Gatra Dewata

Ringan, Cerdas dan Tajam

TRADISI

T R A D I S I

GATRADEWATA.COM|| BALI. Bali menjadi barometer dunia ketika berbicara tentang sebuah keunikan, tidak hanya desa dengan desa lain itu berbeda, namun d dalam desa itu sendiri berbeda-beda dalam hal melakoni sisi spirit rohaninya,
Di dalam satu desa terdapat sedikitnya 30 pura, pernahkah kita mengetahui keberadaan pura tersebut? Zaman leluhur dahulu, pura tdk hanya untuk melakoni spirit kerohanian, namun juga merupakan tempat berkumpul para kramanya sebagai bagian dari sistem hidup bermasyarakat, dalam sebuah pura ada sistem kemasyarakatan yg membuat manusia tersebut senantiasa terkorelasi baik antara individu dan individu lainnya, dan tentunya kesadaran akan fungsi dan tanggung jawab kewajiban individu dan sebagai sebuah peguyuban/kelompok,
Masihkah kita mengenal sistem itu? Ada Pengemong, Pemaksan, Penyiwi/Penyungsung,
D era sekarang ketika ego dan ke sok tauan menjadi garda depan, dan cenderung melupakan tetamian leluhur, segalanya menjadi baur, campur aduk,
Pengetahuan kita tentang pura, hanya berkisar dari sejarah dan babadnya, kita sudah melupakan tattwa nya, sehingga kita kehilangan etika utk menjadi bakti, dan hal yang lumrah, upakaranya pun membesar dan kita kehilangan esensi dari upacaranya, hilangnya ketiga elemen dasar ini, membuat manusia bali menjadi seakan jatuh miskin, namun karena “bakti” kita masih mengedepankan kata “tulus ikhlas” bak penglipur lara, dan tradisi mesti berlanjut.
Ketaatan bakti manusia bali yang mengatakan laku spirit rohaninya sebagai tradisi sejatinya sebagai pengukuhan jati diri koneksi masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang, sehingga mereka tdk memerlukan alasan utk meragukan kualitas tradisinya, terbukti dengan kekukuhan kita dengan kata, jeg pokokne “mule keto”.
Era sekarang, ketika keingintahuan melanda, masuknya paham baru, informasi tanpa batas, manusia bali mulai mempertanyakan tradisinya,
Hadirnya ajaran moralitas, seperti membuai manusia bali untuk berlomba-lomba utk seakan-akan baik, walaupun melenceng dari tatanan sepat siku petitis yang sudah d gariskan, dan cenderung menghakimi tradisi yg sdh d lakoni secara turun tumurun, utk memahami sebuah pura pun kita sibuk mencari sloka mantra moralitas yg cocok atau kita sibuk mengaitkannya dengan segala babad yg ada atau kita sibuk membuatkan sejarahnya,
Pura seakan-akan hanya menjadi ajang (ke)pura-pura(an) bahwa kita beragama ataupun berohani, tdk penting tattwanya, tdk penting etikanya, tdk penting upakaranya dan tdk penting upacaranya, karena itu hanyalah tradisi, itu hanyalah dresta, itu hanyalah desa mawicara, itu hanyalah desa kala patra dan itu adalah nak mule keto,
Karena kita sekarang ke pura itu untuk sembahyang bukan mebakti.
#mewalikebali
(SakaSana/INN.W)