempat yang dipenuhi air, tubuh ini tirtha (AIR) yang mengandung 70 % air, air adalah “Wisnu” simbol sang pemelihara kehidupan

Halnya tanah tanpa air tidak menumbuhkan kehidupan diatasnya,
air sangat vital bagi pemeliharaan kehidupan, dan hidup tentang pemeliharaan atas wujudnya karena kehancuran adalah pasti bagi yang berwujud, upaya pemeliharaan hidup yang dicontohkan masyarakat Bali sebagai satu-satunya penganut agama air (agama tirtha) yang adaptif di muka bumi ini

Menaklukan maya yang maha menipu tidak semudah menyembah tuhan, karena menyembah sendiri bagian dari rasa hidup yang berada di bawah kekuasaan Maya, menaklukan maya dari kondisi maya (kesadaran wujud) adalah konyol, karena pendirian maya berarti ketundukan pada maya, menyembah tuhan adalah contoh ketundukan pada maya, ketundukan yang di mulai dari ketidak berdayaan pada rasa hidup

Agama air adalah agama sang penikmat, semacam upaya berkesinambungan yang dikemas apik kedalam prilaku hidup, upaya terus menerus berkelanjutan menetralisir kondisi maya dengan “air-tirtha” sumber ketenangan rasa, “bunga-wewangian” yang memicu rasa keindahan dan “api” sumber kehangatan

Semua ini tentang pengetahuan hidup/ science, sebagai jembatan mencapai kenikmatan dan berkeindahan hidup saat melayani dharma Artha kama moksha

Berbeda dengan agama-agama lain yang masih mencoba atau masih belajar beradab, masih membutuhkan aturan yang sangat ketat dari klaim sabda tuhan, yang tanpa mereka sadari membuat mereka semakin terikat pada sensasi rasa hidup’nya, sekalipun itu rasa tuhan tetap saja angan-angan belaka

Agama tirtha adalah agama yang menyimbolkan prilaku hidup berdasarkan sastra tubuh, mengkloning sastra tubuh SA’ba’Ta’a’i NAMa’si’wa’ya dibentuk sedemikian rupa sebagai aturan penikmatan hidup

Sang penikmat yang melihat di balik materi – yang berkesadaran atas hidupnya – Dharma yang mengendarai Artha – kekayaan intelektual yang didasari kecerdasan dan kebijaksanaan, memenuhi Kama keinginan atas kesenangan hidup tanpa keterikatan padanya moksha, melampaui atau yang mengetahui yang selalu kembali ke asal mulanya

Pengkloningan sastra tubuh sebagai pengatur prilaku hidup manusia sama sebangun dengan mengkloning aturan semesta, karena pewujud semesta adalah yang sama yang mewujudkan tubuh, dan sang pewujud itu yang berkesadaran hidup di tubuh manusia ini

Darakha Ruba


Mangku Bumi

DIV BUNGA ABADI

Published

on

Div-Sinar,
divine yang sempurna yang bersifat ketuhanan

Tuhan sebab dari segala sebab berasal dari sumber hidup, yang hidup berkesadaran hidup disetiap sampul pembungkus hidupnya, Kesadaran paling sempurna ada di pembungkus’nya yang maha sempurna, kesempurnaan mengejawantah

“Hidup-Kesadaran Tuhan-badan Wadagh pembungkus hidup”, diantara hidup dan badan pembungkus hidup ada “kesadaran yang bersinar/divine”

Hidup ini semula Maha Hidup yang tunggal, terpisah-pisah oleh wujud pembungkus hidupnya, terlihat berbeda tapi “Sejatinya Tunggal” – “Bina Ika Tunggal Ika” ITU sesungguhnya terhubung pada kesamaan bahan dasar yaitu Maha Hidup, yang hidup yang menjadi “sebab dari segala sebab keberadaan”

Keterhubungan kepada Maha Tunggal terhalang oleh ketidakmurnian, keterikatan memunculkan keterbelahan karena rasa yang berbeda, prasangka berlebihan memupuk rasa saling curiga

Kesadaran terkotak-kotak prasangka dari persepsi tentang diri dan keberadaan, diawali informasi yang diserap mentah tanpa saringan hingga membenci diri sendiri karena ketidaktauan bahwa setiap yang hidup terhubung pada asal mula hidup itu sendiri

Div-Sinar,
mengamati sinar sebagai jalan melampaui keberadaan berupa yang mengamati di balik materi, dewa-div-sinar bergetar menimbulkan sabda-suara, suara pengantar pengetahuan penciptaan, suara merupa raksa-sa pada kekuasaan rasa, tentang indria/kama/nafsu, serta yang ketiga “yang hidup melihat di balik materi” yang tidak menjalani perubahan

Yang hidup menggetarkan Div sinar berwujud kesadaran, div sinar kehidupan menggetarkan sabda berwujud aksara, prada-na pembentuk tubuh, aksara A’ng-KSA’h-RA : yang tidak mati

Tidak mati karena bersumber div sinar kehidupan, div sendiri bersumber Maha Hidup, div dimensi kecerdasan dewata, yang sempurna bersifat ketuhanan, pendelegasi kekuatan cipta ditopang tarikan kekuatan raksa berupa Indria

Sumber-Hidup tiada wujud, menetap kosong tidak menjalani perubahan, adalah pembungkus hidup yang mewujud dan menjalani kehancuran wujud, SAT-NAM penguasa nirwana SA’Ta’ba’a’i NAMa’si’wa’ya aksara perekat antar dimensi, sinar di yang bergetar memunculkan aksara yang mendasari bentuk fisik-pertiwi

Nir-Wana jalan mengetahui sumber hidup yang tiada wujud, melampaui wujud, termasuk melampaui kesadaran,
nir : bukan,
wana wujud, melampaui menjadi yang bukan sekaligus wujud, purusha utama yang melihat di balik materi

Melampaui kesadaran wujud menetap sebagai yang melihat di balik materi tidak menjalani perubahan begitulah kebenaran tuhan yang adalah kebenaran abadi, kebenaran yang tidak mengalami perubahan, yang abadi, seperti yang hidup tidak mengalami kematian, dan yang hidup itu yang sedang menyadari hidupnya saat ini

Sanghyang “MANU”,
ketika yang melihat di balik materi manunggal div saat melakukan pekerjaan hidup melalui penggetaran kemaha sempurnaan badan yang mengandung segenap record pengetahuan penciptaan yang pernah di jalani/dilalui’nya

Kekuatan badan yang maha sempurna itu di getarkan ke alam, berupaya membentuk konstelasi, keterhubungan pada jejak kekuatan cipta pada benda-benda di semesta yang mengawali penciptaan semesta biologis

Berbentuk Kala-Cakra-Bhuana Agung penghubungan/penyelarasan/harmonisasi kekuatan Semesta pada poros sa’ba’ta’a’Ing – na’ma’si’wa’Yang, ING YANG poros Dewata Nawasanga Bhuana Alit, Bapa-Akasa Ibu-Pertiwi “Nunggal” bhagawan MANU, MANUnggal, meng’ESA, berupa penyatuan pada segenap sumber kekuatan wujud yang berasal mula Tunggal

Darakha Ruba

Continue Reading

Mangku Bumi

BUDHIDAYA

Published

on

Berprilaku bukan hanya bertheori, sekalipun theori atas kebenaran dibutuhkan untuk merekayasa keteraturan hidup agar yang hidup bertindak benar, karena memang begitulah kebenaran hidup apa adanya

Bagaimana cara mengatur hidup agar benar jika yang mengatur tidak tau apa-apa tentang kebenaran, yang terjadi pastilah pembenaran belaka, pembenaran yang dilengkapi hukuman yang tidak manusiawi bagi pelanggar

Semisal Tuhan,
mungkinkah tuhan tau cara terbbaik mengatur MANU’sa jika dia sendiri tidak pernah menjadi manusia, mungkinkah dia mengajar manusia cara manunggal jika dia tidak pernah terpisah, Ehiphasika

Otak tidak lain kloning kecerdasan semesta, cerdaslah atau diam dalam kebodohan, jangan berkata sepatah katapun yang menjadi pertunjukan kebodohanmu, karena kamu dirimu perwakilan kecerdasan yang menciptamu, kecerdasan yang mewujud sebagai dirimu, begitulah kebenaran sejati

Dan ketika kamu bodoh semata karena kamu belum mengetahui yang sebenar’nya, kamu dirimu sendiri yang telah membiarkan diri dalam kebodohan, kebodohan Kamu beserta Tuhanmu tidak mau menolong diri sendiri, sehingga kamu berputar-putar dalam prasangkamu, sedangkan AKU ITU dia tidak menjalani perubahan,
AKU-KAMU,
AKU-TUHAN

Siapa bilang tuhan tidak ada, tuhan ada dan terbukti menjadi sumber keributan bagi orang-orang yang sedang dijangkiti penyakit kebodohan, tuhan sumber keributan itu nyata adanya, orang-orang bodoh itu sedang memperebutkan kemahaan tuhan-tuhan’nya

Mereka tidak malu-malu mempertontonkan kemaha bodohan tuhan mereka, dan dengan pongah hendak mengajari kebaikan hidup, kebodohan yang di agung-agungkan sebagai kebaikan, gubrakh

Mengajari diri ber”budhi” prakhreti luhur agar tidak mempertontonkan kebodohan saja mereka tidak mampu, dan dengan pede berambisi mengajari “kebenaran Tuhan” pada yang lain, betapa to LOL

Menyadari kebenaran diri saja tak mampu , sekalipun sadar tapi masih terlalu jauh, dan kebodohan atas ketidaktauan mereka diatas bebankan pada nama tuhan, yang tidak lain ungkapan ketidak tauan tentang penciptaan

Maha Hidup yang berlabel TUHAN itu berprilaku mencipta, dia tidak pernah mengajari siapapun untuk mencipta, karena dia dirinya sendiri hanya bertindak apa adanya mencipta, dan seluruh ciptaan itulah sabdanya

Kemudian dan tiba-tiba orang bodoh mengumbar Ego yang tidak tertahankan mengaku-aku mendengar tuhan bersabda, duhhhh betapa kasihan’Nya Tuhan’mu mendapat tubuh pembungkus yang begitu bodoh, sampai tidak mampu menyadari kebenaran yang melekat atas kedirian

Yang tidak mengetahui yang sebenarnya pasti tertipu menyabdakan Tuhan,dia dirinya tidak sadar mengaku-aku tuhan atau menyabdakan ketidaktauan tentang penciptaan, karena yang berkesadaran itu benih hidup maha hidup yang tidak lain tuhan, tuhan yang juga berbisik kepada diri’nya sendiri tentang keberadaan Tuhan sesuai angan-angan’Nya

Tuan eh Tuhan yang mewujudkan diri menjadi seluruh bentuk di semesta, seluuh wujud-wujud yang dijadikan itulah sabdanya, bahkan ia mencipta pada kesempurnaan yang berwujud pada kesempurnaan di masing-masing sampul pembungkus hidupnya, kesempurnaan yang mengejawantah begiulah yang dimaksud sebagai tuhan, begitu pulalah wujud seluruh sabda’nya

Yang diam tidak menjalani perubahan begitulah kesejatian tuhan, dan yang “diam” tidak menjalani perubahan itu hanya dapat disadari melalui tubuh manusia ini, dari dalam badan kasar ini

Maha hidup yang diterjemahkan sebagai diri yang melihat di balik materi, diri yang memiliki segenap kemungkinan yang “tiada-batas” untuk menyadari seluruh proses penciptaan, bukan untuk mengaku-aku diri mendengar sabda sang pencipta (tuhan) dan mengklaim atau diklaim sebagai perwakilan tuhan yang sedang bodoh

Yang menyebut ketiada batasan adalah yang berbatas, adalah yang “tiada-batas” di dalam wujud pembungkusnya yang membatasi, akan tetapi ia tau bahwa kesejatian dirinya tiada batas, meniadakan pembatas pembatas itulah tujuan tuhan tuan hidup itu berwujud pada tubuh manusia bukan hanya untuk bersabda, karena sabda tuhan sejatinya Tuhan adalah seluruh yang dia cipta, sekalipun itu kesesatan

Melampaui wujud meniadakan pembatas-pembatas kekuatan cipta mewarisi kekuatan cipta begitulah ketuhanan yang sejati, manunggal dalam kemampuan ciptanya, yang pasti bukan hanya sebatas bercocotlogika, karena tuhan memberi bukti bukan janji-janji

Darakha Ruba

Continue Reading

Mangku Bumi

PENGADILAN AKHIR JAMAN

Published

on

Bahwasanya seluruh kita yang terlahir wujud, sejak semula terkelabui “maya-wujud” yang maha ghaib, dan membiarkan diri larut dalam kesombongan Ego yang menikmati keangkuhan’nya diatas kebodohan yang tidak tertahankan

Berbangga diri diatas kebodohan adalah “dosa-kesalahan” yang dia sendiri tidak berupaya mengampuni diri atas kebodohan dirinya, tetapi memilih memohon mohon belas kasihan tuhan, memohon-mohon pada tuhan yang dia lupakan, itu adalah prikaku kontradiktif, kalau tidak boleh disebut prilaku sakit

Salah satu ke’Agung’an sifat tuhan IA’lah rendah hati, karena tuhan tidak butuh puja-puji, apalagi dengan pujian lebay diatas kepura-puraan orang-orangan tuhan, yang berprilaku diatas kepalsuan, karena mereka sedang berdiri di atas bayangan angan-angan’nya

Mengangan-angankan Tuhan samasekali bukan ketuhanan yang esa tunggal, yang dimaksud ketuhanan yang sejati adalah kesadaran tuhan yang mewarisi segenap sifat-sifat Tuhan, ketuhann bukanlah
hafalan sifat-sifat tuhan, kemudian merasa layak mengklaim diri bertuhan

Ketuhanan Yang Maha Esa bermakna ke”MANU”nggalan pada tuhan, yang dimaksud manunggal tuhan yakni menjadi tuhan, pewaris sifat-sifat tuhan yang slaah satunya mewujud cipta kemakmuran merata , ketuhanan yang masih mengumbar sifat-sifat kebinatangan tidak lain tuhan’nya binatang

Badan dan tubuh ini tidak lain binatang, jika seseorang lupa kesejatian diri maka yang hidup di tubuh itu secara otomatis hanya berkesadaran binatang, seklalipun mereka ngotot mengaku diri bertuhan, maka tuhanya tidak lain tuhan binatang, karena yang berangan-angan tentang tuhan adalah kesadaran tubuh binatangnya (kesadaran tubuh dan badan)

Keyakinan tuhan hanyalah omong-omong kosong tuhan,bahkan tuhan sendiri tidak sadar, semakin besar keyakinan yang dia tanamkan akan disertai keraguan yang sama sebesar yakin yang dia munculkan

Berpendapatlah sesuka hatimu tentang kebenaran, terlepas apakah pendapatmu itu mempertontonkan kebodohan ataukah kepintaran, tidak ada yang bisa mengadili pemikiran, selama itu untuk dirimu atau kaummu, dan jika ada yang berani mengadili pemikiranmu, itu tandanya kamu sudah tidak punya apa-apa lagi untuk mempertahankan hidupmu, kamu sudah mati layaknya bangkai berjalan

Bahkan jika tuhan mulai berani mengadili prilaku, tuhanpun harus mendapati dirinya diadili oleh kehendak bebas manusia, atau jika seorang nabi (nabe/guru) berani mengadili prilaku maka sang nabi itupun sangat layak diadili, karena sebab akibat, yang “SOK” mengadili akan diadili, seperti halnya yang membunuh, terbunuh

Bekalilah dirimu dengan pengetahuan yang benar, agar saat kamu diadili kamu bisa menuntut pengadilan balik diatas pengetahuan’mu tentang kebenaran yang benar, yang tidak memiliki celah kemungkinan dibantah

Oleh sebab Tuhan mereka telah lancang mangadili kebenaran orang lain, yang merasa diadili pun berhak membela “Kebenaran-Tuhan” yang kesadaran hidupnya sedang di wakilinya, jika seorang nabe-guru yang lancang tanpa kebijaksanaan, guru itupun layak diberi pelajaran kebijaksanaan, karena ada sebab pasti ada akibat, setiap gerak adalah karma

Yakin bukanlah kebutuhan pokok hidup, tetapi kehendak, berteguh pada kehendak atas pemeliharaan kehidipan tubuh pembungkus hidup’nya

Yakin atau keyakinan sekalipun sudah berbukti nyata tidak memiliki kekuatan mengentaskan penderitaan hidu, justru kekacuan tuhan’lah yang di timbulkan’nya , hanya pengetahuan yang dapat melakukanya, pengetahuan yang benar bahwa kesadaran diri ini adalah perwakilan hidup “Sang-Maha-Hidup”

Lalu apa langkah selanjutnya setelah kita berpengetahuan yang benar seperti yang dimaksud diatas, apakah hanya diam berbangga diri terbuai angan-angan kemuliaan yang sedang diwakili itu…

Akh….
tentu saja itu pemikiran bodoh yang tidak layak dibanggakan apalagi menghayalkan kemuliaan diri, karena kesadaran itu sendiri manifestasi kecerdasan maha sempurna warisan sang pencipta semesta, cerdaslah !!!

Badan kasar yang kita semua kendarai ini beserta tubuh dan segenap perangkat penopang hidupnya adalah manifestasi kesempurnaan sang maha pencipta, yang artinya di dalam tubuh ini terkandung segenap kesempurnaan penciptaannya, kesempurnan yang mengejawantah

Yang berarti tanpa keraguan bahwa segenap kesempurnaan melekat padanya, karena kesempurnaan itu sendiri bahan dasarnya mewujud, yang perlu di upayakan adalah menemukan KNOP lalu meng”CLICK”nya ke posisi “MODE-ON”, berupaya menemukan cara menggetarkan kekuatan maha sempurnanya, guna memudahkan pemeliharaan hidup

Bukankah hanya itu yang paling dibutuhkan hidup ini, bukan mempertontonkan ketololan menyeterukan tuhan yang tidak pernah ada, setidaknya Tuhan yang tidak pernah berani menongolkan diri dan mengaku tuhan

Kemampuan menggetaran kekuatan cipta tubuh yang maha sempurna itulah hasil Ketuhanan, yang sering saya sebut “menjadi manusia seutuhnya” tuhan, utuh-tunggal antara keteguhan kehendak (kehendak konstant) dari yang melihat di balik materi menggetarkan kesempurnaan kekuatan cipta tubuh yang dikendarai’nya

Perangkat Cipta Maha Sempurna itu sejak semula sudah tersedia, yaitu wujud wadagh yang selain “mesin maha canggih” penterjemah “maha sempurna” kesadaran hidup, yang juga penterjemah kekuatan maha cipta, dan karena semua kita lupa diri atas keterjeratan Maya, tidak tau lagi cara mengoperasikanya secara benar, bahkan kesadaran yang tidak lain tuan kehidupan tidak lagi mengenali siapa dirinya

Tugas utama hidup adalah mengembalikan semua ini kepada yang seharunya,hanya itu saja yang layak di upayakan, terlepas sekuat apapun kemampuan kita, tidaklah penting, bekerjalah kamu tanpa mengharap hasil

Itulah gunanya meditasi sinar suara, guna menguatkan kesadaran yang melampaui wujud, agar tidak lagi terombang ambing rasa hidup, sedemikian dapat selalu terfocus menggetarkan kekuatan maha ciota tubuh yang dikendarai’NYA
(NYA = TUHAN)
THEN BANG !!!

Darakha Ruba

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 Gatradewata. Ringan, Cerdas dan Tajam