Reaksi Pembalap MotoGP Usai Seri Pembuka Qatar 2018

GatraDewata.Com – Reaksi berbeda ditunjukkan oleh masing – masing pembalap MotoGP selepas seri pertama di Losail, Qatar, akhir pekan kemarin. Podium tertinggi direngkuh secara berurutan oleh Dovizioso, Marquez dan Rossi setelah melakoni duel sengit hingga putaran terakhir. Sepuluh besar selanjutnya ditempati oleh Crutchlow, Petruci Vinales, Pedrosa, Zarco, Iannone dan Miller.

Lantas bagaimana reaksi mereka setelah balapan pertama tersebut?

Sebagai pemenang lomba Dovizioso tidak menjalani balapan dengan mudah. Ia bersabar menguntit di posisi lima besar hingga belasan putaran sampai akhirnya mampu merangsek ke posisi pertama. Namun, posisi pembalap Italia ini belumlah aman. Marquez yang memiliki kebiasaan menyerang di putaran terakhir kembali melakukan aksi ganasnya tersebut. “Saya seolah tidka percaya ketika dilewati oleh Marquez di tikungan terakhir” sergahnya sebagaimana dilaporkan crash.net.

Berbeda dengan Marquez. Walaupunn menempati posisi dua namun ia merasakannya seolah sebagai pemenang. Bukan tanpa alasan, bagi Marquez Qatar merupakan sirkuit tersulit buat Honda di sepanjang kalender motoGP. “Saya sangat senang bisa menempati posisi ke dua disini karena sirkuit ini merupakan yang tersulit” tegasnya dalam jumpa pers. Baginya, hasil di Qatar ini juga merupakan deja vu dengan Dovizioso mengingat pertarungan yang dilakoni sangat mirip dengan tahun lalu dimana Dovizioso berhasil ditaklukannya.

Peraih podium tiga, Valentino Rossi, terlihat begitu sumringah seusai lomba. Memulai dari posisi delapan ia langsung merangsek ke lima besar sebelum putaran pertama berakhir. Ia bahkan sempat sukses menempati posisi dua sebelum akhirnya melorot lagi ke posisi empat hanya beberapa putaran sebelum balapan usai. Ketelatenannya membuahkan hasil gemilang dengan finish di podium tiga. “Di olahraga kami, sebagaimana olahraga lainnya, hanya satu hal yang sangat penting yaitu hasil akhir” kata Rossi. “Yang penting adalah apa yang terjadi di lintasan. Saya tidak membalap untuk menunjukkan pada orang – orang bahwa saya tidak terlalu tua, saya membalap untuk menunjukkan diri saya bahwa saya masih bisa bertarung di posisi atas. Sepertinya ini adalah cara yang benar” tutupnya.┬áHasil ini diakuinya sebagai jawaban atas kontrak berikutnya dengan durasi dua tahun ke depan.

Danilo Petruci harus puas finish di rutan ke lima walaupun sempat bertarung di tiga besar pada putaran awal. Ban disinyalir sebagai biang kerok kegagalannya meraih podium karena ia sempat melorot di posisi tujuh. Namun, pada putaran akhir ia bisa bangkit dan menyalip dua pembalap didepannya dan menutup seri pertama ini dengan posisi lima. Ia merasa sangat kompetitif dan momen ini sangatlah penting karena ia dalam proses negosiasi kontrak. Keinginannya untuk membalap di tim pabrikan, Ducati Marlboro, kian terbuka. Apalagi salah satu jagoan tim pabrikan yaitu Jorge Lorenzo gagal finish. Jika ia bisa mengalahkan salah satu pembalap pabrikan Ducati Marlboro maka ia punya kans untuk menjadi bagian dari tim inti tersebut. “Bukan rahasia lagi bahwa saya menginginkan tempat itu (Ducati Marlboro)” sergahnya percaya diri.

Bagi Vinales balapan pembuka kali ini tidak berjalan sesuai harapan. Betapa tidak, setelah sempat mencatatkan waktu positif di beberapa sesi latihan bebas ia harus puas memulai balapan dari posisi duabelas. Butuh duapertiga dari total putaran untuk kemudian bisa mendapatkan kecepatan ideal. Iapun sangat kesl dengan situasi tersebut. hatinya bercampur aduk antara kesal dan senang. Kesal karena lambatnya mendapatkan titik kecepatan, namun senang karena akhirnya ia bisa bersaing dan semakin cepat di beberapa putaran akhir. “Kalau saja saya mendapatkan catatan 55 detik ini lebih awal maka sangat memungkinkan untuk berebut podium” kilahnya senang. “Jadi tentu saja saya sangat kesal tapi pada kesempatan yang sama juga sangat senang karena tim kami tidak pernah menyerah dan akhirnya, dengan penuh kesabaran, kami mendapatkan set up yang bagus. Saya menyukainya” tutupnya.

Salah satu pempbalap bergaji tinggi, Lorenzo, sukses menjadi pahlawn atas dirinya sendiri. Memulai balapan dari posisi sembilan ia harus bertarung dengan rem depan bermasalah sejak putaran ke dua. Gangguan tersebut membuatnya melorot ke posisi sepuluh sebelum akhirnya terjatuh. Ia menjatuhkan diri pada kecepatan 176 km/jam untuk menghindari akibat yang lebih parah saat memasuki tikungan. “Sayangnya, ketika memasuki tikungan 4 bagian pertama pengereman masih bagus, tetapi tiba – tiba saya kehilangan daya pengereman dan meluncur begitu cepat di krikil menuju tembok dan saya pun menjatuhkan diri untuk menghindari benturan dengan tembok” terangnya. Namun, pada kesempatan berbeda, pihak Ducati sedikit membantah jika tragedi tersebut sepenuhnya karena masalah rem depan. Apapun yang terjadi saat itu, yang paling penting, Lorenzo tidak mengalami cedera dan kita tunggu penampilan beliau di seri berikutnya.

Konsistensi mereka patut kita kawal pada seri berikutnya yang akan digelar di Argentina pada 8 April mendatang. <swn>

photo courtesy poskotanews